
.
"Orlando?" Abela sedikit terpaku melihat Orlando datang padanya. Abela tidak bisa menyembunyikan perasaan lega yang dia rasakan melihat anak itu baik-baik saja.
Semua orang cukup lama terdiam di tempat mereka masing-masing. Rewelin mengerling Abela. Dia tahu dia harus segera pamit dari sana.
"Sudah cukup lama saya menganggu madam," ucap Rewelin kembali berbicara formal.
Abela membungkuk sedikit menanggapi salam perpisahan Rewelin.
"Semoga semuanya berjalan lancar," bisik Rewelin di balik kipasnya. Membuat Abela tersenyum agak canggung.
"Masuklah. Jangan terlalu lama berdiri di sana," ucap Abela pada Orlando dan Bastian.
Dua pemuda itu saling berpandangan sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar Abela. Para pelayan dengan cekatan membersihkan meja dan mengganti manisan dan teh yang baru.
Abela masih merasa sangat canggung kali ini. Apa yang akan Orlando ucapkan pertama kali sejak perpisahan dramatis mereka tempo hari. Orlando masih terdiam, membuat Abela mengerti isyarat itu. Dia ingin para pelayan pergi dari kamar. Abela akhirnya memberi instruksi pada mereka untuk keluar.
"Apa kabar mu?" tanya Abela sedikit canggung.
"Aku baik-baik saja." Orlando menjawab datar.
"Baiklah," gumam Abela pelan. Dan keheningan menyelimuti mereka lagi.
Bastian memperhatikan dua orang yang terlihat canggung itu. Di satu sisi dia menganggap ekspresi kaku mereka lucu. Di sisi lain, dia tahu dia tidak seharusnya berpikir begitu.
"Jadi ... Aku kemari untuk bertanya ...." kata Orlando lambat-lambat.
"Ya?" Abela bersiap dengan pertanyaan apa saja. Sejak pertama masuk ke dalam tubuh ini, Abela tahu orang yang akan paling tersakiti adalah Orlando. Itulah mungkin kenapa Abela selalu merasa melankolis setiap dia mendengar namanya atau berdua saja dengan anak ini.
"Siapa kau? Yang ada dalam tubuh ibuku ini?" tanya Orlando.
Anak umur tiga belas tahun itu jelas berusaha terlihat kokoh dan kuat. Abela menghela napas pendek sebelum menjawab.
"Namaku Ghotel. Aku penyihir yang Armand bunuh dua tahun lalu," jawab Abela datar. Entah untuk ke berapa kalinya Abela menjelaskan siapa dirinya.
Orlando tidak memperlihatkan jika dirinya terkejut. Orlando hanya mengangguk pelan sambil mengelus Mossie. Kucing itu bergelung nyaman di pangkuan Orlando. Tidak menghiraukan Abela sama sekali.
"Apalagi ... Yang ingin kau tanyakan?" Abela terdengar tidak sabar. Tapi dia tidak bisa menahan diri. Dia tidak ingin terus terdiam dalam keheningan yang canggung itu.
"Sejak kapan? Kau ada di dalam sana?" tanya Orlando.
__ADS_1
"Sejak saat aku bilang pada semua orang kalau aku hilang ingatan. Saat itu, aku bukan hilang ingatan. Aku benar-benar tidak tahu apa-apa."
"Sudah aku duga," gumam Orlando pelan. Lebih pada dirinya sendiri.
"Ya ... Kau pasti sudah merasakannya. Jika aku bukan ibumu." Abela menjawab gumaman Orlando.
"Ya ...." jawab Orlando lirih. Dia menunduk menatap lantai. Perasaannya sebenarnya sangat kacau. Dia belum baik-baik saja. Tapi akhirnya anak itu menarik napas untuk menenangkan diri. Dia menatap Abela lagi dengan sorot mata percaya diri.
"Ayo buat kontrak denganku," ucap Orlando.
"Kontrak?" Abela mengulang pernyataan Orlando dan melirik Bastian yang tidak mau memandang ke arahnya.
Abela menaikan sebelah alisnya. Jarinya mengetuk meja pelan. Dia mempertimbangkan sebentar. Sebelum membalas tatapan serius Orlando.
"Kontrak apa? Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Abela akhirnya.
"Aku butuh wali, kau tahu, aku masih dibawah umur dan ibuku susah tidak ada. Jadi aku butuh wali untuk melindungi apa yang jadi milikku."
"Apa maksudmu? Kau punya Armand," ucap Abela agak sedikit cepat.
"Dia bukan wali resmi ku. Jadi kau harus membuatnya resmi untukku," kata Bastian lagi. Dia tidak ingin mundur lagi. Dia ingin memperjelasnya hari ini.
"Aku masih tidak paham," ucap Abela jujur. apa yang bisa dia lakukan agar Armand menjadi wali resmi Orlando?
Abela sedikit terkejut mendengar apa yang dikatakan Orlando. Menikah anak itu bilang?
"Aku tidak yakin Duke mau melakukannya, maksud mu menikahi ku." Abela tidak pernah berpikir Duke akan menikahinya setelah tahu jika dia bukanlah Abela kekasihnya.
"Itu tugasmu untuk meyakinkannya," ucap Orlando dengan nada tegas.
"Dengar ...." Abela berkata lirih dan menutup matanya mencari kata yang tepat untuk menolak gagasan Orlando.
"Sebenarnya apa tujuanmu? Ada didalam tubuh ibu ku?" tanya Orlando.
Abela perlahan membuka matanya, menatap langsung ke dalam mata Orlando yang berwarna biru. Dia tersenyum tipis sebelum menjawab.
"Mati ... Tujuan ku adalah mati lagi," jawab Abela tenang.
Orlando terkejut dan menoleh ke arah Bastian yang masih berwajah datar. Bisa Orlando tebak, jika Bastian sudah tahu tentang itu.
"Ke- kenapa?" tanya Orlando gagap.
__ADS_1
"Kenapa? Hmm ... Coba aku pikirkan ...." Abela tersenyum lagi. Dia melihat wajah Orlando yang terlihat sendu.
"Jika kita kehilangan seseorang yang berharga, hidup seperti terhenti sejenak. Lalu ada rasa sakit yang tidak bisa kita jelaskan. Rasa yang bahkan tidak bisa disembuhkan oleh waktu." Abela memang terlihat sedang menatap Orlando. Tapi tatapan matanya kosong. Seperti melihat sesuatu di kejauhan.
"Kau mungkin sedang merasakannya sekarang ini, penderitaan itu ... Jadi bayangkan aku yang mengalaminya ratusan kali di hidupku yang panjang," ucap Abela.
Orlando bergeming di tempat duduknya. Dia tidak bisa menemukan kata yang ingin dia ucapkan. Orlando menelan ludahnya. Lalu sekilas terbayang wajah ibunya yang tersenyum saat memanggil namanya. Suara ibunya yang terdengar nyata bergema di telinganya.
Yang paling Orlando ingat tentang wanita yang dia panggil ibu itu, adalah telapak tangannya yang semakin lama semakin kecil. Dulu telapak tangan itu terasa besar menggenggam tangan kecilnya. Terakhir saat Orlando menggenggamnya, tangan itu terasa lebih kecil dari telapak tangannya.
Orlando menatap wajah yang sama seperti wajah ibunya ini. Tapi tidak ada senyum ibunya disana. Tidak ada tatapan ibunya. Atau gestur spontan ibunya yang selalu menjulurkan tangannya ke kepala Orlando untuk mengacak rambut pirangnya.
Yang ada hanya tatapan sendu dan senyum kosong. Serta suara datarnya yang mengatakan jika dia ingin mati.
"Jadi ... Ibuku sudah benar-benar tiada?" tanya Orlando lagi. Dia tidak ingin mendengar jawaban wanita ini. Tapi dia tidak ingin membodohi dirinya lagi.
Abela masih belum menjawab pertanyaan itu. Dia sebenarnya merasa takut untuk menjelaskan ini pada Orlando. Dia ingin melimpahkan tanggung jawab itu pada Armand. Apa saja yang sudah Armand katakan pada Orlando? Dan apa yang belum dia ceritakan?
"Kau bisa mengatakannya sekarang, aku tidak ingin dibohongi lagi." Orlando menatap Abela dengan tatapan tajam dan tegas. Tangannya terkepal di sisi tubuh Mossie.
Abela menghela napas sebelum tersenyum sendu lagi, "Ya ... Maafkan aku. Awalnya aku kira aku dan ibumu bisa bertukar lagi dan pergi ke tempat kami masing-masing. Tapi tidak setelah aku melihat semua kenangan ibu mu yang ada di tubuh ini."
Abela menatap jarinya yang sedang memainkan cangkir teh. Berusaha menyusun kata-kata yang tepat untuk disampaikan pada Orlando.
"Tidak ada yang akan mengingat kenangan tubuh seseorang jika orang itu masih hidup atau jiwanya masih ada," ucap Abela tanpa menatap Orlando.
"Lalu kenapa kau kembali? Ke dalam tubuh ibuku?" Orlando tidak tahu kenapa dia ingin tahu tentang itu. Dia hanya tidak ingin mendengar hal-hal menyakitkan tentang ibunya.
"Aku tidak tahu. Awalnya aku kira, aku hanya perlu menumpas monster berbahaya, lalu pada akhirnya aku tahu ada orang yang menggunakan tubuhku, untuk mendapatkan kekuatan dan ilmu sihirku. Jadi aku rasa, tugas ku adalah menghancurkan tubuhku sendiri."
"Dan saat tugas itu selesai ...." Orlando berkata lirih, di menunduk menatap lantai.
"Aku harap aku akan mati lagi."
Orlando terdiam mendengar jawaban Abela, ada sesuatu yang aneh menusuk dadanya. Rasanya entah kenapa sangat menyakitkan. Orlando merapatkan giginya menahan tangis. Tangannya masih terkepal di pahanya. Dari semua orang yang dia kenal, adakah yang mengerti dirinya?
Tidak ada. Mereka hanya berharap Orlando ikut bersimpati pada mereka juga. Bastian dan penyihir ini. Orlado akhirnya menggigit bibir bawahnya karena bergetar terlalu kencang. Air mata akhirnya lolos dari sudut matanya. dari isak yang tertahan membuat punggungnya bergetar. Orlando menangis dalam diam di tempat duduknya.
Bastian melebarkan matanya yang terbuka, "Or ...lan ...do?" panggil Bastian pelan.
Sedang Abela bergeming di tempatnya. Dia tidak bisa membuat tenggorokan bergerak untuk mengeluarkan kata-kata. Badannya terasa kaku, seperti ada sesuatu yang menahannya untuk bergerak. Yang Abela sadari dari dirinya yang sekarang tercekat dan sulit bernapas. Hanya kenyataan jika, dia juga tidak berhenti menangis.
__ADS_1
...----------------...