
.
Bastian terpaku dengan wajah bingung, apa yang harus dia lakukan dalam situasi itu. Untuk pertama kalinya dia melihat Orlando menangis seperti itu. Mungkin ini bukan saat pertama Bastian melihat Abela menangis. Tapi tetap saja, melihat mereka berdua menangis dalam diam terasa menyakitkan.
Bastian menoleh ke arah pintu saat pintu itu terbuka. Dan untuk sekian lama, akhirnya Bastian merasa senang melihat ayahnya datang. Armand memasuki kamar dengan langkah tenang. Sebelum dia melihat Abela dan Orlando yang sedang menangis.
Armand bertanya pada Bastian dengan tatapan matanya. Yang hanya dijawab Bastian dengan mengangkat bahu saja. Armand akhirnya memilih duduk di samping Orlando dan menarik anak itu ke pelukan canggungnya.
Perlahan mencoba menenangkan anak remaja yang menangis tertahan di dadanya. Armand menghela napas, dia tidak tahu apa yang harus dia katakan. Kapan terakhir kali dia menenangkan anak yang sedang menangis?
"Kau sudah tenang?" tanya Armand saat Orlando menjauhkan diri darinya.
Orlando mengusap air matanya. Lalu meminum teh yang disodorkan Bastian padanya. Lalu menatap Abela yang juga menangis.
"Kenapa kau menangis?" tanya Orlando pada Abela.
Abela sedang menghapus jejak air matanya dengan saputangan yang diberikan oleh Bastian. Dia menatap Orlando dan mendengus agak keras.
"Bukan aku, ibumu yang menangis," jawab Abela.
"Hah?"
"Tubuh ibumu ... Bereaksi sendiri, ini tidak ada hubungannya denganku," kata Abela lagi.
"Kenapa kalian menangis?" tanya Armand agak tidak sabar. Sia-sia jika dia bertanya pada Bastian.
"Aku hanya teringat ibuku ...." jawab Orlando lirih.
Setelah mendengar jawaban Orlando, tatapan Armand beralih pada Abela, meminta jawaban juga.
"Aku menangis karena melihat anak itu menangis," jawab Abela santai.
Armand terdiam sejenak memikirkan respon apa yang harus dia berikan kali ini.
"Jadi ... Apa yang kalian bicarakan sebelumnya?" tanya Armand akhirnya. Dia menunggu salah satu dari mereka bicara dan menjelaskan lebih rinci lagi.
"Kau kemari untuk membuat kontrak dengan penyihir ini," jawab Orlando tanpa rasa takut sama sekali.
"Baik, lalu?" tanya Armand lagi.
"Aku menolak karena terdengar tidak masuk akal." giliran Abela yang menjawab.
"Apa yang kamu minta?" tanya Armand pada Orlando.
__ADS_1
Orlando, tidak langsung menjawab seperti tadi. Dia terlihat salah tingkah dan sedikit malu. Orlando menatap kakinya. Entah kenapa lantai marmer istana terlihat sangat menarik sekarang.
"Apa lantainya lebih menarik dari pertanyaan ku?" tanya Armand seperti membelah isi kepala Orlando.
Orlando terkesiap dan menatap Armand lagi. dia menelan ludah sebelum menjawab, "Aku ingin kalian menikah agar ayah bisa menjadi waliku," ucap Orlando akhirnya.
Armand menaikan alisnya, apa yang anak ini bicarakan? Tentu saja dia akan jadi wali Orlando. Kenapa Orlando bisa berpikir Armand tidak akan jadi walinya? Armand baru saja akan mengatakan apa yang ada didalam kepalanya, jika saja Bastian tidak menginjak sepatunya dengan sangat kentara. Menggelengkan kepala sedikit saat Armand menatapnya.
"Kenapa kau tidak ingin menikah denganku?" akhirnya, pertanyaan itulah yang keluar dari bibir Armand.
Abela menatap Armand dengan tatapan tidak percaya. Kenapa pria itu harus bertanya soal itu. Bukankah cukup jelas kenapa Abela tidak bisa menikahi Armand? Apa Armand harus diingatkan sekali lagi kalau dia bukan Abela kekasihnya?
Abela akan baru saja akan membuka mulutnya untuk membalas perkataan Armand. Tapi dia mengurung niatnya saat melihat mata Orlando yang masih terlihat berair.
"Orlando, hal ini akan kami bicarakan berdua. Biasakan bicara dengan ku dulu sebelum datang padanya," ucap Armand.
Orlando membalas dengan anggukan kecil. Dia memeluk Mossie yang terlihat dangat tenang sejak mereka datang.
"Kalau begitu ...." Bastian memberi jeda pada ucapannya. Dia mengeling Orlando dengan sudut matanya. "Kau masih ingin ada disini?" tanya Bastian akhirnya.
"Kenapa aku harus berada disini?" Orlando mengulang pertanyaan Bastian. Membuat Bastian memutar mata.
"Maksudku ... Ayo cepat keluar dari kamar ini, orang-orang dewasa ini ...." Bastian menunjuk Armand dan Abela bergantian, "Mereka perlu bicara," kata Bastian lagi.
"Aku pergi," kata Orlando pada Armand.
Armand membalasnya dengan senyum tipis. Dia mengangguk sedikit dan memberi tatapan peringatan pada Bastian yang sedang tersenyum dengan cukup lebar.
Setelah anak-anak itu pergi, Abela menghela napas lega. Dia dengan tenang beranjak dari kursinya dan mulai menanggalkan pakaian di depan Armand.
Armand seharusnya tidak keberatan dengan itu, seperti sudah menjadi kebiasaan baginya. Tapi entah kenapa kali ini dia ingin memalingkan wajahnya yang sudah memanas.
"Aku tidak percaya kau masih dengan santainya membuka pakaian mu di depan ku," ucap Armand datar.
"Kenapa? Bukankah kau sudah sering melihat tubuh ini?" tanya Abela, terdengar provokatif.
"Kau benar ... Aku tidak keberatan. Tentu saja," jawab Armand, menoleh menatap Abela lagi.
Wanita itu sudah mengganti pakaiannya dengan gaun tidur dari sutra. Helaian kain tipis yang berkilau itu menempel pada badannya yang sudah pasti tidak memakai apapun lagi.
"Jadi ... Aku dan kau, tidak akan menikah kan?" tanya Abela.
"Kenapa kau berasumsi begitu?"
__ADS_1
"Karena aku bukan Abela kekasih mu?" Abela menjawab dengan nada bertanya. Membuat Armand tertawa terkekeh-kekeh.
"Kenapa kau tertawa?" tanya Abela heran.
Abela merasa tidak mencoba melucu atau membuat gurauan. Tapi entah kenapa tawa Armand tidak menggangu sama sekali.
"Tidak apa-apa, mendengar mu mengatakan itu setelah membuka pakaian mu di depanku, cukup unik," jawan Armand menghentikan tawanya.
"Terserah," jawab Abela sedikit gusar.
"Kenapa kau menolaknya? Itu bukan sesuatu yang buruk. Benarkan? Tidak mungkin menikah denganku berarti buruk." Armand berkata cukup percaya diri. Membuat Abela memutar matanya.
"Kau selalu penuh dengan dirimu sendiri," jawab Abela diiringi decak kesal.
Armand tertawa lagi, dia memberi instruksi pada Abela untuk mendekat dengan tangannya. Dan bagai sihir, Abela menurut dengan gestur tangan Armand. Dari mulai menyuruhnya mendekat hingga duduk dipangkuan Armand.
"Aku suka suasana ini," bisik Armand pelan.
Abela entah kenapa merasa terganggu dengan benang-benang yang ada di lengan baju Armand dan membersihkannya dengan tangan.
"Kau bahkan sudah berani mengelus ku," ucap Armand menyebalkan.
Abela menatap tajam Armand setelah mendengar komentar laki-laki itu. Abela tidak menyangka jika Armand susah bisa bercanda lagi dengannya.
"Kau harus meyakinkan Orlando kalau kau akan menjadi walinya, tanpa harus menikah denganku," kata Abela.
"Dan kalau aku tidak mau?" tanya Armand lagi.
Abela merasa Armand mempermainkannya, dia ingin sekali mencekik pria itu. Tapi Armand tertawa lagi.
"Kau harus melihat ekspresi yang ada di wajahmu kali ini," ucap Armand lagi.
Abela mendelik pada Armand, dia sebenarnya lelah dan ingin berbaring. Tapi entah kenapa tangan Armand yang melingkar di pinggangnya tidak mau terlepas. Tawa Armand terhenti dan mereka mulai saling bertatapan.
"Sayang sekali kan? tapi aku akan tetap menikahi mu," ucap Armand, setengah terdengar tulus dan serius. Setengah lagi terdengar seperti menggoda Abela.
Abela melebarkan matanya siap berdebat dengan Armand kapan saja. Entah kenapa Abela merasa tidak kesal sama sekali. Dia hanya terkejut mendengar perkataan Armand.
"Hm ...kau bercanda kan?" tanya Abela lagi. Ingin diyakinkan jika Armand serius mengatakan itu.
"Ya ... Menikahlah denganku."
...----------------...
__ADS_1