Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke

Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke
Ingatan Yang Asing


__ADS_3

.


"Kau terlihat bahagia." Abela berucap dengan nada melamun, sedang Armand masih membatu di tempatnya. Armand tidak pernah menyangka jika Abela akan sedikit saja mengingat potongan memori tentang mereka. Tidak, Armand hanya tidak pernah berusaha untuk melakukannya.


Sedang Abela merasa lebih terkejut, perasaan apa ini? Yang tiba-tiba dia rasakan. Atau apa yang membuatnya tiba-tiba memiliki kenangan itu. Apa itu berarti dia benar-benar telah menyatu dengan tubuh wanita ini? Lalu apa yang terjadi dengan jiwa Abela yang asli?


"Argh ...." Abela merintih merasakan kepalanya seperti di tusuk jutaan jarum, ada yang berkelebat di dalamnya seperti potret-potret yang dia lihat.


Gambar dimana dia melihat Armand di sebelah pintu balkon menatapnya penasaran. Malam itu tidak terlalu gelap karena cahaya bulan sangat terang dan batu sihir bersinar di banyak tempat. Abela bisa melihat dengan jelas ekspresi Armand saat itu. Senyumnya yang tipis, membuat wajahnya tidak terlalu mengintimidasi. Tapi tetap membuatnya gugup.


Abela bisa merasakan debar jantung yang berdetak dengan ritme yang tidak beraturan atau napasnya yang menjadi berat. Dengan kikuk dia membungkuk hormat pada pahlawan kerajaan itu. Abela ingat perasaan bagaimana perih bibir bawahnya karena dia gigit terlalu kencang. Saat dia mendengar suara Armand yang rendah bertanya pelan.


"Apa yang membuat wanita cantik seperti madam berdiri sendirian di balkon yang sepi ini?"


Abela mendengar suaranya bergetar dari kejauhan, "Saya hanya sedang memandang bulan Yang Mulia."


"Bulannya ... Terlihat cantik." Armand mengatakan itu dengan suara rendahnya yang maskulin.


Suara yang membuat debar jantung Abela kembali cepat. Abela yakin Armand sedang memandangnya saat mengatakan itu. Abela, memakai gaun dari pabrik berwarna gelap dan menutup wajahnya dengan tile. Memperlihatkan bahwa dia seorang janda yang belum bertunangan dengan siapa-siapa lagi. Etika berpakaian yang diterapkan di kerajaannya. Mungkin itulah kenapa Armand berani mendekat padanya.


"Jika Yang Mulia ingin memakai balkon ini, saya akan kembali ke aula," cicit Abela pelan. Dia terlalu gugup untuk menatap Armand lagi, setelah mendengar apa yang dikatakan Armand tadi.


"Sayang sekali. Setidaknya boleh saya tahu siapa nama anda, Madam ?" Suara Armand terdengar sangat tenang dan lembut. Menyatu dengan riak dedaunan yang diterpa angin.


"Ya?" Abela yakin dia terkejut saat mendengarnya.


"Nama anda madam."


"A ... Be ... La ...."


...----------------...


Abela terduduk sambil terengah-engah. Napasnya tercekat dan dadanya yang terasa sakit. Yang pertama Abela lihat di kekacauan isi kepalanya adalah wajah Armand yang terlihat panik.


"Abela ...." panggilnya. Armand tidak mengatakan apa-apa lagi, kecuali memeluk Abela dengan erat. Dia mengecup rambut Abela berkali-kali, Armand merasa lega dan khawatir. Bagaimana tidak, Abela tiba-tiba tak sadarkan diri setelah mengerang satu kali.


"Duke meminjamkan dokter pribadinya pada kita. Bagaimana perasaanmu? Apa yang terasa sakit?" tanya Armand sedikit tidak sabar.

__ADS_1


"Kepalaku masih terasa sakit ...." jawab Abela lirih.


Apa itu tadi? Mimpi? Abela masih merasa bingung dengan penglihatan tadi. Bagaimanapun, dia melihat gambar-gambar itu dari posisi Abela. Bukan orang ketiga.


Armand membantunya berbaring lagi, "Tidurlah lagi," kata Armand lembut.


"Apa yang terjadi?" tanya Abela, lebih pada dirinya sendiri, bukan pada orang lain.


"Kau tiba-tiba tidak sadarkan diri. Maafkan aku, aku tidak seharusnya membuatmu mengingat terlalu keras," jawab Armand menyesal.


"Kau memakai pakaian prajurit lengkap berwarna hitam dengan aksen putih, saat kita pertama bertemu?" Abela ingin meyakinkan apa yang dia lihat tadi, di alam bawah sadarnya.


"Ya, kau benar ...." Armand menjawab pelan.


"Malam itu ... Bulan sangat bersinar terang dan ...." Abela mengehentikan apa yang dia coba katakan. Celaka, itu benar-benar ingatan Abela. Yang dia lihat tadi.


"Jangan terlalu mengingatnya. Dengar, itu tidak terlalu penting untuk di ingat," ucap Armand khawatir saat melihat kening Abela berkerut lagi menahan sakit.


"Tidak penting?" Abela mengulang perkataan Armand dengan nada tanya.


"Maksud ku, tidak untuk sekarang ini. Aku menerimamu sebagai dirimu yang sekarang. Aku yakin dengan berjalannya waktu, pelan-pelan saja. Kami pasti bisa mengingat semua itu kembali."


"Aku ...." Abela menelan ludahnya, menatap langit-langit kastil yang tinggi di atasnya.


"Sudahlah, berhenti berpikir dan bicara sayang. Istirahatlah. Ya." Armand membujuk Abela untuk tidur. Tangannya membelai lembut rambut dan kening Abela.


"Kau ingin aku menyanyikan sebuah lagu?" tanya Armand terdengar tidak serius.


"Tidak." Abela bergumam pelan sebelum matanya terpejam dan dia tertidur lagi.


.


.


Waktu terasa sangat singkat, yang Abela tahu dia sudah bersiap di atas kudanya untuk mengemudikannya sendiri ke ibu kota. Armand berkali-kali mengecek keadaannya pagi ini. Pria itu khawatir jika Abela tidak bisa mengendarai kudanya dengan baik. Dan membujuknya untuk menaiki kereta kuda yang akan dia pinjam dari Duke Estonia. Tapi tentu saja Abela keras kepala untuk menggunakan kudanya sendiri.


Kuda Armand, Abela, dan Calix berjajar di baris kedua. Baris pertama ada kapten pasukan Armand dan tiga prajurit Armand yang paling tangguh. Sedang di belakang baris kedua, semua prajurit baik pasukan yang Armand bawa ataupun pasukan dari kediaman Duke Estonia berbaur membentuk barisan yang rapi.

__ADS_1


Mereka dengan tenang, mengemudikan kuda mereka melewati kota yang warganya bersorak memberi semangat pada Tuan Mereka -Calix- dan para prajurit yang akan pergi jauh selama beberapa lama.


Kuda-kuda mereka masih berjalan dengan santai. Bahkan saat menaiki bebukitan. Mereka mencoba mencapai gerbang sihir sebelum matahari semakin tinggi.


Sesampainya di depan gerbang sihir, barisan pertama pasukan menyebar ke dua sisi. Agar barisan kedua lebih dahulu memasuki gerbang. Abela dengan spontan menatap Armand yang hanya mengangguk kecil. Dengan suara ringkik kuda yang terdengar cukup keras, mereka bertiga memasuki gerbang sihir itu.


.


.


Armand menemani Abela ke kereta kuda yang bersiap membawa Abela pulang. Dia masih harus tinggal di istana untuk menulis laporan di perkamen dan mengikuti rapat parlemen.


"Kemana kau ingin pulang, Abela?" tanya Armand lembut.


"Ke rumah ku saja." Abela masih menjawab pelan.


"Baiklah. Aku akan mengunjungi mu di jam makan malam," ucap Armand yang di balas anggukan saja oleh Abela. Entah kenapa setelah mendapat mimpi itu semalam, tubuhnya terasa sangat lelah. Dia hanya ingin segera sampai ke rumahnya lalu mandi dan berbaring.


Itu yang Abela inginkan, sebelum kereta kudanya berhenti di depan kediamannya. Lalu dengan perlahan dia menuruni kereta kuda. Membetulkan gaunnya yang sedikit kusut. Mengangguk menyapa semua pegawainya. Dan ....


"Ibu !" suara kanak-kanak terdengar cukup keras.


Seorang anak dengan rambut dan mata senada dengan milik Abela berlari menuruni tangga dengan bersemangat. Helai rambutnya yang berwarna emas berkilau di terpa cahaya matahari. Ekspresi wajahnya yang terlihat bahagia membuat Abela tidak bisa mengalihkan atensinya pada apa-apa lagi. Sedang anak itu akhirnya sampai di anak tangga ke empat saat dia tiba-tiba melompat membuat semua orang menjadi panik. Beruntungnya anak itu mendarat di pelukan Abela.


"Ibu ... Aku merindukanmu," ucap anak itu masih bersemangat.


Tangan Abela memeluk tubuh anak itu yang tidak terllau besar untuk anak seusia tiga belas tahun -setidaknya Abela ingat umur anak ini karena Hana selalu mengungkitnya.


"Orlando?" tanya Abela tidak terlalu yakin.


"Ya?" Orlando menjauhkan wajahnya dari tengkuk ibunya untuk melihat wajah ibu yang dia rindukan. Entah karena alasan apa, tali profesor tempat dia sekolah todak mengizinkannya untuk pulang.


"Bagaimana kabar, Ibu?" tanya Orlando.


"Ibu baik-baik saja. Ibu hanya sedang merasa sedikit sakit. Jadi ... Bolehkah ibu istirahat sebentar?" Abela tidak bohong, dia benar-benar merasa lelah.


"Tentu saja, Bu." Orlando turun dari pangkuan ibunya dengan wajah yang kentara sangat bingung.

__ADS_1


"Maafkan ibu," ucap Abela lagi seraya mengelus puncak kepala anaknya itu. Dan tanpa menoleh lagi, menaiki tangga menuju kamarnya. Tanpa Abela sadari, tatapan mata Orlando semakin gelap seiring anak tangga yang Abela naiki.


...----------------...


__ADS_2