Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke

Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke
Waktu


__ADS_3

.


Abela masih tidak mengubah posisi berbaringnya, saat dia mendengar suara pintu yang ditutup cukup keras. Dia menghela napas sebentar. Sialan. Umpatnya dalam hati. Tetes air mata membasahi pipinya dan semakin deras. Punggungnya bergetar seiring isak yang dia tahan.


Abela tidak pernah berpikir dia akan menangis lagi. Saat semua kemanusiaannya terkikis oleh sifat dan perilaku jahatnya selama ratusan tahun. Abela berhenti peduli sejak lama. Tentang semua emosi atau bahkan rasa makanan yang dia makan. Hidupnya sendiri sudah seperti mayat hidup.


Lalu kenapa dia menangis? Dia tidak bisa memungkiri, dia merasa sedikit bahagia mendapat perhatian Bastian dan Orlando. Atau bicara semua keresahannya dengan Armand. Semua hal itu baru lagi setelah sekian lama tidak dia rasakan.


Ternyata berbohong memang lebih baik dari kejujuran yang dia pilih. Abela tidak bisa mengulang waktu. Dia hanya fokus pada tujuannya untuk meninggalkan dunia ini. Dia tidak tahu bahwa akan cukup menyakitkan untuk ditolak oleh orang yang terbiasa memberinya afeksi.


Sekilas saat dia menutup mata, tiba-tiba gambar mansion Baroness Isla terlihat didepan matanya. Lui, Anna dan semua pelayan yang dengan senang dan ramah selalu menyapanya sejak dia bangun hingga tertidur lagi. Perlahan dia bisa mencium aroma teh yang tersaji di kantornya saat cahaya matahari terlihat lebih kuning dan terasa hangat menembus jendela.


Abela menyunggingkan senyum, kenangan itu mungkin kenangan yang menyenangkan untuk diingat saat kematian akan datang padanya. Punggungnya yang bergetar pun terhenti dan berubah naik turun dengan konstan. Suara napas pelan terdengar menandakan dia terlelap.


Armand menatap punggung kecil Abela dalam diam. Dia tidak beranjak sedikitpun dari tempat duduknya. Kemarahan Abela cukup masuk akal bagi Armand. Armand sadar dia tidak seharusnya menumpahkan kemarahannya pada Abela. Pada seseorang yang bahkan tidak mau berada disini.


Armand berusaha tidak bergerak sedikitpun agar Abela tidak sadar dia masih ada di sana. Armand harus bisa memikirkan cara untuk memberi penjelasan pada Orlando. Penjelasannya kemarin mungkin tidak cukup. Armand sedikit terkejut saat Orlando dan Bastian datang. Armand kira, mereka benar-benar khawatir saja.


Armand tersenyum tipis. Mungkin mereka memang khawatir, mereka hanya tidak tahu cara untuk menyampaikannya. Seperti dirinya saat ini. Armand memejamkan mata dan semakin menyandarkan punggungnya ke sofa yang empuk. Hingga dia terlelap juga.


.


.


"Sejak kapan kau ada disini?" Pertanyaan itulah yang Armand dengar dari Abela saat pertama dia membuka mata.


"Sejak Orlando dan Bastian pergi. Aku tidak beranjak kemanapun," jawab Armand tenang.


Abela membelalakkan matanya. Itu berarti Armand mendengarnya menangis? Wajah Abela merona memikirkan itu.


"Aku akan menyuruh pelayan untuk membawakan makanan." Armand beranjak dari duduknya dan keluar pintu. Sebelum masuk lagi dengan wajah mengantuk.


"Kenapa? Kenapa masih ada disini?" tanya Abela sambil memalingkan wajahnya.


"Aku menjagamu tentu saja. Mungkin kau belum baik-baik saja," jawab Armand. Hampir terdengar tulus di telinga Abela.


"Aku baik-baik saja," gumam Abela pelan.

__ADS_1


"Hn ... baiklah kalau kau berkata begitu ... Berarti memang kau baik-baik saja." Armand tersenyum tipis pada belakang kepala Abela.


Wanita itu tampaknya memutuskan untuk tidak menatapnya sekarang ini. Pintu di ketuk pelan saat para pelayan masuk membawakan makanan. Dua pelayan mengatur meja makan bundar di samping jendela untuk makanan Armand. Dan dua pelayan mendekat ke arah Abela.


"Madam ingin kami bantu untuk makan?" tanya salah satu pelayan pada Abela.


"Tidak ... Aku bisa sendiri," jawab Abela cepat.


"Kalian boleh pergi," perintah Armand datar.


Arman mendekat ke arah meja dan mulai makan. Matanya tidak lepas dari Abela yang berusaha menyendok sup di depannya.


"Arabela ...." panggil Armand pelan tapi membuat Abela terkejut.


"Kenapa tiba-tiba memanggilku dengan nama itu?" tanya Abela.


"Aku pikir aku akan sering melakukannya jika kita sedang berdua saja." Armand menjawab tenang sebelum mengangkat cangkir tehnya.


"Panggil Ghotel saja kalau begitu," jawab Abela terdengar kesal.


"Tidak ... Aku benci nama itu," balas Armand.


"Tidak," jawab Armand cepat.


Jawaban yang tidak membuat Abela senang sama sekali.


"Nama itu terdengar indah, cocok dengan rambut merahmu," komentar Armand membuat Abela melebarkan matanya yang terbuka.


"Dan apa maksudmu mengatakan itu?" Abela bertanya hampir tidak terdengar. Bibirnya tidak terbuka sama sekali. Abela menahan bibirnya agar suara gemeretak giginya tidak terdengar.


"Kau tidak suka aku memanggil namamu? Kau lebih nyaman dipanggil Abela?"


"Kenapa? Kenapa kau tiba-tiba peduli dengan apa yang aku rasakan?" Abela tidak bisa menahan amarahnya. Entah kenapa dia merasa menyedihkan. Tidak, entah kenapa dia merasa dia terlihat sangat menyedihkan di depan Armand.


"Aku tidak seharusnya menumpahkan frustasi ku padamu. Aku minta maaf," ucap Armand. Dia sungguh-sungguh mengatakan itu. Dia benar-benar merasa bersalah.


Sedang Abela, dia memelototi mangkuk sup nya. Sulit percaya dengan apa yang dia dengar. Armand minta maaf padanya? Kenapa? Karena dia menyelamatkan nyawa orang itu? Karena dengan itu Armand bisa menyelamatkan orang yang berharga untuknya?

__ADS_1


"Entah kenapa aku tahu apa yang kau pikirkan." Armand menatap Abela dari atas cangkirnya.


"Tidak seperti itu ... Tidak seperti yang kau pikirkan," ucap Armand pelan.


"Kata-katamu pada Orlando kemarin membuatku sadar. Tentang perasaan mu yang tidak pernah aku tahu. Aku hanya tidak pernah mencoba memahami mu." Armand masih menatap belakang kepala Abela.


"Apa aku terlihat sangat menyedihkan di matamu?" tanya Abela. Armand pasti menyaksikan dia menangis semalam.


Abela mencengkram kuat sendok sup yang dia pegang di tangan kanan. Tangan kirinya meremas selimut. Emosinya yang semalam terasa kembali. Abela menggigit bibir bawahnya. Menahan apa yang mungkin meledak keluar.


Armand memperhatikan gestur Abela dari kejauhan. Dia akan berdiri dari tempatnya duduk.


"Tetap di sana," perintah Abela datar.


"Jangan coba-coba mendekat padaku," ucap Abela tajam, belum menatap Armand lagi.


Perintah itu membuat Armand terhenti. Apa yang terjadi jika dia menuruti perintah Abela. Dan apa yang terjadi jika dia tidak menurutinya. Armand menyembunyikan senyum tipisnya dengan menunduk. Sejak kapan dia bersikap harus menuruti orang lain.


Armand meneruskan apa yang akan dia lakukan tadi. Dia menegakkan tubuhnya dan melangkah mendekat pada Abela. Langkah ringan yang bisa Abela rasakan.


"Aku bilang jangan mendekat !" ucap Abela sedikit berteriak.


Yang tentu saja tidak didengar oleh Armand. Jaraknya semakin dekat. Armand tidak ragu untuk menerima kemarahan Abela saat dia sampai di sana. Dengan tubuhnya yang lemah, Abela mengaktifkan auranya. Cahaya biru menyelimuti seluruh badannya.


Keras kepala. Pikir Armand. Jarak mereka tinggal sedikit lagi saat Abela semakin menunduk menyembunyikan wajahnya. Armand membungkuk menopang tubuhnya dengan satu tangan yang dia letakan di tempat tidur di samping Abela duduk. Aura biru juga terlihat menyelimuti tubuh Armand.


"Ini tidak akan berhasil. Perlawanan mu ini ...." Armand berbisik.


"Sialan," umpat Abela menenggandah ke atas menatap wajah Armand. Tangannya terjulur meraih kerah baju Armand dan mencengkeramnya. Abela menatap Armand tajam dengan mata merah dan berair nya. Giginya rapat menahan emosi.


Armand menatap mata yang penuh amarah itu. Tidak pernah Armand menemui orang yang berani menatapnya langsung dengan mata penuh kebencian seperti yang Abela berikan padanya kini. Armand sadar kemarahan Abela bukan karena nama saja. Dia perlu menyalurkan emosinya selama ini.


Armand tidak yakin kata-kata seperti apa yang bisa meredakan amarah wanita ini. Mungkin tidak ada. Armand merauh dua tangan Abela yang mencengkram kerah bajunya.


Dengan satu tarikan, Armand membawa Abele ke pelukannya. Menekan punggungnya pelan.


"Terimakasih ... Telah menyelamatkan ku ...." bisik Armand di dekat telinga Abela.

__ADS_1


Membuat Abela meneteskan air matanya lagi di matanya yang terbuka lebar.


...----------------...


__ADS_2