
.
Abela terperangah saat Orlando dan Bastian meninggalkannya sendirian di tepi jalan. Orlando berteriak tentang 'pulang dengan ayah', dengan wajah ceria. Meninggalkan dua orang dewasa yang sedang dalam suasana hati yang buruk bersama.
"Jadi? Apa kita akan mengendarai kuda?" tanya Abela pada Armand yang masih terlihat tidak ingin bicara dengannya. Armand hanya melirik Abela sekilas.
"Apa aku minta Duke Estonia mengantarku saja? Aku rasa dia masih ada di dalam." Abela mengatakan itu dengan sengaja untuk menantang Armand.
"Kau .... " Armand sudah akan membalas tantangan Abela jika saja dia tidak melihat Calix sudah berada di dekat mereka. "Kau tidak lapar?" akhirnya pertanyaan itu yang Armand katakan.
Abela terdiam lagi, dia melirik Calix dan entah kenapa mengerti, kenapa Armand tiba-tiba berusaha terdengar ramah.
"Aku lapar," jawab Abela tersenyum canggung hingga pipinya terasa sakit.
"Aku rasa ada restoran di sekitar sini." Armand mengulurkan tangannya untuk menggandeng Abela yang Abela sambut dengan cepat.
"Aku ... Ingin makan sesuatu yang berbeda dari biasanya." Abela menjawab dengan tidak menatap wajah Armand.
"Apa yang berbeda dari biasanya?" Armand mengulang pertanyaan Abela.
"Kau keberatan jika kita berkeliling kota sebentar?" tanya Abela dengan senyum palsu.
"Tidak." Armand menjawab singkat sebelum berjalan.
Abela melihat sekeliling sudut kota yang semakin sore semakin ramai. Matanya terpaku pada air mancur di tengah kota yang indah. Di sekeliling air mancur itu, banyak orang yang berkumpul riang.
"Air mancur itu di bangun saat kau meninggalkan dunia ini," ucap Armand membuyarkan lamunan Abela.
"Apa maksudnya dengan itu?" Abela mendelik pada Armand.
"Mereka sangat senang saat aku membunuh penyihir itu."
Abela tertawa pelan mendengar nada ketus Armand. Dia menatap air mancur itu cukup lama, "Aku juga senang meninggalkan dunia ini. Terimakasih padamu."
"Arabela," Armand memanggil nama aslinya lagi. Suara Armand sangat pelan seperti menyatu dengan angin.
"Ya," jawab Abela sedikit serak. Ada hal aneh yang tercekat di tenggorokannya.
"Kau masih ingin mati?" tanya Armand tanpa menatap lawan bicaranya.
"Itu satu-satunya hal yang paling aku inginkan." Abela menjawab tanpa ragu.
Armand tidak merespon kata-kata Abela tadi. Dia hanya berjalan dalam diam dengan wajah di tekuk. Apa yang coba dia katakan tadi? Apa urusannya jika Arabela ingin mati.
Langkah Armand tertahan saat Abela tiba-tiba berhenti berjalan. Matanya menatap daging bakar yang dijual di pinggir jalan.
__ADS_1
"Kau ingin itu?" tanya Armand ragu.
"Boleh?" tanya Abela meyakinkan pendengarannya.
"Aku rasa itu tidak beracun," jawab Armand.
"Kenapa kalau beracun?" tanga Abela menaikan alisnya.
"Aku hanya tidak ingin kau mati di depanku." Sudut bibir Armand terangkat saat mengatakan itu.
"Wow ... Kau kejam sekali," balas Abela dengan wajah kesal.
"Setidaknya, jangan di depanku," kata Armand lagi.
"Aku mengerti ...." jawab Abela lirih.
Armand berusaha menghiraukan suara Abela yang terdengar sendu. Dia berjalan lurus menuju penjual makanan yang Abela tunjuk.
Abela mengikuti Armand dari belakang dan mulai makan. Sedikit mengejutkan karena makanan itu terasa enak.
"Ini enak," ucap Abela dengan pipi mengembung.
"Kau suka?" tanya Armand, mecoba makanan itu juga. "Kau benar ini enak. Kurasa Bastian sangat menyukainya dulu."
"Bastian?"
Tiba-tiba Abela teringat Rewelin. Bagaimana rasanya jadi seorang istri yang mendapati suaminya tiba-tiba pulang dengan anak dari perempuan lain. Entah kenapa Abela merasa sangat kesal. Abela menyipitkan matanya saat menatap Armand.
"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Armand yang tidak nyaman dengan tatapan Abela.
"Tidak ada," jawab Abela tanpa mengubah ekspresi wajahnya.
"Baiklah, terserah." Armand menghela napas pendek.
"Aku hanya penasaran tapi aku tidak ingin bertanya," jawab Abela.
"Itu lebih ambigu dari pada jawaban tidak ada yang kau berikan tadi." Armand mendelik sedikit.
"Apa kita akan terus berdiri disini? Kaki ku sudah terasa lelah," ucap Abela, entah kenapa wajahnya merona merah.
"Kita bisa mencari restoran kalau kau mau," tawar Armand lagi. Kemanapun mencarinya, Armand tidak menemukan kursi untuk duduk.
"Duduk di sana saja," tunjuk Abela ke sebuah pohon besar di dekat air mancur. Armand sedikit mengernyit melihat tempat yang ditunjuk Abela.
"Kau takut duduk di atas tanah?" Abela sedikit mengejeknya.
__ADS_1
Armand menggeleng sebagai balasan. Dia mengikuti langkah Abela yang lambat. Matanya menyipit melihat kaki Abela yang tampak terluka karena sepatunya sendiri.
Abela dengan santai menyamankan duduknya di bawah pohon, di ikuti Armand. Semilir angin sore hari terasa lebih sejuk, padahal sudah akan musim panas.
"Aku selalu suka keramaian," gumam Abela tiba-tiba.
Armand menoleh melihat Abela menatap anak-anak yang berlarian dengan wajah berseri dan mata yang berbinar. Dua sudut bibirnya tertarik, membuat lengkungan indah di bibir tipisnya. Rambutnya yang sewarna emas terbang terbawa angin.
"Lalu, kenapa kau selalu menyendiri di sana? Di kastil itu." Armand tanpa sadar bertanya.
"Aku, mendiang suamiku dan raja pertama negeri ini, membangun negeri ini bersama. Raja yang kami pilih adalah leluhurmu. Karena dia adalah orang yang paling tidak serakah tapi pemberani." Abela menatap kosong jalanan ramai di depannya.
"Aku juga pernah menjadi pahlawan, Armand. Tapi semakin lama, rasanya semakin hampa. Apalagi sejak ... semua orang yang berharga sudah tidak ada."
"Kenapa kau memilih menjadi abadi?" Armand bertanya lagi.
"Tentu saja, jawabannya karena aku serakah." Abela terkekeh kecil.
"Calix ... Orang itu ... Mirip dengan mendiang suamimu bukan? Apa itu yang membuatmu selalu melihatnya dengan mata berbinar?" Armand tidak ingin mengatakan itu sebenarnya. Tapi entah kenapa mulutnya mendahului pikirannya.
"Aku? Mata berbinar?" Abela menaikan alisnya.
"Tapi aku rasa kau benar. Entah kenapa aku merasa bangga padanya. Bagaimana pun juga dia itu cucu dari cucu, cucunya cucuku." Abela menaikan jari telunjuknya.
Armand tertawa mendengar jawaban dan gestur Abela. Tawa yang akhirnya Abela lihat lagi setelah lama tawa itu hilang. Bukan, Abela bukan merindukan tawa itu. Hanya saja, dia hanya merasa sedikit, sedikit saja, sangat sedikit, kehilangan.
Abela memejamkan matanya mendengar tawa pelan Armand. Semilir angin, dengan lembut membelai pipinya lagi.
"Arabela adalah nama asliku. Yang sudah lama aku tinggalkan berabad-abad lalu. Nama yang dianggap dewa karena kebaikan yang pernah dia lakukan." Abela menceritakan dirinya seperti menceritakan orang lain. Membuat Armand merasa dejavu.
"Jadi ... Itu kebiasaan? Menceritakan tentang diri sendiri seperti menceritakan orang lain?" tanya Armand pelan.
"Aku rasa kau benar, Armand. Aku tidak menyadarinya ...." Abela menutup mata, merasakan angin lagi.
"Jadi ... Kenapa kau memilih berbuat onar?" Armand bertanya lagi setelah lama menatap wajah Abela.
"Untuk bertemu dengan orang seperti mu ... Yang tidak menyerah melawanku. Dan memberikan apa yang jadi keinginan terbesar ku ...."
"Mati?" Armand bertanya dengan nada dingin dan datar.
"Ya Armand. Mati," jawab Abela tanpa beban.
Armand terdiam menatap wajah Abela, wanita itu menyembunyikan mata biru berkilaunya. Sedang rambutnya bertebaran di terbangkan angin. Armand menelan ludahnya. Ada sesuatu yang tercekat di tenggorokannya. Rasanya seperti di cekik dengan keras.
Tangannya spontan terjulur menangkap sejumput rambut emas itu dan meletakkannya di balik telinga pemiliknya. Membuat Abela membuka matanya, menatap Armand dalam diam. Di tengah angin musim panas yang berhembus, dan hiruk pikuk kota yang semakin sepi. Mata mereka tidak melepaskan satu sama lain.
__ADS_1
...----------------...