
Matahari masih bersembunyi dibalik awan. Digantikan oleh hujan yang tak pernah bosan meninggalkan jejaknya dibumi.
Lengkap dengan bau hujan yang menyentuh tanah, menenangkan indra penciuman setiap makhluk hidup yang ada.
Disebuah ruangan bernuansa serba hitam dan abu – abu tampak seorang gadis kecil tengah tertidur pulas diatas ranjang king size.
Alpha Scoth dengan setia menemani Isabella sambil menatap lekat wajah cantik yang sedang tidur terlelap dihadapannya itu.
Memastikan gadis kecil itu tetap hangat dan mencoba menggabungkan aroma wood musk miliknya dengan aroma vanilla white musk milik gadis kecil itu dengan memeluknya erat.
Alpha Scoth menghela nafas untuk kesekian kalinya melihat gadis cantik yang ada dihadapannya dalam kondisi yang mengenaskan dengan banyak luka yang telah dibalut perban.
Hatinya terasa sangat sakit seperti teriris pisau tajam waktu melihat gadisnya menderita seperti itu.
Sungguh perasaan aneh yang baru pertama kali dia rasakan seumur hidupnya. Bahkan kematian sang ayah yang menyakitkan juga rasanya tidak sepedih sekarang waktu melihat kepala, leher dan kaki kanan gadisnya terluka parah seperti itu.
Seharusnya dia tidak terdiam mematung dan mendengarkan ucapan Melvin untuk segera mendekati matenya.
Alpha Scoth sangat berharap perasaan aneh pada hatinya ini akan segera hilang. Dia ingin benar – benar menghabisi para vampir tersebut dengan brutal hingga memisahkan bagian – bagian anggota tubuhnya menjadi potongan – potongan dan membakarnya hingga menjadi abu.
“ Vampir memang pantas untuk dibunuh dan dimusnahkan….”, batin Scoth geram.
Jika tidak melihat kondisi matenya yang terluka, mungkin Scoth sudah mengejar ketiga vampir tersebut dan membunuhnya langsung.
Tapi sayangnya, tubuhnya yang sudah diambil alih oleh Melvin tidak bisa berbuat apa -apa. Scoth sendiri tidak tahu kenapa Melvin yang biasanya brutal pagi itu bisa menahan diri dan lebih memilih untuk segera menolong matenya dibandingkan harus mengejar musuh – musuhnya.
Karena bagi Melvin, keselamatan gadis itu lebih penting daripada mengejar musuh yang bisa dilakukannya kapan saja.
Namun, jika dia kehilangan matenya, maka dia akan merasa sangat sedih dan mati menyusul sang mate yang telah digariskan oleh mood goddess tersebut
Scoth memberanikan diri untuk mengelus pipi gadis yang ada dihadapannya dengan lembut, takut melukai kulitnya yang terlihat sangat rapuh.
Meski kenyataannya gadis kecil itu tidak serapuh yang dibayangkannya bahkan lebih kuat darinya jika semua kekuatannya sudah ter asa dengan baik.
Tidak ada tanda – tanda yang menunjukkan bahwa gadis kecil yang ada dihadapannya adalah seorang warewolf,vampire, ataupun penyihir.
__ADS_1
Cukup lama Scoth mengamati dan menarik kesimpulan jika gadis yang ada dihadapannya itu adalah seorang manusia biasa.
Isabella menggeliat dan sedetik berikutnya perlahan – lahan mata gadis kecil itu mencoba terbuka saat merasakan sesuatu yang lembut mengelus pipinya.
Satu detik, dua detik, tiga detik Isabella masih merasa sangat nyaman hingga membuat dirinya malas untuk membuka mata dan menutupnya kembali sambil meringkuk seperti bayi kucing yang mencari kehangatan di tubuh sang induk.
Namun rasa penasaran yang ada dalam hati Isabella akhirnya membuat gadis kecil itu perlahan kembali bergerak dan berusaha untuk bangun.
Isabella perlahan – lahan mulai membuka kedua matanya, menyesuaikan dengan sinar matahari yang terpancar dari sela – sela jendela yang ada dikamar tersebut.
Untuk beberapa saat dia terdiam mengamati keadaan sekitarnya hingga kesadarannya pulih sepenuhnya.
Isabella mengerutkan keningnya cukup dalam waktu menyadari dia berada dalam sebuah ruangan yang sangat asing baginya.
“ Ini bukan kamarku dan juga bukan didalam hutan. Tunggu…dimana serigala besar yang menatapku tajam sebelum aku pingsan…”, batin Isabella binggung.
Diapun terlonjak kaget dan langsung bangun. Akibat tindakan spontannya tersebut, membuat tubuhnya terbangun secara mendadak hingga menyebabkan kepalanya terasa sangat pusing.
“ Awww….”, teriak Isabella sambil memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.
Isabella sempat terpesona untuk sesaat dan mulai memperhatikan lelaki tegap dan tampan tersebut secara intens.
Dapat Isabella lihat manik abu lelaki tersebut begitu indah, hidung yang mancung, rahang yang tegas dengan garis yang sempurna, serta bibir tebalnya yang tampak menggoda.
Semua itu tercetak sempurna pada kulitnya yang kecoklatan dengan otot yang tercetak sempurna dibalik kaos hitam yang dipakainya.
Dan satu lagi, aroma maskulin yang sangat memabukkan menguar dari tubuh lelaki tampan tersebut.
Inggin sekali rasanya Isabella memeluk erat laki – laki itu, merasakan betapa kokohnya dada bidang itu, mengusap dada itu dengan jari – jarinya, merasakan tonjolan – tonjolan otot dan menghirup dalam – dalam aroma maskulin itu sebanyak – banyaknya.
“ Tunggu….kenapa aku bisa semesum ini… ”, batin Isabella sambil menepuk pipinya yang bersemu merah.
“ Isabella…sadarlah…kamu itu masih bocah….”, Isabella memarahi dirinya dalam hati.
Dia meruntuki tente Monic, tetangganya yang berusia dua puluh tahun yang sering mengajaknya untuk berburu cogan hingga membuat otak polosnya menjadi semesum ini.
__ADS_1
“ Keluarlah wahai setan mesum…”, batin Isabella kembali menepuk – nepuk kedua pipinya sambil memejamkan mata.
Isabella kembali terkejut saat lelaki asing yang ada dihadapannya tersebut berdiri dan berjalan mendekat, mengambil sejumput rambutnya dan mengaitkan dibelakang telinganya.
“ Awas kau bisa jatuh cinta jika menatapku tanpa berkedip… ”, kata lelaki tampan dihadapannya itu dengan senyum menggoda.
Lamunan Isabella seketika buyar saat suara berat lelaki tampan tersebut mendera indera pendengarannya.
Dengan reflek, Isabella pun segera menampar wajah tampan dihadapannya itu dan menendang lelaki asing itu dengan keras dengan satu kakinya yang tidak terbalut perban hingga jatuh kelantai.
Isabella segera meraba dirinya dan memastikan apakah bajunya masih utuh, setelah melihat jika dirinya masih berpakaian, Isabella baru bisa bernafas lega sekaligus terkejut saat melihat satu kakinya terbalut perban.
Waktu dia meraba kepalanya, dia juga merasa kain putih tipis tersebut membalut kepala bagian atasnya dan lehernya juga terdapat perban yang menempel.
“ Tunggu…kenapa bajuku berubah jadi kemeja hitam kebesaran ini dan aku rasa ini adalah kemejanya…”, batin Isabella curiga.
Diapun segera mengedarkan pandangannya dengan cermat keseluruh ruangan untuk memastikan sesuatu.
“ Dimana ini ?... ”, guman Isabella pelan.
Laki -laki yang terjatuh tadi tiba - tiba menyembulkan kepalanya dan melihat kearah Isabella sambil tersenyum.
“ Kamu ada dikamarku…”, jawab Scoth santai.
Scoth pun segera bangkit sambil mengusap – usap pantatnya yang baru saja mendarat mulus diatas lantai.
Dia sama sekali tak menyangka jika gadis yang ada dihadapannya itu sangatlah bar – bar hingga berani menampar dan menendangnya sekuat tenaga dalam pertemuan pertama mereka.
“ Apa ?…bagaimana aku bisa berada dikamarmu?... ”, teriak Isabella nyaring hingga suaranya mampu meruntuhkan seluruh isi ruangan.
“ Apa kau benar –benar tak ingat apa yang terjadi padamu…. sepertinya kepalamu benar – benar terluka parah…. ”, ucap Scoth sambil mengamati kepala Isabella.
Isabella pun mencoba memaksa otaknya untuk mengingat semua kejadian aneh yang baru saja dia alami.
Wajah Isabella saat berpikir tampak sangat mengemaskan, membuat Scoth yang memandangnya diam – diam tersenyum tipis.
__ADS_1
" Seandainya dia bukan bocah, pasti sudah aku terkam habis dia....", batin Scoth gemas