
.
Orlando melamun di kereta kuda yang membawanya ke kediaman Armand. Lui butler rumahnya mengirim surat yang berisi Armand memerintahkan Orlando untuk tinggal di Duchy untuk sementara. Sedang ibunya masih ada di istana.
Orlando bukan keberatan dengan itu. Tapi desas-desus tentang ibunya dan Armand bisa dia dengar bahkan di dalam akademi. Penculikan ibunya dan ekspedisi monster yang gagal. Orlando hanya ingin penjelasan. Dari siapapun dia akan terima.
Orlando tidak sadar saat kereta kudanya dibuka dari luar. Dia menatap prajurit Armand yang tersenyum ramah. Orlando dengan tenang menuruni kereta kuda dan disambut hangat seperti biasa. Bastian menunggunya di depan pintu.
"Selamat, kau jadi penghuni nilai tertinggi lagi," ucap Bastian ,tersenyum lebar menyambutnya.
"Hn. Terima kasih. Bagaimana dengan ayah?" tanya Orlando ragu. Entah kenapa menyebut Armand begitu, membuat dia merasa tidak enak kali ini.
"Dia akan makan malam dengan kita," jawab Bastian.
"Dia saja?"
"Hn. Kau berharap ada lagi yang datang?" Bastian masih tersenyum.
"Tentu saja ...." Orlando menghindari tatapan Bastian.
"Kalau begitu sampaikan pada ayah. Dia akan mengabulkannya jika itu kau."
Orlando terdiam sebelum mengekori Bastian masuk ke dalam kastil.
"Apa kau sudah bertemu dia?" tanya Orlando.
"Ibumu?" Bastian menaikan alisnya. "Ya dia baik-baik saja. Jangan khawatir."
"Aku masih belum mengerti. Kenapa ibu ikut ke ekspedisi itu? Untuk apa?" Orlando mengutarakan isi kepalanya yang selama ini dia pendam.
"Aku tidak menanyakan itu padanya. Bagiku sudah cukup jika dia baik-baik saja." Bastian menjawab tanpa menoleh pada Orlando.
"Apa kau tahu sesuatu?" Orlando bertanya hati-hati.
"Tidak, selain yang di beritahukan oleh Duke Armand dan dia. Aku tidak tahu." Bastian membuat batasan dengan ayahnya sendiri dengan menyebutkan gelar dan namanya. Membuat Orlando paham bahwa ada sedikit kekecewaan yang dirasakan teman baiknya itu.
Orlando tidak bertanya lagi, sampai saat dia masuk ke dalam kamar yang selalu dia tempati jika sedang berada di rumah ini. Bastian mengikutinya dalam dia dan menghempaskan tubuhnya di tempat tidur. Diikuti Orlando seperti sudah menjadi kebiasaan.
"Aku dengar orang tua kita bertengkar?" Orlando memulai lagi dengan rumor yang dia dengar.
"Kau mendengar tentang itu juga?" Bastian menjawab dengan pertanyaan.
"Yang ku dengar lebih gila dan tidak masuk akal. Mereka bilang ayah menghunuskan pedang pada ibu dan memukulinya," cerocos Orlando yang disambut wajah datar Bastian.
"Aku tahu itu tidak mungkin, tapi kau tidak perlu menatapku seperti aku ini orang gila." Orlando entah kenapa merasa malu.
Bastian tersenyum miring dan menatap diam langit-langit kamar.
__ADS_1
"Apa yang akan kau lakukan jika ayah ingin menjauhkan mu dari ibumu?" tanya Bastian.
Agak mengejutkan karena Orlando tidak langsung menjawab. Bastian meliriknya dengan ekor matanya.
"Tergantung apa alasan yang akan ayah berikan padaku."
"Dan apa maksudnya itu?" tanya Bastian lagi.
"Dari sekian banyak pria yang mendekati ibuku. Hanya ayahmu yang berusaha terlihat baik di hadapan ku." Orlando menjawab tidak dalam konteks yang ditanyakan Bastian. Tapi Bastian hanya mendengarkan.
"Biasanya yang mendekati ibu adalah orang-orang arogan bergelar lebih tinggi tapi tidak memiliki uang. Mudah bagi ku untuk curiga dengan perhatian palsu mereka. Lalu, ayah mu datang. Seseorang dengan gelar dan kedudukan tinggi di kerajaan ini. Dan memiliki uang banyak. Aku tidak pernah menyangkal ketulusannya."
"Kau merasa begitu karena kau ingin tahu rasanya punya ayah," ucap Bastian menaikan sebelah alisnya.
"Bagaimana denganmu. Kau yang selalu lebih menempel pada ibuku juga karena kau ingin tahu rasanya punya ibu." Orlando membalasnya.
Mereka berdua tertawa dengan argumen kosong mereka. Lalu berhenti bersamaan dan hanyut dalam pikiran masing-masing.
"Kalau aku jadi dirimu ... Aku tidak akan percaya apapun yang Duke Armand katakan ...." Bastian berucap lirih.
"Pikiran itu membuat aku takut. Tapi Bastian, dia tidak terlihat seperti ibu."
"Aku tahu kau menyadari itu juga," jawab Bastian tanpa jeda berpikir.
"Aku akan merasa lebih baik kalau kau menyangkalnya, kau tahu itu." Orlando memejamkan matanya. Wajahnya terlihat sendu di mata Bastian.
Bastian terkejut saat Orlando tiba-tiba terduduk.
"Ayo katakan pada ayah untuk mengajaknya makan malam juga," ucap Orlando dengan nada ceria. Membuat Bastian tersenyum.
"Ayah pasti mengabulkan permintaan anak kesayangannya ini," kata Orlando lagi.
"Anak kesayangan apa? Siapa?" Bastian menggodanya.
"Aku ... Anak kesayangan Duke ... Armand ...." kata Orlando lambat-lambat.
"Mendengar mu mengatakan itu entah kenapa membuatku malu. Lebih malu lagi karena melihat wajahmu yang memerah." Bastian mengatakan itu dengan nada dan wajah yang datar. Membuat rona merah di wajah Orlando semakin kentara.
...----------------...
Armand duduk diam di dalam kereta kuda yang membawanya pulang. Di depannya Abela melakukan hal yang sama. Armand merasa dejavu dengan kecanggungan mereka. Bedanya kali ini, ketegangan lebih kentara diantara mereka.
Jika saat itu mereka bersitegang tentang pernikahannya dengan putri dari Wilhemn, sebagai sepasang kekasih. Kali ini mereka berdua tampak seperti benar-benar bermusuhan.
Abela mengelus kucing hitam yang bergelung di pangkuannya. Sejak dia dikurung di istana kucing itu di jauhkan darinya oleh Armand. Akhirnya kucing itu kembali dengan beberapa syarat dan perjanjian yang harus Abela ikuti. Dan kalung sihir yang tidak boleh dilepas dari leher kucing itu. Menjaga agar tidak bertransformasi menjadi besar.
Armand bersikap seperti biasa saat mereka sampai. Turun lebih dulu dan membantu Abela turun. Abela hanya mengikuti saja. Sebelum mereka mencapai pintu. Seseorang berambut emas berlari ke arah mereka. Menjatuhkan dirinya dan memeluk Abela.
__ADS_1
"Ibu ...." ucap Orlando dengan nada riang.
"Hn. Kau terlihat lebih besar dari sebelumnya," komentar Abela kaku.
"Hah? Entahlah aku tidak merasa begitu," jawab Orlando. "Kucing siapa itu? Yang ibu peluk?"
"Ibu menemukannya di kastil penyihir."
"Maksud ibu penyihir yang membunuh ayah dulu?" tanya Orlando lagi. Matanya yang sama birunya dengan Abela menatap Abela dengan lekat. Seolah tidak ingin melewatkan apapun dari wajah Abela.
"Kau benar. Tapi kalau kucing ini tidak ...." Abela berhenti sebentar untuk berpikir. "Jika kucing ini tidak pergi menemui ayahmu saat itu. Ayahmu tidak akan bisa menyelamatkanku."
Orlando tidak langsung menjawab komentar Abela. Dia hanya tersenyum dengan ekspresi yang terlihat kecewa.
"Ibu, biasanya benci apapun yang berhubungan dengan dia," gumam Orlando membuat Abela membatu di tempatnya.
"Ayo masuk, di luar sudah mulai dingin," kata Armand mengakhiri percakapan ibu anak yang terkesan canggung itu.
Orlando tersenyum lagi dan menggandeng tangan Abela ke dalam rumah.
"Kucing ... Oper kucing itu padaku." Armand mengulurkan tangannya, meminta Abela memberikan kucingnya.
Abela hanya menuruti dalam diam. Mossi -kucing itu- terlihat memelas berada di pangkuan Armand.
"Sampai kapan ibu akan berada di istana?" tanya Orlando sesampainya mereka di meja makan.
"Ibu tidak bisa menjawab itu. Ibu akan memberimu kabar jika ibu sudah bisa pulang."
"Aku harap tidak terlalu lama ... Kau tahu kan ... Aku jarang ada di rumah." Orlando tersenyum lebar. Membuat Abela spontan mengulurkan tangan mengelus rambutnya.
Baik Armand atau Bastian, tidak banyak bicara. Hanya ada suara Orlando dan Abela yang menjawab sesekali dan sesingkat yang dia bisa saat Orlando bertanya. Makan malam itu berakhir cukup damai.
Orlando dan Bastian meninggalkan ruang makan lebih dulu dengan alasan bermain catur. Sedang Armand memaku tatapannya pada Abela yang masih menikmati hidangan penutup.
"Jadi ... Aku tidur di penjara malam ini?" tanya Abela sarkastik, membalas tatapan tajam Armand.
"Bukan kah bercanda mu kelewatan?" Armand menyunggingkan senyum miringnya.
"Ku kira kau ingin mengurung ku di suatu tempat," balas Abela dingin.
"Ya. Jangan pernah meninggalkan kamar kita," perintah Armand. Tidak dengan nada godaan seperti biasanya melainkan nada dinginnya yang mungkin tidak membuat Abela takut. Tapi membuat para pelayan tegang.
"Baiklah." Abela menjawab singkat. Dia membersihkan mulutnya dengan serbet. Lalu menatap Armand.
"Kawal aku kalau begitu ...."
...----------------...
__ADS_1