Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke

Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke
Ratu


__ADS_3

Abela menatap dirinya di cermin, luar biasa, itulah yang Abela pikir saat pertama kali melihat bayangannya. Wanita ini sangat cantik, dengan gaun silver yang dia kenakan. Kali ini pelayannya tidak memakaikan gaun dengan kerah rendah, tapi kerah gaunnya hampir menutupi setengah leher. Pelayan bilang itu protokol istana. Abela tidak terlalu peduli, dia ingin tahu kenapa Ratu mengundangnya hanya untuk minum teh.


"Tuan Duke, sudah menunggu anda di drawing room." Hana menginformasikan pada Abela. Abela hanya merespon dengan anggukan singkat.


Abela terpana melihat Armand memakai seragam prajuritnya lengkap. Dia berkali lipat lebih terlihat berwibawa, biasanya dia hanya akan bersikap santai di sekitar Abela. Tapi tidak kali ini, ada ketegangan tipis yang bisa Abela lihat dari air muka Armand.


"Kamu terlihat tegang," kata Abela menyambut kecupan Armand di punggung tangannya.


"Aku hanya terpana," jawab Armand cepat.


"Karena Abela cantik?" Abela bicara menggunakan sebutan orang ketiga, membuat Armand terkekeh. Di mata Armand mungkin Abela berusaha terdengar imut. Tapi bagi Abela sendiri, dia ingin memberi petunjuk kalau dia bukan Abela yang Armand kenal.


Abela, merasa dia gagal melakukannya. Jadi dia hanya tersenyum saja, saat Armand mendampinginya berjalan beriringan menuju kereta kuda.


"Jadi, ceritakan soal yang mulia ratu." Abela langsung bertanya saat dia duduk.


"Hm ... Aku sudah bilang kalau kamu hilang ingatan, jadi dia tidak akan bertanya sesuatu yang sulit. Dia adalah salah satu orang yang aku percaya. Jadi kamu jangan terlalu khawatir," ucap Armand mencoba menenangkan Abela.


"Baiklah ...." Abela bergumam pelan.


"Hanya ... mungkin ada satu orang lagi yang bergabung. Aku harap kamu tidak terpengaruh dengan apa yang dia katakan." Perkataan Armand membuat Abela menatapnya. Jadi memang akan ada sesuatu. Pikir Abela.


Abela tersenyum sebelum melempar kembali tatapannya keluar jendela.


"Masih terlalu dini untuk tenang kalau begitu," gumam Abela pelan, gumaman itu bisa di dengar oleh Armand yang menyembunyikan rasa khawatir dengan senyum kecilnya.


................


Sesampainya di istana, Armand cukup heran. Abela yang tidak mengingat apapun itu, tidak terpesona sama sekali saat masuk ke dalam istana. Dia bahkan terlihat sangat natural, tatapannya sangat percaya diri.


Yang Armand tidak tahu, di dalam diri Abela penyihir bernama Ghotel itu sudah sangat familiar dengan istana ini. Bukan sekali dua kali, berabad-abad lalu dia di undang datang kemari.


Abela melihat sekitar, istana itu sudah banyak berubah, sejauh yang Abela ingat hanya satu yang tidak berubah. Adalah ornamen kristal yang melapisi semua pigura lukisan raja dari waktu ke waktu.


Abela cukup terpana, kerajaan ini bahkan tidak sampai setengah umurnya. Semua raja yang Abela lihat pernah bertarung dengannya. Hanya satu saja yang tidak, raja saat ini. Abela melihat Armand saat mereka berdiri di lukisan raja yang berkuasa saat ini. Ya raja itu mengutus adiknya di banding memilih bertarung sendiri.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Armand penasaran.

__ADS_1


"Tidak ada." Abela menjawab cepat.


"Sangat jelas kamu sedang berbohong," ucap Armand sambil tersenyum kecil.


"Kenapa? Apa yang kamu khawatirkan?" Abela membalas senyum Armand.


"Aku khawatir kamu lebih tertarik dengan kakak ku sendiri," jawab Armand tidak sepenuhnya serius.


"Untuk apa aku tertarik dengan orang yang mengutus adiknya ke setiap peperangan yang terjadi."


Jawaban Abela membuat Armand terperangah. Dia menatap kekasihnya itu lekat, "Kamu tidak boleh mengatakan hal seperti itu di dalam sini. Jangan katakan itu pada orang lain." Armand memperingatkan Abela.


"Aku tahu," Abela menjawab singkat.


"Aku mulai khawatir untuk meninggalkanmu sendirian," ucap Armand lagi.


"Jangan seperti itu ... Aku akan baik-baik saja." Abela menarik napasnya sebelum memasuki sebuah pintu.


Abela melakukan gerakan curtsy dengan sedikit mengangkat roknya dan menunduk. Sampai Ratu menyuruhnya duduk.


"Apa kabarmu? Aku sangat khawatir saat mendengar soal insiden yang terjadi kemarin," ratu langsung memegang tangan Abela sesaat setelah dia menyuruh Abela duduk.


"Banyak sekali insiden yang terjadi di sekitar Armand. Belakang ini. Aku harap kau setuju dengan keinginan Armand segera membawamu ke kediamannya."


Seperti yang Armand katakan sepertinya ratu ini memang dekat dengan mereka berdua.


"Sepertinya ada alasan kenapa Baroness tidak segera pindah ke kediaman Duke. Saya dengar hubungan kalian sedang tegang akhir-akhir ini. Saya harap itu bukan karena saya." Seorang gadis yang terlihat sangat muda dan berwajah polos tiba-tiba masuk dalam percakapannya dengan Ratu. Abela menatap gadis itu dalam diam. Apa maksud perkataannya.


"Mendengar desas-desus itu membuat saya merasa bersalah dan tidak nyaman." Lagi nona muda itu mengatakan hal yang tidak bisa di cerna Abela saat ini, rekasi apa yang akan Abela berikan jika dalam situasi ini.


Abela mencuri pandang pada ratu yang berwajah sedikit tegang. Aneh. Pikir Abela. Apakah orang yang di maksud Armand tadi adalah nona muda ini?


Semua gadis bangsawan muda yang ada di ruangan ini adalah para Ladi in waiting ratu. Dan Abela tidak menyadari bahwa ada satu orang yang duduk bersama dengannya dan ratu. Yang bahkan tidak berdiri saat Abela menyapa dengan etika tadi.


Abela tersenyum, lalu menghadap pada ratu lagi.


"Yang mulia ratu, maaf jika telah membuat anda khawatir. Saya benar-benar baik-baik saja. Duke Armand memang berkali-kali meminta saya untuk tinggal di kediamannya. Tapi hati saya masih merasa berat meninggalkan rumah saya. Di sana banyak orang yang saya sayangi dan harus saya lindungi."

__ADS_1


Berlebihan, itulah yang Abela pikir tentang perkataannya pada ratu. Kenyataannya Armand tidak pernah mengungkapkan gagasan itu. Mungkin karena Abela kerap membangun garis diantara mereka.


Ratu menatap Abela dengan tatapan simpati. Berbanding terbalik dengan gadis muda yang duduk dengan mereka. Dia tampak menahan kesal karena Abela mengabaikannya.


Abela melihat'seringai kecil terbit di bibir nona muda itu. Wajahnya kembali angkuh, dia mengangkat cangkirnya dan mulai minum.


"Itu akan sulit sebenarnya Madam, jika pernikahan saya dan Duke terjadi. Apa yang akan tersebar di masyarakat kita jika anda tinggal bersama kami. Terutama kerajaan tempat saya tinggal pasti tidak akan tinggal diam."


Perkataan gadis itu membuat terkejut semua orang di sana. Abela melirik ratu yang tampak menahan emosi. Pasti ada alasan kenapa ratu mentolerir semua kelancangan yang dilakukan gadis muda ini. Jadi Abela hanya meletakan tangannya di atas tangan ratu. Mereka saling bertatapan sampai air muka ratu yang tegang lebih rileks.


"Anda benar yang mulia. Tidak mungkin istri sah dan kekasih bisa hidup di satu atap dan tidak menimbulkan kontroversi. Tapi ada kalanya hal itu, bisa ditolerir. Mengingat keharmonisan yang terlihat diluar rumah lebih penting daripada di dalam rumah itu sendiri. Sudah tidak menjadi hal yang aneh dari pandangan para bangsawan. Terutama, bangsawan di kerajaan ini sudah sangat tahu. Siapa yang menjadi kekasih Duke selama ini." Abela memberi kalimat kemenangannya yang terakhir.


Abela memanggilnya yang mulia hanya menebak saja dari kata-kata yang keluar dari gadis itu. Tampaknya dia bukan berasal dari kerajaan ini dan status sosialnya lebih tinggi dari sekedar seorang nona bangsawan. Lagipula terkadang musuh selalu menampakkan batang hidungnya jika mereka terlalu congkak. Abela sudah paham siapa musuh yang mengincarnya.


Dengan kata-katanya, Abela tidak hanya mementingkan pertarungan ini untuk dirinya. Tapi sepertinya untuk semua nona bangsawan yang ada di ruangan ini. Mereka tampak terlihat sangat puas. Ekspresi mereka lebih terlihat kentara saat nona muda itu dengan raut wajah terpaksa, menghormat sebelum meninggalkan ruangan. Diikuti dua dayang yang bukan dari kerajaan ini.


"Kau tahu, Abela. Aku selalu berharap kau melakukan itu dari dulu," kata ratu terlihat lebih santai saat nona itu sudah pergi.


"Hilang ingatan ternyata berdampak baik juga, yang mulia. Saya benar-benar tidak mengingat dia siapa," jawab Abela jujur.


"Dia putri dari kerajaan Wilhelm di kontingen barat. Dia kemari dnegan misi perdamaian. Mereka ingin membangun sekutu dengan pernikahan. Karena pada pangeran masih terlalu muda untuk putri itu. Mereka meminta Armand menikahinya."


"Apa mereka tidak berpikir jika Armand terlalu tua untuk putri mereka?" Abela mengatakan itu dengan santai dan menyadari kesalahannya. "Maaf yang mulia, maksud saya duke Armand."


"Tidak apa-apa, kau boleh memanggilnya dengan santai. Bagaimanapun kau adalah orang paling dekat dengannya sekarang ini." Ratu menghela napas lelah.


"Banyak hal yang terjadi dua tahun ini yang tidak bisa kita bayangkan sebelumnya," kata ratu lagi.


"Apa maksud yang mulia?"


"Maksudku penyihir itu, sejak dia tiada. Lebih banyak orang menjadi serakah. Karena tidak ada lagi hal yang mereka takuti." Ratu memandang ke depan seperti memandang ke kejauhan.


Sedang Abela merasa sesuatu merasuk kedalam dirinya. Apa? Ternyata kehadiranku sepenting itu? Batin Abela.


"Kau tahu kan Abela. Semua monster itu seperti mencari tuannya yang hilang." Ratu menggelengkan kepala dengan raut wajah sedih.


"Tapi saya bersyukur penyihir itu sudah tiada. Sangat menderita hidup sendiri selama ribuan tahun." Abela bergumam pelan.

__ADS_1


Dia tidak tahu alasan apa yang membuatnya hidup kembali di tubuh orang lain. Tapi perkataan ratu entah kenapa membuat dia merasa dihargai.


...****************...


__ADS_2