
.
Abela berjalan tenang menuju kamarnya setelah berpisah dengan Orlando dan Bastian. Abela disambut oleh pelayan dengan agak terburu-buru.
"Madam, Yang Mulia Duke menunggu anda," kata pelayan itu.
Ekspresi Abela yang awalnya terlihat ceria berubah sedikit suram. Abela masuk ke dalam kamar dan langsung menyilangkan tangan di depan dada. Melihat Armand yang duduk dan terlihat sedikit arogan.
Armand sudah tidak mengenakan pakaian lengkapnya. Ini masih terlalu siang untuk memakai jubah tidur saja. Armand melirik Abela dengan sudut matanya. Dan menyandarkan punggungnya di kursi. Mengangkat cangkirnya untuk minum.
Abela tidak menyapa atau mengatakan apa-apa saat melewati Armand untuk berganti pakaian. Dia dengan kasual seperti biasa membuka gaunnya di depan Armand.
Armand berdiri dan menghampiri Abela dengan tenang. Membantunya untuk melonggarkan tali korset yang Abela pakai.
"Kenapa kau tidak pernah meminta pelayan untuk membantu mu?" tanya Armand.
"Aku tidak percaya pada mereka," jawab Abela cepat.
Gerakan tangan Armand terhenti, dia tidak pernah berpikir soal itu. Sejak dia tahu Abela bukan Abela, dia menurunkan pengamanan dan tingkat waspada nya untuk menjaga Abela.
"Kau ingin aku memanggil pelayanmu dari kediaman Baron?" tanya Armand.
"Kau beru menawarkan itu padaku sekarang?" Abela tidak bisa untuk tidak berkata ketus.
"Kau marah?" tanya Armand.
"Kenapa aku harus marah?" Abela siap untuk mengembangkan argumen mereka.
Armand tersenyum tipis. Dia tahu, Arabela tidak seperti Abela. Abela kekasihnya cenderung menghindar dari pertengkaran dan menekan emosinya sendiri. Sedang wanita yang di hadapannya selalu mampu mengutarakan isi kepalanya dengan baik.
"Kau marah karena tidak bisa bertemu denganku tadi?" tanya Armand lagi.
"Aku hanya kesal dengan alasan tidak masuk akal yang kau dan asisten mu berikan. Lain kali, jika kau tidak ingin bertemu denganku. Katakan saja apa adanya." Abela mengucapkan kata-kata panjang itu dengan cepat.
Armand tertawa pelan mendengarnya. Membuta Abela memelototinya. Bisa-bisanya Armand tertawa disaat seperti ini.
__ADS_1
"Bagimu lucu?" hardik Abela.
"Jika kau bertanya tentang cara bicara mu, ya itu lucu sekali," jawab Armand dengan nada tenang. Tangannya sudah bergerak lagi untuk melonggarkan korset.
"Kau tahu ... Kau menyebalkan." Abela masih sangat kesal tapi dia membiarkan Armand bersiri dekat dengannya.
Setelah berhasil membuka gaunnya. Armand mengusap dua bahu Abela dengan lembut.
"Itu bukan alasan konyol. Raja memang datang ke ruanganku," ucap Armand mencoba menyakinkan Abela.
"Kenapa? Kenapa Raja melakukannya? Dia Raja dan kau hanya Duke," balas Abela masih bernada ketus.
Armand tertawa lagi, dia menahan tawanya agar tidak terlalu keras dengan membenamkan wajahnya di tengkuk Abela.
"Kau benar ... Tapi sebelum dia Raja, dia adalah kakakku dan ya ... kami berdua cukup dekat."
"Kau pikir itu alasan yang tepat?" tanya Abela lagi.
"Tidak. Kau benar, harusnya aku yang menghadapnya. Tapi, dia juga Raja. Yang bisa melakukan segala hal sesuka hati."
Abela diam, tidak mengatakan apa-apa atau melakukan pergerakan apapun. Kepala Armand masih ada di bahunya. Dan selama Armand bicara helaan napasnya terasa di tengkuk Abela. Armand tersenyum tipis, dia melingkarkan tangannya di pinggang Abela.
Armand kira gesturnya akan membuat Abela bergetar dan membuat wajah wanita itu memerah seperti biasa. Tapi tidak, Abela cukup tenang. Dia menghela napas pendek sebelum menyandarkan belakang kepalanya ke dada Armand. Wajahnya mendongak ke atas, membalas tatapan Armand yang sedang menunduk.
"Aku hanya berpikir jika kau bisa menemani ku menghadapi anak-anak itu." Abela menyembunyikan matanya.
"Aku tidak cukup percaya diri, aku takut apa yang keluar dari mulut ku semakin menyakiti mereka."
Ucapan Abela membuat Armand tertegun, tangan yang melingkar di pinggang Abela spontan melonggar. Abela bisa merasakannya dan membuka matanya lagi. Menatap tatapan Armand yang entah kenapa terlihat sendu. Armand memutar tubuh Abela agar menghadap padanya. Mereka berpandangan cukup lama.
"Kata-kata itu cukup menyentuh saat dikatakan oleh mu yang mencoba terlihat tidak perduli pada kami," ucap Armand pelan.
"Kapan aku bilang tidak perduli pada kalian?" sanggah Abela.
"Kau perduli?" tanya Armand lagi.
__ADS_1
Abela diam, sekarang Armand menyadarkan dirinya jika dia bimbang dan goyah. Antara ingin pergi meninggalkan semuanya atau takut meninggalkan semuanya.
Abela selalu berharap Abela yang asli akan kembali dan hidup orang-orang ini akan normal kembali. Tanpa merasa sakit. Meski dia tahu yang orang-orang ini tangisi akhirnya bukan dia. Tetap saja dia merasa simpati.
"Apa kau akan menangis jika aku mati?" tanya Abela. Dia tidak berniat bertanya soal itu. Tapi mulutnya tidak melakukannya dengan spontan. Seperti dikendalikan oleh hatinya bukan oleh kepalanya.
Abela menelan ludah dan menghindari tatapan Armand. Dia tidak ingin tahu jawabannya. Tentu saja Armand akan menangis untuk Abela bukan untuknya. Kenapa dia harus menanyakan tentang itu.
"Arabela ...." panggil Armand lirih.
Mata Abela melebar mendengar Armand memanggil nama aslinya. Perlahan, matanya kembali menatap mata Armand. Abela tidak bisa melihat jelas ekspresi wajah Armand. Dia sudah terperangkap oleh pupil coklat Armand yang menatapnya lembut.
Armand juga sama, dia tidak tahu harus menjawab apa. Tentang pertanyaan Abela yang juga masih menjadi pertanyaan bagi dirinya.
Semua yang dia rasakan ini, semua yang manis dan pahit ini. Semua rasa sakit yang ada di dadanya. Atau perasaan bersemangat yang terkadang tiba-tiba muncul. Sebenarnya, pada siapa dan untuk siapa?
Armand juga memerangkap kan dirinya dalam tatapan mata Abela yang biru jernih. Seperti memandang langit tanpa batas. Jika saja dia hanya melihat mata ini. Hanya itu satu-satunya kesamaan mereka berdua. Jika saja Arabela tidak terperangkap di tubuh Abela. Apa Armand akan merasakan hal yang sama seperti yang Armand rasakan sekarang.
"Aku tidak tahu ...." Armand menjawab lirih. "Yang aku tahu hari ini aku ingin memelukmu."
"Memeluk siapa?" Abela tertawa getir.
Jika boleh Abela juga ingin egois. Apa hanya dia saja yang tidak diizinkan untuk melakukan apa yang ingin dia lakukan? Dia ingin Armand melihatnya sebagai dirinya sendiri. Bukan tubuh kekasihnya ini. Apa itu permintaan yang terlalu sulit?
"Arabela ...." panggil Armand lagi.
"Ya ...." jawab Abela lirih, masih menunduk menatap lantai.
"Jika kau bisa memilih antara suasana atau diriku ... Sebagai jawabanmu untuk semua yang akan dan pernah kita lakukan dengan penuh kesadaran. Apa yang akan kau pilih?" tanya Armand.
Abela diam, dia tersenyum tipis. Pupil mata Armand masih memenuhi pandangannya.
"Apa yang kau pilih jika aku bertanya hal yang sama?" tanya Abela menantang.
Armand tersenyum percaya diri. Dia tidak tahu jawaban yang dia beri tulus dari hatinya atau tidak. Tapi dia ingin mengatakannya. Setidaknya satu kali sebelum wanita ini menghilang dari hidupnya.
__ADS_1
"Karena kau ... Karena kau Arabela ...."
...----------------...