
.
Rombongan Ekspedisi telah kembali bersama rumor buruk. Beberapa yakin bahwa ekspedisi ini tidak sepenuhnya berhasil. 'Jika saja madam itu tidak ikut' .... itu adalah kalimat pertama yang diucapkan oleh orang-orang saat membicarakan ekspedisi itu.
Abela tahu, keikutsertaannya dalam ekspedisi kali ini tidak seperti saat ke timur. Dia juga sadar jika dia membuat semua lebih berat dengan membiarkan dirinya di culik dengan mudah. Tetap saja, bukankah mereka jadi tahu tentang keberadaan sosok yang merasuki tubuh Ghotel.
Abela menghela napas, dia ingin segera pulang tapi Armand bersikeras menyuruhnya tinggal di istana. Abela mendengar suara orang mengetuk pintunya.
"Masuk," jawab Abela yang duduk dengan nyaman di sofa yamg empuk.
"Ibu, ini aku." Bastian menampakkan wajahnya di celah pintu yang dia buka sedikit.
"Ya, masuklah." Abela tersenyum padanya.
"Bagaimana perasaan ibu?"
"Sangat tidak nyaman, aku ingin segera pulang," jawab Abela jujur.
"Ke kediamanmu?" tanya Bastian.
"Kemana saja asal keluar dari sini." Abela memberi ekspresi wajah lelah pada Bastian.
"Apa yang membuat ibu tidak nyaman. Aku bisa menyingkirkannya untuk ibu."
"Itu Kalimat yang sangat mengerikan, Bastian." Abela tersenyum bangga saat mengatakan itu. Bastian lebih cocok menjadi anaknya dari pada Orlando yang lembut. Tentu saja keduanya bukan darah dagingnya, kenapa dia harus membandingkan?
"Kemana ayahmu? Sudah empat hari sejak aku bertemu dengannya." Abela sadar jika Armand menghindarinya akhir-akhir ini.
"Suruh pelayan menyampaikan pesanmu jika kau merindukannya dan dia akan berlari kemari secepat yang dia bisa." Bastian tertawa sebelum meneruskan, "Sebenarnya dia sangat sibuk."
"Syukurlah jika dia sibuk, aku kira dia menghindari ku," jawab Abela.
"Untuk apa dia menghindari mu, ibu?"
"Ada hal yang harus kami diskusikan, tapi dia bilang dia tidak mau mendengarnya sekarang." Abela menatap cangkir tehnya dengan ekspresi kosong.
"Tidak biasanya dia begitu?" Bastian menatap Abela serius. "Apa itu ... Sesuatu yang buruk? Yang akan ibu diskusikan?"
"Tidak ... Ya ... Kukira ...." Abela tersenyum canggung.
Tentu saja yang akan dia beritahukan pada Armand adalah kabar buruk. Apa yang Armand lakukan jika tahu sebenarnya kekasihnya telah meninggalkan dia untuk selamanya. Terlebih lagi di rasuki oleh orang yang pernah dia bunuh. Apa lagi yang lebih buruk dari itu. Abela rasanya tidak heran kalau kemarahan Armand mungkin bisa membuatnya terbunuh lagi.
"Aku rasa ayah hanya perlu waktu ... Bersabarlah sebentar lagi Bu." Bastian menerbitkan senyumnya yang langka.
"Melihat mu tersenyum, membuatku merasa lebih baik," ucap Abela tulus. Membuat wajah Bastian sedikit merona.
"Aku akan tersenyum lebih banyak kalau begitu," kata Bastian, menyembunyikan wajah malunya di balik cangkir teh.
Abela terkekeh melihat gestur itu. Wanita ini sungguh beruntung, dia dicintai banyak orang.
__ADS_1
Calix menghela napas di dekat jendela. Hari ini mentornya dulu Armand memberitahukan bahwa dia melihat tubuh Ghotel di dalam kastil tempat Abela di culik. Dan orang-orangnya di timur memastikan hal itu. Tubuh Ghotel sudah tidak ada dalam kuburnya.
Apa yang harus Calix lakukan sekarang? Dia tidak terpikir ada penyihir yang akan melakukan sihir terlarang itu. Siapa orang itu yang berani melakukannya. Calix merasa bersalah. Dia yang bersikeras agar tubuh leluhurnya tidak di hancurkan.
"Kau masih memikirkan tubuh leluhurmu?" tanya Armand, yang sejak tadi melihat keresahan Calix.
"Menurut anda, siapa? Yang melakukan itu?" tanya Calix, masih melihat keluar jendela.
"Entahlah ... Tidak ada yang bisa benar-benar bisa menebak." Armand menjawab.
"Soal penyihir itu, apa dia benar-benar masih hidup?" Calix mengatakan itu dengan hati-hati.
Armand terdiam, entah kenapa tidak ingin menjawab pertanyaan itu. Dia merasa sesuatu yang buruk akan menimpanya. Firasatnya tidak pernah salah soal itu.
Armand masih menghindar dari Abela, dia selalu mencari alasan untuk menghindari mendengarkan penjelasan kekasihnya itu. Armand tersenyum miris. Menertawakan sisi pengecutnya yang tidak biasa.
"Kau tahu Calix ... Akhir-akhir ini aku seperti merasakan firasat buruk." Armand tiba-tiba terdengar ingin mengajak Calix berdiskusi.
"Ya?" Calix sedikit kaget dengan nada itu. Tidak pernah sebelumnya Armand terdengar mengeluarkan nada seperti itu.
Armand terdiam, melirik Calix dengan sudut matanya lalu mengulas senyum.
"Lupakan saja," ucap Armand akhirnya. Sebelum berbalik meninggalkan Calix yang tertegun sendirian.
.
.
"Yang mulia," Calix menunduk hormat.
"Aku sangat malu jika tunanganku bersikap begitu terhadapku." Lyra membuka kipasnya dan menyembunyikan sebagian wajahnya.
"Saya dengar anda tidak enak badan," ucap Calix lembut.
"Ya ... aku tidak meninggalkan kamar ku sama sekali. Hanya beberapa pelayan yang aku percaya boleh masuk."
"Apa sekarang anda baik-baik saja?" tanya Calix lagi.
"Seperti yang kau lihat, aku sudah bisa berjalan lagi. Tapi Duke ... kapan kau akan melepaskan formalitas mu padaku?"
"Saya rasa, saya lebih nyaman seperti ini yang mulia. Saya harap, anda tidak keberatan." Calix jelas membuat batas diantara mereka dan Lyra menyadarinya. Lyra menyembunyikan wajah tidak nyamannya di balik kipas.
Taman bunga mawar itu menuju air mancur. Istana di penuhi oleh bunga-bunga mawar. Seperti nama negeri ini. Rhodes. Lyra tidak terlalu menyukainya, wangi mawar sangat mencolok dan menyengat. Mampu mengalahkan wangi bunga yang lain. Seperti pemenang dalam setiap perkumpulan.
Lyra bisa melihat Calix menghentikan langkahnya dengan sudut mata. Mata Lyra mengikuti direksi kemana arah mata Calix. Apa yang membuatnya berhenti melangkah. Pertama yang Lyra lihat adalah helaian rambut berwarna emas yang terbawa angin. Suara tawa ringan yang memenuhi taman itu. Lyra memejamkan matanya.
"Jadi ... Apa yang membuat Duke terpana? Pangeran Bastian yang jarang terlihat tertawa atau ... Madam Abela yang terlihat cantik hari ini?"
__ADS_1
Pertanyaan Lyra membuat Calix melebarkan matanya. Dia tidak sadar jika dia berhenti di tempat dia berdiri sekarang.
"Tuan Duke tidak perlu terkejut, aku juga sangat terpana dengan pemandangan yang aku lihat sekarang. Pangeran Bastian terkenal sangat dingin ternyata bisa tertawa seperti itu. Dan Madam Abela ... Dia memang sangat mempesona."
Ucapan Lyra entah kenapa membuat Calix waspada. Ada nada dingin yang tidak bisa lolos dari pendengarannya. Calix melirik Lyra dengan sudut matanya. Sayangnya dia tidak bisa melihat jelas ekspresi gadis itu yang tertutup kipas.
"Saya, tentu melihat pangeran Bastian," jawab Calix tenang. "Saya mengenalnya sejak dia masih sangat muda. Dia tumbuh dengan baik. Dia akan sehebat ayahnya."
"Begitukah? Baiklah Duke." Lyra kembali berjalan kearah dimana Abela dna Bastian berada. Calix menelan ludah sebelum mengikutinya dari belakang.
"Madam ...." panggil Lyra pelan tapi terdengar oleh Abela.
Abela tersenyum menyambut putri itu dan menunduk hormat pada Lyra dan Calix. Membuat senyum Bastian hilang dan wajahnya berubah kaku lagi. Mereka berempat duduk di meja bundar di bawah gazebo.
"Armand? Apa yang kau lihat?" Raja menghampiri tempat Armand berdiri. Dan melihat kemana arah pandangan adiknya itu.
"Madam Abela? Dia baik-baik saja?" tanya Raja.
"Ya ... Begitulah ...." Armand menjawab lirih.
"Semua bangsawan bising sekali akhir-akhir ini membicarakan Madam itu, aku harap dia baik-baik saja."
"Yang mulia tidak perlu khawatir tentang itu ...." ucap Armand.
"Kau benar ... Kau yang terlihat tidak baik-baik saja. Itu yang aku khawatirkan."
"Aku hanya merasakan firasat buruk saja. Sejak ...." Armand menghentikan ucapannya.
"Sejak?"
"Sejak dia bilang ingin mengatakan sesuatu ... Sebuah kebenaran?" Armand mengakhiri kata-katanya dengan nada bertanya. Membuat Raja mengerutkan keningnya.
"Jadi? Apa kebenaran itu?" tanya Raja lagi.
"Aku belum tahu, aku belum mau mendengarnya," jawab Armand jujur.
"Aaa ... Begitu? Jadi keresahanmu hanya akan hilang setelah mendengarnya. Sederhananya seperti itu kan? Tapi kau tidak mau mendengarnya? Aku tidak tahu jika adikku yang tangguh ini ternyata memiliki ketakutan juga?" Raja tersenyum menatap keluar jendela.
"Aku hanya manusia biasa juga, jika kau lupa soal itu. Kak ...."
"Lakukan saja? Apa yang menurut mu benar. Setelah kau dengar kebenarannya."
"Setiap kau bicara dengan nada itu. Entah kenapa selalu membuat ku berpikir kau sudah tahu semuanya." Armand tersenyum seraya menutup matanya.
"Entahlah ... Bisa ya ... Bisa juga tidak ...." Raja akhirnya menatap Armand, ada kilat aneh di matanya yang membuat Armand terpana.
"Kau akan mendengarnya malam ini ... Kebenaran itu," ujar Armand yakin.
__ADS_1
"Hn ... Lebih cepat lebih baik."
...----------------...