
.
Armand belum menjawab pertanyaan raja. Dia hanya menatap kakaknya dengan raut wajah datar. Ekspresi wajahnya tidak sesuai dengan isi hatinya saat ini yang kalut. Apa sebenarnya yang terjadi. Kenapa Abela melindunginya?
"Armand?" Raja memanggil namanya lagi.
Armand menatap kakaknya, wajah letih yang bercampur cemas orang itu. Benar juga, dari mereka bertiga orang yang paling penting keselamatannya adalah Cesar.
Armand seharusnya bersyukur Abela menjadi tamengnya dan bisa membawa Cesar ke istana tepat waktu. Armand tersenyum miris pada pikiran jahatnya. Bukan itu yang patut Armand syukuri. Tapi selubung itu dan kebodohan orang-orang tadi yang menyelamatkan putra mahkota.
"Nanti," jawab Armand singkat. Dia tidak mau banyak bicara sekarang ini. Armand berjalan perlahan ke arah ruang rawat Cesar. Dan melirik ke tempat dimana Abela dirawat juga dengan ekor matanya.
"Yang mulia," ucap Armand, dia menatap Raja dengan serius.
"Putri dari Wilhelm ... Kita harus mengawasinya." Armand meneruskan kata-katanya dengan misterius. Dia tidak ingin mengatakan lebih banyak. Matanya beredar mencari orang yang mungkin mencurigakan.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya raja berusaha tenang.
"Bawa tubuh putri itu dan serahkan pada penyihir kepercayaan mu." Armand menjawab dengan tenang juga.
Raja mengintruksikan asistennya yang dengan sigap melakukan perintahnya. Raja siap mendengar apa saja yang akan dikatakan Armand. Tapi dia harus sedikit menurunkan keinginan itu. Anaknya sedang tidak baik-baik saja. Dan kekasih adiknya pun sama parahnya. Raja sebenarnya sudah merasa ada yang aneh antara Armand dan Abela. Ratu selalu mengajaknya berdiskusi tentang itu sebelum tidur. Tapi dia tidak pernah bertanya pada Armand. Dia tidak ingin ikut campur dalam masalah pribadi adiknya itu.
Raja menghampiri ratu yang tidak berhenti menangis di dekat ranjang dimana anaknya berbaring. Dengan sudut matanya raja masih memperhatikan Armand yang masih mematung di tempatnya. Lalu, alih-alih menemani Abela. Armand memilih mengikuti penyihir yang baru datang untuk mengambil tubuh Lyra.
.
.
"Apa yang terjadi?" tanya Raja saat Armand sudah ada di ruang kerjanya.
"Bagaimana dengan Cesar?" tanya Armand.
"Dia baik-baik saja, para penyembuh terbaik mengobatinya." Raja diam sebentar sebelum melanjutkan, "Madam Isla juga baik-baik saja."
"Kami bertemu dengan tubuh penyihir lagi." Armand memulai ceritanya.
"Dan?"
"Ada lima orang lainnya. Mereka tidak menyangka kami sampai lebih awal ke kastil penyihir. Mereka berencana membawa tubuh itu ke sini. Dengan selubung mencurigakan yang baru sekali aku lihat." Armand menjelaskan. Dia belum duduk sama sekali sejak ada di istana.
Raja memperhatikannya dari atas ke bawah, adiknya itu terlihat sangat berantakan.
__ADS_1
"Armand ... Duduklah," perintah Raja.
Armand mendudukkan dirinya di sofa yang ada di sana. Raja menghampirinya dan duduk di sana juga.
"Jadi, kau masuk ke selubung itu dan berakhir ada di dalam kamar putri Lyra?" tanya Raja memastikan pemahamannya.
"Ya ... Aku juga terkejut. Tubuh itu, seperti mati," jelas Armand.
"Kau menduga Lyra yang merasuki tubuh penyihir itu?"
"Ya," jawab Armand.
"Semua masuk akal kalau begitu. Kenapa orang-orang sombong di negara itu mengirim putrinya kemari." Raja menggaruk dagunya.
"Mereka juga yang ada dibalik penyerangan Abela," ucap Armand hampa.
"Kau ... melakukan yang terbaik untuk tidak memulai perang. Terimakasih," ucap Raja tulus.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Armand lebih pada dirinya sendiri.
"Tentu saja kau harus ada disampingnya kan?"
Jawaban Raja membuat Armand menoleh cepat. Alis Raja terangkat sebelah, merasa heran dengan reaksi Armand.
"Jawabanku tidak akan memuaskan mu," jawab Armand.
"Hal itu ... Hanya aku yang bisa menilai." Raja tersenyum bijak. Senyum yang selalu membuat Armand merasa jika kakaknya itu sedang membaca isi kepalanya.
"Apa yang akan aku katakan ini, hanya kita yang boleh tahu," ucap Armand waspada.
"Abela ... Abela ku sudah lama tidak ada ... Wanita itu bukan Abela. Dia orang lain." Armand tidak tahu apa itu cukup menjelaskan atau tidak.
"Menarik ...." Raja menatap Armand tanpa berkedip.
"Jadi ... siapa ... dia?" tanya Raja lambat.
"Ghotel, penyihir itu." Armand tidak ragu menjawab pertanyaan itu.
Raja terdiam, mencoba menjabarkan informasi yang dia dengar hari ini dari adiknya. Perlahan dengan canggung Raja menepuk pundak Armand dua kali.
"Maafkan aku ...." kata Raja.
__ADS_1
"Tidak ... Tidak ada yang salah." Armand bergumam pelan.
"Aku selalu ingat, kau selalu mengagumi penyihir itu dulu." Raja tersenyum tapi tatapannya sendu, "Kau bilang andai kau bisa mengajaknya bicara, mungkin dia memilih menjadi pahlawan dibandingkan menjadi monster."
"Tidak setelah aku tahu aku kehilangan Abela," ucap Armand.
"Apa mereka berusaha mencelakai Abela agar bisa merasuki tubuhnya?" Raja tidak bisa menghentikan mulutnya untuk berbicara bahkan saat suasana hati adiknya kacau.
"Maaf ... Aku tidak bermaksud untuk tidak menghormati kesedihan mu." Raja sadar setelah Armand memberinya tatapan tajam.
"Ku rasa begitu ... Saat Abela diculik, dia bilang tubuh itu berkata begitu." Armand menunduk menatap lantai.
"Lakukan apa yang tidak akan membuatmu menyesal." Raja memberi saran.
Armand tidak tahu apa yang akan membuatnya menyesal. Dia sudah merasa buruk saat dia berani lega karena Abela menyelamatkan hidupnya dan itu berarti menyelamatkan Cesar juga. Armand menelan ludah. Dia belum melihat keadaan Abela lagi.
Armand berdiri dan menyambar botol wine yang ada di meja kerja kakaknya. Meminumnya langsung dari botol. Raja terlihat tidak keberatan. Raja tahu tentang kegelisahan Armand. Raja hanya mengikuti Armand dengan ekor matanya saat Armand berjalan keluar.
.
.
Armand menatap wajah Abela yang terlihat pucat. Abela masih tertidur. Tidak ada pergerakan berarti sejak Armand duduk di sebelah tempat tidurnya. Yang terdengar hanya deru napas pendek.
Armand menjulurkan tangannya untuk membelai rambut wanitanya itu. Membelai pipi dan dagunya pelan. Sudah lama sekali saat terakhir Armand melakukannya.
Wanita itu masih secantik yang Armand ingat. Armand tersenyum miris, bagaimana mungkin dia membiarkan dirinya membohongi diri sendiri. Kenyataannya, Abela dan Arabela adalah orang yang berbeda.
Armand jatuh cinta pada Abela. Sedang perasaannya dulu terhadap Arabela, mungkin hanya kekaguman saja. Karena wanita itu adalah wanita terkuat dalam sejarah dari negara manapun.
Setiap Armand berpikir, tidak masalah jika Arabela lah yang ada di dalam tubuh Abela. Dia merasa seperti bajingan. Armand memejamkan matanya, berusaha menghilangkan pikiran negatifnya. Sedang tangannya masih membelai lembut rambut dengan helaian warna emas itu.
"Armand?"
Armand sedikit terkejut, tangannya masih ada di rambut Abela, sedang sebelah lagi sedang menggenggam tangannya.
"Kau bangun?" itu adalah respon paling payah yang bisa Armand berikan.
"Ya ... Sihir itu kuat. Gapi tidak sekuat jika aku yang melakukannya." Abela tersenyum lemah pada Armand. Lalu berpikir untuk tidak mengatakan apa-apa lagi.
"Kenapa kau melakukan itu? Kenapa menyelamatkan ku?" tanya Armand dengan tatapan dingin.
__ADS_1
...----------------...