Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke

Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke
Menerima Kenyataan


__ADS_3

.


Abela merasa marah setelah berlari sampai lima putaran. Tidak. Dia tidak bisa melakukannya. Kakinya sudah lemas dan bergetar. Dengan sisa tenaga yang dia punya, dia mencengkram kerah baju Armand dan berteriak.


"Kau benar-benar ingin membunuhku!"


Armand tahu, Abela yang sekarang sangat ekspresif. Jadi dia tidak terkejut saat mendengar wanita itu berteriak. Armand hanya merasa harus menahan tawanya. Atau Abela akan semakin marah.


"Seingat ku, kau yang meminta ini," jawab Armand sambil tersenyum.


"Jangan bercanda, bukankah sepuluh putaran itu berlebihan?" Abela terlihat sangat gusar.


"Kau ingin aku menjawab apa?" Armand menaikan sebelah alisnya. "Orlando berlari lebih dari itu," ucap Armand lagi.


Abela menoleh menatap Orlando, ibunya itu mungkin berpikir bahwa dia sedang memasang wajah menyeramkan. Tapi sayangnya dia gagal. Orlando tidak pernah melihat Abela berekspresi lucu seperti sekarang. Orlando menahan tawanya dengan mulut yang dia rapatkan.


"Kau berlari sepuluh putaran?" tanya Abela.


Orlando mengangguk sebagai jawaban, bibirnya masih dia rapatkan sekuat tenaga. Dia takut tawanya keluar jika dia membuka mulutnya sedikit saja.


"Dia bahkan melakukan push up, sit up ...." Armand menghentikan ucapannya saat melihat wajah tatapan tajam Abela.


"Tetap saja ini keterlaluan untuk ku yang belum sempat makan apapun." Abela masih mencengkram bagian depan baju Armand.


"Kau ingin menyerah?" tanya Armand.


Abela tidak menjawab, dia menunduk menatap kakinya. Entah kenapa perasaannya sangat resah. Kenyataan bahwa dia mulai mengingat memori yang ada dalam tubuh yang dia tempati ini, membuatnya seperti di kejar sesuatu yang tidak tampak. Dia harus segera menyelesaikan apa yang harus dia selesaikan. Atau dia akan semakin menyatu dengan tubuh ini.


"Abela ... Baiklah ... Tidak perlu terlalu terburu-buru. Kita bisa melakukannya pelan-pelan saja. Bagaimana?" bujuk Armand lembut. Abela menghela napas sebelum menatapnya lagi.


"Aku tidak apa-apa, aku hanya lapar," ucap Abela lirih.


Abela melepaskan tangannya dari baju Armand dan mendekat pada Orlando, "Ayo makan dulu, dan bantu ibu berjalan. Kaki ibu sakit."


"Baik Ibu," Orlando dengan senang hati menggandeng tangan ibunya.


.


.


Abela tidak familiar dengan afeksi yang diberikan oleh Orlando. Anak-anaknya dulu mungkin lebih mirip Bastian. Dingin dan tidak banyak bicara. Orlando berbeda, jelas sekali ibunya membesarkannya dengan penuh kasih sayang.


Bukan berarti Abela merasa tidak nyaman. Semuanya hanya terasa baru. Saat dengan manis Orlando membuka mulutnya meminta Abela menyuapinya buah anggur. Atau saat dia dengan ceria menyuapi Abela dengan kue. Dan disamping kegiatan ibu dan anak yang terlihat harmonis ini, Armand duduk santai membaca surat kabar. Sesekali menyeruput kopi pahitnya.


"Kau tidak memiliki pekerjaan?" tanya Abela yang melihat wajah dan gestur santai Armand.

__ADS_1


"Kau sendiri? Kau tidak ada pekerjaan?" jawab Armand dengan pertanyaan lainnya.


"Aku bertanya lebih dulu," kata Abela tidak mau kalah.


"Ya ... Kau juga bisa menjawabnya lebih dulu." Armand bahkan tidak mengalihkan atensinya dari lembaran perkamen yang ada di tangannya.


Abela memutar matanya, "Lupakan saja kalau begitu."


"Ibu tidak bekerja? Rasanya aneh tidak melihat ibu ada didalam kantor seharian," ucap Orlando sambil mengunyah kue nya.


"Bukan berarti aku tidak suka bersantai dengan ibu seperti ini," kata Orlando lagi.


"Ibu? Bekerja?" Abela bingung, selama dia bangun tidak ada satupun yang membahas pekerjaan padanya.


"Baiklah." Orlando berhenti makan dan menatap Abela serius.


"Apa yang terjadi sebenarnya? Kalian siap mengatakannya padaku?" Orlando tidak sabar, dia ingin cepat mengetahui apa penyebab keanehan dari sikap ibunya.


"Tanya tuan Duke, dia yang bersikeras merahasiakan banyak hal dari kita," jawab Abela santai dan menyeruput tehnya. Membuat Armand meliriknya dari atas perkamen yang dia baca.


Orlando menatap Armand, meminta penjelasan dalam diam.


"Ibumu hilang ingatan." Armand menjawab, dia meletakan surat kabarnya di atas meja, disamping cangkir kopinya. "Ibumu di serang dalam kereta kuda saat perjalanan pulang dari perkebunan kalian."


"Diserang?" Orlando mengulang ucapan Armand.


Armand menatap Abela lalu Orlando sebelum tertawa pelan. "Maaf ... Kalian ... Bisa lebih sabar?" ucap Armand disela tawanya.


"Tidak seharusnya ayah tertawa disaat seperti ini." Orlando menampilkan wajah yang cemberut.


"Kenapa kau selalu tertawa menanggapi semua hal?" Abela memutar matanya bosan.


Armand menghentikan tawanya dan memasang wajah serius lagi.


"Biar aku menjawab pertanyaan Orlando dulu," ucap Armand memberikan seluruh atensinya pada Orlando.


"Maafkan aku tidak memberitahumu tentang penyerangan itu. Aku hanya menunggu keadaan aman. Saat ibumu bangun, dia tidak ingat apa-apa. Walau dia mulai mengingat sesuatu akhir-akhir ini," Armand menyeringai di akhir kalimatnya.


Orlando menatap ibunya khawatir, "Apa ibu baik-baik saja?"


"Semua luka ibu sudah sembuh, jangan khawatir." Abela tersenyum melihat mata Orlando yang berair.


"Tetap saja, bagaimana kalau terjadi sesuatu dan aku tidak ada?" Orlando terlihat kesal dan merajuk pada ibunya.


"Jangan salahkan aku, salahkan dia." Abela menunjuk Armand dengan sangat jelas.

__ADS_1


"Aku akan segera membawamu pulang jika terjadi sesuatu Orlando, aku hanya tidak cukup percaya diri untuk melindungi dua orang. Setidaknya, kau aman di akademi." Armand menjelaskan.


"Tetap saja ayah tidak seharusnya membuatku bingung." Orlando menghela napasnya pelan.


"Hn. Maafkan aku." Armand mengusap puncak kepala Orlando. Yang tampak siap untuk memaafkan Armand bagaimanapun juga.


"Jadi ... Aku punya perkebunan? Apa pekerjaan ku berkebun?" tanya Abela menginterupsi dua orang yang terlihat melupakan keberadaannya.


"Ibu tidak berkebun ... Ibu punya kebun tapi tidak berkebun," jelas Orlando dengan tidak jelas. Membuat Abela semakin bingung.


"Armand?" Abela ingin Armand menjelaskan untuknya.


"Aku tidak terlalu terlibat dengan pekerjaanmu. Kau bisa tanya Lui," jawab Armand. Senyum tipis terbit lagi di wajahnya. "Lui pasti sangat sibuk karena kau yang hilang ingatan dan memilih mengikuti sampai ke timur."


.


.


Abela menatap perkamen yang menumpuk di atas meja kerja di hadapannya. Dia sama sekali tidak tahu, jika wanita ini memiliki bisnis yang cukup menjanjikan. Keluarga mereka memproduksi wine. Abela mempelajari semua hal yang ada di perkamen itu. Semuanya adalah laporan tentang jumlah wine yang di produksi dan yang terjual selama beberapa periode. Cukup banyak hingga Abela berpikir bahwa sebelum dia merasuki tubuh ini, wanita ini tidak mengerjakan pekerjaannya.


"Lui? Apa kau tahu alasan aku mengabaikan ini semua bahkan sebelum aku hilang ingatan?" tanya Abela agak kesal.


"Nyonya ... Nyonya sedang tidak dalam kondisi yang baik," jawab Lui sopan.


"Maksudmu keguguran?"


Lui terkejut saat Abela membahasnya.


"Tidak perlu merasa bersalah karena tidak memberitahuku. Armand pasti melarang mu. Dan kalian semua menurutinya seperti dia adalah Tuan kalian saja," ujar Abela panjang.


"Maaf nyonya ...." Lui menunduk dalam, tidak berani menatap Abela.


"Bawakan buku besarnya padaku. Aku akan membaca semuanya. Minta Hana membawakan aku makanan ringan dan teh dingin."


"Baik Nyonya." Lui undur diri dan keluar ruangan itu dan mengerjakan apa yang di perintahkan Abela.


Abela terpana melihat buku besar bisnisnya. Sungguh ternyata rumah ini sangat kaya. Dia tidak tahu itu. Pantas saja, wanita ini bisa tidak menikah selama enam tahun setelah suaminya meninggal. Ternyata hal itu memang tidak di butuhkan. Apalagi jika kandidat mempelai laki-lakinya hanya orang yang memiliki gelar tanpa uang.


Abela akhirnya mengerti kenapa wanita ini menjalin hubungan dengan Armand. Selain Duchy lebih kaya dari rumah ini. Koneksi Armand juga tidak main-main. Abela yakin hal itu juga mempengaruhi bisnisnya.


"Ini sungguh luar biasa Lui. Lihat jumlah koin-koin emas ini," gumam Abela pada Lui.


"Benar nyonya ... Ini semua berkat kerja keras nyonya selama ini."


Jawaban Lui membuat Abela sedikit murung. Abela menghela napas. Wanita yang malang, pikirnya. Wanita ini bekerja sangat keras dan pada akhirnya tubuhnya harus dikuasai oleh jiwa nenek sihir. Semua hal yang seharusnya miliknya dan semua orang yang menyayanginya, sekarang harus digunakan dan ditipu oleh penyihir jahat yang membunuh suaminya.

__ADS_1


Sungguh kejam Dewa itu. Abela mengutuk dalam hati. Abela tersenyum tipis sebelum memeriksa kembali buku besar bisnis rumah ini. Dia hanya akan menerima kenyataan saja sekarang. Bahwa dia sekarang sedang menjadi wanita bernama Abela. Dan dia akan berusaha melakukan yang terbaik. Agar saat wanita ini kembali. Semua tetap ada pada tempatnya.


...----------------...


__ADS_2