
.
"Lakukan ... Saja ...." kata-kata Abela bergema di dalam kepala Armand. Armand menarik jarinya keluar dan bangkit dari posisi berbaringnya. Memposisikan tubuhnya berlutut di antara kaki abela. Dengan tidak sabar membuka pakaiannya. Dan melemparkannya ke lantai.
"Jangan ...." kata Abela lirih saat Armand sudah akan menanggalkan pakaian Abela yang tersisa. "Bisa aku tetap memakainya?"
Armand tidak melepaskan tatapannya sedikitpun dari wanitanya. "Baiklah, my lady," bisik Armand parau sebelum kembali mencumbu leher dan tengkuk Abela. Rayuan lidahnya yang membuat Abela mendesah. Dan tubuh Abela yang menegangkan saat Armand menyatukan tubuh mereka.
Abela menjerit kecil, rasa panas menghujam masuk ke dalam perutnya. Abela menggigit bibirnya lagi, tangannya meremas selimut di bawah mereka. Dari matanya yang semakin sayu dia melihat Armand ada di atasnya. Keringat menetes di pelipis Armand, mengalir ke tulang pipi dan rahangnya yang tegas. Matanya menatap tajam Abela, seringai tidak meninggalkan wajahnya sama sekali. Pemandangan itu membuat Abela mengulas senyum.
"Heh? Apa yang membuatmu memberiku senyum menawan itu?" tanya Armand mendekati Abela lagi. Mengambil satu tangannya yang meremas selimut untuk dia genggam.
"Aku melihatmu, kau terlihat tampan saat sedang melakukan ini," jawab Abela tidak gentar sama sekali.
"Begitu? Apa itu yang membuatmu meremas ku sekuat ini? Wajahku yang tampan?" Armand berkata dengan suara rendahnya.
"Hmm ....?"
"Kau berdenyut kuat sekali di dalam sana," ucap Armand lagi masih pelan dan rendah seperti tadi.
"Aku tahu ... Rasanya sangat luar biasa ...." jawab Abela suara pelannya lebih terdengar seperti bisikan. Agak tersengal karena berusaha menahan desahannya.
"Kau bahkan tidak pernah mengatakan ini sebelumnya," ucap Armand lagi.
"Apa kita hanya akan terus berbincang saja?" Abela menaikkan sebelah alisnya. Terlihat seperti sebuah tantangan di mata Armand.
"Kau bahkan jadi sedikit tidak sabar."
"Armand !" Abela memekik saat dia merasakan tarikan dan kemudian tekanan dalam tempo lambat.
"Ya ? Aku di sini Abela ...." Armand memberikan kecupan ringan di wajah Abela. Dada Abela naik turun terengah-engah. "Di dalam dirimu," bisik Armand lagi sebelum hujaman nya semakin cepat. Dan Abela tidak bisa berbuat banyak. Selain mendesah dan menjerit pelan.
...----------------...
__ADS_1
Sudah waktunya makan malam, tapi Tony tidak berani mengetuk pintu kamar tuannya. Armand juga tidak menyalakan lonceng, untuk memanggil para pelayan. Tony mendengar suara kikik kecil pelayan yang berbaris di belakang mereka. Dia berbalik dan menyuruh mereka pergi dari sana. Tony menghela napas sebelum dia juga berjalan ke ruang makan.
*
Bastian memainkan alat makannya dengan bosan. Saat Tony tiba, pelayan menuang air di gelasnya. Dan Koki mulai menghidangkan makanan.
"Jadi ? Aku makan sendirian ?" tanya Bastian datar.
"Sepertinya Tuan dan nyonya Abela tertidur, tuan muda." Tony memberi penjelasan dengan halus.
"Tertidur katamu?" Bastian menyeringai di sela suapan makannya. "Baiklah, anggap saja aku percaya."
"Apa tuan muda Orlando pulang ke kediamannya juga?" tanya Tony sopan.
"Tidak, ayah menahannya di akademi. Ayah sangat berusaha agar Orlando tidak tahu apa-apa. Aku bilang padanya, aku harus pulang karena ayah akan melakukan ekspedisi untuk melenyapkan monster lagi. Jadi sementara aku akan menggantikan tugas ayah di rumah ini. Jangan khawatir, dia terlihat percaya pada ucapanku." Bastian tiba-tiba tertarik dengan ketajaman pisau pemotong daging yang dia pegang.
"Sudah berkali-kali penyerangan terhadap nyonya terjadi. Bagaimana saya tidak mengkhawatirkannya tuan muda. Bagaimana pun kejadian siang ini membuat saya merasa gagal." Tony menunduk dalam. Tuan besarnya belum mengatakan apa-apa sejak dia kembali dari istana. Dan tuan mudanya memberi gestur bahwa semua orang harus waspada saat berada di sekitarnya.
Majikan yang Tony layani ini adalah orang-orang yang tidak bisa menerima orang-orang yang melewati batas yang mereka buat. Sedikit berdarah dingin dan keras hati. Perangai mereka sedikit melembut hari demi hari semenjak nyonya Abela dan tuan muda Orlando ada di sekitar mereka. Tapi Tony merasa khawatir lagi saat kejadian pagi ini terjadi. Tuannya tidak bisa menahan emosinya dan nyonya Abela yang lembut tidak terlihat lagi.
"Tuan ...." suara Tony bergetar. Apa yang hendak dia katakan pada Tuan mudanya?
"Dia terlihat bukan hanya kehilangan ingatannya kan?" Bastian mendahului. "Tapi kau tahu Tony, dia tetaplah dia. Bukan begitu? Entah mana sisi yang sebenarnya. Mungkin saja yang kita kenal adalah sisi yang dibuat-buat."
"Saya ...." Tony tidak meneruskan kata-katanya, sedang tuan mudanya sudah mulai makan lagi. Dia tidak ingin melewati batas.
...----------------...
Abela bersiap dengan pakaian berkudanya. Mengelus salah satu kuda perang milik Armand.
"Kau memilih kuda yang ini?" tanya Armand menghampiri.
"Kuda ini cantik," Abela menjawab, masih mengelus pelan leher kuda berwarna coklat pekat itu.
__ADS_1
"Mengejutkan, kudamu sebelah sana. Dia tampak kecewa karena kau tidak menghampirinya." Armand menunjuk kuda putih yang cantik tapi tampak tangguh masih di dalam stable.
"Seharusnya kau memberitahuku lebih awal." Abela menyilangkan tangannya di depan dada.
"Aku tidak berpikir kau akan punya kekuatan untuk bangun sepagi ini," balas Armand.
"Wajahmu tampak sangat puas sekali," sindir Abela membuat Armand tertawa.
"Tentu saja, aku tidak punya alasan untuk tidak merasa puas." Armand meletakkan tangannya di pinggang Abela.
"Terserah saja," Abela memutar matanya bosan.
"Bagaimana dengan mu? Perasaanmu sekarang?" Armand berbisik pelan.
"Perasaan apa? Maksudmu nafsu ku semalam?" Abela masih menyangkal getaran yang dia rasa sejak pagi. Semua orang pasti merasakan yang seperti dia rasakan sekarang ini jika sudah bercinta kan?
"Nafsu ya ... Baiklah ...." Armand berkata pelan. Tidak bermaksud mendebat kekasihnya itu.
"Sebentar lagi kita berangkat, portal sihirnya ada di dalam istana, perjalanan tidak menggunakan sihir terlalu lama." Armand menjelaskan masih dalam posisi yang sama. Tidak berniat menjauh sedikitpun.
"Baiklah. Aku sudah mengirim surat ke kediamanku. Memberitahu mereka aku mengekori mu." Abela melepaskan tangan Armand dari pinggangnya. Dan mulai menaiki kuda coklat yang dia elus tadi. "Aku tetap memakai kuda ini," kata Abela dengan percaya diri.
Armand hanya mengangguk pelas dan menaiki kudanya sendiri. Armand memandu jalan mereka. Menuju dimana prajuritnya berkumpul. Dengan komando kaptennya, mereka dengan sigap mengendarai kuda mereka masuk ke dalam istana -dimana portal sihir berada.
Abela menatap kagum sebuah gerbang dengan kilat cahaya biru. Sudah lama dia tidak melihat gerbang ini. Ratusan tahun lalu saat dia menghadiahkan gerbang ini untuk raja saat itu.
Abela menatap Armand saat dia yakin pria itu sedang menatapnya. Dengan senyum kecil dan satu anggukan kepala, Armand memberi isyarat agar Abela memasuki gerbang itu mengikutinya. Suara ringkik kuda terdengar saat satu persatu prajurit masuk ke dalam sana.
Abela mencengkram tali pelana kudanya. Sedikit gugup untuk melewati alat ciptaannya sendiri. Lalu saat Armand masuk ke dalam gerbang itu Abela mengikutinya tanpa ragu. Di dalam itu, tampak seperti lorong putih yang bersinar. Panjang dan luas. Abela memfokuskan pandangannya pada kuda Armand agar dia tidak tersesat.
Semakin cepat mengendalikan kudanya saat kilat cahaya biru terlihat semakin jelas. Dan dengan suara ringkik kuda dan cahaya yang menyilaukan. Abela berhasil melewati alat teleportasi sihir itu.
Abela terpana dengan bebukitan yang terlihat di depannya. Putik-putik bunga dandelion melayang terbawa angin dengan jumlah sangat banyak. Seperti salju turun di musin panas. Sudah lama, Abela tidak ke daerah ini.
__ADS_1
Tempat ini masih seindah yang dia ingat dulu, tempat dimana dia lahir dan tumbuh dewasa. Tempat dimana dia meninggalkan semua keturunannya.
...----------------...