Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke

Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke
Kastil Penyihir


__ADS_3

.


Dini hari itu Abela sedikit terkejut karena dia bangun di pelukan Armand. Saat dia menjauhkan diri, yang pertama dilihat Abela adalah mata coklat Armand yang sedang menatapnya.


Abela merasa salah tingkah merapikan rambut dan pakaiannya. Armand perlahan beranjak dari duduknya dan mengulurkan tangan pada Abela.


"Ayo ... ke sungai," katanya singkat.


Abela tidak menjawab, dia hanya menyambut uluran tangan Armand dan berjalan mengikutinya.


Pagi ini, lebih terasa dingin dari tadi malam. Abela sedikit berjengit saat menyentuh air sungai. Dia melirik Armand yang sudah mulai membasuh wajahnya. Tetesan air mengalir di pipinya yang tegas, ke lehernya yang kokoh.


Armand menutup matanya sejenak, menyisir rambutnya ke belakang dengan jari. Kancing bajunya yang paling atas terbuka. Abela tanpa sadar terpaku menatap Armand, matanya mengikuti tetesan air yang mengalir dari pelipis sampai leher Armand. Menghilang di balik baju.


"Kau sering tiba-tiba terpaku menatapku akhir-akhir ini," ucap Armand tiba-tiba.


Suara Armand yang dalam melayang ke telinga Abela bersama dengan suara aliran sungai. Tidak membuat Abela terkejut atau sadar dari lamunannya. Tapi membuat suara degup jantungnya terdengar lebih keras dari suara angin.


Abela menelan ludahnya, menatap langsung pupil coklat Armand yang gelap. Pria itu menatapnya dengan tatapan yang tegas. Perlahan menyunggingkan senyum miring saat matanya melirik ke samping. Berhenti menatap mata Abela.


Abela entah kenapa kecewa, dia masih ingin terperangkap dalam tatapan Armand. Walau saat itu dia merasa wajahnya memanas dan detak jantungnya berdetak lebih intens. Tapi dia masih ingin menatap mata itu.


Abela menunduk menatap air, mulai membasuh wajahnya juga. Berhati-hati agar pakaiannya tidak basah oleh air. Mengeringkan wajahnya lembut dengan sapu tangan dan mengikat rambutnya.


Armand memperhatikan semua yang di lakukan Abela dengan sudut matanya. Wanita itu tentu sangat cantik. Benar sekali, itu Abela nya. Wanita yang mencuri hatinya sejak pertama mereka bertemu di pesta perayaan karena telah menghilangkan penyihir. Dan penyihir itu juga yang sekarang ada di dalam tubuh itu.


Armand tersenyum pada hal ambigu yang terjadi ini. Armand sebenarnya ingin tidak mempercayai apa yang wanita itu katakan. Dan menganggap itu sebagai suatu kegilaan semata. Tapi sayangnya, hari demi hari Armand semakin yakin kalau dia bukan Abela nya.


Armand masih memperhatikan Abela dengan sudut matanya saat Abela terdiam menunggunya. Dia hanya berdiri di sana mencuri pandang dengan lirikan pada Armand. Tanpa bicara. Armand bisa melihat kembali rona merah di wajah Abela perlahan merambat ke telinga dan lehernya. Siapa? Tanya Armand dalam hati. Perasaan siapa yang terlukis di wajah itu? Armand menggeleng mengenyahkan pikiran itu. Dia berbalik menghadap Abela yang terlihat terkejut.

__ADS_1


"Kau menggigit bibirmu terlalu keras lagi," ucap Armand dalam bisikan.


Abela terkesiap dan melepaskan gigitannya. Detak jantung menjadi tidak terkendali lagi. Abela menelan ludah. Bingung dengan reaksi yang diberikan hati dan tubuhnya ini.


"Abela ...." panggil Armand pelan.


Abela menghindar dari tatapan mata Armand, dia agak menunduk sedikit.


Entah dengan dorongan yang datang dari mana, Armand meraih dagu Abela dan membuatnya menatapnya lagi. Memenjara mata biru Abela dengan tatapannya lagi.


"Arabela ...." bisik Armand lirih, berhasil membuat Abela melebarkan matanya yang terbuka. Degup jantungnya terdengar lebih keras di telinganya seakan siap meledak kapan saja. Wajahnya semakin terasa panas. Abela menelan ludah melihat bibir dan rahang Armand yang terlihat semakin mendekat.


Abela bisa merasakan tekanan lengan Armand di punggungnya saat Armand membawanya mendekat dalam satu tarikan.


"Kau terlihat akan jatuh," kata Armand pelan.


"Aku baik-baik saja," jawab Abela sama pelannya, tangannya spontan berusaha mendorong dada Armand.


"Sudah ku bilang, kau akan terjatuh," kata Armand dengan nada menyebalkan dan senyuman miringnya.


Abela merapatkan bibirnya kesal. Bisa-bisanya dia terpesona pada Armand. Abela melepaskan tangannya dari genggaman Armand dan berjalan menjauh, merasa malu.


.


.


"Madam Abela yang akan memimpin jalan menuju kastil penyihir." Armand mengumumkan sesuatu yang membuat semua orang terkejut.


"Apa maksud anda Duke?" tanya Calix dingin. Dia menatap tajam Armand.

__ADS_1


Armand hanya tertawa pelan menanggapinya.


"Kau keberatan? Abela?" tanya Armand, menghiraukan tatapan bingung semua orang.


Abela juga sedikit terkejut dengan instruksi itu. Seharusnya, Armand menanyakannya terlebih dahulu. Tapi tentu saja, apa yang Abela harapkan dari Armand yang sekarang ini.


"Baiklah, yang mulia." Abela menjawab datar. Seakan dengan jelas menarik batas diantara mereka dengan menyebut Armand yang mulia.


"Kalau begitu sudah diputuskan. Tunggu apa lagi, Madam bisa ke depan bersama dengan kapten," kata Armand masih dengan nada dingin.


"Aku juga akan di depan kalau begitu," ucap Cesar santai. Dia menjajarkan kudanya dengan Abela dan mengedipkan sebelah matanya.


Sedang Calix, dengan wajah merenggut berada tepat di belakang Abela. Armand menatap punggung Abela. Armand tidak berusaha membuatnya celaka, tapi sekali lagi, Armand ingin diyakinkan sekali lagi. Benarkah wanita ini penyihir itu.


"Kapten, ikuti aku." Abela berucap dengan nada percaya diri. Dibalas anggukan kecil dari kapten tim dan Cesar.


Ringkik halus dari kuda yang di tunggangi Abela terdengar saat dia mulai memacu kudanya. Abela tidak gentar meski dia akan membawa semua orang masuk ke dalam hutan yang lebat. Abela yakin, ini adalah rute paling cepat yang lebih aman dari rute-rute cepat yang lain. Setidaknya hanya dialah yang tahu.


Hutan yang mereka masuki sangat sepi dan dingin. Mereka bahkan tidak mendengar satupun suara binatang. Abela memelankan laju kudanya dan melihat ke sekitar tempat itu. Ada sebuah pohon yang lebih besar dari pohon-pohon yang lain. Abela tersenyum saat melihat pohon itu lalu berjalan mendekat.


Abela mencabut satu pedang kembarnya -yang diberikan Armand padanya saat ekspedisi pertama. Dan menancapkannya tepat di tengah batang pohon. Cahaya hijau terpancar dari pohon itu. Suara akar yang seperti dicabut terdengar membuat linu gendang telinga. Pohon itu mencabut dirinya sendiri.


Cesar terperangah melihat pohon itu bergeser sendiri. Sedang cahaya hijau yang terlihat tadi berpendar semakin tipis. Perlahan mereka bisa melihat sebuah gerbang dari tembaga hitam menjulang tinggi di depan mereka.


Armand telah berkali-kali datang kemari. Dan dia tahu dengan jelas, bahwa yang di depannya ini adalah gerbang pintu masuk yang berada di bagian depan kastil penyihir. Perlu dua atau tiga hari perjalanan dengan kuda untuk sampai kesini. Tidak disangka mereka bisa sampai hanya dengan mengendarai kuda selama setengah hari saja.


Armand masih terpaku seperti prajurit yang lainnya. Sedang Calix menatap Abela dengan tatapan bingung. Bertanya-tanya dalam hati apa yang baru saja dia lihat itu.


Abela menoleh pada Armand yang sedang menengadahkan kepalanya ke atas melihat gerbang tinggi yang menjulang seperti tidak memiliki ujung itu.

__ADS_1


"Selamat datang Armand, di kastil penyihir."


...----------------...


__ADS_2