Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke

Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke
Keresahan Abela


__ADS_3

.


Armand menghancurkan rantai yang mengikat Abela dengan satu kali tebasan. Dan membawa Abela ke pelukannya.


"Aku haus ...." ucap Abela lirih.


Armand membuka tempat minum yang dia bawa di balik bajunya. Dan membantu Abela minum.


"Apa lagi yang kau rasakan? Ada yang sakit?" tanya Armand.


"Aku lapar ...." jawab Abela, membuat Armand tertawa.


"Kau berani tertawa diatas derita ku?" wajah Abela berbanding terbalik dengan kata-katanya. Dia menyunggingkan senyum lega di dada Armand. Sebelum akhirnya hilang kesadaran.


...----------------...


Abela terbangun di suatu tempat yang nyaman. Jelas bukan tenda di hutan terpencil yang mereka datangi untuk memburu monster. Abela mengerang merasakan perutnya yang perih dan melilit.


"Kau sudah sadar?" Abela mendengar suara Armand bertanya.


"Armand ...." panggil Abela lirih.


"Ya?"


"Aku lapar ...." ucap Abela untuk kedua kalinya.


"Aku tahu, aku akan membantumu makan." Armand membuat Abela duduk bersandar di tempat tidur. Dia menyendok sup dan mulai menyuapi Abela.


"Dimana kita?" tanya Abela tidak bisa menahan rasa penasarannya.


"Istana, Duke Estonia membuat kita bertransportasi."


"Dan kau meninggalkan pasukanmu di sana?" Abela mengunyah isi sup nya yang terasa hambar.


"Ada cukup orang kompeten yang bisa diandalkan dalam rombongan itu. Yang paling penting adalah kau mengacaukan ekspedisi kita Abela."


"Bukankah kata yang tepat adalah yang paling penting kau selamat?" Abela menaikan alisnya tidak percaya hal pertama yang akan dia dengar adalah omelan Armand.


"Kau harus lebih banyak bersyukur untuk itu. Setidaknya itu membuatmu sadar bahwa mengikuti hal-hal berbahaya tidak menguntungkan dirimu sama sekali. Kau membuat orang lain kerepotan, kau tahu itu?"


"Aku akan berhenti makan kalau kau tidak berhenti mengomel," ancam Abela dengan wajah cemberut.

__ADS_1


"Kau harus tetap makan Abela ...." Armand memaksakan senyumnya sebelum menyuapinya lagi.


"Jadi ... Siapa menurutmu yang merasuki tubuh penyihir itu?" Abela tidak bisa berhenti sekarang ini.


"Aku tidak tahu, apa kau tidak mengobrol dengannya?" tanya Armand.


"Dia bilang dia lebih baik merasuki tubuhku dengan membuatku mati kelaparan dan kehausan. Setelah itu dia membiarkan mayat yang membusuk itu tergeletak di lantai bersamaku."


"Dia ingin merasuki mu?" Armand meyakinkan pendengarannya.


"Ya dia bilang lebih dekat dengan mu ... Hmm ... Musuhnya, membuat dia mudah menghabisi kalian satu persatu. Semacam itu." Abela memberitahu Armand yang dia dengar.


"Yang lebih penting dari itu ... Kenapa kau tidak menghancurkan mayat penyihir itu, Armand?"


"Saat itu, Duke Estonia meminta tubuh penyihir itu untuk di kubur dengan layak," jawab Armand tenang.


"Afeksi anak itu cukup besar terhadap sesuatu yang tidak dia kenal seumur hidupnya."


"Itu tidak bisa dihindari. Lagipula itu leluhurnya." Armand masih rajin menyuapi Abela sup.


"Tetap saja, dia membiarkan tubuh berharga itu di curi. Jika dia tidak bisa mempertahankannya, menghancurkannya adalah hal yang lebih tepat," komentar Abela masuk akal.


"Aku juga membawa kucing besar yang membawaku padamu, mengingat itu kucing milik penyihir. Rasanya aneh dia terlihat bersikeras dekat dengan mu." Armand menunjuk kucing hitam yang berukuran normal di sebelah pintu.


"Mossi ...." panggil Abela ceria. Membuat kucing itu berlari ke pangkuannya.


"Terlepas dari ada seorang pengecut yang merasuki mayat penyihir itu. Abela kau berhutang penjelasan padaku. Kau bilang akan memberitahuku sesuatu jika aku mengajakmu ke ekspedisi kali ini."


Kata-kata Armand membuat Abela terdiam cukup lama. Apa dia bisa memberitahu Armand semuanya sekarang? Apakah ini waktu yang tepat. Abela sudah tahu alasannya hidup kembali. Menghancurkan tubuhnya adalah jawabannya. Jika dia bisa melakukannya bukankah jiwa Abela bisa kembali.


Tapi kata-kata sosok itu tiba-tiba terdengar lagi. 'Aku hanya bisa mendapat ingatan tubuh yang aku rasuki jika orang itu telah mati.'


Sosok itu sadar Ghotel penyihir itu masih hidup entah dimana. Dan Abela sadar jika Abela yang asli telah mati. Apa Abela mati sebelum dia merasuki tubuh Abela? Atau setelah dia merasukinya. Tidak. Dia tidak bisa merasuki tubuh orang yang belum mati. Tidak ada sihir yang seperti itu. Kenapa dia bisa di bodohi oleh Dewa itu.


Abela menatap Armand dan berhenti membuka mulutnya saat Armand menyuapinya lagi. Tangan Armand bergantung di udara dengan canggung. Banyak hal yang dipikirkan oleh pria itu. Entah kenapa dia merasakan firasat yang buruk. Apalagi setelah melihat dan mendengar kejadian yang menimpa Abela kemarin.


"Buka mulutmu dan makan lagi makanan mu," ucap Armand lembut.


"Armand ... Aku ...." Abela menghindari tatapan Armand.


"Setidaknya kau harus sehat sebelum pulang. Orlando akan mendapatkan liburan panjang dari akademi. Aku akan merasa bersalah kalau kalian bertemu saat kau tidak baik-baik saja."

__ADS_1


"Aku siap mengatakan semuanya ...." Abela berkata pelan.


Armand merapatkan bibirnya, dia tidak tahu sekarang ini dia ingin mendengarkan atau tidak. Apa yang akan dia dengar dari Abela. Armand menelan ludah gugup. Dia tidak ingin mendengarnya, dia tidak siap.


Armand tersenyum miris, tangannya menggenggam tangan Abela sedikit kencang. Cukup untuk membuat Abela meringis.


"Aku yang belum siap Abela."


Abela terdiam menatap wajah sendu pria hebat itu. Dibalik badan besar dan wajah kakunya, pasti ada kelemahan yang pria itu tutupi. Abela merasa simpati. Dia pada akhirnya tidak mengatakan apa-apa lagi.


Abela melihat pandangan Armand yang fokus pada tangan mereka yang saling menggenggam. Abela tidak tahu apa yang menarik dari itu. Tapi dia juga menatap kearah sana dalam diam.


Yang memecah kesunyian mereka hanya bunyi keroncongan yang berasal dari perut Abela. Berhasil membuat mereka saling bertatapan lagi dan tertawa.


"Aku rasa aku butuh banyak makanan." Abela mencoba tidak tertawa terlalu keras.


"Aku memberimu sup agar perut mu tidak kaget saat menerima makanan berat. Tapi kurasa kita bisa mencoba mengisinya dulu. Jika terasa sakit katakan padaku. Aku akan memanggil dokter secepatnya," ucap Armand panjang lebar sebelum berdiri dari duduknya untuk meminta lebih banyak makanan dan air minum.


"Aku ingin makan yang manis juga. Entah kenapa sup tadi terasa hambar," komentar Abela.


"Baiklah ... Ada lagi yang kau inginkan?" tanya Armand lagi.


"Cukup beri saja aku makanan yang banyak," jawab Abela.


"Baiklah, kau harus menunggu sebentar madam. Mereka akan menyiapkannya. Bagaimana dengan sup ini? Kau ingin memakannya lagi?"


"Tentu saja aku akan menghabiskan semuanya." Abela tidak berhenti tersenyum. "Kau bisa memberikan mangkuknya padaku. Aku akan menghabiskannya."


"Tidak ... Aku akan tetap menyuapi mu," kata Armand dengan nada tidak ingin dibantah.


"Aku hanya tidak ingin merepotkan mu." Abela sedikit cemberut menanggapi ucapan Armand.


"Omong kosong ... Kau sangat cukup merepotkan ku akhir-akhir ini."


Kata-kata Armand membuat Abela tertawa lagi. Dia menatap wajah Armand yang lembut saat menyodorkan sendok ke depan mulutnya. Sampai kapan Abela akan melihat wajah ini? Apa semua akan berubah jika dia mengatakan semuanya?


"Armand ...." Abela tidak tahu sampai kapan dia akan bertahan dengan kebohongan yang baru dia sadari membuat dia tidak nyaman. Sejak kapan, Armand dan yang lainnya mempengaruhi dirinya seperti ini. Membuat dia lupa keinginannya untuk mati.


"Nanti ...." jawab Armand lirih. "Aku akan bertanya lagi jika aku siap mendengarnya."


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2