Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke

Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke
Apresiasi


__ADS_3

.


Armand menatap Abela dengan tatapan bangga. Aneh. Abela tidak senang sama sekali melihat itu. Abela merasa sangat kesal dengan tingkah Armand saat mereka sudah memasuki kastil miliknya. Armand bertindak seenaknya saja. Dia tahu semua hal disini adalah milik Abela. Dan selalu bertanya padanya tentang apapun. Membuat semua orang menatapnya.


"Untuk apa ini?" lagi, Armand bertanya sambil memegang sebuah tongkat biasa untuk membetulkan kayu di perapian.


Abela memutar matanya, "Itu untuk membetulkan kayu bakar di dalam situ." Abela menjawab acuh dan meneruskan perjalanannya.


Cesar dalam diam memperhatikan interaksi paman dan kekasih pamannya itu. Tentu saja, dia dan yang lainnya sadar ada yang tidak beres dengan hubungan mereka.


Cesar menaikan sebelah alisnya saat melihat Calix melewatinya untuk mendekati Abela dan mengajaknya bicara. Duke Estonia itu juga sangat mencurigakan. Dia yang berdansa dengan Abela di pesta dansa. Dia juga yang berteriak akan melindungi Abela di ekspedisi pertama. Dia yang juga terlihat seperti orang gila saat Abela diculik.


"Bagaimana menurut paman?" tanya Cesar pada Armand yang sedang menatap punggung Abela tajam seakan ingin membuat lubang di sana.


"Tidak ada apa-apa diantara mereka," ucap Armand dingin. Membuat Cesar bergidik.


"Kata-kata itu tidak sesuai dengan ekspresi paman saat ini," jawab Cesar waspada.


"Kau tahu, terkadang tidak tahu apa-apa adalah berkah. Jadi jangan mencoba mencari tahu kebenaran yang sebenarnya tidak ingin kau dengar." Armand berkata panjang.


"Apa maksud paman?" Cesar jujur tidak paham apa yang Armand katakan.


Armand tersenyum dan menutup matanya sebentar.


"Kau benar. Kata-kata itu untuk ku," ucap Armand membuat Cesar semakin bingung.


"Terserah saja kalau begitu." Cesar menyerah. Hanya ayahnya lah yang selalu mengerti apa yang pamannya katakan.


Armand menatap senyum Abela yang lebar tapi bukan untuknya. Melainkan untuk Calix yang sepertinya berhasil menghiburnya.


"Paman tidak cemburu?" tanya Cesar. Cesar masih memperhatikan Abela dan Calix, dua orang itu terlihat sangat akrab.


"Cemburu ... Tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa soal itu," jawab Armand di luar ekspektasi Cesar. Cesar menatap Armand tidak percaya. Dia tidak mengira Armand akan mengakui perasaannya.


"Kalau dipikir-pikir, sejak kemarin sikap Paman pada madam Abela sangat menyebalkan. Aku yang bukan dia pun merasa kesal. Apalagi dia." Cesar mulai paham kenapa Abela lebih memilih berjalan berdampingan dengan Calix dibanding dengan pamannya lewat kata-katanya sendiri.


"Dia terlihat tidak keberatan," ucap Armand dingin. Membuat Cesar menoleh dengan cepat ke arahnya.

__ADS_1


"Paman tahu, saat Paman terdengar sedang menghancurkan kamar kalian saat itu ... Di istana ... Saat Paman berteriak kehilangan akal ... Bastian ada di depan pintu." Cesar berkata hati-hati.


Cesar ingat saat itu dia memaksa Bastian ikut dengannya. Berharap adik sepupunya itu tidak terpuruk dengan pertengkaran yang terjadi antara ayah dan madam favoritnya.


"Apa yang Bastian katakan padamu?" tanya Armand, terdengar tidak penasaran.


Cesar melihat ekspresi apa yang diperlihatkan pamannya itu. Wajahnya terlihat kaku, sangat kentara ada emosi yang dia tahan.


"Bastian hanya bilang, dia berharap dia tidak tahu apa-apa," jawab Cesar, dia tidak lagi menatap Armand saat dia melihat sebuah potret besar di ujung lorong.


Calix baru saja menurunkan tirainya. Dan tidak ada yang berusaha melarangnya. Semua orang tahu Calix adalah orang yang Paling berhak atas kastil ini. Mengingat penyihir itu adalah leluhurnya.


Cesar terpana melihat wajah penyihir, selama tujuh belas tahun hidupnya. Dia kira wanita yang paling cantik yang pernah dia temui adalah kekasih pamannya. Cesar tidak pernah tahu jika penyihir itu memiliki wajah yang menawan. Rambutnya sewarna dengan api yang menyala, sedang matanya yang berwarna hijau menatap tajam di balik buli mata yang lentik.


Cesar melirik Armand dengan sudut matanya. Merasa jika Armand terpana atau tidak. Cesar berharap wajah kaku Armand masih ada di sana seperti tadi. Tapi yang dia lihat justru membuat mulutnya sedikit terbuka. Pamannya, menatap lukisan itu dengan senyum di wajahnya.


.


.


"Saya harap saya bisa membawa lukisan ini," gumam Calix pelan, yang hanya bisa didengar Abela.


"Dia, penyihir ini leluhur saya madam," jawab Calix.


"Saya tahu tentang itu Duke, saya hanya bertanya kenapa anda ingin potret ini?"


"Entahlah, saya hanya ingin mengapresiasinya saja," jawan Calix masih menatap potret Arabela dengan seksama.


"Saya kagum dengan kesetiaan anda pada sesuatu yang tidak anda kenal sebelumnya."


"Dan apa maksudnya itu, Madam?" Calix menoleh mengalihkan atensinya. Kembali pada sisi wajah Abela yang kehilangan senyumnya.


"Saya tidak bermaksud apa-apa. Tapi akan sulit jika apresiasi itu berubah menjadi obsesi." Abela berkata tanpa menghiraukan tatapan serius Calix padanya.


"Saya masih tidak ...."


"Jika anda cukup berani untuk datang ke kastil ini saat itu dan mendengar apa yang diinginkan leluhur anda. Saya rasa semua hal buruk mungkin tidak pernah akan terjadi." Abela memotong ucapan Calix dengan isi hatinya yang belum pernah dia utarakan pada siapapun.

__ADS_1


Abela tersenyum dengan pikirannya, dia tidak pernah mengutarakannya dengan orang lain karena dia memang tidak punya orang untuk dia ajak diskusi.


"Tapi bahkan sejak penyihir ini meninggalkan kastil Estonia. Tidak ada satupun yang berani mendekatinya. Hal itu berbanding terbalik dengan rasa apresiasi yang kita bahas ini, Duke." Abela menghela napas dan menyunggingkan senyum.


"Anda bahkan tidak tahu apa yang dia inginkan. Dia hanya ingin meninggalkan dunia ini. Mungkin sebagai tambahan, tubuhnya pun di hancurkan," kata Abela tenang.


"Apa yang membuat anda berpikir begitu nyonya?" Calix tampaknya sedikit tersinggung tapi dia berhasil menjaga nada suaranya.


"Tempatkan saja dirimu pada posisinya," jawab Abela sambil menatap langsung ke mata pemuda itu.


Calix tersenyum lagi saat mata mereka bertemu, "Saya rasa anda benar," ujarnya.


Tidak jauh dari tempat Calix dan Abela, Armand dan Cesar berdiri mendengar percakapan mereka. Tidak ada yang bersuara atau menginterupsi. Lagi pula datang ke kastil ini pun, mereka tidak tahu apa yang akan mereka dapat.


Abela entah kenapa merasa tatapan tajam Armand di belakang kepalanya. Dengan spontan menoleh dan mendapati Armand terlihat kesal menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Mereka bertatapan cukup lama, biru dan coklat membuat garis komunikasi imajiner diantara mereka.


Armand mengedipkan kedua kelopak matanya sebelum tersenyum tipis. Dia mendekat pada Abela dan meminta perhatian semua orang.


"Sosok yang kita cari memiliki wajah seperti ini, walau hanya sebelah. Sebelah lagi seperti nenek tua. Tapi mungkin saja kali ini penampilannya sudah mendekati sempurna seperti ini," tunjuk Armand pada potret Arabela.


Semua menjawab Armand dengan serentak. Dan kapten mulai membagi mereka menjadi beberapa tim untuk berpencar.


"Abela dan putra mahkota akan satu tim denganku," ujar Armand pada kapten.


Kapten tidak mendebat itu, dia tahu betul jika keselamatan Abela dan putra mahkota sepenuhnya adalah tanggung jawab Armand.


Calix sudah akan mengajukan diri untuk satu tim dengan Armand, sebelum dia menarik niatnya karena melihat Abela yang menggelengkan kepala. Calix tidak terlalu paham kenapa Abela mencegahnya. Tapi entah kenapa dia ingin menuruti apa yang diperintahkan madam itu.


"Dan Duke Estonia, anda bisa membawa potret ini saat misi kita sudah selesai. Ukurannya cukup besar untuk kau bawa saat melakukan misi," ucap Armand seraya tersenyum menyebalkan.


Calix membalasnya dengan senyum kaku, "Tentu saja yang mulia, saya paham tentang itu."


"Abela," panggil Armand dan memberi isyarat dengan kepalanya agar Abela menunjukan jalan lagi.


Abela menghela napas sebelum melakukan tugasnya. Rupanya Armand memilih tempat paling berbahaya di kastil ini. Dan sepertinya Armand tahu betul tempat itu untuk apa. Tapi dia sengaja memilihnya. Membuat Abela lagi-lagi harus menahan amarahnya.


Sebelum Abela melangkah lebih jauh, tiba-tiba langkahnya terhenti karena ada yang menahan tangannya. Abela menoleh melihat siapa pelakunya. Dan yang dia lihat adalah wajah Calix yang dipenuhi rona merah. Pria itu menggaruk tengkuknya dan menyunggingkan senyum.

__ADS_1


"Saya harap anda berhati-hati," gumam Calix pelan.


...----------------...


__ADS_2