Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke

Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke
Berburu Monster


__ADS_3

.


Armand menyilangkan kakinya dengan santai di depan tuan rumah. Calix sudah terbiasa dengan sikap Armand. Jadi dia tidak terlalu memikirkannya. Armand mengangkat cangkirnya dan mehirup tehnya. Membiarkan aroma teh yang menenangkan mengisi rongga pernapasannya.


"Monster itu, sulit di bunuh dengan cara apapun yang bisa saya pikirkan." Calix memulai diskusi mereka.


"Seperti apa wujudnya?" tanya Armand dengan nada yang tenang.


"Bertanduk, taringnya sangat panjang, wajahnya menyerupai ular dengan ukuran sangat besar, kulitnya bersisik dan berkaki empat. Monster itu bersembunyi di hutan tempat warga biasa berburu binatang," jelas Calix.


"Saya belum pernah melihat monster seperti itu sebelumnya." Armand berpikir sebentar. Tidak bisa mengingat apa dia pernah melihat monster yang seperti itu.


"Duke, saya dengar anda memiliki satu buku catatan penyihir," Calix mengatakan itu dengan hati-hati.


"Anda benar, tidak ada catatan tentang monster disana. Buku itu hanya menulis tentang satu nama. Calisto ...." Armand menghentikan ucapannya dengan tiba-tiba. Mempelajari ekspresi Calix.


"Kalau anda menginginkan buku itu, datanglah ke kediaman saya. Saya akan dengan senang hati memberikannya pada anda." Armand melihat raut wajah Calix yang melembut.


"Lagi pula tidak ada alasan bagi saya untuk menyimpan kisah cinta itu." Armand tersenyum sebentar sambil memejamkan matanya. Dia menatap langit-langit ruang kerja Calix.


"Arabela ... Nama asli penyihir itu kan? Sedikit mirip dengan namanya."


"Maksud anda nyonya Abela." Calix tidak terlalu ingin berkomentar tentang itu.


"Anda pasti merasa kesal karena saya membawanya, ada beberapa insiden yang terjadi di ibu kota, jadi saya tidak punya kepercayaan diri untuk meninggalkannya disana. Saya harap anda mengerti."


Calix terdiam mendengar penjelasan Armand, bukan dia tidak mendengar berita itu. Dia juga tidak terlalu keberatan, selama Armand memprioritaskan misinya di bandingkan hal lainnya.


"Soal monster, ayo bicarakan dengan prajurit lainnya, tentang apa yang sudah dan yang belum dicoba untuk menumbangkannya." Armand berdiri dari duduknya dan bersiap bekerja. Calix hanya mengangguk kecil dan mengikuti orang yang selalu dengan mudah memberi perintah pada siapa saja di sekitarnya.


.


.


Armand menatap semua prajurit yang dia bawa dan prajurit Calix yang terlihat tegang. Dia bisa memprediksi apa yang terjadi pada mereka. Seharusnya sentimen yang terjadi pada Master mereka tidak mempengaruhi diri mereka sebagai seorang prajurit.


Armand menyeringai sedikit, "Sepertinya kita tertinggal sesuatu yang menarik, benarkan tuan Duke?" Armand melirik Calix yang terlihat kesal di hadapan prajuritnya yang tampak bersalah.


"Yang mulia Duke de Rhodes dan prajuritnya datang atas perintah Yang Mulia Raja, Aku yang meminta mereka datang. Karena kita tidak bisa mengalahkan monster itu sendirian. Pikirkan prajurit kita yang sudah tiada, atau warga desa yang kehilangan." Calix terdengar bergetar saat mengatakan itu. Cukup untuk membuat Armand simpati. Duke Estonia menyuruh prajuritnya untuk menghormati dia dan prajurit yang dia bawa.


Duke menatap kapten prajuritnya dengan sengit, pria dewasa itu mengangguk sedikit sebelum menghadapnya.


"Apa kau tidak tahu bagaimana menghentikan mereka yang bermain-main?" tanya Armand dingin.


"Saya salah yang mulia, saya akan memperbaiki ini," jawab kapten itu.


"Duke Estonia, kita tidak punya waktu untuk ini. Saya rasa kita harus segera mendiskusikan apa yang lebih genting sekarang ini, daripada sikap prajurit kita yang kekanakan-kanakan." Armand menatap Calix dan memberi isyarat dengan matanya agar Calix melupakan apa yang terjadi dan segera ke ruang strategi untuk berdiskusi.


Calix hanya menghela napas lelah sebelum setuju dengan gurunya itu.

__ADS_1


Armand menatap perkamen dengan gambar monster yang cukup menyeramkan itu. Dia benar-benar tidak pernah bertemu dengan monster itu sebelumnya.


"Sudah saya duga, ini pertama kalinya saya melihat monster ini Duke," ucap Armand pada Calix.


"Anda benar, sebelumnya monster ini tidak pernah muncul. Entah apa yang menyebabkan dia menampakkan diri sekarang." Calix menyerahkan setumpuk perkamen pada Armand. "Ini yang sudah kami coba untuk melumpuhkannya," ucap Calix.


Armand terhanyut dalam laporan yang berlembar-lembar banyaknya itu. Keningnya berkerut berkonsentrasi.


"Kalian benar-benar melakukan banyak cara," gumam Armand. Dia menghela napas, apa cara yang tersisa yang belum mereka coba. Armand menggaruk alisnya dan menyandarkan punggungnya di kursi kayu tegak. Mencoba mencari cara lain yang bisa mereka lakukan.


Kening Armand semakin berkerut saat mendengar keributan di depan ruangan yang dia tempati. Dia melihat Calix yang juga terlihat bingung dengan keadaan itu.


"Apa yang terjadi?" tanya Armand pada Kaptennya.


"Akan saya periksa, yang mulia." Kapten prajuritnya itu bergegas keluar dari ruangan. Dan kembali dengan senyuman canggung. Armand menatap kaptennya dengan alis yang terangkat sebelah.


"Madam Abela mencari anda yang mulia," ucap Kaptennya pelan.


Kerutan di antara alis Armand semakin kentara. Abela? Mencarinya? Dia tidak yakin kenapa wanita itu mencarinya di saat yang seperti ini. Bukan. Rasanya dia bahkan tidak pernah mencarinya sekalipun sejak dia siuman dan hilang ingatan. Belum selesai dia berpikir, Abela sudah berhambur masuk ke dalam ruangan. Mendekati Armand yang masih terpana.


"Apa ada sesuatu yang darurat?" tanya Armand penasaran.


"Kenapa? Tidak ... Tidak seperti itu. Aku hanya merindukan kekasihku." Jawaban Abela membuat Armand memiliki firasat buruk, sedang semua yang ada di ruangan itu kecuali dia tersipu malu.


"Kau tahu, kau terlihat tidak tulus saat mengatakannya," balas Armand terus terang.


"Ini monster yang berusaha kau kalahkan? Terlihat menyeramkan," kata Abela lagi. Kata-kata yang keluar dari mulutnya sangat hampa, seperti dia sedang melamun.


"Aku sedang berpikir dan menyusun strategi, bisa kau tunggu aku di kamar?" Armand memerintah bukan bertanya.


"Kau sangat kejam, aku disini karena takut kau meninggalkanku." Abela berkata datar tidak sesuai dengan kata-katanya. Tidak ada nada kekhawatiran sama sekali.


"Abela ...." Armand memanggil namanya lirih, berharap Abela cukup peka bahwa kehadirannya sangat menggangu mereka yang ada di dalam ruangan ini.


Abela tidak menjawab dia mendekati Armand dan membetulkan bagian depan pakaiannya yang sangat rapi itu. Gestur sia-sia yang membuat Armand menunggu. Apa yang akan Abela katakan atau lakukan sekarang ini.


Abela menatap Armand di balik bulu matanya yang lentik, dia tersenyum sedikit sebelum menarik kerah Armand ke arahnya. Jarak wajah mereka sangat dekat. Armand bisa mencium wangi bunga yang mengguar dari tengkuknya.


"Tebas kedua taringnya menjadi dua dan tusuk atas rahangnya dengan pedangmu," bisik Abela serius di sebelah wajah Armand.


Armand menatap Abela penuh tanya, "kau bicara soal monster?"


Abela menjawab dengan mengulas senyum tipis. "Semoga berhasil," bisiknya sebelum berbalik dan keluar ruangan.


Armand masih terpaku di tempatnya. Menatap punggung Abela yang menghilang di balik pintu.


"Apa kalian pernah mengincar rahang atau taringnya?" tanya Armand, atensinya belum berpindah dari pintu dimana Abela keluar tadi.


"Kami tidak pernah mengincar bagian itu, itu area yang sebisa mungkin kami hindari. Kami tidak tahu, apa taringnya beracun atau tidak." Calix menjawab serius.

__ADS_1


"Masuk akal," gumam Armand. "Ayo kita coba kalau begitu."


Armand menatap gambar monster itu lagi. Dan mulai berdiskusi soal strategi dengan Calix dan kapten mereka, serta beberapa prajurit yang di nilai kompeten.


Diskusi itu berlangsung cukup lama, sampai mereka melewatkan makan malam. Mereka sepakat untuk mulai berburu monster pagi hari nanti. Armand dan Calix berjalan berdampingan menuju kastil untuk beristirahat.


"Anda mendapatkan ide itu dari nyonya Abela?" tanya Calix. Tidak bermaksud untuk menggali informasi, dia hanya sedikit penasaran.


"Ya, Abela membisikannya pada saya tadi," jawab Armand tenang.


"Menarik, saya tidak tahu kalau nyonya Abela punya ketertarikan terhadap monster." Calix megaruk dagunya.


"Anda benar ...." Armand menggantung kalimatnya.


Calix benar, Abela tidak pernah menunjukkan ketertarikan terhadap monster sebelumnya. Apa saran yang dia berikan hanya saran asal, dimana dia mendorong Armand dan prajurit yang lain bertaruh di strategi ini. Atau memang Abela tahu cara menumbangkan monster itu.


"Yang mulia ...." Calix membuyarkan lamunan Armand.


"Ya?"


"Selamat malam, semoga anda mendapat cukup istirahat untuk esok hari," ucap Calix formal sebelum menghormat dan undur diri. Armand dengan spontan membalas salam Calix dan mulai mengedarkan pandangannya. Ternyata dia sudah ada di depan pintu kamarnya.


Saat Armand membuka pintu, dia melihat Abela duduk di tempat tidur dengan gaun tidur sutra yang terlampau tipis. Rambut berwarna emasnya tergerai. Armand mencoba terbiasa melihat seringai yang muncul di wajah Abela yang terkadang terlihat licik.


"Kau menungguku untuk membantuku berganti pakaian?" tanya Armand tenang, mencoba untuk tidak langsung bertanya tentang kejadian tadi.


"Jadi? Apa kau menerima ideku? Apa kau sudah mendapatkan strategi?" Abela bertanya dengan agak tidak sabar.


"Aku bahkan masuh terkejut karena kau memberiku ide seperti itu," jawab Armand, dia membuka pakaiannya satu persatu di hadapan Abela seakan hal itu sudah sangat natural. Abela memang tidak bisa menyembunyikan rona merah di wajahnya. Tapi dia tidak ingin memberi kesempatan Armand menggodanya jika dia meributkan soal itu.


"Aku ingat pernah membaca buku tentang monster itu," jawab Abela agak asal.


"Kau tahu sayang, kau akan sangat tergagap dan gugup jika aku terus bertanya sekarang. Aku tahu sekarang kau sednag berbohong," ucap Armand menatap langsung pada wanitanya itu.


Abela menyeringai lagi, "Baiklah kau benar. Itu hanya ide yang terpikir di kepala ku saja. Aku tidak tahu itu bisa berguna atau tidak."


"Kenyataan kalau kami bahkan membuat strategi untuk melancarkan saranmu. Aku rasa itu cukup bisa di terima." Armand berjalan ke arah tempat tidur dan menaikinya. Mendekat pada Abela. Membaringkan tubuh mereka bersisian. Memelintir sejumput rambut Abela dengan jari telunjuknya.


"Aku senang melihat mu mengklaim diriku sebagai milikmu ... Tapi tidak disaat seperti tadi." Armand mengusap sisi wajah Abela lembut. "Tidurlah, kita tidak akan berbuat apa-apa malam ini. Aku harus bersiap pagi nanti."


"Aku juga tidak berharap akan berbuat sesuatu." Abela memutar matanya membuat Armand tertawa pelan.


"Kau tahu Abela ...." Abela menatap mata Armand di jarak yang sangat dekat.


"hn ?" gumam Abela pelan.


"Kau sangat cantik hari ini."


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2