Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke

Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke
Kehilangan


__ADS_3

.


Rumor, adalah hal paling cepat yang bisa menyebar seperti jamur. Rumor juga yang membuat Bastian berlari melintasi lorong istana yang penuh dengan pekerja ini dengan tergesa. Baru saja dia meninggalkan Ayah dan Ibunya di kamar itu. Kenapa rumor yang mengerikan itu bisa ada.


Bastian sampai ke depan pintu kamar saat suara benda pecah di dalam sana terdengar. Atau suara Armand yang berteriak tidak jelas. Yang terdengar hanya kata bunuh dan kamu.


Bastian sudah akan menerobos masuk jika Cesar tidak menahan bahunya. Bastian menatap kakak sepupu yang lebih tua satu tahun itu dengan nanar.


"Ikut denganku," ucap Cesar. "Ini perintah !"


Sebelum Bastian sempat menjawab Cesar sudah menyeretnya pergi.


.


.


Armand tertawa lebih keras lagi, saat dia mendengar Abela mengatakan simpatinya. Armand tidak ingin tahu ini. Tidak bisakah wanita ini berbohong saja kali ini? Armand tidak keberatan. Haruskah sosok ini menyadarkan apa yang tidak ingin Armand tahu.


"Kau. Tidak. Pantas. Mengatakan. Itu." Armand menekan setiap kata yang dia ucapkan.Kesabaran sudah di ujung tanduk, dia hanya ingin melepaskan kemarahannya.


"Sudah aku bilang aku tidak keberatan kau membunuhku." Abela masih bersikap tenang.


"Kau ... Apa kau sengaja melakukan ini?" nada suara Armand masih rendah saat bertanya.


"Tidak." Abela menjawab dengan senyum miris. "Jika ya, saat aku terbangun di sebelahmu, aku tidak akan berteriak ingin mati."


Kenyataan itu tidak meredakan kemarahan Armand sedikitpun. Kepalanya terasa berdenging. Mungkin efek dari minum Wine dalam jumlah banyak. Tapi Armand merasa sangat sadar sekarang ini. Dia tahu apa yang dia katakan atau lakukan.


"Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?" tanya Armand.


"Kenapa? Kau yakin aku baru mengatakannya sekarang? Aku selalu mengatakannya Armand, tapi aku tidak bisa membuktikan apa-apa. Semua yang aku katakan terdengar omong kosong. Sekarang kesempatan yang tepat setelah ... Kau melihatnya sendiri. Mayat wanita yang kau bunuh dua tahun yang lalu. Ada di hadapanmu dengan jiwa orang lain."


Abela tidak menghiraukan perih di lehernya setiap kali dia bicara. Memang, terasa perih. Tapi dia tidak bisa berhenti. Dia harus membuat Armand mengerti.


"Maaf, tapi aku sudah sadar untuk apa aku di hidupkan kembali. Aku harus menghancurkan tubuhku bagaimanapun caranya." Abela berkata yakin.

__ADS_1


Armand mulai menjauhkan pedangnya dari leher Abela dan menendang apapun yang ada di dekatnya. Suara denting barang pecah belah yang jatuh ke lantai. Tidak bisa menyembunyikan teriakan Armand.


"Aku yang telah membunuhmu ! Kau ingat kan?"


Abela mengerutkan keningnya. Armand terlihat semakin mabuk. Dia meracau tidak jelas.


"Ya tentu saja. Bagaimana aku bisa melupakan itu." Abela masih menjawab semua kekalutan Armand dengan tenang.


"Kau ! Apa kau yang membunuh Abela?" teriak Armand lagi.


"Tidak. Untuk apa aku membunuhnya? Terlebih saat dia mati aku tidak ada di dunia ini." Abela tidak sadar jawabannya membuat Armand semakin marah.


"Kau ! Kau ingin balas dendam padaku?" Armand masih berteriak.


"Apa kau gila? Untuk apa? Aku bersyukur kau membunuhku dan bermaksud membuatmu melakukannya lagi." Abela tidak takut sedikitpun pada Armand yang masih melampiaskan emosinya pada semua barang yang bisa dia gapai.


"Armand, aku tahu kau putus asa. Kau ingin merobek ku. Tapi kau tidak bisa melakukan apa-apa pada tubuh ini. Bagaimanapun kau sangat mencintainya?"


Armand kembali terdiam. Menyembunyikan amarahnya dengan merapatkan giginya. Armand tidak bisa mendefinisikan apa yang dia rasakan saat ini. Dia lebih merasa marah dari pada sedih. Dia marah pada kenyataan jika Abela telah meninggal. Dia marah Karena ternyata jiwa Abela dirasuki oleh orang lain. Dia marah karena walau dia sadar tentang beberapa hal yang berbeda, dia selalu menyangkal dan tidak menerimanya. Terlebih lagi , dia marah karena dia tidak ingin Abela mengatakan ini -saat dia sadar apa yang ingin wanita itu katakan.


Armand menatap Abela lagi. Dia melempar pedangnya yang hilang entah kemana. Dengan langkah pelan mendekati Abela yang masih duduk di kursi. Apa aku bunuh saja wanita ini? Tanya Armand dalam hati. Membunuhnya berarti dengan mudah mengabulkan apa yang dia mau. Terlebih lagi, bisakah dia melakukannya? Pada tubuh Abela?


Tawa getir keluar dari bibir Armand yang terlihat lebih kering dari biasanya. Sedang airmata tidak berhenti mengalir di wajahnya yang kaku. Abela menelan ludah melihat dan mendengarkan pria itu.


Armand mengulurkan tangannya untuk mengelus wajah Abela pelan. Membuat Abela berjengit.


"Abela ...." panggil Armand lirih. "Abela ...."


Abela bergeming di tempatnya. Tidak bergerak sedikitpun. Matanya yang biru masih terperangkap tatapan Armand. Abela masih terdiam bahkan saat Armand mengecup semua bagian wajahnya tanpa terkecuali. Bahkan saat Armand memeluknya erat, memanggil nama kekasihnya berulang dan airmata membasahi pundak Abela. Abela masih diam seperti patung. Tidak mencoba menenangkan atau mendorongnya menjauh.


...----------------...


Armand terbangun menatap langit-langit kamar. Kain linen yang lembut terasa di badannya. Tubuh dan kepalanya masih terasa berat. Perlahan dia duduk di tempat tidur, sadar jika dia tidak memakai pakaiannya.


Armand mengedarkan pandang pada ruangan yang kacau balau itu. Pandangannya jatuh pada pakaiannya yang tergeletak di lantai. Tidak jauh dari itu, dia melihat gaun dan korset juga. Keningnya mengkerut saat kepalanya terasa sakit.

__ADS_1


Dia menoleh saat merasakan pergerakan di sampingnya. Saat dia melihat pupil mata biru yang menatapnya tajam, dia tersadar bahwa dia sudah gila.


Abela terduduk juga, luka di lehernya berdarah lagi. Dia menatap Armand yang menutup wajahnya dengan sebelah tangan. Tanpa banyak bicara bermaksud untuk turun dari tempat tidur. Tidak berkata apa-apa sampai masuk kedalam ruang mandi lewat pintu yang terhubung dari dalam kamarnya.


Abela bahkan tidak menghiraukan pekikan tertahan pelayan istana yang menunggunya di sana. Atau ekspresi terkejut mereka melihat tubuh Abela. Laki-laki itu benar-benar sudah gila. Abela yakin bukan hanya dia yang memiliki pemikiran itu.


"Panggil dokter segera," perintah pelayan yang lebih tua dari yang lainnya. Membuat seorang gadis muda berlari.


"Madam?" tanya pelayan senior itu.


"Ya aku tahu. Aku akan menunggu dokter sebelum mandi. Carikan aku beberapa pakaian untuk aku kenakan lagi."


Semua pelayan bergerak dengan ritme yang cepat. Membawa beberapa jubah mandi lagi. Dokter datang dengan segera melakukan pengobatan pada apa yang dia lihat terlebih dahulu.


"Madam ... Leher anda ...." dokter wanita itu berkata lirih selagi melakukan perawatan pada lehernya.


"Aku tahu, kadang darahnya berhenti, kadang mengalir lagi." Abela menjawab pertanyaan dokter yang dia tampilkan di wajahnya.


"Bagaimana?" dokter menelan ludah saat melihat luka yang cukup besar itu.


"Ada beberapa lebam di tubuh madam." Pelayan senior itu berbisik pada dokter itu. Dokter itu mengangguk dan mengoleskan salep pada lebam di tangan dan kaki Abela yang Armand cengkram terlalu kencang semalam.


"Dengarkan aku," ujar Abela. "Apa yang kalian lihat disini adalah rahasia. Jika ada rumor yang menyebar. Kalian pasti dalam bahaya." Abela mengancam para pelayan yang mau tidak mau menuruti permintaannya.


Abela masuk lagi ke dalam ruangan yang kacau itu setelah memakai pakaian lengkapnya. Syal dan gaun yang di pakaikan pelayan sangat sempurna untuk menutupi semuanya.


Abela menatap Armand yang sedang menghisap cerutunya sambil memandang keluar jendela. Armand hanya mengenakan jubah tidur sutranya yang tipis. Abela terduduk di satu-satunya kursi yang tidak terbalik atau hancur.


"Bagaimana lukamu?" Armand bertanya dengan nada dingin. Membuat Abela tersenyum sinis.


 Tapi dia masih bisa menjawab dengan tenang.


 "Aku baik-baik saja."


Pintu ruang mandi di ketuk pelan. Tidak menganggu dua orang yang sedang dalam pikirannya masing-masing.

__ADS_1


"Yang mulia, air mandi anda sudah siap." Pelayan senior yang tadi mengumumkan dengan hati-hati. Armand masuk ke dalam sana masih membawa cerutunya. Membuat Abela bisa menghembuskan napas yang entah kapan dia tahan.


...----------------...


__ADS_2