Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke

Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke
Tidak Terbiasa


__ADS_3

.


Bagi Abela yang sudah terbiasa dengan sikap hangat Armand padanya. Harus mulai membiasakan diri lagi dengan dinginnya sikap Armand kini. Abela tersenyum miris dengan pikiran kacaunya. Apa yang dia harapkan? Di izinkan menyelesaikan tugasnya di dunia ini saja dia harus bersyukur. Armand sudah berbaik hati untuk itu.


Abela sedikit terkejut saat Armand masuk kamar. Dia tidak menyangka Armand akan masuk ke kamar yang sama. Kapan terakhir mereka berlama-lama dalam satu ruangan? Abela bahkan tidak mengingatnya.


Abela masih menatap Armand bahkan saat pria itu berganti pakaian di hadapannya. Abela tersenyum lagi, dipikirkan lagi Armand adalah manusia yang luar biasa. Dia tidak perlu membawa pedang atau senjata lainnya saat harus waspada. Kenyataannya senjata itu sudah menyatu dengan tubuhnya dan tersimpan di suatu tempat di dalam dadanya.


"Apa yang membuatmu tersenyum?" tanya Armand membuyarkan lamunan Abela.


Abela menghindari tatapan Armand dengan wajah yang kaku.


"Tidak ... Tidak ada ... Aku hanya sedang memikirkan sesuatu." Abela masih belum menatap Armand. Entah kenapa wajahnya terasa panas. Ayolah, sadarkan dirimu. Batin Abela sambil memejamkan mata.


Sedang Armand harus menghitung angka dalam hati. Dia merapatkan giginya saat menatap Abela di depannya. Gaun tidur satin tipisnya yang sedikit turun dari pundaknya. Tulang selangka Abela yang memenjara matanya. Wajahnya yang memerah. Armand menelan ludah. Sial. Umpatnya dalam hati.


Armand tahu yang ada dalam tubuh itu bukan Abela. Setidaknya itu yang diracaukan wanita itu selama beberapa hari. Jika saja, kejadian di kastil penyihir itu tidak Armand saksikan. Mungkin dia akan menganggap apa yang Abela katakan omong kosong.


Sekarang sulit baginya menyangkal lagi. Kenyataan pahit yang harus dia telan. Abela wanita yang dia cintai sudah tidak ada. Yang di depannya sekarang ini hanya cangkangnya saja. Cangkang yang masih membangunkan hasratnya walau akal sehatnya selalu menolak.


Armand membelakangi Abela, menyembunyikan ekspresi wajahnya. Dia tidak ingin wanita ini melihatnya dengan ekspresi yang dia tampilkan sekarang.


"Kau tidur disini?" Abela bertanya lagi. Entah kenapa mulutnya tidak bisa menghentikan itu.


"Ini kamarku," jawab Armand. "Kau keberatan?"


"Apa itu berpengaruh? Kalau aku bilang keberatan?"


"Kau benar-benar tidak bisa menjaga mulutmu, apa di situasi mu sekarang ini kau masih berpikir kau superior?" Armand tersenyum arogan lagi.


"Di dalam tubuh itu kau hanya memiliki level aura yang jauh berada di bawahku." Armand menekankan kenyataan yang selalu membuat Abela marah. Abela yang sekarang ada di depannya.


"Kau ... Tidak berniat mengajariku lagi?" Abela tidak ingin kalah.

__ADS_1


"Untuk apa? Membuatmu berbuat onar lagi?"


"Oh ... Beberapa waktu lalu kau pernah bilang kau menyesal membunuhku." Abela menyilangkan tangannya di depan dada.


"Kau bilang semua jadi kacau sejak aku pergi. Kau bilang seharusnya kau mencoba bicara saja denganku." Abela tidak berhenti bicara untuk membuat Armand semakin marah. Tapi dia terkejut saat melihat senyum terbit di wajah Armand. Bukan senyum arogan yang selalu Abela lihat akhir-akhir ini. Lebih pada senyuman yang entah kenapa terlihat sedih.


"Kau benar ... tapi aku lebih tidak ingin kehilangan kekasihku." Armand bergumam pelan.


"Kau tahu ...." Abela menyamankan duduknya dengan bersandar. "Semua yang terjadi bukan kehendak ku. Rasanya sangat tidak adil kau menumpahkan kemarahan mu padaku." Abela memejamkan matanya sedikit frustasi.


"Terkadang aku merasa menyesal sudah berkata jujur." Abela tertawa getir. "Apa tugasku akan lebih mudah jika aku memperdaya mu saja, Armand?"


"Jawaban apa yang ingin kau dengar dariku?" tanya Armand dingin.


"Entahlah ... Kau benar ... Apa yang aku inginkan." Abela belum membuka matanya lagi. Dia akhirnya memilih berbaring dan bersembunyi di dalam selimut. Menghiraukan Armand yang mengepalkan tangannya dengan ekspresi wajah sendu.


Armand berjalan menuju sebuah kursi di sudut kamarnya. Tempat liquor di letakan oleh Tony dan menenggaknya langsung dari botol. Berharap cairan itu bisa menenangkan dirinya.


Sementara Abela menggigit bibir bawahnya di balik selimut, entah kenapa dadanya terasa sesak. Kenapa dia harus merasa sakit hati? Alisnya berkerut dan gigitannya semakin kencang hingga rasa besi terkecap di ujung lidahnya. Ini hanya ingatan tubuhnya. Abela menyakinkan itu dalam hati.


.


.


Abela tersenyum kecil membayangkan wajah yang akan ditampilkan pria ini. Tapi dia memilih bergerak pelan untuk bangun. Meskipun usahanya gagal karena tangan kekar Armand mengencangkan pelukannya.


Abela bisa dengan jelas mendengar detakan jantung yang berdebar kencang. Milik siapa? Miliknya? Atau milik Armand?


Abela mengerutkan dahinya dan pura-pura tertidur. Tidak menyadari bahwa Armand sudah membuka matanya sejak lama. Mata coklatnya menatap helaian rambut emas Abela. Sedang ujung hidungnya menempel di tengkuk Abela, menghirup aroma bunga yang selalu tercium di jarak mereka yang dekat.


Armand memejamkan matanya, merasakan debaran jantungnya yang berpacu. Ada banyak emosi yang terasa di dalam sana. Ada penyesalan, rindu dan hasratnya pada wanita ini. Lalu kemarahan yang datang membuatnya dadanya semakin sakit.


Sejak kapan dia selemah ini? Armand tersenyum miris. Tidak pernah dalam hidupnya dia akan memilih menyangkal kebenaran. Sampai hari ini datang. Apa yang akan terjadi jika dia tidak tahu? Setidaknya dia akan memperlakukan wanita ini dengan sangat baik. Menumpahkan hasrat dan kasih sayangnya seperti biasa.

__ADS_1


"Entah kenapa aku merasa kau sudah bangun." Abela mulai membuka mulutnya. Napas pendek Armand sudah tidak terasa lagi.


"Aku memang sudah bangun." Armand menjawab dengan santai.


"Apa kau tahu, apa yang kau lakukan sekarang ini?" tanya Abela heran.


"Ya ... aku sangat. teramat. sadar."


"Kalau begitu, kau bisa melepaskan aku sekarang?" Abela menahan rasa kesalnya.


"Kenapa? Apa yang akan kau lakukan jika aku tidak melepaskan mu?"


"Kau terdengar mabuk." Abela semakin bingung.


"Kau benar. Aku mungkin sedang mabuk." Armand menelan ludahnya. Saat tangannya menyentuh bagian tubuh Abela yang seharusnya tidak dia sentuh.


"Kau sengaja?" tanya Abela lagi.


"Kau percaya jika aku bilang , aku tidak sengaja?"


"Baiklah ... Kau bisa menjauh dari ku sekarang." Abela memberi perintah tapi dia tidak bergerak sama sekali.


"Aku malas melakukannya," jawab Armand asal.


"Kalau begitu singkirkan tanganmu dari dadaku."


"Heh?" Armand tersenyum miring. "Sejak kapan tubuh ini milikmu?"


Pertanyaan Armand membuat Abela terdiam cukup lama. Entah kenapa pertanyaan tadi mengganggunya.


"Kau benar ... Tubuh ini bukan milikku." Abela terdiam sebentar, "Tapi bukan berarti milikmu juga."


"Hn ....?" Armand bergumam pendek, mengencangkan remasan nya. Berbisik di telinga Abela dengan nada rendahnya. "Aku penasaran, apa yang kau pikirkan saat setuju bercinta denganku untuk pertama kali."

__ADS_1


Armand mengelus lengan Abela perlahan. Sebelum berbisik lagi, "Apa yang kau pikirkan saat itu, Arabela?"


...----------------...


__ADS_2