Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke

Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke
Ekspedisi Monster


__ADS_3

.


Abela menghirup teh nya di dalam gazebo di tengah kebun bunga milik Rewelin. Rewelin mengundangnya minum teh. Abela tidak memiliki alasan untuk menolak undangan itu.


"Gaun yang madam pakai hari ini, sangat berbeda dengan gaun yang biasa ada di Romano," komentar Rewelin.


"Apa terlihat aneh?" tanya Abela.


"Tidak, gaun itu sangat indah. Tapi mungkin tidak mudah mencarinya."


"Armand membelikan ku banyak gaun saat kami sedang di wilayah timur. Di teritori Duke Estonia," jawab Abela.


Abela menghela napas, akhir-akhir ini setiap dia mendengar atau menyebut nama Armand, perasaannya terasa berat. Abela belum bertemu lagi dengan Armand sejak pesta dansa. Dan Armand seperti biasa tidak mencoba menghubunginya. Dan entah kenapa membuat Abela terganggu.


"Aku dengar dari suamiku, Armand akan pergi ke ekspedisi monster bersama dengan Duke Estonia dan Putra Mahkota."


"Ekspedisi monster?" Abela bertanya mengulang informasi yang naru dia dengar.


"Madam tidak tahu?" Rewelin tidak menduga jika Armand tidak memberitahu Abela tentang itu.


"Armand tidak memberi tahuku. Tidak lebih tepatnya dia belum menghubungi ku sama sekali sejak pesta dansa." Abela terlihat kesal saat mengatakan itu.


"Kurasa dia tidak berubah sama sekali." Rewelin tersenyum simpati. "Aku bersyukur tidak menghabiskan hidupku dengannya."


"Itu komentar yang cukup ... berbahaya ...." Abela meletakan cangkirnya.


"Setidaknya Armand terlihat mencintaimu," ujar Rewelin , dia menutup matanya saat mengatakan itu, helaian anak rambutnya terbawa angin yang berhembus lembut. Wanita dewasa itu terlihat cantik dan anggun. Bisa Abela bayangkan secantik apa dia saat masih muda.


"Madam Delacour juga pasti punya kenangan yang menyenangkan dengan Duke de Rhodes."


"Entahlah, aku mengenalnya sejak balita. Armand dan aku tumbuh bersama. Aku bertunangan dengannya saat aku berumur sepuluh tahun. Berapa umurnya saat itu ... Hm ... Empat belas aku rasa." Rewelin membuka matanya, Abela dengan jelas melihat kemarahan di sana.


"Umurku empat belas saat aku selalu mendengar rumor problematik tentang pangeran kedua. Bagaimana dia mematahkan banyak hati nona muda. Atau menjalin hubungan dengan nona yang lebih tua darinya. Atau tiba-tiba di temukan mabuk di tengah kota." Ada kemarahan di setiap ucapan Rewelin yang membuat Abela tidak bisa berkomentar apa-apa.


"Karena itu Raja memajukan pernikahan kami. Umurku baru enam belas saat itu. Bisa kau bayangkan takutnya aku menerima kenyataan menjadi istri pangeran itu." Abela akhirnya melihat senyum di wajah Rewelin.


"Madam tahu, saat malam pertama kami. Aku ketakutan dan menangis di dalam lemari. Jadi saat dia menemukanku dia tertawa dan berkata kalau dia tidak akan melakukan apa-apa." Rewelin menatap Abela lagi.


"Selama aku jadi istrinya, dia tidak pernah menyentuhku. Seharusnya dia tidak sebaik itu. Jadi saat dia pulang setelah menghilang dalam waktu cukup lama dan membawa Bastian. Aku tidak akan merasa patah hati."


"Jadi, Bastian lahir saat Armand masih menikah dengan madam?" tanya Abela hati-hati.


"Ya ... Madam benar. Suatu hari pangeran kedua menghilang, ayah mertua yang juga raja pada saat itu memintaku menunggu dengan sabar. Akhirnya dia memang kembali."


"Apa madam sangat keberatan dengan kehadiran anak itu?" Abela bertanya lagi.


"Saat itu ... Umurku masih dua puluh tahun, madam tidak berpikir aku akan bersikap dewasa kan?" Rewelin meminum tehnya lagi.

__ADS_1


"Saat itu tekanan yang diberikan bukan dari Armand tapi dari keluargaku. Mereka ingin anakku yang menjadi penerus Armand. setelah melihat pernikahan Armand yang kedua dan ketiga. Entah kenapa mengingatkanku pada keserakahan keluargaku dulu."


"Aku juga mendengar soal itu." Abela tersenyum, "Setidaknya, Madam terlihat lebih bahagia sekarang," ucap Abela tulus.


"Ya."


...----------------...


"Antar aku ke kediaman Armand," perintah Abela pada prajurit dan kusirnya.


Mereka saling berpandangan dan akhirnya mengangguk. Abela tahu dia datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, itu sangat tidak sopan. Tapi Armand juga biasa melakukan itu -berkunjung tanpa pemberitahuan dulu.


Tujuan Abela ke kediaman Armand tentu saja karena dia ingin ikut dalam ekspedisi monster. Terlebih lagi, kenapa Armand terlihat menghindarinya.


Abela turun dibantu prajurit yang menjaganya turun dari kereta kuda. Saat Tony berlari tergopoh di ikuti pelayan yang lain.


"Selamat datang Madam." Tony membungkuk menyambut Abela yang tersenyum karena merasa bersalah.


"Maaf aku datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, Tony. Tapi aku perlu bertemu dengan Armand," ucap Abela.


"Tidak tentu saja tidak masalah , Madam. Silahkan masuk." Tony membungkuk dan membiarkan Abela berjalan di depannya.


"Tuan masih di istana, madam ingin menunggunya di kamar tuan atau di ruang rekreasi."


"Kamar saja. Aku ingin berbaring sebentar," jawab Abela tenang.


Beberapa pelayan masuk ke dalam kamar mengikuti Abela. Abela mulai melucuti semua pakaiannya.


"Kalian takut padaku?" tanya Abela, dia tidak bisa menahan untuk tidak bertanya.


"Kami takut nyonya tidak percaya pada kami."


"Aku baik-baik saja. Tolong siapkan air hangat untukku. Aku ingin mandi." Abela tersenyum ramah pada mereka yang entah kenapa terlihat gembira dengan perintah Abela.


Setelah mandi dan memakai gaun tidur, Abela segera berbaring menelungkup di tempat tidur Armand yang empuk. Menghirup selimut dan bantalnya yang memiliki wangi yang sama dengan Armand.


Bisa-bisanya dia menghindari dan mengacuhkan ku berhari-hari. Batin Abela kesal. Abela menarik napas dan menghembuskannya untuk menenangkan diri. Sampai akhirnya terlelap.


...----------------...


Armand terlihat lelah saat sampai ke kediamannya. Semua orang menyambutnya seperti biasa.


"Tony, aku ingin cepat mandi dan tidur. Siapkan sebotol wiski ke kamarku," perintah Armand.


"Anda ingin minum malam ini?" tanya Tony hati-hati.


"Untuk sementara ini, hanya itu yang bisa membantuku tidur."

__ADS_1


"Tapi, nyonya Abela sedang tertidur di kamar anda Tuan." Jawaban Tony membuat Armand melebarkan matanya. Dia menatap Tony tajam.


"Siapa?" tanya Armand memastikan pendengarannya.


"Madam Abela, Tuan. Baroness Abela Isla," jawab Tony lagi.


"Aku tidak tahu dia akan berkunjung." Armand menatap Tony.


"Maaf Tuan, nyonya memang datang tanpa memberitahu terlebih dahulu."


"Abela?" Armand menaikkan sebelah alisnya. Abela tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Sikap seperti ini benar-benar baru.


"Siapkan air mandi ku kalau begitu. Dan tetap bawakan aku wiski." Armand memerintah sambil berjalan.


.


.


Armand duduk di kursi yang ada di kamarnya. Sebelah tangannya memutar gelas wiski sebelah lagi mengapit cerutu. Armand menatap wajah Abela yang tertidur nyenyak di atas tempat tidurnya. Dia benar-benar ada disini. Orang yang dia rindukan berhari-hari.


Armand menghisap cerutunya seraya memejamkan mata.


"Armand, kau sudah pulang?"


Armand membuka matanya perlahan dan tersenyum tipis. Menatap Abela duduk terduduk dengan wajah mengantuk. Lengan gaun tidurnya melorot di lengannya. Rambutnya sedikit berantakan.


"Sejak kapan kau duduk disitu?" tanya Abela lagi.


"Sejak aku pulang," jawab Armand tenang, membuat Abela kesal.


"Dan sudah berapa lama sejak kau pulang?" tanya Abela lagi.


"Tidak terlalu lama sejak aku menikmati wajah cantikmu. Setidaknya sebelum kau bangun dan terlihat siap mengajakku berdebat."


Abela menyipitkan matanya mendengar ucapan Armand. Tapi dia harus menahan rasa kesalnya untuk saat ini. Abela turun dari tempat tidur mendekat pada Armand. Merebut cerutu dan gelas yang di pegang Armand, yang tanpa perlawanan memberikannya.


Armand tetap menatap Abela dalam diam bahkan sampai Abela naik ke pangkuannya. Duduk mengangkang di paha Armand dan melingkarkan tangannya di leher Armand. Menempelkan badan mereka.


Mereka masih saling bertatapan dalam diam. Mata mereka saling mengunci satu sama lain. Coklap yang gelap dan biru yang bersinar.


Abela menyunggingkan senyum indahnya di saat yang tepat, membuat Armand mengalihkan pandangan pada bibirnya yang merah muda.


"Banyak kejutan malam ini. Kau yang untuk pertama kalinya datang mencari ku, yang tidur di ranjangku atau kau yang sekarang duduk dipangkuan ku."


"Yang mana yang lebih kau suka?" tanya Abela masih dengan senyum menggodanya.


Armand tersenyum miring, dengan senang hati menerima tantangan itu. Dia akhirnya melingkar tangannya di sekitar pinggang Abela. Membawanya semakin mendekat.

__ADS_1


"Beri aku lebih banyak lagi kalau begitu," bisik Armand.


...----------------...


__ADS_2