
.
Abela menikmati sarapannya dengan santai. Dia ingin segera pulang dan berlatih auranya. Aneh, intuisinya menuju pada itu, dia harus meningkatkan level aura orang ini lagi. Entah untuk tujuan apa.
Abela melirik Armand yang dengan tenang duduk di tempatnya. Dia belum mengatakan sepatah katapun pagi ini. Abela tidak terlalu ingin memikirkannya. Barangkali Armand sedang dalam suasana hati yang buruk.
"Bastian akan pulang hari ini." Armand memecah keheningan. Abela menatap Armand dengan raut wajah datar. Pria ini tampaknya lupa kalau dia tidak tahu apa-apa.
"Anakku, Bastian," jelas Armand singkat.
Abela menganggukkan kepala. Dia ingat Hana pernah menceritakan tentang itu padanya. Nama anak Armand adalah Bastian. Dan sepertinya anak ini dekat dengannya.
"Jadi? Apa yang harus aku lakukan?" tanya Abela masih dengan wajah datarnya.
Armand tersenyum menanggapi, "Tidak ada, tidak perlu melakukan apa yang membuatmu tidak nyaman."
"Aku akan pulang saja kalau begitu," ucap Abela dingin.
"Baiklah." Armand tidak menatap Abela lagi.
Abela menaikan satu alisnya lagi, merasa heran pada dirinya sendiri. Ada hal aneh yang merasuk ke dadanya saat Armand melepaskan tatapan matanya. Entah kenapa Abela merasa kesal.
"Jika ada sesuatu yang ingin kamu katakan, katakan saja," ucap Abela tegas. Dia tidak suka dengan sikap Armand pagi ini. Terkadang Memang seperti itu. Apa yang dia rasa tidak sama dengan pikirannya yang acuh.
Armand menatap Abela lagi, tidak dia pungkiri bahwa dia terkejut. Selama mengenal wanita ini tidak pernah dia mendengar nada ketus darinya. Apa kehilangan ingatan mampu membuat gestur dan kebiasaan orang itu berubah?
"Aku agak terkejut, aku tidak tahu jika orang yang selalu menahan emosinya seperti dirimu bisa terbuka seperti ini sekarang. Haruskah aku bersyukur?" Armand tersenyum dengan tatapannya yang sedikit sendu.
"Mungkin aku memang seperti ini, mungkin dulu aku berpura-pura." Abela menghindar dari tatapan Armand. Dia tidak berniat membongkar identitasnya sebelum menemukan cara untuk membuat jiwa Abela yang asli kembali.
Abela bukan tidak cukup berani untuk membunuh dirinya sendiri. Atau tidak tega membunuh Abela juga. Tetap saja, jika pada akhirnya dia dikembalikan kembali oleh Dewa menyebalkan itu. Abela tidak yakin akan terbangun di tubuh yang lebih baik dari ini. Setidaknya dia dekat dengan orang yang bisa menghancurkannya kapan saja. Tidak perlu mencari ratusan tahun lagi seperti dulu.
"Jika kau ingin aku bertemu dengan anakmu. Baiklah. Aku akan menunggunya sebelum pulang," ucap Abela akhirnya.
"Aku akan menjelaskan sendiri padanya jika aku tidak mengingat apapun. Kurasa berkata jujur lebih baik dari berpura-pura," kata Abela lagi.
"Baiklah." Armand menjawab dengan pelan.
Hari ini kakaknya memanggilnya kembali ke istana. Dan entah kenapa firasat Armand sangat buruk. Dia menyesal kenapa dia dan Abela tidak melakukan pernikahan mereka sebelum hal yang sekarang ini terjadi.
"Aku harus ke istana, Raja memanggilku." Armand memberitahu Abela.
"Kurasa sudah diputuskan. Pernikahan mu dengan putri dari Wilhemn itu." Kata-kata Abela yang cenderung dingin bukan hanya menusuk hati Armand, tapi membuat semua pelayan di sekitar mereka tegang.
__ADS_1
Armand memijat pangkal hidungnya. Lalu mengetuk meja makan dengan jari-jarinya. Dia merasa resah, "Sudah aku bilang, tidak akan ada pernikahan," kata Armand lebih dingin lagi.
"Kenapa? Lakukan saja. Itu kewajibanmu kan? Kewajibanmu sebagai boneka kakakmu." Abela menyuap sepotong daging setelah mengatakan itu. Acuh dengan ekspresi mengerikan Armand saat ini.
"Apa. Katamu?" Armand tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Raja selalu mengirim mu untuk mati berkali-kali. Setelah kamu bertahan dengan semua itu, bertahan dan membunuh. Dia masih ingin merebut apa yang bisa dia rebut darimu. Misalnya kebebasanmu untuk memilih dengan siapa kamu ingin hidup."
Abela kali ini tidak berhasil memotong dagingnya, karena meja makan yang ada di hadapannya sudah hancur terbelah dua. Dengan gerakan lambat Abela menoleh pada Armand yang tampak marah.
"Wah ... aku tidak tahu kalau ini sifat aslimu." Lagi, Abela mengatakannya dengan dingin.
"Aku tidak akan meminta maaf soal ini. Kau sudah melewati batas Abela." Armand menatap Abela tajam. Tidak pernah dia marah pada wanita ini. Armand selalu beranggapan jika Abela adalah satu-satunya orang yang mengerti dirinya. Dan dia sangat marah saat tahu jika Abela-nya sudah tidak seperti dulu. Lebih marah karena kebodohannya lah yang menyebabkan ini terjadi.
Wanita itu menatapnya dengan airmuka yang datar. Jarak mereka tidak jauh. Tapi Armand bisa merasakan bahwa ada garis imajiner yang digambar di tengah mereka. Armand menghela napas lelah. Dia memejamkan matanya.
"Siapkan sarapan lagi untuk madam," perintah Armand pada pelayan-pelayannya yang dengan cekatan melakukan apa yang dia perintahkan. Satu pelayan meminta perhatian Abela dan memintanya dengan sopan untuk ikut keluar dari ruang makan itu. Abela tidak melawan, dia beranjak dengan tenang dan berjalan keluar.
"Tuan ...." ucap Tony -butler Armand- pelan.
"Aku tahu, aku tidak seharusnya semarah itu pada orang yang tidak baik-baik saja." Armand tertawa kering. "Tapi itu sudah terjadi Tony, aku sudah membelah mejanya menjadi dua."
"Anda ingin minum teh dulu di ruangan kerja Anda sebelum berangkat ke istana?" tawar Tony.
Abela melanjutkan sarapannya, seperti tidak terjadi apa-apa. Membuat para pelayan bingung bersikap bagaimana. Rumor bahwa hubungan tuan mereka dengan madam Abela yang mereka impikan menjadi nyonya di rumah ini mendingin sepertinya benar.
Abela sedang menikmati makanan penutupnya saat dia melayangkan pandang ke kebun bunga tulip di depannya.
"Taman yang indah," gumam Abela pelan.
"Benar madam, tuan memerintahkan para pekerja untuk selalu merawat kebun ini. Bunga tulip adalah bunga favorit madam." Seorang pelayan menjawab dengan sopan.
Sedang Abela mematung, apa yang harus dia rasakan saat tahu soal itu. Abela, menghela napas. Tadi itu cukup mengerikan dan menegangkan. Tubuh Abela menegang mengingat kematiannya dulu di tangan Armand. Entah kenapa mengingat kematian membuatnya bersemangat. Mungkin hanya itu yang dia inginkan.
Abela menghirup teh nya sambil menikmati angin. Saat tanpa sengaja dia menangkap seringai salah satu pelayan yang berjajar di dekatnya.
"Kau yang di ujung sana. Siapa namamu?" tanya Abela saat meletakan cangkirnya.
Pelayan itu cukup bingung , tapi segera mengontrol ekspresinya. Dia sedikit mendekat pada Abela.
"July, nama saya July madam. Madam mungkin tidak ingat tapi saya orang yang dekat dengan madam,” ucap pelayan itu cukup percaya diri.
__ADS_1
Abela menatap pelayan yang tersisa satu persatu, tampaknya mereka sedikit bingung, tapi Abela sedikit tertarik dengan pelayan bernama July ini.
"Jadi July, duduklah. Temani aku berbincang." Perintah Abela, yang membuat semua pelayan semakin bingung. Kecuali July yang dengan percaya diri langsung duduk bersama Abela.
Abela tersenyum menyambutnya, dia mengintruksikan agar seseorang menuangkan teh untuk July. Bisa Abela lihat pelayan itu dengan melakukannya dengan wajah terpaksa.
"Kau tahu July, tidak ada yang bisa aku percaya sekarang, terutama saat ingatan ku hilang. Bahkan Armand pun bersikap kasar seperti tadi. Atau jangan-jangan dia memang seperti itu." Abela berusaha menampilkan wajah sedih. Entah berhasil atau tidak. Tapi sepertinya dia berhasil. Pelayan lain terlihat simpati padanya. Sebaliknya July tampak tenang meminum teh nya. Dia mungkin tidak tahu jika seringainya sangat jelas.
"Madam pasti merasa ketakutan? Kami semua juga sangat terkejut saat tuan membelah meja itu menjadi dua, seharusnya tuan tidak melakukannya terutama saat madam baru saja kehilangan bayi madam." July mengatakannya dengan lancar seakan dia menantikan saat ini.
Abela bisa merasakan ketegangan dari pelayan yang lain. Mereka pasti sudah di instruksikan oleh Armand agar tidak menyebutkan hal itu. Seperti pelayan yang ada di kediamannya. Jika Abela mencoba membandingkan, tentu para pekerja yang ada di rumahnya sendiri lebih peduli dan dekat dengannya di banding dengan pelayan Duke yang mengatakan dengan mulutnya sendiri bahwa mereka dekat. Entah apa yang terjadi sehingga membuat pelayan ini mampu melanggar perintah tuannya.
Abela menatap July penasaran, apalagi informasi yang bisa dia dapat. "Jadi aku kehilangan bayi ku? Entah kenapa aku tidak merasa terkejut. Pasti ada alasan kenapa aku sangat lemah saat penyerangan itu terjadi. Sayangnya, tidak ada yang menjelaskan hal itu padaku."
"Tuan Duke, memerintahkan kami untuk tidak mengatakannya pada madam." July tampaknya sangat percaya diri dengan situasi ini.
"Kalau begitu ... Kenapa kamu sangat berani mengatakannya padaku?" Abela memutar cincin yang dia pakai di jari manisnya. Kalau diingat lagi cincin ini disematkan oleh Armand tadi pagi.
"Itu karena saya dekat dengan anda, madam," jawab July, Abela tersenyum mendengarnya. Semakin menarik saja percakapan mereka.
"Apa yang menyebabkan hal itu terjadi?" tanya Abela lagi.
"Seorang pelayan menyajikan teh pennyroyal pada anda," jawab July.
Abela memandang bahwa satu persatu pelayan yang wajahnya terkejut. Sama dengan mereka Abela juga terkejut. Tidak ada tanaman pennyroyal di kontingen mereka. Tanaman itu hanya bisa ditemukan di perbatasan kontingen barat dan selatan. Bagaimana mungkin orang-orang di kontingan Utara -dimana mereka berada- tahu tentang tanaman itu.
"Kau sangat cerdas, kau tahu itu July. Aku sendiri tidak tahu apa yang sedang kamu bicarakan. Jika aku keguguran setelah meminum teh. Semua hanya akan berpikir sederhana. Seseorang memasukkan racun pada minuman ku." kata-kata Abela ditangkap dengan baik oleh para pelayan yang berdiri. Mereka mendekat pada Abela dan menatap sengit July.
"Tidak ada racun dalam teh itu, tidak seorangpun mengetahui apa yang menyebabkan madam kehilangan bayinya." Seorang pelayan mengatakan itu dengan tegas. Dia berdiri menjulang di depan Abela. Membuat Abela kagum dengan keberaniannya.
Aura dingin tiba-tiba terasa, sedang tawa nyaring terdengar di sebrang meja tempat Abela duduk. Abela cukup yakin July adalah orang yang berbahaya. Sebelum logikanya mengambil alih, sesuatu memercik membasahi wajahnya dan pelayan yang tadi menghalanginya sudah tergeletak bersimbah darah. Teriakan pelayan sahut menyahut, meski begitu mereka masih mencoba menghalangi Abela dari July.
Tapi Abela merasa lebih bersemangat dari sebelumnya. Begitu, seperti itu, akhirnya. Gumam Abela. Mata Abela melebar menantikan mata pisau yang menuju kepadanya. Tapi sebelum pisau itu mengenainya, benda cair berwarna merah merceceran di atas meja. Dengan sudut matanya Abela menatap tangan dan pedang yang melayang.
Saat July terjatuh di atas semua manisan pencuci mulutnya. Merintih sakit, erangannya memekakkan telinga. Di semua kekacauan itu, Abela menatap seorang laki-laki muda berambut hitam dengan tatapan tajam dan dingin. Menatapnya, mengingatkan Abela pada tatapan Armand saat membunuhnya.
"Aku tidak percaya ada tikus yang mampu masuk ke kediaman ini," ucap laki-laki itu dingin. Dia dengan dingin menendang badan July.
"Hai, ibu. Apa kabarmu?"
Pemuda itu tersenyum dengan cara yang tidak biasa. Abela bisa menerka siapa dia.
"Bastian?"
__ADS_1
...----------------...