
.
Abela terbangun dengan perasaan aneh, tidurnya malam tadi terasa lebih nyenyak dari hari-hari sebelumnya. Sejak dia bangun di dalam tubuh ini. Cahaya matahari yang menembus jendela kaca kamarnya tidak membuatnya merasa terganggu. Dia hanya ingin terpejam lagi. Sebuah tangan besar mengelus rambutnya lembut membuat dia mengantuk lagi.
Abela memundurkan badannya hingga bertemu dengan sesuatu yang hangat menyentuh punggung telanjangnya. Dia mengerutkan keningnya, mencerna apa yang ada di belakang punggungnya atau kenapa dia tidak memakai gaun tidur.
Matanya terbuka sekaligus saat kejadian malam tadi teringat kembali. Dia berusaha bangun dari tempat tidur, sayangnya usahanya tidak berhasil. Lengan kekar berhasil menangkap tubuhnya dan memerangkapnya dalam pelukan.
"Hmm ... Armand ... Ini sudah pagi," ucap Abela pelan. Ayolah, kenapa dia harus malu-malu begini. Ini bukan pertama kalinya mereka begitu.
"Sebentar lagi ...." Armand menjawab dengan suara yang agak parau. Dia menyerukan kepalannya di tengkuk Abela. Wangi bunga mawar selalu jelas tercium saat dia ada di dekat wanitanya ini. Armand menelusuri tengkuk Abela dengan ujung hidungnya.
"Ar- Armand ...." gagap Abela saat dia merasa ujung jari Armand ada di balik selimut, diatas pahanya. Entah mengapa mengelusnya dengan cara yang aneh.
"Hn ?" Armand bergumam parau, disaat tangannya memisahkan kaki Abela yang berusaha di rapatkan dengan sekuat tenaga oleh pemiliknya.
"Kau?" Abela tersentak dan menoleh ke belakang saat jemari Armand sudah berhasil menjangkau tempat diantara kakinya.
Abela menyesalinya, dia tidak seharusnya berbalik. Hal itu memudahkan Armand menggodanya dengan melakukan apa yang pria itu inginkan dengan bibirnya. Armand berhasil menahan ******* Abela di dalam mulutnya. Sementara jemari Armand sibuk di bawah selimut mereka. Abela benci sikap Armand yang begini, saat dia dibuat tidak berdaya melawan atau melayangkan protes. Lebih benci lagi karena tubuhnya seakan tidak bisa menolak dan menerimanya.
Abela mencengkram lengan telanjang Armand saat badannya bergetar, dia mendorong dada Armand agar bisa meloloskan ******* yang dia tahan. Abela ingin memperlihatkan wajah marahnya pada Armand tapi entah kenapa membuat Armand menerbitkan senyum miring.
"Kau bisa mengeluarkan jarimu sekarang." Abela mencoba berkata dengan nada datar. Tidak sesuai dengan wajahnya yang merona merah.
"Aku bisa masuk lebih dalam lagi kalau kamu mau," bisik Armand dengan suara pelan dan rendah membuat wajah Abela lebih merah dari sebelumnya.
"Tidak perlu. Terima kasih," jawab Abela lagi.
Armand tertawa melihat ekspresi di wajah Abela, pipinya yang sengaja di kembungkan sangat manis seperti seekor tupai.
"Bisa aku nyalakan lonceng ku sekarang?" Abela berkata sambil memutar matanya. Entah kenapa tawa Armand membuatnya sangat terganggu.
"Baiklah," jawab Armand. Dia mendekat untuk mengecup kening Abela satu kali.
"Malam tadi ... Rasanya agak berbeda. Kau sangat lebih bersemangat dari sebelum-sebelumnya." Armand tersenyum miring lagi. Membuat Abela ingin meninju wajah menyebalkannya jika dia mampu.
"Aaa ... Aku melupakan sesuatu," kata Armand, dengan tergesa turun dari tempat tidurnya dan mencuci muka dari air dalam basin yang di selundupkan Hana pagi tadi saat Abela masih terlelap.
"Ada apa?" Abela hanya bertanya sebagai reaksi spontan saja. Tidak kurang, tidak lebih.
"Latihan pedang." Armand menjawab sambil bersiap memakai pakaian.
"Kau benar, Orlando pasti sudah menunggu." Abela bangkit juga dari tempat tidurnya dan menyalakan lonceng. Setelah Armand selesai memakai pakaiannya.
__ADS_1
"Hana, tolong air mandi untukku," perintah Abela pelan. Tidak merasa malu sama sekali pada pelayannya.
Armand cukup heran dengan itu. Tapi dia tidak terlalu memikirkannya. Armand berjalan lebih dulu menuju tempat latihan.
Armand merasa bersalah melihat Orlando terduduk di bangku kayu, jelas menunggunya. Meskipun pria kecil itu tersenyum saat mata mereka bertemu.
"Kau menunggu lama?" tanya Armand mengulas senyum, yang selalu membuat Orlando merasa bisa mengandalkannya kapan saja.
"Ya ,Master. Saya sudah berlari sepuluh putaran tapi belum melakukan apa-apa lagi," jawab Orlando dengan sangat sopan.
Armand mengelus puncak kepala Orlando, "Kerja bagus, kerja bagus."
"Kau bisa melakukan sisanya, kau tidak lupa urutannya kan?" tanya Armand lagi.
"Baik Pak !" Orlando membuat gerakan menghormat sebelum melanjutkan latihan fisiknya.
Armand memperhatikan anak itu di pinggir lapangan. Orlando terlihat sangat bersemangat, membuat Armand mampu melupakan keinginannya untuk menghisap cerutu atau menyeruput kopi pahitnya. Ritual pagi yang selalu dia lakukan di dalam kantornya setiap pagi.
Lima orang prajurit bergabung dengan mereka berdua. Siap untuk melaporkan apa saja yang mereka lihat tadi malam saat berjaga.
"Itu hal yang bagus jika semua terlihat aman. Tapi entah kenapa membuatku tidak tenang," kata Armand menanggapi laporan dari Sid -prajurit yang dia percaya untuk menjaga Abela."
Sid berdiri di samping Armand, satu langkah di belakang tuannya saat empat prajurit lainnya bergabung dengan Orlando di tengah lapangan. Sid sudah selesai melapor tadi dia tidak kunjung berpindah dari tempatnya. Sejak kejadian saat sarapan di Duchy -kediaman Armand. Armand belum menegur atau menghukumnya karena hanya diam saja saat Abela dalam bahaya. Dan Sid hanya ingin segera menerima kemarahan tuannya. Dibandingkan dibuat merasa bersalah setiap hari.
"Ya, Yang Mulia."
"Kau adalah salah satu prajuritku yang hebat. Tidak. Kau adalah salah satu ksatria yang hebat di negeri ini. Kau tahu itu, aku melatihmu sejak kau masih sangat muda. Aku tidak meragukan kesetiaanmu. Tapi aku yakin kau masih muda untuk bisa diombang-ambingkan oleh kekuasaan atau hal lainnya." Armand memberi jeda agak lama. Sebelum dia menoleh dan menatap Sid dengan tatapan dingin.
"Jadi ... Segera putuskan, perintah siapa yang lebih ingin kau ikuti."
"Baik yang mulia," jawab Sid. Sid menelan ludahnya gugup saat menunduk hormat. Melangkah mundur lagi saat dia merasakan seseorang datang mendekat ke tempat mereka berdiri.
"Aku sudah siap berlatih aura lagi," kata Abela saat jaraknya dengan Armand sudah sangat dekat.
Armand menatap Abela yang bersiap dengan pakaian latihan. Binar di mata Abela entah kenapa membuat Armand ingin tertawa.
"Baiklah," ucap Armand dengan tawa yang tertahan. "Kau bisa mulai dengan latihan fisik, lari sepuluh putaran."
Abela terdiam menatap Armand seakan Armand mengatakan hal yang tidak masuk akal.
"Sepuluh putaran? Lapangan ini maksud mu?" tanya Abela meyakinkan pendengarannya tadi.
"Ya ... Sepuluh putaran lapangan ini," jawab Armand santai.
__ADS_1
Abela menatap lapangan berdebu itu tidak percaya. Dia itu penyihir dan yang dia lakukan adalah belajar aritmatika dan alkimia untuk menyempurnakan mana yang ada di dalam tubuhnya.
"Untuk meningkatkan aura dalam tubuhmu kau harus berlatih fisik Abela, itu adalah pengetahuan dasar." Armand menjelaskan dengan tenang.
"Aura itu adalah tenaga dalam yang ada di dalam tubuh kita dan bisa kita keluarkan saat kita bertarung," jelas Armand lagi.
"Baiklah." Abela menjawab asal, dia pikir aura yang dimiliki ahli pedang sama dengan mana yang dimiliki oleh magician atau sorcerer.
Abela mulai berlari mengitari lapangan, saat Orlando menghampiri Armand.
"Kau sudah selesai berlatih?" tanya Armand.
"Hmm ... Belum, aku hanya ingin bertanya pada ayah. Kenapa tiba-tiba ibu ingin berlatih pedang lagi? Kenapa ada prajurit ayah di tempatkan di rumah kami?"
"Pertanyaan pertama harus kamu tanyakan pada ibumu, untuk pertanyaan kedua ....." Armand memindahkan pandangannya dari Abela dan menatap Orlando. "Karena rumah ini tidak memiliki prajurit tentu saja. Aku hanya menempatkan mereka demi keamanan kau dan ibumu. Dekat denganku berarti kita berbagi musuh yang sama. Kau sadar itu kan?"
"Jika title itu sudah diturunkan padaku. Apa aku boleh membentuk pasukan ku sendiri?" tanya Orlando.
"Kau perlu izin raja untuk itu," jawab Armand realistis. "Baron Isla adalah bangsawan baru. Orang tua mu diberikan gelar itu karena mereka sangat berjasa sebagai prajurit di garda depan. Mendiang ayahmu adalah ksatria yang hebat. Meski dia sudah memiliki bisnis sendiri. Dia masih tetap ikut dalam berbagai ekspedisi monster."
"Kebun anggur kami ... Lui sepertinya sibuk mengerjakan pekerjaan yang biasanya ibu kerjakan. Tadi pagi aku mendapatinya ada di kantor ibu. Ibu biasanya lebih mementingkan perkerjaannya itu dari apapun. Apalagi berlatih pedang. Bukankah itu aneh?" Orlando merasa sikap Abela aneh sejak dia pulang ke rumah kemarin. Dimulai dari Abela yang ikut ke teritori timur, lalu pagi ini yang berlatih pedang.
Armand terdiam lalu menghela napas, "Ada yang belum aku ceritakan padamu. Maafkan aku."
Armand bisa melihat tatapan Orlando padanya berubah lebih dingin. Orlando tersenyum tapi bukan senyum biasa yang dia ulas saat berada di sekita Armand.
"Jika aku tidak tahu tapi Bastian juga tidak tahu. Kau akan menganggapnya mungkin itu urusan orang dewasa. Tapi jika aku tidak tahu tapi Bastian tahu. Bukankah itu sudah kelewatan? Walau aku menganggap mu seperti ayahku sendiri. Tapi ini tetap tentang ibuku."
Ucapan Orlando sangat masuk akal. Kenapa saat itu Armand memilih tidak memberitahu anak itu? Apa karena dimatanya Orlando masih Orlando dua tahun lalu?
"Terkadang ... Aku lupa kalau kau sudah tumbuh sebesar ini. Semua hal, dari tingkat kemampuan aura mu, dari caramu berpikir dan bicara, sikapmu yang siap menghadapi apa saja. Atau mungkin aku yang semakin tua." Armand tersenyum tipis, memperhatikan Abela lagi yang sepertinya sudah kewalahan berlari.
"Akan aku ceritakan. Bagaimana dengan minum teh?" tanya Armand belum menatap Orlando lagi.
"Baiklah. Hmm ... Kurasa ibu akan pingsan sebentar lagi." Orlando khawatir melihat kondisi ibunya sekarang.
"Sebentar lagi ... Dia akan mendekat kemari," ucap Armand menahan tawa lagi.
Dan benar saja, Abela menghampirinya setelah lima kali berlari memutari lapangan. Dengan kesal mencengkram kerah baju Armand dengan dua tangannya. "Kau benar-benar ingin membunuhku?" teriaknya di depan wajah Armand.
Membuat Orlando dan lima prajurit Armand membelalakkan mata mereka. Melihat Duke Armand jendral perang yang ditakuti semua orang di seluruh kontingen terlihat menahan tawanya saat kerahnya ditarik oleh seorang wanita.
...----------------...
__ADS_1