Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke

Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke
Hari Pernikahan


__ADS_3

.


Abela terpaku menatap wajahnya di cermin. Wanita ini benar-benar cantik. Gumam Abela dalam hati. Baju pengantin melekat indah pada tubuhnya, veil yang menutupi sebagian wajahnya tidak menghalangi kecantikannya sama sekali.


Abela menatap Anna pelayannya yang berkaca-kaca. Kenapa anak itu selalu tampak menangis setelah dia mendandaninya.


"Kenapa kau selalu menangis setelah mendadani ku?" tanya Abela.


"Tidak. Hanya saja, nyonya terlihat cantik." Anna menjawab diakhiri senyuman.


Abela mendengus mendengar komentar itu. Tentu saja dia tahu wajah ini sangat cantik. Tapi dia tidak mendebat pelayan itu.


Hari ini meski di luar dia terlihat tenang, tapi jantungnya tidak berhenti berdebar kencang. Berkali-kali dia menghela napas pendek. Mereka hanya menikah untuk formalitas saja tapi entah kenapa dia merasa tegang.


Abela menatap Orlando yang sudah siap di dekat kereta kuda. Umur anak itu sudah empat belas tahun. Dan dia sudah lebih terlihat seperti gentleman. Abela tersenyum tipis saat Orlando mengulurkan tangannya untuk membantu Abela menaiki kereta kuda.


Abela mengistirahatkan punggungnya yang terasa kaku. Pemandangan di luar jendela sangat menarik perhatiannya. Jalanan entah kenapa terlihat lebih riuh dari biasanya.


"Apa yang membuat orang-orang ini sangat bersemangat?" tanya Abela pelan pada dirinya sendiri.


"Ibu benar," jawab Orlando.


Abela memberikan atensinya pada Orlando. Mata biru pemuda itu bersinar di bawah cahaya matahari yang menyelinap ke dalam kereta.


"Kau terlihat tampan," gumam Abela.


Pujian itu membuat wajah Orlando merona merah. Pemuda itu memalingkan wajahnya. Terlihat malu. Anela mengulas senyum, hari ini mungkin dia bisa meringankan bebannya dengan mengabulkan permintaan anak ini.

__ADS_1


'Hey Abela, kau akan pergi begitu saja?' tanya Abela dalam hati. Entah pada dirinya sendiri, atau pada Abela yang mungkin masih tersisa di tubuh ini. Abela memejamkan matanya sekejap. Lalu membukanya lagi saat dia merasa kereta kudanya berhenti.


Abela menoleh ke arah Orlando yang sedang menatapnya. Entah apa yang dipikirkan anak itu.


"Terima kasih," gumam Orlando.


"Untuk apa?" tanya Abela pelan.


"Telah melakukan ini untuk ku," jawab Orlando. Orlando tidak menghindari tatapan Abela. Dia masih menatap Abela dengan serius. Abela mengulas senyum.


"Sama-sama," gumam Abela pelan.


Mereka menghentikan percakapan mereka saat pintu kereta kuda dibuka. Orlando turun lebih dulu dan menunggu ibunya di depan pintu, untuk membantu ibunya turun.


Abela perlahan turun, tangannya masih menggenggam Orlando. Mereka berjalan di antara sorak sorai orang yang datang. Abela sedikit menghela napas saat akan masuk ke dalam kuil.


Abela tahu, jantungnya berdebar lagi. Bukannya hanya karena gugup. Tapi karena orang yang menunggunya itu. Pengantin prianya, bukan pengantin pria wanita ini. Abela menelan ludah saat tangannya menyambut uluran tangan Armand. Mereka berbalik dan menghadap patung dewa. Abela tidak yakin Dewa apa yang akan memberkati pernikahan ini. Dia tidak pernah mengenal mereka. Kecuali Dewa menyebalkan yang membuatnya hidup kembali.


Saat ikrar pengantin selesai dibacakan. Maka mereka resmi menjadi suami istri. Seperti yang seharusnya Abela adalah nyonya yang baru di kediaman Armand. Abela sedikit merasa iri saat dia membubuhkan tandatangannya diatas nama Abela. Selamanya tempat itu memang buka miliknya. Semua masih terasa jauh dari miliknya walau dia tahu Armand sedang mencium bibirnya dengan lembut.


Saat mereka menjauhkan kepala mereka, Abela sempat menatap Armand yang berbisik Arabela tanpa suara. Membuatnya terpesona dan tertegun cukup lama.


Sampai, sebuah suara ledakan terdengar diluar kuil. Semua bangsawan yang hadir di pernikahan mereka lari berhamburan. Abela tidak yakin apa yang terjadi tapi dengan jelas dia melihat Calix Estonia sudah ada didekatnya dan menghalau apa saja yang berusaha menyerang langsung padanya.


Armand menariknya ke belakang punggungnya dan menghalanginya dengan badannya yang besar. Abela bahkan melihat Mossie sudah ada di dalam mode monsternya. Membuat orang-orang takut, Mossie berdiri di samping Orlando yang sudah mencabut pedangnya.


Bau busuk menyebar tidak tertahankan saat satu sosok berjubah hitam tiba-tiba muncul di tengah mereka dengan suara tawa yang terdengar seperti suara wanita tua. Abela menelan ludahnya. Tubuhnya sudah sangat busuk seperti itu. Dan kenapa Lyra masih bertahan di sana.

__ADS_1


Sosok itu, menyerang siapa saja dan apa saja yang ada di sekitarnya.


"Kembalikan tubuhku !" ucap sosok itu nyaring. Entah kenapa suaranya bergema di ruangan ini.


Dan bersamaan dengan itu, beberapa sosok berjubah muncul juga dan menyerang. Beberapa menyebar dan menyerang orang-orang. Calix maju ke depan saat satu dari mereka menerjangnya. Sedang Armand masih di posisinya berdiri.


Armand bergeming melindungi Abela. Entah kenapa dia merasa bersalah karena tidak memiliki kemampuan apapun untuk melawan atau berlindung. Abela bisa melihat Bastian dan Cesar -Putra mahkota- melakukan gerakan serasi untuk melawan sosok-sosok yang tiba-tiba datang itu.


Abela bersyukur Raja atau Ratu tidak ada disini. Armand sudah menggenggam pedangnya dengan satu tangan. Matanya menatap serius seluruh area kuil yang dijadikan arena duel. Abela lewat bahu Armand menatap tubuhnya menatapnya. Suara tawa terdengar lagi. Bagai melayang, sosok itu menghampiri Armand dan melemparkan banyak serangan mantra yang Armand tangkis dengan pedangnya.


"Tubuhku ...." ucap sosok itu sedikit mengerikan.


"Lyra !" panggil Abela sekuat tenaga. Dia memang tidak sedekat itu dengan putri dari Wilhemn itu. Tapi tetap saja, bukankah mereka sedikit banyak menghabiskan waktu bersama.


"Lyra !" panggil Abela lagi. Sosok itu tentu saja mendengar dan menghentikan serangannya. Tapi tiba-tiba seringai terbit di wajah menyeramkannya yang setengah tua dan setengah muda.


Abela entah kenapa merasakan firasat buruk. Dia melihat sekitar dan hanya menemukan Orlando yang ditinggalkan oleh Mossie.


Saat cahaya putih menyilaukan menyerang Armand lagi. Armand sedikit menutup matanya. Tapi tidak dengan Abela. Atensinya masih pada Orlando yang terengah-engah sambil menggenggam pedang di kedua tangannya. Dan cahaya hitam di lempar ke arah Orlando dengan cepat.


Abela tidak tahu, dia hanya mengikuti apa yang tubuhnya lakukan. Yang disadari dia sudah melompat dan berlari secepat yang dia bisa. Entah waktu yang berjalan lambar atau larinya yang lambat. Abela merasa tidak memiliki tenaga untuk sampai lebih dulu kesana.


Yang dia tahu saat waktu terasa berhenti untuknya adalah saat dia melihat mata biru Orlando yang menatapnya. Mata yang dilebarkan karena kejutan yang dia rasakan. Mata yang dari pagi serius menatapnya di kereta kuda. Binar biru yang semakin lama semakin hilang. Dan suara badannya yang terjatuh ditelinga Abela.


"Orlando ...." Abela berteriak masih berusaha berlari. Kearah tubuh anaknya yang sudah tumbang.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2