Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke

Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke
Pernikahan


__ADS_3

.


Hari ini seluruh kota Romano mendapat berita tentang pernikahan Duke yang mereka hormati itu. Tidak semua orang bahagia dengan berita itu. Bagi orang-orang di perlemen keputusan Armand menikah di waktu genting seperti ini sangat di sayangkan.


Tapi bagi mereka yang mengenal Abela, mereka ikut bersukacita. Kediaman Baron menjadi sibuk sejak nyonya mereka pulang.


Abela menghirup tehnya, sebelah tangannya sibuk mengelus Mossie. Dia melihat keluar jendela, deretan kereta kuda terparkir di halaman. Dan para pelayan wanitanya sibuk membuka kotak-kotak hadiah dengan ribut.


"Kalian terlalu berisik," ucap Abela membuat semua pelayannya membeku di tempat.


"Apa kami menganggu?" tanya Anna hati-hati.


"Tidak, itu buka peringatan. Aku hanya ingin berkata jika aku senang melihatnya," kata Abela lagi.


"Kami juga senang nyonya sudah kembali," ucap Anna tulus.


"Aku tidak tahu jika kalian rindu itu padaku," ucap Abela dengan nada jahil.


Senyum Abela berubah menjadi sedikit meringis saat melihat mata Anna dan pelayan lain berkaca-kaca.


"Ayolah ... Bukan kah seharusnya kita bahagia," ucap Abela.


Anna mengusap air matanya dengan kasar dan memeriksa kotak-kotak hadiah lagi. Para pelayan juga melakukan hal yang sama. Abela menatap mereka sedikit sendu lalu memalingkan wajahnya keluar jendela.


"Ibu," panggil Orlando pelan di depan pintu.


"Ya?" Abela menyahut singkat dan menoleh. Melihat anak laki-laki itu menyisir rambutnya terlalu rapi kebelakang.


Abela menaikan alisnya, ini pertama kalinya Abela melihat Orlando berpenampilan seperti itu.


"Hm ... Kenapa dengan rambutmu?" tanya Abela.


"Ap-apa jelek?" jawab Orlando tergagap.


"Tidak, hanya masih terasa aneh saja." Abela menahan tawanya.


"Ini ... Penampilan dewasa. Lui bilang karena aku sudah besar jadi ...." Wajah Orlando memerah. Dia ingin sekali mengacak rambutnya lagi.


Abela melepaskan Mossie yang ingin melompat menuju Orlando. Dan dengan sigap Orlando menangkap kucing itu ke pelukannya.


"Lui benar, kau sudah besar sekarang ini," ucap Abela.


Orlando masuk dan duduk di hadapan Abela, melihat kotak-kotak belum di susun rapi oleh para pelayan.


"Ini ... Ayah yang mengirimnya?" tanya Orlando.


"Ya ... Beberapa dari para bangsawan juga."


"Apa semuanya sudah siap?" tanya Orlando pelan.


"Sudah semua. Kita hanya tonggal menunggu hari itu datang." Abela menatap wajah sendu Orlando.


Abela tahu, seharusnya Abela asli yang ada disinj dan menikah dengan pria dewasa favorit anaknya ini. Pernikahan ini hanya pernikahan kontrak mereka.

__ADS_1


"Orlando, tanyakan padaku," ucap Abela masih menatap Orlando.


"tanyakan padaku tentang semua yang ingin kau tahu tentang rumah ini. Aku yang sudah paham akan mengajarimu."


Mendengar itu Orlando menunduk menatap Mossie di pangkuannya.


"Aku paham, baiklah." Orlando merapatkan bibirnya.


"Senang rasanya kembali kemari lagi," ucap Abela tulus.


Orlando mengangkat wajahnya. Melihat senyum Abela. Lalu ikut tersenyum juga.


"Kau bisa tinggal selamanya disini jika kau mau," ucap Orlando pelan.


Kata-kata itu membuat senyum Abela hilang, Abela terkejut mendengarnya. Benarkah apa yang dia dengar? Orlando mengatakan itu?


"Aku hanya bicara saja, tidak bermaksud apa-apa," kata Orlando mengoreksi ucapan sebelumnya. Dia melihat wajah Abela yang sudah tidak tersenyum dan membuatnya merasa bersalah.


"Aku hanya terkejut," gumam Abela.


"Terima kasih," kata Abela lagi.


Abela tidak tahu sejak kapan, tapi dia rasa Orlando mulai terlihat ingin berdamai dengannya. Terlepas dari alasan yang tidak dia tahu, Abela tidak menyangka tidak perlu waktu yang lama untuk itu.


"Nyonya, Duke Armand ada disini," ucap Lui mengumumkan.


Abela mengangguk dan akan berdiri, "Ayo Orlando," ajak Abela.


"Tidak, aku disini saja." Orlando bergumam pelan.


Abela tersenyum menyapa Armand. Lalu duduk di hadapannya.


"Kenapa jauh sekali?" tanya Armand menaikan alisnya.


"Jauh? Ini sudah sangat dekat Tuan," jawab Abela sopan.


Kening Armand berkerut mendengar Abela memanggilnya Tuan.


"Apa yang terjadi?" tanya Abela lagi.


"Aku rasa kita harus memajukan tanggal pernikahannya. Sepertinya perang akan terjadi," kata Armand.


"Perang?"


"Ya, dengan Wilhemn." Armand menjawab santai.


"Kalau kau menikah dengan putri itu sejak awal, semua ini tidak akan terjadi," gumam Abela.


"Kurasa akan tetap terjadi. Untuk apa putri itu menikah dengan orang yang hampir dua dekade lebih tua darinya."


"Kau benar," Abela tertawa pelan.


"Juga Duke Estonia akhir-akhir ini bersikap sangat menyebalkan," kata Armand.

__ADS_1


"Calix?" tanya Abela.


"Aku tahu kalian dekat, tapi aku tidak tahu kau akan sangat mudah memanggil namanya saat kau bahkan memanggil ku tuan." Armand menyilangkan tangan di depan dadanya, menatap Abela tajam.


"Apa maksud mu, tentu saja. Dia cucu dari cucu, cucuku," kata Abela menahan tawa.


"Ya dia tidak tahu kalau dia cucu dari cucu,cucu mu," jawab Armand serius.


Abela akhirnya tertawa mendengar nada serius Armand. Lalu menghentikan tawanya saat melihat tatapan Armand yang semakin tajam.


"Baiklah, apa yang dia lakukan?" tanya Abela akhirnya.


"Dia hanya, selalu menentang apa yang aku sarankan. Lalu sejak berita pernikahan kita tersebar. Dia berusaha menemui mu di kamarmu di istana. Dia tidak tahu kalau kau sudah pulang ke rumah ini. Jadi tidak heran kalau dia mungkin muncul tiba-tiba."


"Kau benar, sepertinya dia juga menyukai wajah ini," ucap Abela ringan.


"Aku tidak suka. Haruskah aku mencungkil matanya?" ucap Armand terdengar mengerikan.


"Jangan bercanda ...." kata Abela pelan. Dia melirik Armand dengan sudut matanya. "Kau bercanda kan?"


Armand menghela napas pelan. Dia memalingkan wajahnya.


"Ya, andai itu bisa benar-benar aku lakukan," gumam Armand.


Abela diam-diam menelan ludahnya. Dia tahu, Armand sangat mencintai wanita ini. Jadi tentu saja Armand terganggu oleh afeksi yang diberikan Calix pada Abela.


"Dua hari, kita akan menikah dua hari lagi," kata Armand.


Abela tersenyum tipis. Dia mengangguk kecil. Dia juga sudah siap melakukannya. Lagipula tidak buruk juga pergi setelah mengabulkan apa yang Orlando mau.


"Soal tubuhku ... Apa kau sudah mendapat petunjuk lagi?" tanya Abela.


"Maafkan aku,tolong bersabar sedikit lagi," gumam Armand tanpa membuka mulutnya.


Abela mengangguk kecil sebagai tanggapan. Abela tidak meragukan kemampuan Armand. Hanya saja, Abela sedikit merasa jika Armand terkadang ingin menghindari topik itu. Tapi dia juga belum siap bertanya alasannya. Jadi Abela hanya diam.


Tidak ada lagi percakapan yang terjadi sore itu. Orlando juga tidak menyusul Abela dan bertemu Armand. Banyak pertanyaan yang Abela tahan. Sampai Armand pamit pulang. Abela masih duduk di tempatnya tadi. Dia tidak tahu, apa yang sangat mengganggu pikirannya.


Jika dia benar-benar ingin semua ini cepat selesai, seharusnya dia menekan Armand lebih intens lagi. Tapi terkadang dia juga ternyata ingin mengulur waktu. Entah karena alasan apapun itu. Abela tahu seharusnya dia tidak mempunyai pikiran itu. Tapi tetap saja dia tidak bisa menahannya.


Apa yang dia rasakan pada Armand? Apa yang akan terjadi pada Armand setelah dia pergi? Sampai kapan dia akan bersama dengan pria itu?


Tiba-tiba semua pertanyaan itu berputar di kepalanya. Lalu dia bangkit berdiri dan berlari. Dia berharap Armand belum pergi dari rumahnya. Dia ingin mengutarakan apa yang dia rasa dan dia pikirkan.


"Armand !" panggil Abela agak keras saat Armand sudah ada di atas kuda.


Armand menghentikan gerakannya saat melihat calon pengantinnya berlari ke arahnya. Dia heran tentu saja. Tapi dia hanya bisa menunggu sampai Abela lebih dekat dengannya.


"Armand ...." Abela memanggil Armand lagi. Napasnya tersengal karena berlari.


"Aku ...." Abela mendongak menatap Armand yang dudum diatas kuda. Menatapnya bingung dan heran.


"Aku rasa ... Aku mencintaimu," ucap Abela sambil tersenyum.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2