
.
Abela memandang langit-langit kamar yang tinggi. Tubuhnya sudah segar setelah mandi. Banyak hal yang masuk ke dalam pikirannya. Kelebatan memori masa lalu yamg tumpang tindih. Hidupnya yang panjang tidak selalu menyedihkan dan membosankan. Ada kalanya dia merasa bahagia. Walau kebahagiaan itu selalu terasa lebih singkat.
Hilangnya dia di dunia ini ternyata mematahkan keseimbangan. Jadi orang jahat yang ditakuti oleh orang-orang ternyata ada gunanya juga. Setidaknya mereka bersatu demi kedamaian. Sekarang baru dua tahun dia pergi dari dunia, mereka sudah saling berebut mengusik kedamaian orang lain.
Abela tersenyum miris pada angin. Dulu juga dia pernah bertindak sebagai penjaga kedamaian. Banyak orang yang menyukainya. Banyak orang yang terhubung dengannya. Banyak orang juga yang menerima kasih sayangnya. Dan orang itu meninggalkannya satu persatu. Tidak sedikit yang akhirnya menyambut ajal di pelukannya. Dan rasanya menyakitkan. Saat itu lah, saat orang terakhir yang dekat dengannya pergi. Dia memilih menutup diri.
Abela masih mengingat awal pertama kali dia menjadi ancaman. Saat itu dia kesal dengan perang saudara yang terjadi. Jadi dia melepaskan monster mengerikan di perang itu. Dan semua prajurit lebih fokus mengalahkan monster dari pada musuhnya. Dan begitulah hal itu terus terjadi. Semakin tua juga dia semakin bosan, dia memikirkan segala cara agar dapat meninggalkan dunia ini.
Dia mengancam kedamaian orang-orang untuk menemukan seseorang yang berani menghabisinya. Dan akhirnya penantiannya selama ratusan tahun terjawab. Dia bertemu dengan Armand.
Armand adalah jendral perang yang tidak pernah berhenti berusaha. Berkali-kali dia terluka parah saat melawannya. Tapi dia selalu kembali. Terutama saat Armand sudah memiliki pedang itu. Armand bilang pedang itu diturunkan dari raja-raja sebelumnya. Tapi Abela tidak ingat pernah ada yang bertarung dengan pedang itu sebelumnya. Barangkali bukan karena pedangnya. Tapi siapa yang menggunakannya.
Renungan Abela terhenti saat dia mendengar pintu terbuka. Tapi dia enggan bergerak dari posisi berbaringnya.
"Kamu bahkan tidak memeriksa siapa yang masuk kamar ini." Suara Armand yang rendah melayang ke telinga Abela.
"Siapa lagi yang akan masuk dengan tidak sopan tanpa mengetuk pintu," jawab Abela sarkastik.
Armand tertawa mendengarnya. Dia naik keatas tempat tidur, duduk dan menyadarkan punggungnya. Abela meliriknya dengan ekor matanya. Armand hanya mengenakan jubah tidur saja, jubah sutra berwarna hitam itu mengkilat saat cahaya lilin berpendar di sekitarnya.
Abela melihat Armand memejamkan mata, rambutnya yang biasa rapi terlihat cukup berantakan, sebagian menutupi keningnya.
"Jika kamu memandangi ku begitu, aku tidak tahu bagaimana cara menghentikan detak jantungku yang berdebar kencang." Armand mengatakannya dengan mata yang masih tertutup.
"Omong kosong," jawab Abela dingin. Disambut tawa pelan dari Armand.
"Apa yang ingin kamu tanyakan?" Armand akhirnya membuka matanya, menatap Abela yang hampir menyembunyikan semua bagian tubuhnya di balik selimut.
"Dari setiap pertarungan mu dengan penyihir, aku tidak percaya tidak sekalipun dia menyerang wajahmu," kata Abela datar. Lebih pada dirinya sendiri.
"Itu ... Aku tidak tahu jawabannya. Bagaimana menurutmu?" tanya Armand yang sudah membaringkan tubuhnya miring menghadap pada Abela.
"Entahlah. Mungkin dia hanya mengincar organ vital mu saja." Abela tidak sungguh-sungguh ingin menjawab.
"Ah ... Aku berharap kamu menjawab itu karena wajah tampanku." Armand tertawa jahil di akhir kalimatnya. Dan tawanya semakin keras saat menerima ekspresi Abela.
"Keluarlah dan minta mereka menyiapkan satu kamar lagi untukmu," ucap Abela menghentikan tawa Armand.
__ADS_1
"Kenapa? Ini kamarku. Jadi bukankah seharusnya kamu yang keluar meminta kamar lagi?" Armand menaikkan sebelah alisnya.
"Masalahnya, ini rumahmu. Dan kau tuan mereka. Akan aneh jika aku yang memberi perintah."
"Kalau begitu aku tidak mau, aku tetap akan tidur disini, di kamarku," jawab Armand mengganti posisi berbaringnya, menjadi terlentang.
"Aku tidak ingin tidur denganmu." Abela menegaskan maksudnya.
"Permintaanmu ditolak," jawab Armand santai.
"Terserah saja. Tapi jika kamu menyentuhku sedikit saja, aku akan menggunakan auraku," ancam Abela.
"Jangan mengancam ku dengan itu, aku juga bisa menggunakan aura," ucap Armand, menolehkan kepalanya menatap Abela yang sudah dia duga sedang menatapnya tajam.
"Dan kalau itu terjadi, bahkan sebelum kita melakukan apa-apa, ranjang ini, hmm ... Tidak. seluruh lantai ini akan roboh," kata Armand, tawa geli terdengar lagi. Tapi bukan dari Armand.
Tawa nyaring Abela memenuhi semua ruang kosong di kamar ini. Tubuhnya di balik selimut terlihat bergetar, Abela menyeka sudut matanya yang sedikit berair. Dan berusaha menghentikan tawanya saat matanya menangkap tatapan Armand yang terpesona.
"Apa yang kamu lihat?" tanya Abela, berusaha bicara dengan nada paling datar yang dia bisa.
"Wajahmu," jawab Armand singkat. Dia melingkarkan tangannya di perut Abela.
"Perkataanmu tidak sesuai tindakan, dengan menempelkan dirimu padaku, itu berarti kamu sudah melakukan apa-apa," jawab Abela yang ditanggapi tawa pelan dari Armand yang semakin menempelkan badannya, kepalanya sudah dipundak Abela.
"Bisa kamu membelai rambutku sampai aku tertidur, seperti yang biasa kamu lakukan," kata Arman setengah berbisik.
"Untuk apa?" tanya Abela dengan nada bosan.
"Aku hanya menginginkannya. Atau kamu lebih suka tanganku yang bergerak?" Armand mengatakan itu dengan nada jahil. Membuat Abela tidak punya pilihan, dengan canggung membelai rambut Armand. Sedikit kagum karena rambutnya terasa lembut.
"Sebelum kau tidur boleh aku bertanya?"
"Hn. Tanyakan apa saja," jawab Armand.
"Berapa level tertinggi pengguna Aura?"
"Level satu adalah yang tertinggi, seperti golongan nomor satu," jawab Armand dengan nada mengantuk.
"Kau level satu?" tanya Abela lagi.
__ADS_1
"Ya ... Tidak banyak level satu di kerajaan ini."
"Bagaimana dengan aku? Berapa levelku?" Abela cukup penasaran dan mengantispasi jawaban Armand.
"Seingat Ku mungkin level dua puluh delapan." Jawaban santai Armand membuat Abela terkejut.
"Aku selemah itu?" tanya Abela tidak percaya.
"Lemah? Masih banyak level di bawah itu."
"Tapi tetap saja aku lemah, aku bahkan tidak masuk sepuluh besar." Abela terdengar gusar.
"Aura bisa melemah kalau kau tidak pernah memakainya di pertarungan, kalau kau tidak berlatih, kalau kau ...." Armand menggantung kalimatnya. "Khusus untuk wanita, kalau dia melahirkan keturunannya. Auranya sebagian diturunkan pada bayinya."
"Kalau begitu aku bodoh, untuk apa aku melahirkan jika kekuatanku berkurang." Kata-kata yang diucapkan Abela dengan nada datar itu membuat Armand terkejut.
Armand melebarkan matanya dan mendongak menatap ekspresi Abela yang tampaknya tidak bercanda. Dia memberi jarak diantara mereka dengan menyangga badan besarnya dengan tangan. Menatap lekat wajah Abela di bawahnya.
"Itu cukup mengejutkan. Haruskah aku segera membawa Orlando pulang? Dengar, aku tahu kamu kehilangan ingatanmu. Tapi aku harap kamu tidak mengatakan itu di hadapan anakmu. Itu peringatan bukan permintaan." Armand mengatakannya dengan nada dingin dan serius. Untuk pertama kali Abela mendengar nada itu. Entah kenapa membuatnya sedikit gugup.
"Baiklah," jawab Abela singkat. "Jangan khawatir," kata Abela lagi. Mencoba sedikit meyakinkan Armand yang masih menatapnya tajam.
Armand akhirnya berguling ke sisi tempat tidur yang kosong. Terdengar jelas menghela napas -menenangkan dirinya.
"Maaf, aku tidak bermaksud keras padamu. Aku hanya sedikit khawatir pada Orlando."
"Aku mengerti, tidurlah." Abela tidak ingin meneruskan percakapan ini, entah kenapa tiba-tiba merasa lelah. Tubuh ini sangat lemah, jadi dia harus terbiasa.
Abela sudah akan menutup mata dan tertidur saat Armand kembali memanggil namanya.
"Abela ...."
"Ya ...." gumam Abela mengantuk.
"Abela ...."
Dan Abela sudah tidak menghiraukan Armand lagi. Tidak panggilannya atau bahkan belaian jemari Armand di rambutnya.
...****************...
__ADS_1