
.
Armand masih terdiam di balik pintu. Menyembunyikan keberadaannya dari dua orang yang masih berbicara di dalam kamar Abela. Armand merasa tidak boleh masuk saat itu. Tapi dia juga tidak ingin meninggalkan tempatnya berdiri.
Pertemuannya dengan Calix tadi cukup membuatnya kesal. Dia ingin menghindari Raja dan Duke Estonia itu. Dan tempat yang paling tepat agar tidak diganggu adalah kamar ini. Armand tidak menduga Bastian ada di sana.
Armand tertegun saat mendengar Bastian mengatakan kalimatnya yang terakhir. Sejak kapan, Bastian menerima wanita itu? Armand tersenyum dalam diam. Dia tidak bisa menebak isi kepala anaknya.
Armand mendorong pintu kamar dan melangkah masuk. Membuat Abela dan Bastian menoleh ke arahnya.
"Pertemuannya sudah selesai?" tanya Abela.
"Ya ...." jawab Armand pelan. Armand menatap Bastian dengan sudut matanya. Wajah anak itu terlihat sangat datar. Dia tidak mengatakan hal tadi dengan ekspresi wajah yang seperti itu kan?
"Aku menghindar dari Raja dan Duke Estonia sebenarnya. Mereka entah kenapa membuatku kesal." Armand menjawab wajah bertanya Abela.
"Aku hanya berusaha tidak membunuh siapapun," ucap Armand lagi.
Candaan Armand terdengar berlebihan. Membuat dua orang yang mendengarnya tidak bisa bereaksi apa-apa.
"Tidak lucu?" tanya Armand seraya tersenyum miring. Membuat Abela memutar matanya.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Armand.
"Hanya hal-hal biasa," jawab Abela singkat.
"Bagaimana Orlando?" kali ini Armand bertanya pada Bastian.
"Dia putus asa, tentu saja," jawab Bastian datar.
"Kau bilang dia baik-baik saja," ucap Abela. Dia jelas ingat Bastian menjawab jika Orlando baik-baik saja saat dia bertanya tadi.
"Aku bilang begitu agar ayah bisa bertanggungjawab sedikit." Bastian menjawab dengan nada datar.
"Kapan aku tidak bertanggungjawab?" tanya Armand.
"Ayah selalu berbohong padanya, Orlando bukan anak kecil lagi yang bisa menerima kebohongan ayah." Bastian menjawab dengan nada datar.
"Baiklah ...." Armand sedikit meringis. Dia menghela napas pelan.
"Bisa kau menemaninya dulu sementara waktu ini?" tanya Armand pada Bastian.
"Ayah pikir sejak kemarin aku tidak menemaninya?" Bastian menaikan alisnya.
__ADS_1
Abela tersenyum mendengar perdebatan ayah dan anak itu.
"Berhenti menjawab, itu berarti aku menyuruhmu pergi," ucap Armand datar.
"Kenapa?" tanya Bastian lagi.
"Kenapa aku harus menjawab pertanyaan itu?" Armand balik bertanya.
"Aku akan tetap disini, melindungi ibu," jawab Bastian datar. Matanya menatap sengit Armand.
"Melindungi dari apa?" tanya Armand heran.
"Dari ayah, tentu saja." Bastian mendelik saat mengatakan itu dengan nada datar yang menyebalkan.
Abela akhirnya tidak bisa menahan tawanya. Tapi tetap saja, tawa itu akhirnya mengambang. Ada hal aneh yang terasa di hatinya. Abela lalu tiba-tiba terdiam. Dia memejamkan matanya. Rasanya tidak adil dia tertawa sekarang ini. Bagaimana dengan Orlando?
Abela meringis, sejak kapan dia jadi punya banyak orang untuk dia pedulikan seperti ini? Abela menghela napas. Dia tidak boleh berlama-lama ada disini.
"Aku ingin istirahat jika kalian mengizinkan," ucap Abela.
"Kau dengar itu, cepat pulang." Armand menanggapi ucapan Abela dengan menyuruh Bastian pulang.
Bastian tidak membantah lagi, dia meninggalkan kamar itu tanpa banyak bicara. Abela menatap punggung Bastian sebelum berbalik dan memunggungi Armand.
"Kau harus segera menemui Orlando," ucap Abela membuat Armand menghentikan apa yang sedang dia lakukan.
"Baiklah, besok aku akan menemuinya." Armand menjawab cepat. Dia juga tidak ingin menunda lagi.
"Aku pikir, kau tidak perduli," ucap Armand saat berbalik melihat punggung Abela.
"Entahlah, ada sesuatu yang berat di dalam dadaku. Aku rasa ini ingatan tubuh ini." Abela tidak berbohong, sejak dia bangun setelah Orlando datang. Dia merasa tidak nyaman.
"Begitukah ...." Armand menjawab lirih.
Armand memijat pangkal hidungnya lelah. Terlalu banyak hal yang ada di dalam kepalanya. Dia menghela napas pendek, hal apa yang harus dia selesaikan terlebih dahulu.
Armand tidak mendengar Abela bicara lagi. Tapi Armand yakin Abela belum terlelap. Jika dia memilih menyelesaikan dulu apa yang ingin Abela selesaikan untuk pergi selamanya, apa dia tidak akan menyesal setelah itu?
Armand menelan ludahnya gugup, dia meyakinkan diri jika wanita itu bukan Abela nya. Tapi tetap saja, membayangkan tubuh ada di dalam peti mati adalah mimpi buruk. Siapkah Armand menghadapinya?
Armand membuka pintu yang menghubungkan kamar dengan kamar mandi. Beberapa pelayan sudah ada di sana. Menyiapkan air dan baju ganti untuknya. Armand menyuruh mereka pergi dengan gerakan tangannya.
Armand merasa sedikit rileks saat badannya terendam di dalam air hangat. Dia membasahi kepalanya yang sejak tadi terasa berat. Lalu mendongak menatap langit-langit yang terlihat lebih tinggi dari biasanya.
__ADS_1
Perlahan bayangan adegan dimana Abela melindunginya memenuhi mata Armand. Apa hal itu yang akhirnya membuat emosinya reda? Atau air mata Abela yang Armand lihat malam tadi?
Armand menggelengkan kepala untuk mengenyahkan semua pikiran yang menurutnya tidak penting. Dia berdiri dan mengenakan jubah mandi. Saat dia masuk ke dalam kamar lagi, Abela tidak lagi berbaring. Dia duduk di ranjang menghadap jendela. Gaun malamnya yang berwarna putih gading terlihat terang memantulkan cahaya bulan dan batu sihir di luar beranda.
"Kau tidak tidur?" tanya Armand.
"Aku tidak bisa tidur," gumam Abela pelan.
"Kenapa? Ada yang terasa sakit?" tanya Armand, nada cemas lolos dari ucapannya.
"Tidak ada yang sakit. Aku hanya tidak berpikir bisa tidur nyenyak malam ini." Abela menjawab tenang.
Armand berpikiran sejenak, sebelum akhirnya berjalan mendekat pada Abela. Perlahan mendudukkan dirinya di samping wanita itu. Armand menatap raut wajah Abela yang pucat. Ke bibirnya yang biasa merona merah berubah kering dan abu-abu.
"Kau yakin? Kau tidak terlihat baik-baik saja," ucap Armand lagi.
Abela menoleh menatap Armand, mata Armand tidak lagi menghindari tatapannya. Dan tatapannya juga terlihat normal dibandingkan tatapan dingin yabg selalu dia berikan pada Abela akhir-akhir ini.
"Kau merasa cemas?" tanya Abela lagi.
"Ya ... Tentu saja ...." Armand menjawab pertanyaan Abela dengan tenang.
"Kau benar ... Sulit untuk menguburkan tubuh ini." Abela tersenyum miris. Tatapannya terlihat sendu. Membuat Armand terpaku cukup lama.
Apa yang harus Armand ucapkan sebagai balasan perkataan Abela. Haruskah dia bilang 'iya' itu sangat sulit. Dan memintanya untuk tinggal.
Armand memutus tatapan mata mereka dan berpaling menatap keluar jendela.
"Aku tidak ingin berkata jujur. Aku tidak suka melihat orang marah karena aku." Armand mengangkat pundaknya.
Abela menghela napas pendek mendengar jawaban Armand. Sekali lagi, satu lagi harapan Abela yang pada akhirnya terpaksa pergi.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Abela saat melihat Armand seperti melihat kejauhan, jarak yang tidak ada di dunia.
Armand melirik Abela dengan ekor matanya. Abela memiringkan kepala untuk menangkap ekspresi Abela.
"Hei ...." panggil Armand pelan.
"Ya?"
"Apa yang membuatmu berpikir untuk tidur denganku saat itu?" tanya Armand ambigu.
...----------------...
__ADS_1