Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke

Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke
Tulip Kering


__ADS_3

.


Armand berjalan memberikan tali pelana kudanya pada salah satu prajuritnya dan berjalan pelan mendekat ke tempat Abela berada. Armand sadar banyak pasang mata memperhatikan mereka berdua. Tapi dia tidak peduli, dia hanya ini mendekat pada wanita yang senyumnya semakin lebar itu.


"Apa yang membuatmu terlihat bahagia?" Armand bertanya pelan dengan suaranya yang rendah.


"Karena aku tahu kalian berhasil mengalahkan monster itu." Abela menjawab ringan, atensinya tidak sepenuhnya jatuh pada Armand. Dia menatap Calix yang memperhatikan mereka dari jauh. Abela mengerutkan alisnya, perasaannya saja atau memang Calix sedang menatapnya.


"Apa yang kau lihat sekarang?" Armand sadar kemana arah tatapan Abela.


"Pria muda dan tampan di sana." Abela menunjuk Calix dengan kipasnya. Dan tertawa cukup kerasa saat melihat ekspresi Armand.


"Wajahmu terlihat menyeramkan saat menatapku begitu," ucap Abela.


"Terserah saja." Armand memalingkan wajahnya. Kesal.


Tawa Abela berganti dengan senyuman lagi, dia mengulurkan tangannya pada Armand. Armand bergeming di tempatnya. Menatap tangan Abela yang menggantung di udara, ke wajah cantik Abela yang terlihat lebih cerah.


"Ayolah ... Ayo jalan-jalan sebentar." Abela membujuk Armand. Dia tahu, Armand tidak akan lelah dengan pertarungan yang mudah tadi. Baju zirahnya bahkan terlihat kasih mengkilap, tidak terlihat pernah tersentuh debu.


Armand belum menyambut tangan Abela, sebaliknya dia meminta satu prajurit mendekat padanya. Membuka baju besinya dan memberikannya pada prajurit itu. Dan mengintruksikan kapten untuk membawa pasukan mereka kembali terlebih dahulu. Selama dia melakukan itu, Abela sudah menurunkan lagi tangannya.


"Dimana? Tanganmu?" tanya Armand.


"Tangan ini sangat lelah menunggu kau tahu itu." Abela terdengar kesal saat mengatakan itu. Membuat Armand menyunggingkan senyum yang tidak pernah dia perlihatkan pada orang lain, selain pada Abela.


"Kemana kau akan mengajakku?" tanya Armand, dia mengulurkan tangannya.


Abela hanya melirik tangan itu, membalas perlakuan Armand tadi.


"Aku tidak mungkin berjalan di sekitar sini dengan baju zirah kan? Jadi aku melepaskannya terlebih dahulu," bujuk Armand lembut.


Abela sebenarnya masih kesal, tapi akhirnya dia menyambut tangan Armand dan menariknya. Menyusuri keramaian, melewati orang-orang berpura-pura tidak tertarik pada mereka.


"Disini ...." Abela menunjuk toko perhiasan.


"Ada apa disini?" Armand bertanya bukan karena tidak tahu, dia hanya penasaran apa yang membuat Abela menariknya ke tempat ini.


"Ada banyak perhiasan cantik," jawab Abela. Entah kenapa matanya lebih terlihat berbinar dari biasanya.


Armand hanya menanggapi dengan senyum tipis dan gelengan kepala. Membawa Abela masuk ke dalam toko. Melihat tingkah bersemangatnya melihat semua perhiasan satu persatu dari awal pertama Armand melepaskan genggaman tangannya.

__ADS_1


Abela tidak bisa menahan diri lagi, sudah lama sekali dia tidak berbaur dengan banyak orang. Atau sekedar membeli satu perhiasan. Pada dasarnya Abela sangat menyukai benda-benda berkilau ini. Itulah kenapa di kastilnya -kastil penyihir- banyak sekali benda-benda yang berkilau dan cantik.


"Boleh aku membeli beberapa?" tanya Abela pada Armand yang berdiri tidak jauh darinya.


"Hn. Sebanyak yang kau mau," jawab Armand.


Abela menyipitkan mata, merasa Armand sangat sombong. Tapi akhirnya seringai terbit di wajah Abela. Dia membuka kipasnya dengan dramatis dan menatap pelayan toko.


"Aku beli, ini." tunjuk Abela ke salah satu kalung mutiara yang ada di dalam etalase. "Sampai sana." Abela menunjuk ujung etalase. "Aku beli semua, Duke de Rhodes akan membayarnya." Abela berkata puas lalu berbalik menatap Armand yang masih berwajah datar.


Abela menaikan sebelah alisnya, "Duke?" panggil Abela.


"Tidak masalah, aku bilang beli saja sebanyak yang kamu mau." Armand menyeringai di akhir kalimatnya. Armand tidak yakin apa motivasi Abela meminta Armand membelikan banyak perhiasan ini untuknya. Di waktu lampau, Armand perlu banyak alasan hanya untuk membelikannya sepasang anting-anting.


Abela yang Armand kenal memang seperti itu, dia tidak ingin menggantungkan diri atau merasa berhutang budi pada siapapun termasuk pada Armand. Wanita mandiri yang terkadang menekan harga dirinya sebagai seorang laki-laki yang bahkan mampu melakukan apa saja atau membawakan apa saja kehadapan nya.


Armand menyerahkan cek kosong pada pemilik toko dan mengintruksikan untuk mengantarkan semua yang mereka beli ke kediaman Duke Estonia.


"Ada lagi yang ingin kamu beli?" tanya Armand lembut.


"Apa aku memang terbiasa begini? Meminta hal-hal seperti ini padamu?" tanya Abela penasaran.


"Tidak, terkadang kau akan marah jika aku membeli lebih dari dua hadiah. Satu-satunya yang kau suka kaya bunga tulip kering yang aku hias sendiri di atas perkamen." Armand menatap kejauhan, seperti merindukan seseorang yang jelas ada di hadapannya.


"Rasanya aneh sekali, membicarakan dirimu dengan dirimu." Armand menatap Abela dengan lekat. "Membicarakan dirimu seakan kita sedang membicarakan orang lain."


"Kau benar. Jadi ... Kirimi aku juga." Abela menatap Armand, perlu sedikit mendongak untuk menatap wajahnya karena perbedaan tinggi ya g cukup jauh.


"Apa?"


"Tulip kering itu ...." lirih Abela di sertai senyuman.


"Baiklah, akan aku keringkan semua tulip yang ada di taman rumahku," jawab Armand sambil menggenggam tangan Abela.


"Jangan berlebihan," balas Abela memutar mata.


"Itu hal yang mudah. Apalagi yang ingin kau beli?"


"Beberapa gaun," Abela mengerling Armand jahil. "Satu toko gaun." Abela tertawa.


Armand lebih terlihat terhibur daripada terkejut. Sudut bibirnya selalu tertarik ke atas. Dan wajahnya bersinar terlihat bahagia.

__ADS_1


Pemandangan itulah yang jadi pembicaraan hangat di teritori timur kediaman Duke Estonia. Jendral perang yang selalu berekspresi dingin saat menerima perintah kakaknya yang juga Raja itu. Terlihat sangat manusiawi saat bersama dengan nyonya yamg dia bawa.


.


.


.


"Yang mulia dan madam terlihat sangat bahagia." Calix bergumam setelah meneguk tehnya.


Hari ini semua pekerjanya dibuat terkejut dengan kiriman dari toko perhiasan dan gaun yang sampai ke kastil mereka. Rupanya adik raja, tamu mereka ini membelikan banyak sekali hadiah untuk kekasihnya.


"Saya tidak tahu harus berkomentar apa tentang itu." Armand seperti biasa menanggapinya dengan datar. "Terutama jika orang yang harusnya menatap kita anggap sangat bahagia bersama saya menatap pada orang lain."


Armand melihat Abela yang dengan terang-terangan menatap Calix dengan tatapan mata yang berbinar.


Calix tersenyum canggung menyadari situasi di meja bundar ini sejak awal. Untuk kesopanan terakhir kalinya sebelum melepas rombongan Armand pulang, Calix mengajak Armand dan Abela untuk minum teh. Tapi sejak mereka bertiga duduk, entah kenapa Abela tidak berhenti memandanginya.


"Surat datang dari istana." Calix mencoba untuk mengalihkan perhatian Armand dan Abela. "Raja ingin saya menghadapnya. Saya rasa ini tentang putri dari Wilhemn."


"Ada apa dengan putri itu?" tanya Abela tiba-tiba. Nada dingin terdengar saat dia bertanya. Ingatan Abela terhadap putri arogan itu entah kenapa membuat dia kesal.


"Karena saya belum menikah walau saya telah melewati umur standar di kerajaan ini untuk menikah." Calix entah kenapa merasa perlu menjelaskan ini. Aneh.


"Raja akan menikahkan anda dengan putri itu?" Abela merasa terkesan karena dia masih bisa bersikap sangat formal sekarang ini.


"Saya tidak tahu, tapi saya rasa itu alasan saya dipanggil ke istana." Anehnya Calix menjawabnya lagi.


"Putri itu sangat jahat dan terlihat licik. Dia memang sangat cantik. Tapi saya rasa dia tidak sepadan dengan Duke Estonia. Anda berhak mendapatkan pengantin yang lebih baik. Lagipula bukankah kau akan menikahinya?" Abela menatap Armand. Pertanyaan Abela membuat Armand merasa cukup kesal. Tapi dia berhasil menahan amarahnya.


"Jadi putri itu tidak pantas di sandingkan dengan Duke Estonia tapi pantas menjadi pengantin ku?" tanya Armand pada Abela. Wajah Armand masih tersenyum tapi entah kenapa membuat semua orang menjadi tegang. Kecuali Abela yang masih bersikap santai meneguk tehnya.


"Manusia berdarah dingin seperti mu sangat serasi dengan orang yang licik. Seperti padangan penjahat pada umumnya."


Calix melebarkan matanya mendengar jawaban Abela. Sungguh, apa yang dipikirkan wanita ini. Apa Armand benar-benar akan mentolerir apa yang dikatakan Abela?


Berbanding terbalik dengan ketegangan yang terasa menyesakkan orang, Armand tertawa dengan sangat keras. Bukan tawa mengerikan yang dibuat-buat. Tapi tawa yang benar-benar terkesan bahagia, rona merah menghiasi wajah tampannya. Ekspresi kakunya melembut, rahang tegas yang biasa mengintimidasi menjadi terlihat menambah ketampanannya.


"Kau sangat tahu kalau aku jatuh cinta padamu kan, Abela. Kau tahu aku tidak bisa melakukan apa-apa." Armand memainkan sejumput rambut Abela yang terurai panjang.


Abela yang menerima pernyataan cinta itu hanya tersenyum tipis di atas cangkirnya. Calix menggeleng melihat kebodohan Armand di depannya ini. Jika dia punya niat buruk pada Armand. Hal paling mudah yang muncul di kepalanya sekarang ini, tentu saja. Abela.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2