Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke

Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke
Balkon


__ADS_3

.


Abela kembali ke aula dan menikmati wine nya lagi. Raja sudah mengumumkan pertunangan antara Lyra dan Calix. Mereka sedang berdansa di tengah aula. Menjadi perhatian semua orang.


"Apa ini lebih baik?" gumam Abela pelan.


"Setidaknya Calix hanya sepuluh tahun lebih tua," jawab Armand.


"Aku tidak bicara padamu."


"Hanya ada aku di dekatmu, Abela." Armand menahan tawanya.


"Aku ingin mencari udara segar." Abela tidak ingin berdansa. Dia ingin menghindarinya jika bisa.


"Kau ingin ke balkon?" tanya Armand pelan.


"Ide bagus." Abela berputar kearah Armand. "Tunjukan jalannya."


Armand tersenyum miring menggandeng tangan Abela menuju balkon. Semilir angin malam menyambut terasa sejuk menerpa tubuh mereka. Bulan sedang bersinar bulat sempurna. Dan bintang bersinar menyebar di langit malam.


"Indah ...." gumam Abela lirih.


"Kau benar, indah ...." Armand menjawab Abela. Matanya tidak lepas dari sosok wanita itu sejak sampai disini. Wangi mawar tercium lagi meski jarak mereka tidak terlalu dekat. Helaian rambut Abela yang tergerai indah tersapu angin. Mata birunya menatap ke kejauhan.


Armand terpesona saat tiba-tiba Abela berbalik padanya dan tersenyum lebar.


"Jadi ... Apa yang dilakukan orang-orang di dalam labirin itu?" tanya Abela.


"Kau ... akan bisa membayangkannya dengan baik," jawab Armand menggodanya.


"Ya ... Aku rasa ...." Abela menelan ludahnya gugup. Tolonglah, dia berharap tubuhnya ini dan Armand hanya melakukannya di luar satu kali saja.


"Nona-nona muda itu sangat berani. Aku kehabisan kata-kata." Armand tidak serius mengatakannya.


"Apa kau melihatnya? Tubuh mereka?" tanya Abela menatap Armand dengan curiga.


"Kenapa aku harus melewatkannya." Armand tertawa setelah mengatakan itu.


"Aku dan Rewelin berpikir untuk terus berteman. Dan Lyra maksudku putri dari Wilhemn, mungkin akan sering mengajakku keluar sebagai Cameron - nya."


"Jadi Cameron?" Armand mengulang kata-kata Abela.


"Ya ... Kejadian ini sangat fatal. Entah apa alasan mereka membawa putri ke tempat itu. Rewelin yang menyarankan dirinya sendiri. Tapi firasatku putri itu akan lebih banyak mengganggu ku."


"Sebenarnya, aku tidak suka kau dekat dengan Rewelin," ungkap Armand.

__ADS_1


"Itu tidak seharusnya keluar darimu yang masih dekat dengannya." Abela menaikan alisnya.


Armand melangkah lebih dekat pada Abela yang tidak lagi terlihat tidak nyaman dengan kehadirannya.


"Aku merindukanmu." Armand berkata pelan.


"Aku tidak akan menerima kata-kata itu ... dari orang yang bahkan tidak mengirimi ku surat."


"Aku takut kau lebih memilih membakar suratku." Armand terkekeh sambil memainkan sejumput rambut Abela dan mengecupnya.


"Kau benar ...." Abela ikut tertawa juga.


Abela bukan tidak ingin mengakui bahwa dia sudah merasa lebih nyaman berdekatan dengan Armand daripada hari-hari lalu. Tapi jika dia mengakuinya, lalu bagaimana dengan rencananya untuk pergi dari dunia ini. Dia tidak ingin memiliki hubungan dengan orang lain yang akan membuatnya merasa berat. Memiliki rasa bersalah pada pemilik tubuh ini saja sudah membuatnya tidak nyaman.


"Apa rencanamu besok?" tanya Armand, masih memainkan rambut Abela.


"Aku akan mengunjungi perkebunan."


"Hmm ... Aku ingin melarangnya." Armand meringis saat mengatakan itu.


"Dan siapa kau melarang ku?"


"Aku jelas kekasihmu, Abela." Armand menjawab seraya menatap Abela dengan matanya yang dalam.


"Aku siap melakukannya kapan saja," ucap Armand dengan nada yakin.


"Melihat sampai aku hilang ingatan kau belum melakukannya. Satu-satunya jawaban yang aku punya adalah aku tidak mengizinkannya."


Armand tidak bisa menjawab cepat kali ini, dia hanya tersenyum tipis sebelum mengecup rambut Abela yang ada di tangannya.


"Aku selalu kalah berdebat dengan mu akhir-akhir ini," ujar Armand.


"Mungkin aku sudah lelah menjadi penurut." Abela tidak bisa menatap Armand. Rasanya berat, bukan gugup atau kikuk. Lebih kepada merasa bersalah. Perasaan yang dia benci seumur hidupnya.


"Begitu? Aku tidak menyadari itu. Maaf kan aku ...." bisik Armand pelan.


"Aku ... Selalu menyangka Lyra adalah orang dibalik penyerangan yang terjadi padaku. Lalu ... Setelah hari ini ...." Abela menggantung ucapannya.


"Bukan. Putri itu bahkan tidak punya kendali atas dayang - dayangnya sendiri," Armand akhirnya mengalihkan pandangannya dari Abela ke langit malam.


"Kau tahu sesuatu kan? Kau masih bersikeras merahasiakannya padaku?"


"Kau salah. Aku belum tahu apa-apa," Armand masih belum menatap Abela lagi.


"Kentara sekali kau sedang berbohong," kata Abela.

__ADS_1


Armand menggeleng dan mencari sesuatu di saku jasnya. Mengeluarkan sebuah cerutu dari kotaknya dan mulai menyesapnya.


"Izinkan aku menyelesaikannya untukmu kali ini, Abela. Aku ...." Armand melirik Abela dengan sudut matanya. "Tidak ingin mendebatkan caraku mengatasinya denganmu."


Abela menghela napas, kenapa dia harus tahu. Itu bukan urusannya. Kenapa harus bersedia merasa terganggu dengan fakta yang tidak berhubungan dengannya. Bukankah hal itu akan memudahkannya mencapai apa yang menjadi tujuannya sejak awal.


"Lakukan saja apa yang kau mau Armand, aku hanya ingin menikmati hidupku saja."


Armand tersenyum tipis sebelum melirik Abela dengan ujung matanya, tangannya yang tidak memegang cerutu dengan refleks merapikan anak rambut Abela yang terbawa angin.


Armand mematikan cerutunya dan meletakkannya kembali pada kotaknya. Tubuhnya bersandar ke depan ke pagar pembatas balkon. Menumpu kepalanya dengan tangan kanan, tangan kirinya masih sibuk dengan helaian rambut Abela.


"Apa aku ada dalam rencana mu untuk menikmati hidup?" tanya Armand.


Abela tidak langsung menjawab, dia berbalik menghadap Armand. Menatap wajah tampan Armand yang semakin hari terlihat semakin lembut.


"Bisa aku pikirkan, jika ... Kau bisa ...." Abela melempar sudut matanya lagi kearah kegelapan malam. Dia menelan kata-katanya lagi. Dia pasti sudah gila jika benar-benar berpikir untuk mengatakannya.


"Akhir-akhir ini, kau punya satu kebiasaan buruk. Kau akan menarik kata-kata yang ingin kamu ucapkan. Seakan kau akan menyesal jika mengatakannya."


"Lupakan saja. Aku mohon." Abela ingin menghindari Armand saat ini juga.


Armand menegakkan badannya dan mulai menarik pinggang Abela agar tubuhnya merapat dekat dengannya.


"Kau bermaksud mengatakan hal yang nakal kan?" bisik Armand di sebelah wajah Abela yang perlahan memerah.


"Tidak ... Aku tidak berpikir begitu." Abela menjawab, masih berusaha menghindari tatapan Armand.


"Hmm ... Aku yang berpikir begitu," ucap Armand parau.


Abela tidak yakin kapan dan siapa yang memulai semuanya. Siapa yang mendekat lebih dulu sehingga membuat bibir mereka bersentuhan. Armand menopang badan Abela agar dia tidak kehilangan keseimbangannya walau berjinjit.


Rasanya manis, saat Armand menarik bibir bawah Abela dengan bibirnya. Membujuknya perlahan dengan usapan ujung lidahnya agar Abela membuka mulutnya sedikit.


Abela melenguh pelan saat Armand berhasil menyentuh isi mulut Abela dengan lidahnya. Abela berpegang erat pada baju bagian depan Armand. Sedang aroma tembakau memenuhi dua inderanya.


Armand semakin membawa Abela mendekat dengan pelukannya. Membuat Abela dengan perlahan mengalungkan tangannya dileher Armand. Merasakan telapak tangan Armand yang sedikit kasar di punggung telanjangnya. Hingga mereka menjauh dan melepaskan Pagutan mereka.


"Abela ...." bisik Armand lirih.


"Aku tidak mau melakukannya disini," ucap Abela pelan.


"Hmm ... Aku akan meminjam satu kamar kalau begitu."


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2