Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke

Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke
Bukan Ibu


__ADS_3

.


"Kau ... Bukan ibuku kan?"


Pertanyaan Orlando tidak terduga. Abela mengedipkan matanya dua kali. Dia mulai bingung harus bereaksi bagaimana. Haruskah dia berbohong?


Pandangan Orlando berpindah pada Mossie lagi, yang seperti mengerti apa yang dibicarakan oleh Orlando dan Abela.


"Orlando ...." panggil Armand cukup keras. Pria itu bergegas berlari menuruni tangga. Jelas baru saja mendengar apa yang baru saja terjadi. Armand sudah mencabut pedangnya, untuk berjaga-jaga. Matanya waspada menatap Mossie.


"Kau baik-baik saja?" Armand bertanya pada Orlando, perlahan semakin mendekat padanya.


"Ya, makhluk besar ini menyelamatkan ku," jawab Orlando datar.


"Apa kau terluka?" tanya Armand lagi.


"Tidak ...." Orlando berkata pelan, "Aku rasa," lanjutnya lebih pelan.


Abela bisa melihat Orlando menatapnya dengan ujung mata. Armand datang di saat yang tidak tepat. Sebelum Abela bisa berkesempatan bereaksi pada pertanyaan Orlando. Atau ... Abela saja yang berpikir terlalu lama?


"Ayah akan membantumu," Armand terlihat seperti akan menggendong Orlando jika Orlando mengizinkannya. Tapi Orlando menolak, dia menggeleng pelan.


"Sebelum itu ... Abela ... Bisa kau melakukan sesuatu dengan peliharaanmu?" tanya Armand. Nada dingin sudah kembali lagi. Seakan itu adalah sifat aslinya.


Abela mendelik sebentar sebelum memanggil Mossie. Tak butuh lama agar kucing besar itu berubah menjadi ukuran kucing normal.


Di saat semua orang fokus pada makhluk besar itu, suara tawa Orlando tiba-tiba terdengar. Tawa yang terlihat palsu dan kosong. Orlando melepaskan tangan Armand yang ada di bahunya. Lalu menunduk lebih dalam.


"Kalian. Payah sekali dalam berbohong." Orlando berdiri setelah mengatakan itu. Dia berjalan ke arah pintu keluar. Membuat semua orang siaga.


"Orlando." Bastian memanggilnya. Tidak ada yang sadar kapan anak itu ada di sana.


"Lewat sini, aku akan mengantarmu pulang," ucap Bastian tenang.


Baik Armand atau Abela saling menatap lewat sudut mata mereka. Apa yang akan terjadi selanjutnya?

__ADS_1


Armand sudah akan mengatakan sesuatu, sebelum menangkap gelengan kepala Bastian. Anaknya itu merangkul pundak Orlando dan keluar dari rumah.


"Mossie, ikuti mereka," bisik Abela.


"Jangan berani-berani ...." Armand berdesis menahan Mossie melompat dari pelukan Abela.


"Dia mengerti, dia tidak akan menyakiti anak itu," jelas Abela tidak mau kalah.


Mossie berhasil melompat dan keluar sebelum pintu ditutup. Armand masih menatap Abela tajam. Dia meraih tangan wanita itu dan sedikit menyeretnya untuk ikut dengannya. Melemparnya masuk ke dalam salah satu ruangan yang paling dekat dengan tempat mereka.


"Kau mencoba membunuh anakmu!" bukan pertanyaan tapi tuduhan yang sekarang ini Armand katakan pada Abela.


"Kau gila? Untuk apa aku membunuhnya!" Abela menyatakan bukan bertanya.


"Kau ... Kau datang di saat yang tidak tepat ! Aku bahkan belum sempat berbohong saat dia bertanya kalau aku bukan ibunya," kata Abela agak berteriak. Dia mungkin terkesan menyalahkan Armand. Tapi dia tidak peduli dengan itu.


"Kau !" giliran Armand yang berteriak sekarang ini.


"Apa? Kau tidak suka aku berbohong? Apa aku harus dengan jujur bilang jika aku bukan ibunya?" Abela sadar dia sedang melampiaskan kemarahannya pada Armand.


"Lebih mudah bagimu untuk tahu jika dia sudah meninggal. Iya kan? Lebih cepat lebih ba ...." kata-kata Abela terpotong oleh cengkraman Armand di kedua bahunya.


Abela jelas bisa merasakan kemarahan Armand. Bukan hanya dari cengkraman tangannya yang kencang. Atau dari matanya yang tajam tapi juga dari aura yang menyala di sekitar tubuhnya. Aura yang selalu terlihat biru menyala itu terlihat sedikit gelap kali ini.


"Jika saja kau tidak berada di dalam tubuh ini ...." Armand berdesis, bibirnya rapat saat bicara.


Abela yakin Armand pasti sedang mengontrol kekuatan dan amarahnya.


"Aku tidak perduli kalau kau membunuhku lagi,' jawab Abela sama dinginnya.


"Kenapa? Kenapa aku harus memenuhi keinginanmu?" tanya Armand, sudut bibirnya terangkat sebelah. Senyum miringnya terlihat sangat menyeramkan.


"Jika kau ingin mati ," Armand mendekatkan wajahnya ke telinga Abela. "Jangan mati dihadapan ku," bisik Armand. Nada bicaranya terdengar sangat dingin dan berbahaya.


Abela tidak menjawab lagi, dia menggigit bibir bawahnya agak sedikit keras. Rasa besi terasa di ujung lidahnya. Armand menatap bibir yang berdarah itu. Sebelah tangan yang mencengkram bahu Abela, perlahan terlepas dan berpindah ke dagunya. Armand memisahkan bibir Abela dengan ibu jarinya. Menekan lidah Abela, membuat Abela lebih waspada lagi.

__ADS_1


"Sudah kubilang ...." Armand berkata sangat pelan dan datar. "Tubuh ini bukan milikmu," katanya sebelum menjauh dan melepaskan Abela. Berjalan keluar dan menutup pintu dengan keras.


.


.


Pagi di kediaman Armand, semua orang tidak dalam kondisi baik. Para pekerja, bekerja lebih berhati-hati. Seakan takut untuk membuat kesalahan. Tony selalu bersiaga bersiap untuk apa saja yang mungkin terjadi.


Kejadian tadi malam cukup intens dan menegangkan. Bastian tidak pulang, mungkin menginap di rumah Orlando. Armand juga tidak keluar dari kantornya. Dan Abela tidur di ruang rekreasi di lantai satu.


Tony mengintruksikan pelayan untuk menyiapkan makan pagi. Dia sedang menyiapkan meja makan saat Abela muncul dengan pakaian berburunya.


Dibandingkan Armand, Abela terlihat lebih bisa untuk didekati pagi ini. Tony tersenyum sebelum menuang air ke dalam gelas Abela.


"Tuan mu tidak makan?" tanya Abela, jelas membuat batas diantara dirinya dan Armand.


"Tuan akan segera turun," gumam Tony pelan. Sedikit tidak yakin.


"Aku akan makan duluan kalau begitu," ucap Abela acuh.


Tepat saat dia akan menyuap sup nya, Armand masuk ke ruang makan. Abela merasa tegang. Tapi menghentikan gerakan sendoknya di udara akan terasa canggung. Jadi dengan mencoba acuh, dia mulai makan lagi.


Armand sebisa mungkin tidak menatap Abela, dia merasa selalu melakukan hal yang salah akhir-akhir ini. Emosinya lebih banyak mempengaruhi semua yang dia lakukan.


Seperti kemarin, tentu saja orang akan bingung dengan sikapnya yang tiba-tiba baik dan kemudian berubah buruk lagi. Armand selalu mencoba untuk tidak menyalahkan Abela. Walau pada berbagai kejadian akhirnya usahanya selalu gagal. Atau mungkin, dia tidak bisa menerima kenyataan jika semua yang terjadi adalah kesalahan dia sendiri.


Armand berusaha makan walau makanan itu terasa hambar.


"Kalau kau sudah selesai, ayo segera berangkat." Armand berdiri dari duduknya setelah makan tidak begitu banyak.


Abela mengangguk dan mengikutinya dari belakang dalam diam. Sampai mereka sampai di depan pintu. Dua kuda sudah menunggu mereka. Abela melirik Armand yang sudah naik ke atas kuda. Sekali lagi, Abela mengikuti Armand. Abela tersenyum miris, tidak mungkin ada kata-kata penenang kali ini.


Saat mereka akhirnya mengendarai kudanya menuju istana. Banyak hal yang bermunculan di kepala Abela. Semuanya adalah hal yang tidak dia duga. Wajah Orlando memenuhi kepalanya. Mungkin ingatan tubuhnya menguasai emosinya saat ini. Dia berhutang penjelasan pada anak itu. Apa dia punya waktu untuk melunasinya?


'Sadarkan dirimu, kenapa kau harus terikat dengan itu.' Abela tersenyum miris saat memikirkan itu. Dia sadar dia bukan siapa-siapa, dia berharga hanya karena tubuh ini yang berharga.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2