
.
Abela duduk diam selama rambutnya di sisir oleh Jane -pelayan di kediaman Calix- yang dengan teliti membuat rambutnya terlihat indah.
"Kau tahu, kau tidak perlu berusaha sekeras ini." Abela sedikit tertawa melihat Jane menyeka keringat di keningnya.
"Madam sangat cantik," ucap Jane bersemangat.
"Itu karena kau Jane. Terimakasih," ucap Abela tulus.
"Madam sudah akan pulang besok, saya pasti akan merasa kesepian." Jane terdiam menatap Abela lama. "Apa madam pernah bertemu dengan putri dari Wilhemn? Banyak yang bilang dia calon pengantin tuan kami yang di tunjuk oleh istana."
Abela jadi teringat lagi, entah kenapa dia merasa kesal. Tidak terima keturunannya harus menikah dengan wanita yang seperti itu. Walaupun ini hanya pernikahan politik.
"Dia sangat arogan dan menyebalkan," jawab Abela jujur. Abela menghela napas pelan. "Tapi aku juga hanya bertemu dia satu kali. Saat diundang minum teh oleh yang mulia ratu."
"Sayang sekali, padahal Tuan kami adalah orang yang baik," gumam Jane tidak memiliki maksud apa-apa.
Abela memperhatikan raut wajah Jane dari cermin besar yang ada di hadapannya.
"Apa Duke Estonia tidak punya seseorang yang dekat dengannya?" tanya Abela penasaran.
"Maksud madam seorang nona muda? Saya rasa tidak, tapi saya tidak begitu yakin. Duke menghabiskan banyak waktunya di ibu kota."
"Lupakan lah. Seseorang pasti sudah sangat kesal menunggu untuk masuk kamar ini, Jane." Abela mengerling pintu yang terbuka sedikit. Armand sepertinya memang tidak bisa mengetuk pintu.
Jane yang sadar kalau Armand ada di pintu tergesa untuk keluar kamar Abela, membungkuk pada tamu Tuannya itu sebelum keluar dan menutup pintu.
"Apa aku mengganggu percakapanmu?" tanya Armand.
"Tidak juga ... jadi, kita benar-benar akan pergi besok?" Abela memastikan informasi yang dia dengar dari Armand tadi pagi.
"Ya, Duke Estonia juga akan ikut rombongan kita," jawab Armand, dia berbalik membelakangi Abela dan membuka pakaiannya. Abela bisa melihat punggung Armand dengan jelas di cermin besar di hadapannya. Banyak luka di sana, ada beberapa yang terlihat dalam.
"Abela?" Abela tersentak saat Armand memanggil namanya.
"Ya?"
__ADS_1
"Aku kira kau akan tertarik saat aku bilang kalau Duke Estonia akan ikut rombongan kita." Armand menatap Abela lewat cermin. Abela belum melihat ke arahnya.
"Itu bukan hal yang mengejutkan, pagi ini Calix bilang raja memanggilnya ke istana." Abela berusaha meredam kegugupannya dengan suara yang dia usahakan terdengar tenang.
"Calix?" Armand menyebut nama pria itu dengan nada rendah dan dinginnya. "Sejak kapan kau merasa cukup dekat untuk memanggil namanya?"
Abela disadarkan oleh pernyataan Armand. Beruntungnya tidak ada siapapun di kamar itu kecuali mereka.
"Aku memanggilnya begitu karena hanya ada kita berdua disini," ucap Abela.
"Meskipun begitu, kamu tidak berpikir aku akan mentoleransi itu kan?" Armand berkata dengan lambat.
"Baiklah maafkan aku." Abela menjawab pelan.
Armand tidak mendebatnya lagi, dia hanya berusaha dengan cepat mengganti pakaiannya. Dan berbaring di tempat tidur.
"Duke Estonia ingin mengambil catatan penyihir yang ada di Duchy." Armand menjelaskan. Matanya lurus menatap langit-langit.
"Catatan penyihir?"
"Kau ingat, hal yang aku tawarkan sebelum kita kemari," jawab Armand.
"Untuk apa dia membacanya," gumam Abela pelan.
"Itu bukan urusan kita. Apa salahnya menyimpan sesuatu yang di tinggalkan leluhur kita?" Armand sedikit bingung dengan cara Abela bereaksi.
"Aku ingin meminjamnya." Abela menatap Armand dengan serius. Dia berjalan mendekat dan duduk di pinggir tempat tidur yang berukuran besar itu.
"Kau bilang kau tidak tertarik. Lagipula aku sudah berjanji akan memberikannya. Akan aneh jika tiba-tiba aku tidak bisa menepati janjiku hanya karena aku meminjamkan padamu."
"Tapi aku ingin tahu catatan itu." Abela bersikeras membujuk Armand.
"Aku akan menceritakannya padamu, jika kamu memang sangat ingin tahu isinya." Armand menyeringai menatap wajah Abela yang memerah, kesal.
"Aku sudah sangat hapal isi catatan itu," kata Armand lagi.
"Tidak perlu," jawab Abela cepat.
__ADS_1
"Kau yakin? Isinya cukup menarik." Armand menatap wajah Abela yang entah kenapa terlihat malu-malu.
"Aku berubah pikiran lagi, aku tidak ingin tahu isi catatan itu." Abela menghindar dari tatapan Armand dan memalingkan wajahnya.
Armand tertawa pelan menanggapinya. Dia menatap punggung Abela yang terlihat kecil. Pakaian tidur sutranya yang tipis membuat kulitnya terlihat saat cahaya lilin menerpanya. Armand bangun dari posisinya berbaring, beringsut mendekat pada wanita itu. Menghirup wangi aroma bunga mawar yang cukup tajam memenuhi hidungnya.
Perasaan adiktif dan ketidaksabaran yang selalu Armand rasakan saat tubuh mereka berdekatan. Tatapan Armand semakin sayu saat tangannya menjangkau pinggang Abela, melingkarkan nya di sana. Merasakan seluruh tubuh Abela yang kecil di jangkauan lengannya. Membuat tubuh Abela semakin menempel padanya.
"Arabela bertemu dengan Calisto saat hari turun salju. Penyihir yang hidup lebih dari seribu tahun bertemu dengan seseorang yang entah muncul dari mana. Terluka dan bersimbah darah. Di padang salju, dekat gunung Perr. Calisto tidak sendirian, dia bersama seseorang yang memiliki rambut gelap, kontras dengan rambut Calisto yang perak dan berkilau." Armand membisikan cerita itu dekat dengan telinga Abela.
Armand melihat wajah Abela dengan sudut matanya, Abela tertunduk menatap lantai. Ekspresi tidak terlihat senang sama sekal atau penasaran.
"Kau tidak ingin mendengarnya?" tanya Armand seraya mengelus pelan perut Abela.
"Aku tidak ingin mendengarnya dengan suaramu." Abela menjawab asal saja.
Armand tidak bisa membayangkan apa yang dia rasakan. Berasa disini, di kastil yang dia bangun dengan orang yang dia cintai dulu. Kastil dimana dia membesarkan anak-anaknya. Dan tempat dimana dia memeluk Calisto untuk terakhir kali.
Bagi Abela, mencintai Calisto dulu seperti hukuman yang di berikan Dewa karena memilih mengikuti keserakahannya untuk hidup abadi. Saat dia menyaksikan orang yang dia cintai sepenuh hati itu, menutup matanya di pelukannya. Saat itu, untuk pertama kalinya Abela menyesali perbuatannya di masa lalu karena telah menentang kehendak Dewa.
Saat itu lah dia memutuskan untuk pergi dari sini dan tidak pernah kembali. Melindungi dan memperhatikan keturunannya dari kejauhan. Kembali ke kastil ini cukup untuk Abela mengenang lagi semua hal itu. Melihat Calix atau potret Calisto yang di gantung berdampingan dengannya. Membuatnya bahagia dan sedih di saat bersamaan.
"Baiklah." Armand masih meletakan kepalanya di bahu Abela yang kecil.
"Aku tidak akan membicarakan soal penyihir lagi. Maafkan aku, Abela," bisik Armand pelan. Armand merasa bodoh, meskipun Abela kehilangan ingatannya tentu saja dia tidak ingin mendengar banyak tentang penyihir itu. Armand sempat lupa soal itu. Dia terlalu mengabaikan banyak fakta tentang kekasihnya akhir-akhir ini.
"Aku akan bercerita tentang kisah cinta Abela saja," Armand tersenyum, tangannya semakin memeluk Abela erat.
"Aku bertemu dengan Abela Isla dua tahun lalu, saat itu sedang musim gugur. Kau berdiri di sebuah balkon di aula kerajaan saat pesta perayaan untuk menyambut aku dan prajurit ku." Armand terdiam sebentar. Merasa ketegangan dari tubuh Abela berkurang seiring dengan suaranya.
"Kau memakai gaun dengan pabrik berwarna seperti ranting pohon. Tidak hitam atau coklat, sangat kontras dengan warna matamu yang cerah bersinar di bawah tile yang menutup setengah wajahmu."
Armand menghirup aroma mawar dari tengkuk Abela sebelum meneruskan ceritanya.
"Aku ingat tanganmu sibuk merapikan helaian rambut emasmu yang terbawa angin, tapi kau tampak tidak terganggu dengan itu. Di balik tile, kau memandang ke kejauhan dengan senyum tipis dan pipi yang berona merah. Jadi kata-kata pertama yang aku ucapkan di pertemuan pertama kita ...." Armand tersenyum memberi jeda.
Dan terkejut membatu di tempatnya saat dia mendengar Abela berkata, "Kau terlihat bahagia."
__ADS_1
...----------------...