
.
Bastian terpana saat Abela menyebutnya sebagai anaknya di depan Calix. Dia menatap punggung Calix yang keluar kamar. Lalu pandangannya berpindah ke arah Abela. Abela memberi isyarat agar pelayan yang ada di dalam kamarnya keluar. Menyisakan mereka berdua.
"Bagaimana keadaan ibu?" tanya Bastian, Bastian duduk di kursi yang diduduki Calix tadi.
"Aku sudah agak lebih baik," jawab Abela.
"Tidak terlihat begitu, wajah ibu terlihat sangat pucat," ucap Bastian terdengar khawatir.
"Kau tidak terdengar seperti ini tadi," kata Abela seraya menaikan sebelah alisnya.
"Tidak akan menjadi hal yang baik jika kita terlalu memperlihatkan apa yang penting di hidup kita, Ibu."
"Kau terlalu berhati-hati, mungkin saja ini hal buruk terakhir yang terjadi padaku," jawab Abela.
"Kau benar, mungkin saja ...." Bastian menghentikan apa yang akan dia katakan.
"Bagaimana Orlando?" tanya Abela. Matanya memandang jauh keluar jendela, mengingat anak itu membuat hatinya sakit. Mungkin ingatan tubuh ini yang bereaksi.
"Dia baik-baik saja. Jangan khawatir," jawab Bastian.
"Dia hanya perlu waktu," ucap Bastian lagi.
"Bagaimana denganmu?" Abela menolehkan kepalanya menatap anak berambut gelap itu.
"Aku juga baik-baik saja. Untuk sekarang ini." Bastian mengangkat bahunya dan tersenyum.
Keheningan tiba-tiba menyelimuti mereka berdua. Tidak ada yang bicara. Mereka berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Bastian menatap Abela yang sudah memalingkan wajahnya lagi. Helaian rambut di belakang kepalanya bersinar di terpa cahaya matahari yang masuk lewat jendela.
"Dia wanita yang sangat baik. Setidaknya berbeda dengan dua ibu tiriku yang lain," kata Bastian tiba-tiba.
Abela yang mendengar itu menelan ludahnya getir. Ada rasa pahit yang aneh yang terasa di pangkal tenggorokannya. Perlahan senyum getir terulas di wajahnya yang pucat.
Apa yang Abela harapkan, Bastian tidak akan menganggapnya sama dengan wanita ini. Abela menghela napas pendek. Kenapa dia harus berpikir begitu. Kenapa dia harus merasa kecewa.
__ADS_1
"Kau tidak menyalahkan ku?" tanya Abela, belum mengalihkan tatapannya pada jendela. Nada bicaranya terdengar tenang. Tapi di dalam dirinya dia tahu, jika dia tidak baik-baik saja.
"Kau datang tanpa keinginan mu, bagaimana mungkin aku bisa menyalahkan mu. Lagipula, aku tahu kau bukan ibu sejak pertama kali kita bertemu." Bastian tersenyum tipis.
"Dan kau tidak membenciku?" tanya Abela lagi. Entah jawaban apa yang ingin dia dengar.
"Benci pada orang yang sudah bersiap menyambut tebasan pisau dari pelayan palsu?" Bastian menatap keluar jendela juga. Senyum tipis tertoreh di wajah tampannya.
"Kau terlihat benar-benar tidak ingin hidup saat itu," ucap Bastian. Belum melepas pandangan dari langit sore di luar jendela.
"Kau benar, aku tidak ingin hidup dan putus asa untuk meninggalkan dunia ini lagi." Abela melihat ekspresi Bastian lewat sudut matanya. Mata birunya menangkap senyum tipis pemuda itu.
"Jadi ... Boleh aku tahu siapa dirimu?" tanya Bastian pelan.
"Aku Arabela, orang lebih mengenalku dengan nama Ghotel."
Bastian membelalakkan matanya. Bastian tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Dengan perlahan, dia menolehkan kepalanya ke arah Abela. Mulutnya terbuka lalu tertutup lagi. Seperti merasa bingung dengan apa yang akan dia katakan.
"Ya ... Ayahmu membunuhku dua tahun lalu," ucap Abela, senyum belum meninggalkan wajah cantiknya.
"Oh ... Aku tidak menyangka itu," komentar Bastian sedikit datar. Tapi dari air mukanya, Abela bisa melihat jika Bastian tertarik dengan kenyataan itu.
"Apa ayah tahu?" tanya Bastian, lalu kemudian dia merasa bodoh. Bagaimana mungkin ayahnya tidak tahu.
"Dia orang pertama yang aku beritahu, kau orang kedua. Aku tidak tahu aku diberi kesempatan untuk mengatakannya pada Orlando. Aku ragu dengan tanggapannya. Apa jadinya jika dia tahu di dalam tubuh ibunya ternyata orang yang membuat ayahnya tiada." Abela berkata panjang.
"Aku tidak tahu, apa yang akan Orlando lakukan jika dia tahu," ucap Bastian. Dia menelan ludah sedikit gugup.
"Apa yang pertama kali ayah lakukan saat dia tahu?" tanya Bastian lagi. Entah kenapa dia teringat pertengkaran antara Armand dan Abela yang dia dengar di balik kamar ibunya dulu.
"Dia hampir membunuhku," ucap Abela datar. Hampir tidak memiliki emosi.
"Saat itu kan? Saat kau diculik?" tanya Bastian.
"Kau benar," ucap Abela. "Tapi aku rasa itu reaksi yang wajar. Pria itu ... Armand maksudku ... Kehilangan wanita yang berharga untuknya."
"Aku yakin kau benar," jawab Bastian.
__ADS_1
Bastian terdiam, membuat Abela menoleh padanya. Melihat ekspresi pemuda itu masih terlihat tenang seperti Bastian yang dia kenal.
"Bagaimana denganmu? Kau yakin kau baik-baik saja?" tanya Abela lagi.
"Aku sedih, tentu saja. Entahlah ...." jawab Bastian.
"Kau tahu ... Aku kehilangan ibu kandungku sejak aku lahir. Hanya wanita itu yang memberi kesan baik pada ku lebih daripada wanita lain yang ayah kenalkan padaku. Tentu saja, aku menghormatinya dan ingin memberi yang sama seperti yang dia berikan padaku." Bastian tidak tahu kenapa dia harus menumpahkan isi hatinya pada orang yang tidak dia kenal.
"Tapi, aku rasa kesedihanku hanya sebatas itu. Dibanding Orlando atau ayah, perasaan ini tidak ada apa-apanya. Jadi, aku rasa hanya aku yang mungkin paling cepat untuk berdamai dengan keadaan ini," kata Bastian lagi.
Abela sedikit tertegun mendengarnya. Abela mengingat momen dirinya dan Bastian. Saat mereka bercakap-cakap sambil minum teh dan lain-lain. Abela kemudian sadar bahwa saat itu, Bastian sudah tahu kalau dia bukanlah Abela.
Tapi anak itu perlahan memberi tahunya semua hal. Selalu ada dipihaknya tentang apapun. Bastian adalah orang pertama yang membuatnya nyaman hidup sebagai Abela.
"Terima kasih," ucap Abela akhirnya.
"Aku tidak melakukan apa-apa," balas Bastian. Tapi dia tersenyum, pemuda itu menatap wajah Abela. Matanya yang coklat terlihat lembut di mata Abela.
"Entah kenapa melihatmu seperti sekarang ini, membuatku sedikit tenang," ucap Abela lagi. Abela menyandarkan punggungnya dan sedikit beristirahat. Matanya terpejam, Abela merasa tenang setelah ketegangan yang terjadi akhir-akhir ini
"Ya ...." Bastian bergumam, "Kau bisa mengandalkan ku," ucapnya lagi.
Abela tertawa pelan mendengarnya. Bukan karena situasi saat ini lucu. Tapi dia hanya merasa asing. Berabad-abad menjadi orang yang kuat. Dia tidak menyangka akan ada lagi orang yang mengatakan itu padanya.
"Kau yakin tentang itu?" tanya Abela.
"Ya ... Ibu tidka percaya?" Bastian memejamkan matanya saat tersenyum.
"Bukan, hanya saja .... " Abela tidak menemukan kata yang tepat untuk mengekspresikan apa yang dia rasakan.
"Kau harus percaya padaku. Lagipula ... Aku anakmu kan," ucap Bastian membuat Abela dnegan cepat membuka matanya lagi.
Abela menatap wajah tampan Bastian yang sedang tersenyum, angin yang berhembus lambut dari jendela yang sedikit terbuka menerbangkan anak rambutnya. Langit sore itu sudah lebih merah. Pemandangan indah itu tidak membuat Abela memalingkan wajahnya.
Perlahan mata Bastian terbuka memperlihatkan warna gelap netranya. Menangkap warna biru yang masih menatapnya. Di jarak yang cukup dekat itu, mereka bertatapan. Seakan bertukar isi kepala. Lalu mereka saling memberi senyum tipis.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Arabela ingin menjalin ikatan lagi. Dengan anak ini yang memanggil dia ibu.
__ADS_1
...----------------...