Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke

Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke
Cinta


__ADS_3

.


Abela tidak tahu apa yang dia ucapkan sesuai dengan yang dia rasakan atau tidak. Tidak ada kata yang bisa menjelaskan apa yang dia rasa selain kata itu. Abela tidak tahu sejak kapan. Dia hanya tahu bagaimana menyangkalnya dengan alasan apa yang dia rasa adalah ingatan tubuh wanita yang dia rasuki.


Tapi kali ini berbeda. Sejak Armand mulai memanggil nama aslinya saat mereka sedang berdua saja. Sejak Abela menganggap Armand melihatnya sebagai dirinya yang asli. Bukan wanita pemilik tubuh ini. Walaupun tetap saja, kenyataan jika Armand lebih mencintai Abela yang asli tidak bisa dia sangkal.


Abela masih melihat Armand yang bergeming. Dia masih menatap Abela dalam diam. Abela ingin tahu apa yang Armand pikirkan saat ini. Meski itu adalah penolakan sekalipun. Abela tidak keberatan.


Sedang Armand, matanya sibuk mencari kejujuran. Apa wanita ini mengatakan semua itu dengan jujur. Atau semua itu didorong karena mereka harus menikah dua hari lagi?


Armand tidak turun dari kudanya. Dia belum mengatakan apapun. Apa yang dikatakan Abela terlalu membuatnya terkejut. Jantung nya berdebar kencang. Armand tersenyum tipis mencoba menenangkan diri.


"Apa yang kau katakan di depan para pelayanmu, sayang," ucap Armand.


Abela tidak sadar kalau dia jadi tontonan pelayan yang ada di mansion nya. Gadis-gadis yang jadi pelayannya terlihat sangat antusias. Wajah mereka memerah. Beberapa berusaha tidak terlalu kentara terlihat menguping.


Armand akhirnya melompat dari kudanya, dia meraih tangan Abela dan membawanya ke balik pohon. Berusaha bersembunyi dari banyak mata yang penasaran.


"Jadi ... Apa yang tadi kau katakan?" tanya Armand.


Caranya bertanya sangat jelas menggoda Abela. Abela tidak mungkin bisa mengulang pernyataan cintanya. Dan Armand tahu itu. Armand tersenyum miring melihat rona merah sudah memenuhi wajah Abela lagi.


"Arabela ...." bisik Armand.


"Kau tahu ... bagiku, tidak mudah mengatakan hal tadi," jawab Abela pelan.


"Baiklah ... Aku tidak akan memaksamu mengatakannya lagi, hanya saja ...." Armand membelai satu sisi wajah Abela dan membawa sejumput anak rambutnya untuk dia selipkan di belakang telinga wanitanya yang sudah lebih merah dari bunga hibiscus.


"Apa yang mendorong mu mengatakan itu?" tanya Armand parau.


Dia penasaran tapi entah kenapa tidak ingin mendengar jawabannya. Dia ingin tahu, tapi ragu untuk ragu untuk tahu kebenaran itu.


"Aku hanya ... Merasa harus mengatakannya satu kali saja sebelum ...." Abela tidak meneruskan ucapannya. Armand pasti sudah tahu apa yang akan dia katakan.


Armand sudah menduganya, dia menelan ludahnya yang terasa pahit. Perlahan tatapannya menjadi sama sendunya dengan tatapan Abela. Armand mengerti perasaan itu. Saat dia.merasa perlu mengungkapkan sesuatu sebelum semuanya terlambat.


"Sudah aku duga aku tidak ingin tahu jawabannya," gumam Armand pelan.


Abela menaikan sebelah alisnya, merasa heran dengan apa yang ada di pikiran Armand.

__ADS_1


"Maaf, tapi ... kau yang bertanya ...." Armand tertawa sebelum Abela berhasil menyelesaikan ucapannya. Membuat Abela merasa lebih bingung lagi.


"Kau benar. Aku memang begitu akhir -akhir ini. Ingin tahu, tapi tidak ingin mendengar jawabannya."


Perkataan Armand yang ambigu membuat Abela menggelengkan kepalanya. Apa yang coba di katakan pria ini.


"Jadi, apa yang kau mau sebenarnya?" tanya Abela mencoba tidak terdengar kesal.


"Kau harus mengerti Arabela, ini karena aku tahu kau akan mengingat kan ku berulang kali untuk sesuatu yang tidak ingin aku dengar."


Abela menelan ludahnya, dia tidak tahu harus merasa senang atau sedih mendengar itu.


"Apa seburuk itu?" tanya Abela pelan.


"Ya. Itu kadang menyakiti hatiku ...." jawab Armand lirih.


Armand memundurkan badannya untuk memberi jarak antara mereka. Untuk melihat wajah Abela lebih jelas. Wanita itu terlihat cantik di bawah cahaya sinar matahari sore.


Armand ingin memujinya cantik. Tapi dia tahu, pujian itu hanya akan membuat Abela sedih. Jadi dia hanya terpaku menatap mata biru wanita itu.


"Aku ingin mengabulkan apapun yang kau inginkan, sebelum tujuanmu tercapai," ucap Armand tulus.


"Kau akan menepati janjimu untuk menjaga Orlando dan Bastian kan?" tanya Abela. Matanya terlihat sangat sendu.


"Itu bukan keinginan mu, itu kewajiban ku. Jadi pikirkan keinginanmu, kecuali mati tentu saja."


"Kenapa itu harus jadi pengecualian?" tanya Abela menahan tawa.


"Itu tujuanmu, bukan keinginan mu," jawab Armand datar.


Abela menutup mulutnya dan tertawa pelan.


"Kembalilah ke istana, Raja pasti menunggu mu," kata Abela akhirnya.


"Baju pengantin mu akan datang besok." Armand meraih tangan Abela tagi dan menautkan jemari mereka.


"Aku tahu, pelayan -pelayan di rumah ini sangat antusias. Jadi mereka terus mengingatkan ku tentang itu," kata Abela sambil menghela napas ringan.


Armand dan Abela berjalan saling menggenggam tangan sampai ke dimana kuda Armand berada. Abela sedikit ragu saat melepaskan tangan itu. Tapi dia harus, jadi dengan enggan Abela memisahkan jemari mereka. Armand juga tidak melawan.

__ADS_1


Armand naik ke atas kudanya dan bersiap pergi. Menoleh ke arah Abela untuk terakhir kalinya.


"Sampai berjumpa dua hari lagi," gumam Armand.


Abela mengangguk dan melambaikan tangan saat Armand menarik pelana kudanya.


Abela masih menatap Armand sampai kudanya keluar dari gerbang rumahnya. Dua hari lagi, entah kenapa Abela merasa khawatir. Firasat buruk menghinggapinya. Abela berharap, tidak ada hal buruk yang terjadi.


...----------------...


Di sebuah ruangan yang cukup gelap, terdengar suara teriakan seorang wanita. Bukan teriakan menyakitkan tapi teriakan marah yang tidak terkendali. Cahaya lilin berpendar membuat ruangan gelap itu memiliki sedikit cahaya.


"Anda harus bersabar Yang Mulia," ucap seorang pria berjubah hitam.


"Sampai kapan !" teriak wanita itu lagi.


"Dia hari lagi, Duke Armand akan menikah, kita akan menggunakan waktu itu untuk mencuri tubuh aslimu," ucap pria berjubah itu lagi.


"Menikah kau bilang?" tanya wanita itu tidak percaya.


"Kalian terlalu lama ... Sampai kapan aku akan ada di dalam tubuh ini?" Wanita itu berteriak lagi.


"Jika saja yang mulia bisa membaca ingatan tubuh itu ...."


"Kau pikir aku tidak mencobanya !" wanita itu berjalan ke arah pria berjubah hitam yang mengatakan itu.


Wanita itu menarik bagain depan jubah pria itu, satu tangannya terangkat. Cahaya gelap membuat pola lingkaran di atas telapak tangannya.


"Yang mulia ...." desis pria berjubah itu.


Wanita yang dipanggil yang mulai itu, mengangkat tangannya dan mulai menekan cahaya gelap yang terkumpul di telapak tangannya. Suara teriakan kesakitan memekakkan telinga, karena teriakan itu beberapa orang dengan jubah yang sama masuk ruangan gelap itu.


"Yang mulia ...." lirih salah satu dari mereka yang baru masuk.


"Dia tidak berguna," ucap wanita itu. Dia lantas melihat bayangan wajahnya di cermin yang diletakan di atas lilin. Setengah wajahnya membusuk, seperti meleleh.


Wanita itu berteriak lagi, "Sudah ku bilang hancurkan semua cermin yang ada disini !"


Dan wanita yang di panggil yang mulia itu mulai menghancurkan seisi ruangan itu dengan amarah yang menumpuk di dadanya. Dia benci harus berada di dalam tubuh ini terlalu lama. Jika dia bisa mengulang waktu, dia tidak akan segan membunuh Abela dan merasuk ke dalam tubuhnya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2