
Setelah berhasil menjalankan tugasnya dan tubuh pak tua melemah, Alatariel dan Emirespun beristirahat sejenak untuk memulihkan tenaganya yang sudah terkuras habis tadi.
Dan kesempatan tersebut tak disia – siakan oleh Alatariel untuk bisa menemui Belatrix dan menjawab rasa penasaran yang sejak beberapa hari kemarin menganjal hatinya kenapa wanita tersebut mencari dan berusaha untu menemuinya.
“ Apakah itu akan berlangsung lama ?....”, tanya Alatariel cemas.
“ Tenang saja, ayahmu akan tertidur hingga esok hari…. ”, ucap Belatrix meyakinkan.
Tak ingin membuang waktu lagi, keduanya pun segera mencari tempat yang aman untuk membicarakan semuanya. Kali ini Belatrix harus benar – benar harus bisa menjelaskan semua hal kepada Alatariel.
Meski tidak terlalu mengerti, namun Alatariel berusaha untuk mencerna semua hal yang dikatakan oleh Belatrix kepadanya dengan cepat.
“ Jadi menurut apa yang kamu ceritakan, hanya aku yang bisa mengambil dan memusnahkan bunga Gloxinia itu ?....tapi, bagaimana caranya ?....”, tanya Alatariel masih sedikit binggung.
Melihat wajah Alatariel binggung Belatrix sangat puas karena ternyata lelaki yang ada dihadapannya itu mendengarkan smeua ceritanya dengan seksama.
“ Dengan Death Sword….”, ucap Belatrix datar.
“ Death Sword ?....”, Alatariel mengulangi perkataan Bekatrix sambil menautkan dua alisnya tajam.
Belatrixpun kemudian menjelaskan apa itu Death Sword dan bagaimana caranya agar Alatariel bisa mendapatkannya.
Death Sword adalah pedang bergerigi dengan ujung lancip dan kepala pedang berbentuk mirip kepala iblis tersebut adalah pedang milik Gullveig yang didapatkannya setelah melaui berbagai macam ujia di lembah kematian.
Dan sejak Gullveig menghilang, secara ajaib pedang tersebut menancap kuat disebuah batu besar yang ada di lembah kematian tanpa ada yang mengetahui siapa yang meletakkannya disana.
Banyak orang yang berusaha untuk mencabutnya karena pedang tersebut memiliki kekuatan kegelapan yang luar biasa, namun semuanya gagal.
Hanya keturunan Gullveig yang mewarisi kekuatannya saja yang bisa mencabutnya. Maka dari itu, Belatrix menginginkan agar Alatariel segera pergi ke lembah kematian dan mecabut pedang tersebut.
“ Tapi, sebelum kamu ke lembah kematian. Sebaiknya latih dulu kekuatan yang ada didalam tubuhmu karena banyak bahaya dan rintangan yang harus kamu hadapi selama berada di lembah kematian. Dan itu bukanlah hal yang mudah meski kamu memiliki kekuatan elf kegelapan….”, ucap Belatrix menjelaskan.
Alatariel terlihat mengkerutkan keningnya cukup dalam mendengar semua penjelasan yang diberikan oleh Belatrix.
Bagaimana caranya dia melatih kekuatannya pada saat berada di kota Dark Land. Tentunya keluarga dan semua orang akan menaruh rasa curiga kepadanya begitu ada aura lain selain aura milik bangsa Dokkalfar terasa disana.
__ADS_1
Meski masyarakat Dokkalfar terkenal acuh dan mementingkan diri sendiri, tapi begitu mereka merasa aura asing berada diwilayah mereka maka semua orang akan bersatu untuk melawannya.
Dan hal itu tidak baik untuk keluarga besarnya karena bisa mengancam keselamatan mereka semuanya.
Belatrix yang melihat kurcaci berbadan gelap di hadapannya tersebut sedang berpikir keras, mulai meniupkan mantra sihir yang berhasil dibacanya tanpa Alatariel sadari.
Sihir tersebut akan membuat nama Death Sword terpatri kuat dalam ingatan Alatariel sehingga menimbulkan keingginan untuk mendapatkannya.
Belatrix yang sangat tahu jika bangsa Dokkalfar adalah bangsa yang tamak dan serakah jadi dia akan mengambil sisi terebut untuk mempengaruhi Alatariel.
Meski Alatariel bukan keturunan murni, tapi bagaimanapun ada darah Dokkalfar didalam tubuhnya. Sejak lahir dia dan keluarganya sudah berada di Dark Land hal tersebut tentunya membuat kurcaci hitam tersebut juga memiliki sifat yang tak jauh beda dengan bangsa Dokkalfar asli.
Perlahan namun pasti, Belatrix pun mulai menjelaskan apa saja keuntungan yang akan didapatkan oleh lelaki itu begitu Death Sword berada ditangannya.
“ Bukan hanya kamu bisa mengalahkan Spataur dengan mudah, tapi seluruh dunia bisa ada dalam genaggamanmu. Dan ketika hal itu terjadi, maka keselamatan seluruh anggota keluargamu pasti bisa kamu jamin….”, ucap Belatrix berusaha mempengaruhi pikiran Alatariel.
Mendengar Belatrix mengatakan jika dia bisa mengalahkan Spataur, pemimpin Dark Land membuat Alatariel tanpa sadar mulai tersenyum tipis.
Selama ini, meski keturunan Gullveig sudah menjadi bagian dari warga Dokkalfar tapi Spataur masih membedakan mereka karena kekuatan yang miliki masih berada jauh dibawah keturunan asli elf kegelapan tersebut.
Belatrix yang melihat jika apa yang ditanamkan dalam otak Alatariel mulai bekerja tampak tersenyum puas dalam hati.
Sekarang tinggal selangkah lagi baginya untuk bisa membuat Alatariel mulai bergerak sesuai keingginannya.
“ Jika kamu kesulitan mencari tempat untuk berlatih, pakai ini. Jika kamu taburkan bubuk ini di suatu tempat, maka kamu akan tak terlihat begitu memasuki ruangan yang telah kamu taburi bubuk ini. Jika wujudmu tak bisa terlihat, maka nantinya energy yang terpancar keluar selama kamu melakukan latihan juga tak akan terlihat orang lain….”, Belatrix pun segera menjelaskan semuanya kepada Alatariel sambil memberikan kantong kain berisi bubuk hijau pekat tersebut ketangan lelaki tersebut.
Tak lupa, dalam kesempatan tesebut Belatrix juga memberikan Alatariel sebuah buku sihir untuk melatih kemampuannya.
“ Minum ini sebelum kamu belajar dan berlatih. Ramuan ini akan membuat kamu dapat lebih cepat untuk menghafal apa yang sudah kamu baca dan mempraktekkannya….”, ucap Balatrix sambil menyerahkan sebotol ramuan berwarna merah darah tersebut.
Emerlda yang berada disamping Belatrix hanya bisa tercenggang melihat sahabatnya itu memberikan ramuan dan bubuk sihir langkah tersebut dengan sangat mudahnya kepada Alatariel.
Jika bukan karena ada hadiah besar dan posisi tinggi di kerajaan Azerbazam yang dijanjikan oleh Ratu Evanora klepada Baltrix jika misi yang dijalankannya ini berhasil.
Belatrix tentunya tak akan dengan mudah mengeluarkan dan memberikan property miliknya kepada orang yang baru saja dikenalnya itu.
__ADS_1
Kedua mata Alatariel terlihat berbinar waktu mendapatkan dua benda yang menurutnya sangat berharga itu.
“ Aku tak menyangka jika sihir hitam sehebat itu….”, batin Alatariel penuh kekaguman.
Diapun segera memasukkan semua barang yang diberikan oleh Belatrix kedalam tas kecil yang dibawanya.
Meski tas yag ada dipinggang Alatariel sangatlah kecil, namun barang sebesar apapun dan sebanyak apapun akan masuk dengan mudah dan muat disimpan disana.
Dan hal seperti itu hanya bisa dilakukan oleh sihir yang dimiliki oleh bangsa Dokkalfar.
Setelah semua hal sudah diberikan dan dijelaskan kepada Alatariel, Belatrixpun segera kembali kepenginapannya.
Keduanya sepakat untuk berkomunikasi lagi lewat media air yang menurut Alatariel lebih aman karena Spataur tak bisa mengendusnya.
Setelah keduanya berpisah, Alatariel segera kembali ketempat dimana ayahnya berada dan mulai beristirahat untuk memulihkan kekuatan dalam tubuhnya.
Sementara itu di kerajaan Epes, Isabella ternyata memerlukan waktu lebih lama dari yang dibayangkan oleh tetua Otsana sebelumnya.
Setelah semua aliran kekuatan liar tersebut berhasil terkumpul didalam inti tubuhnya. Proses tersebut ternyata tak berhenti sampai disitu saja.
Masih banyak proses lainnya yang lebih rumit dan menyakitkan yang harus Isabella lalui agar kekuatan liar tersebut benar – benar menjadi satu kesatuan dengan inti tubuhnya.
Butuh waktu lebih dari satu minggu lamanya Isabella berjuang untuk melakukan semua hal tersebut hingga akhirnya tepat pada hari kesepuluh dia berhasil membuatnya menyatu dengan sempurna.
Setelah semua proses telah selesai, Isabella segera tersadar dan mulai membuka kedua matanya dengan nafas tersenggal – senggal serta keringat dingin yang mengucur deras di tubuhnya.
Mukanya sudah sangat pucat dengan darah kering yang menempel di kedua sudut bibirnya. Membuat tampilannya sudah seperti mayat hidup sekarang.
Carmin yang tak sengaja berpapasan dengan calon kakak iparnya tersebut segera memanggil bantuan begitu tubuh Isabella roboh tepat di hadapannya.
Atares yang kebetulan berada tak jauh dari sana dan mendengar suara teriakan sang istri segera datang mendekat dan langsung membopong tubuh munggil Isabella membawanya kedalam kamarnya dan membariungkan tubuh calon kakak iparnya itu ke atas ranjang untuk beristirahat.
“ Tidak apa – apa. Dengan beristirahat yang cukup kondisinya akan segera pulih kembali….”, ucap Tiffany setelah selesai memeriksa kondisi Isabella.
“ Sebaiknya kamu panggil Alpha Red Moon Pack agar kondisi tubuhnya bisa pulih dengan cepat….”, ucap Tiffany memberi saran kepada tetua Otsana.
__ADS_1
Mendengar ucapan Tiffany, tetua Otsana segera memanggil Scoth untuk datang ke kerjaan Epes secepatnya.