
.
Armand tersenyum melihat Abela yang akhirnya menghindari tatapan matanya. Dia tidak mungkin melakukan sesuatu yang lebih dari ini. Armand menyembunyikan tawanya dalam senyuman dan lebih menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Dia menutup mata dan menghitung dalam hati. Menunggu ucapan sinis Abela yang seperti biasa.
Tapi rupanya, kejutan Abela masih terus berlanjut. Armand membuka matanya kaget saat merasakan sentuhan lembut dan ringan di bibirnya. Yang pertama Armand lihat adalah mata sayu Abela dari dekat. Ujung hidung mereka yang bersentuhan. Tidak terlalu lama sampai Abela menjauhkan wajahnya lagi.
Armand masih menatap Abela tidak percaya. Wanitanya itu tidak akan melakukan lebih dari ini kan? Tanya Armand dalam hati. Lagi, Abela menerbitkan senyum menggoda yang membuat Armand menelan ludah.
Abela memajukan wajahnya lagi, kali ini Armand dibuat lebih tidak bisa berkata-kata saat bibir Abela terasa diatas lehernya. Lidahnya memberi sentuhan lembut yang membuat tubuh Armand memanas. Armand mengerutkan keningnya berusaha berpikir jernih. Sedang sebelah tangan Abela sudah mengelus perutnya.
Dengan sisa kesadarannya, Armand menjauhkan Abela dengan mendorong bahunya. Wajah Armand memerah menatap wajah erotis Abela yang dia tampilkan.
Sulit untuk menahan diri apalagi tubuh bagian bawah mereka bersentuhan. Entah kenapa Armand hanya ingin jawaban atas tindakan yang dilakukan Abela hari ini.
"Kau kemari untuk bercinta denganku?" Armand tahu pertanyaannya menyebalkan.
"Kau selalu datang saat ingin bercinta denganku. Aku tidak bisa melakukan itu juga?" tanya Abela terdengar kesal.
Wah. Armand kehilangan kata-kata lagi. Itu kejutan paling membuat Armand terpana. Abela, wanitanya ini, datang mencarinya untuk bercinta? Sejak kapan, dia bisa mudah berinisiatif untuk hal-hal seperti ini?
"Ayolah Armand," Abela mencoba menempelkan tubuh mereka lagi. Dengan mencengkram bagian depan baju Armand.
"Benarkah? Hanya itu yang kau mau?" tanya Armand lagi.
"Hmm ...." Abela tidak bisa menyembunyikan maksud lain dalam tindakannya. Abela menghindari tatapan Armand, setetes keringat mengalir di pelipisnya. Dia menggigit bibirnya agak kencang.
"Soal ... Itu ...." Abela berkata lambat.
"Ya?" Armand membalas dengan nada rendah.
"Ini ... Tentang ... Ekspedisi monster ...." Abela menghentikan lagi ucapannya.
"Ada apa dengan ekspedisi monster?" Armand sepertinya sudah bisa menebak.
"Aku ingin ikut ...." ucap Abela lirih.
Armand tidak langsung menjawab dan terus memperhatikan Abela. Semua gerak-gerik yang dia lakukan.
__ADS_1
"Kenapa kau ingin ikut?" tanya Armand berusaha untuk menjaga nada suaranya agar tidak terdengar terlalu dingin.
"Mungkin aku bisa membantu," jawab Abela lemah.
"Membantu apa?"
"Aku bisa tidur bersamamu dan ...." Abela tidak melanjutkan ucapannya setelah di melihat tatapan dingin Armand.
"Haa?" Armand mendengus menahan marah.
"Hanya karena kau berhasil membuatku mengatakan iya saat kau ingin ikut ke timur setelah kita bercinta. Bukan berarti kau bisa melakukannya lagi." Armand berkata pelan tapi entah kenapa membuat Abela waspada.
"Tapi pada akhirnya, aku berhasil membantu mu, Armand."
"Baiklah. Karena kau membahasnya. Jelaskan padaku. Apa saranmu bukan kebetulan saat itu?" Armand sepertinya bertekad mendapatkan jawaban dari Abela dan tidak akan menghentikan perdebatan ini.
"Bagaimana mungkin itu hanya kebetulan," ucap Abela berusaha tenang.
"Aku tahu itu tidak kebetulan. Aku hanya berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya. Abela, kau ... Apa yang terjadi?"
"Kau tidak akan percaya jika kau mengatakannya." Abela menunduk menyembunyikan wajah resah nya.
Abela tidak kunjung menjawab atau menatap wajah Armand lagi. Dia masih menunduk, Armand tidak bisa melihat ekspresi wajahnya. Mungkin itu yang membuatnya merasa harus berhati-hati.
Abela akhirnya mengangkat wajahnya lagi. Menatap Armand dengan matanya yang entah kenapa semakin tajam. Sedang air mukanya terlihat datar. Seperti orang yang bertekad.
Abela mendekatkan wajahnya ke leher Armand dan mulai mencumbunya lagi. Menggigitnya pelan hingga keras yang membuat Armand meringis sakit. Saat mulut Armand sedikit terbuka Abela melesakan lidahnya ke dalam sana. Memaksa Armand untuk tidak merapatkan bibirnya.
Armand membelalakkan matanya saat dia merasakan jika Abela berhasil menyatukan tubuh mereka dengan sedikit kasar. Armand bisa merasa bibirnya sedikit digigit Abela yang menahan sakit.
Abela menjauhkan wajahnya memperlihatkan lagi tatapan tajamnya dengan wajah yang menantang. Armand mengerutkan keningnya menahan ******* saat Abela mulai bergerak. Dua telapak tangannya mencengkram lengan kursi.
"Kau ... Tidak perlu menahannya, Armand ...." bisik Abela.
"Aku bertanya-tanya, apa yang merasuki mu sekarang ini?" Armand berdesis antara merasa terangsang atau merasa marah.
"Ajak aku ke ekspedisi itu dan aku akan mengatakannya semuanya nanti," jawab Abela tanpa berhenti bergerak.
__ADS_1
Sama dengan Armand, Abela juga menahan desahnya sambil menggigit bibir bawahnya. Kuku-kuku jarinya yang tajam menancap di pundak Armand. Mereka berdua masih saling menatap tajam.
"Armand ....".bisik Abela lirih. Dia menelan ludahnya sebelum melepas desah yang dia tahan.
"Ar-Armand ... Hm ..mmp ...." Abela berusaha untuk tidak bersuara lagi. Bibirnya rapat saat tubuhnya bergetar di pangkuan Armand.
Armand menelan ludah melihat Abela menenggak kan kepalanya. Memperlihatkan lehernya yang jenjang.
"Sial," umpat Armand pelan. Armand mengambil belakang kepala Abela untuk mendekat agar mereka bisa berciuman lagi. Satu tangannya yang lain merobek bagian depan gaun Abela. Meremas dadanya sedikit kasar. Dan membantu bergerak lebih cepat. Napas mereka memburu di tengah ciuman mereka. Seiring kuku Abela yang lebih dalam menancap di pundak Armand. Saat akhirnya Mereka menjauhkan wajah mereka, Armand menggeram rendah di tengah ******* panjang Abela.
Abela terengah dan menjatuhkan kepalannya di pundak Armand. Keningnya masih berkerut merasakan dada Armand yang masih naik turun mengatur napas.
"Sialan." Armand mengumpat pelan lagi, membuat Abela menegakan duduknya lagi. Gerakan yang salah yang salah itu membuat mereka meringis lagi.
"Bagaimana kalau aku tetap bilang tidak?" tanya Armand saat napas mereka sudah lebih teratur.
"Aku masih akan melakukannya sampai kau bilang iya," jawab Abela, menyipitkan matanya.
"Dasar gila." Armand tertawa nyaring. Tangannya terjulur mengelus pipi Abela perlahan. Mengusap sudut bibir Abela yang basah.
"Baiklah." Armand membawa Abela ke pelukannya lagi. "Ingat kau yang memulai dan meminta ini," bisik Armand dengan seringainya.
...----------------...
Matahari sudah tinggi, sedang Abela tidak punya keinginan untuk bangkit dari tempat tidur. Armand sudah pamit untuk pergi ke istana tadi. Semalaman mereka sepertinya hanya tertidur sebentar. Abela heran kenapa Armand masih bisa terlihat ceria untuk pergi bekerja. Berbeda dengannya yang kehabisan tenaga.
Abela akhirnya berusaha untuk menyalakan lonceng. Saat beberapa pelayan wanita masuk dan berjajar di dekat tempat tidur nya.
"Aku ingin segera mandi dan sarapan. Bisa aku makan disini saja?" tanya Abela tidak enak memberi perintah pada pelayan orang lain.
"Tentu madam, akan kami siapkan semuanya. Air hangat anda juga sudah siap. Kita bisa langsung ke kamar mandi madam."
"Ada satu masalah," kata Abela tersenyum canggung.
"Ya?" pelayan yang menjelaskan tadi menatap Abela dengan ekspresi penasaran.
"Masalahnya ... Aku tidak bisa berjalan." Wajah Abela serah kepiting rebus. Entah kenapa dia ingin cepat pulang.
__ADS_1
...----------------...