
.
Abela tidak ingat berapa lama dia ada disini. Tidak ada celah sedikitpun yamg bisa jadi penentu waktu. Tenggorokannya kering karena tidak minum sedikit pun. Dan perutnya terasa perih. Sosok yang merasuki tubuh aslinya pun belum kembali lagi. Abela bisa menduga, ada batas tertentu dalam penggunaan mana untuk melakukan formasi sihir dan berpindah ruang waktu.
Abela ingin tertidur lagi, tapi perih di tangan dan kakinya membuatnya terus terjaga. Abela menjadi semakin waspada saat mendengar suara apapun yang di dengar. Bahkan suara rantai yang mengikat tangan dan kakinya pun membuatnya kaget dari waktu ke waktu.
Abela menyeringai membayangkan ajalnya mungkin kembali datang. Tentu saja jika sosok itu ingin memasuki tubuh Abela dia tidak akan membunuhnya dengan cara menyakiti tubuhnya. Membuatnya kelaparan adalah cara yang tepat.
Abela mendengar suara lagi, dia membuka matanya lemah. Yang dia lihat adalah seekor kucing berwarna hitam yang mendekati tubuh Ghotel. Dan duduk disampingnya dengan tenang.
Abela tersenyum tipis, dia ingat dimana tempat ini. Dia ingat kenapa tempat ini sangat familiar. Ini adalah ruang bawah tanah kastilnya yang selalu malas dia bersihkan dulu. Dan kucing itu, mata Abela melembut menatapnya. Bagaimana bisa kucing itu masih disini bahkan setelah dua tahun Abela meninggalkannya.
"Mossi?" Abela memanggil nama kucing itu lemah.
Abela terkekeh melihat hewan itu terlihat kaget. Dia menatap Abela kini. Ada sesuatu yang terhubung saat mata mereka bertatapan. Perlahan kucing itu mendekat pada Abela. Setiap langkahnya ukurannya menjadi lebih besar. Dan saat dia sudah di depan Abela. Tinggi mereka sejajar.
"Sudah kuduga kau adalah Mossi," kata Abela lagi. Dia melihat taring dan gigi-gigi runcing kucing besar itu saat menggeram.
"Mossi anakku ...." kata Abela lirih. Ini lebih baik, jika dia mati di temani seseorang.
"Jika aku mati lagi, keluarlah dan cari teman yang baru. Kenapa kau masih terjebak di kastil ini?" Abela terus bicara lemah. Abela yakin Mossi mungkin bingung tapi hewan itu bukan hewan yang bodoh. Hanya Abela yang tahu namanya.
Ekspresi Mossi perlahan melunak dan mencoba menggigit rantai yang mengikat Abela, membuat Abela terkekeh saat melihatnya putus asa.
"Kau tahu ... tidak perlu. Tidak perlu melakukan itu." Abela tersenyum lembut melihat mata kucing itu berair. Monster yang dia ciptakan untuk menemaninya dulu, terlihat sedih.
Mossi menggeram lagi dan membuka rahangnya. Cukup menyeramkan melihatnya dari dekat. Entah kenapa dia mengincar amulet yang terpasang di bagian depan tubuh Abela. Abela ingat Armand memasangkannya sebelum mereka berangkat.
Mossi menancapkan giginya kesana dan merobeknya. Entah bagaimana cahaya kuning memancar dari batu berwarna biru itu dan dalam sekejap kucing itu seperti tersedot ke dalam cahaya itu. Sihir transportasi kah?
Abela tertawa lemah, Mossi yang pintar. Abela bahkan tidak menyadari sihir yang ada pada amulet itu. Jika Mossi melakukan bersama tubuh Abela, mungkin dia akan bertransportasi tanpa tangan dan kakinya.
"Aku membesarkannya dengan baik," gumam Abela sebelum tertidur.
.
.
Abela tidak tahu berapa lama dia tertidur. Tapi dengan jelas dia tahu dia tidak sendirian. Sosok itu telah merasuki tubuh Ghotel lagi. Berjalan seperti melayang mengelilingi Abela, mengembuskan bau busuk dari tubuhnya.
"Kau belum mati?" tanya sosok itu dingin.
"Seperti yang kau lihat," jawab Abela lemah.
"Aku bisa bersabar," ucapnya lagi.
__ADS_1
"Kau menyerah dengan tubuh penyihir itu?" tanya Abela sarkastik.
"Dia pasti masih hidup," gumam sosok itu di samping Abela.
Abela tidak menjawab, Abela terdiam, menunduk melihat lantai.
"Kau sudah mati?" tanya sosok itu.
"Belum ... Kau harus lebih bersabar." Abela terkekeh lemah.
"Baguslah. Hal pertama yang harus aku lakukan adalah menyiapkan air dan makanan. Jadi saat aku bangun dalam tubuh itu aku tidak merasa kesakitan." kata sosok itu lagi.
"Aku penasaran ... Bagaimana rasanya masuk kedalam tubuh yang membusuk itu?" tanya Abela.
"Aku tidak berada disini selamanya. Aku hanya keluar masuk saja. Tidak terlalu nyaman. Seperti yang kau lihat."
"Jadi kau bermaksud menjebak dirimu sendiri di dalam tubuhku?" tanya Abela lagi.
"Kau benar. Itu berarti aku sangat dekat dengan musuhku. Dan bisa mulai menghabisinya satu persatu."
Abela sekarang paham tujuan sosok itu dan terlebih lagi, dia akhirnya tahu alasan Dewa membuatnya kembali ke dunia fana ini. Dewa khawatir jika ingatan dari tubuhnya bisa di baca oleh orang lain. Sehebat apapun Ghotel pasti akan ada yang lebih hebat darinya. Kenapa repot membuatnya hidup lagi.
"Heh ... ada orang yang mendekat ke kastil ini ...." ucap sosok itu pelan.
"Kalau begitu cepat kabur dan tinggalkan tubuh itu di sini," kata Abela mencoba membodohinya.
Abela tertawa lemah mendengar itu.
"Apa aku tebas saja dirimu agar kau cepat mati?"
"Ide yang bagus ... Kenapa tidak kau lakukan lebih cepat," tantang Abela.
"Kau ... Sangat berani. Aku suka sikapmu ... Aku harus pergi melihat tamuku ...." sosok itu berkata lirih sebelum berjalan bertransportasi. Meninggalkan Abela sendiri.
...----------------...
Armand bertarung tanpa henti membunuh monster-monster itu dan terus masuk ke dalam hutan menuju kastil penyihir itu berada. Tidak ada yang berani menghentikannya. Kecuali dia yang pada akhirnya menyuruh mereka semua beristirahat. Dia terpaksa menelan makanannya karena jika tidak dia akan mati konyol tanpa mampu mencapai tujuannya.
Sudah dua hari Abela menghilang. Membuatnya ketakutan. Apa yang terjadi dengan Abela, bagaimana kalau dia terlambat. Apa tujuan orang itu mengambil Abela darinya. Semua pertanyaan itu berputar di kepala Armand tanpa henti.
Mereka beristirahat di dekat sungai, tidak mendirikan tenda hanya makan dan minum saja. Semua ksatria yang ikut dengan Armand tampaknya sangat pengertian. Mereka paham harus segera bergerak lagi.
Suara ranting yang terinjak dan raungan kecil membuat mereka waspada. Mereka berdiri menggenggam pedang mereka masing-masing. Saat mereka sudah siap. Mereka melihat sepasang mata merah yang bersinar dalam kegelapan. Pemilik mata itu perlahan memperlihatkan dirinya.
Armand terpana melihat monster menyerupai kucing besar berwarna hitam itu. Pandangan mereka bertemu. Armand mengisyaratkan semua orang untuk diam dan menunggu. Entah kenapa dia merasa belum boleh menyerang saat itu.
__ADS_1
Monster itu mendekat pada Armand dan meletakkan sesuatu di dekat kakinya. Armand menunduk mengambilnya. Batu permata biru yang ada pada amulet yang Armand sematkan pada baju Abela sebelum berangkat. Armand menggenggam batu itu dan menatap monster itu lagi.
"Kau ... Akan membawaku ke tempatnya?" tanya Armand. Dia mungkin sekarang terlihat gila. Dia bicara dengan monster.
Tapi kenyataan jika monster itu terlihat mengerti perkataannya lebih mengagetkan lagi. Monster itu mengangguk dan berbalik meminta Armand mengikutinya. Dengan segera Armand dan pasukannya naik ke kuda masing-masing dan mengikuti kemana monster itu berlari.
Rute yang dilalui Armand dan pasukannya bukan rute yang mereka tahu, tentu saja bukan satu dua kali mereka kemari -ke kastil penyihir- tapi mereka tidak pernah tahu rute kali ini. Tidak terlalu lama mereka mengendarai kudanya dan mereka sudah dekat dengan kastil itu. Membangunkan monster-monster yang terlihat sedang tertidur.
Armand dan pasukannya waspada di atas kuda mereka. Dan monster yang membawa mereka bersikeras agar Armand mengikutinya. Perasaan Armand terbagi dua, antara menemani pasukannya melawan monster-monster yang ada disini atau mengikuti monster itu.
"Duke ... Pergilah !" Cesar berteriak mengembalikan Armand dari lamunannya.
"Pergilah ... Serahkan ini pada kami," Cesar tersenyum pada pamannya itu. Entah kenapa terlihat lebih dewasa dari beberapa jam lalu. Armand tersenyum tipis sebelum turun dari kudanya dan naik ke tubuh monster kucing itu.
Monster itu dengan mudah melompati gerbang yang tinggi dan mendobrak pintu belakang kastil. Jika perlu monster itu menghancurkan apa saja yang menghalangi di depannya.
Saat mereka sudah akan sampai, sosok yang merasuk ke dalam tubuh Ghotel menghadang mereka.
"Aku tidak percaya kau mengkhianati ku kucing kecil," ucap sosok itu seperti bersenandung.
Armand menggenggam pedangnya yang bersinar biru.
"Dimana Abela?" tanya Armand dengan nada rendah dan dingin.
"Kita bertemu lagi Duke," ucap sosok itu.
"Bertemu lagi? Aku tidak yakin pernah bertemu dengan wajah mengerikan itu?"
"Kita bertarung dua tahun lalu," jawab sosok itu tersinggung.
"Apa yang kau katakan?" tanya Armand lagi.
"Aku Ghotel."
Armand tertawa mendengar jawaban sosok itu. Siapa dia berani dengan percaya diri menyebut dirinya sebagai penyihir hebat itu.
"Kau? Ghotel? Dengar, siapapun kau yang ada di tubuh busuk itu. Kau tidak akan pernah jadi dia." Armand berkata dingin diakhir tawanya.
Sosok itu tampaknya lebih penakut dari yang Armand kira. Dia melakukan sihir transportasi tepat sebelum Armand bergerak untuk menyerangnya. Tapi Armand tidak terganggu dengan itu. Karena monster yang dia kendarai sudah melaju kencang lagi dan menghancurkan satu pintu lagi. Mereka perlahan menuruni tangga memutar ke bawah tanah. Tidak ada cahaya sedikit pun disini. Saat semakin dekat dengan ruangan itu, Armand mendengar suara denting rantai.
Armand melebarkan matanya melihat Abela terikat dengan rantai. Kepala Abela terkulai lemah. Armand turun dari tubuh monster itu dan berlari menghampirinya.
"Abela !" panggil Armand sedikit keras.
Abela perlahan membuka matanya, dia menyunggingkan senyum lemahnya.
__ADS_1
"Kau datang agak terlambat, Armand."
...----------------...