
Akhirnya ketenangan kembali terasa di kerajaan Epes setelah banyak musuh yang berusaha masuk ke kerajaan elf tersebut tumbang oleh Isabella begitu gadis tersebut berhasil menyelesaikan misinya dan kembali sadar.
“ Ah…akhirnya, ketenangan ini kembali kita rasakan….”, ucap Carmin sambil menyeruput susu hangat yang ada ditangannya.
Sore ini dia menikmati langit tenggelam bersama sang suami di balkon istana sambil sesekali melirik ke sekawanan angsa yang sedang berenang bersama anak - anaknya di danau samping istana.
Burung – burung terlihat mulai kembali kesangkarnya sebelum langit berubah menjadi gelap dan pemburu alam memangsanya.
Kenyamanan yang dirasakan Carmin membuat Scoth sang kakak iri. Pasalnya, sejak sang kekasih terbangun setelah menyelesaikan misinya didunia lain, gadis itu terus sibuk dengan berbagai macam hal.
Dan melupakan jika dia memiliki kekasih yang sangat merindukannya disini. Melihat wajah sang kakak sedari tadi ditekuk sambil menghembuskan nafas berat, Carmin pun berjalan menghampirinya.
“ Ada apa kak ?....kenapa mukamu kusut seperti itu ?...”, tanya Carmin penuh perhatian.
“ Tak bisakah aku bersama kekasihku sebentar saja….”
“ Kenapa semua orang sibuk merecokinya….”
“ Padahal dia baru saja tersadar dan butuh waktu untuk pemulihan….”, Scoth mulai mengeluarkan semua hal yang menganjal dihatinya sejak kemarin.
Carmin hanya menggelengkan kepala mendengar keluhan sang kakak. Tampaknya Isabella benar – benar sudah membuat kakaknya menjadi bucin setengah mati kepadanya.
“ Dan satu hal….kenapa Tiffany terus saja memanggil Isabella ?....”
“ Bukankah ada Atares disini…..”
“ Kerajaan Epes juga tak kekuarangan orang berbakat….”
“ Selimut pelindung juga sudah diperbarui….”
“ Untuk apa lagi….”, Scoth terus saja menggerutu tanpa henti, seolah dia menumpahkan semuanya kepada sang adik yang merupakan ratu kerajaan Epes tersebut.
“ Baiklah…aku akan coba bicara dengan tetua Tiffany. Kakak sabar dulu ya, aku akan segera membawa Isabella kemari….”, ucap Carmin berusaha menenangkan kegalauan hati kakaknya itu.
Scoth kembali menghela nafas berat waktu melihat punggung Carmin sudah menghilang dibalik tembok.
Pada saat Scoth sedang galau dikerajaan Epes, Alatariel juga sedang pusing karena usaha yang dilakukannya untuk mengambil death sword kembali menuai kegagalan.
“ Aku harus menggunakan cara apa lagi sekarang ?....”, guman Alatariel mulai putus asa.
Pandangan matanya tajam menatap pedang hitam yang sama sekali tak bergeming sedikitpun disana hingga tiba – tiba satu bayangan melintas dikepalanya.
Tringgg…..
__ADS_1
Ide brilian muncul dan mulai terangkai didalam otaknya, membuat wajahnya yang lesu terlihat berbinar cerah.
“ Benar…aku harus menghancurkan inangnya dulu baru bisa mendapatkannya…. ”, guman Alatariel bermonolog.
Diapun segera menyusun rencana untuk menghancurkan batu hitam besar yang menjadi tempat death sword menancap.
Alatariel terlihat melirik sekilas pohon sihir yang ada didalam botol kaca sambil berguman pelan “ Sedikit lagi…”.
Dark elf tersebut terlihat sibuk membuat aneka macam ramuan sihir yang nantinya akan dia gunakan untuk meledakkan batu besar hitam tersebut.
Alatariel sangat yakin jika batu besar hitam tersebut bukanlah batu sembarangan karena bisa membuat death sword menancap kuat disana.
Jika batu biasa mungkin dia hanya perlu mengeluarkan tongkat sihirnya tanpa perlu membuat ramuan sihir. seperti sekarang
Setelah semua ramuan sihir siap dan pohon sihir juga sudah full oksigen maka Alatarielpun segera memasang perlengkapannya dan bangkit dari tempat duduknya.
Kali ini Alatariel melangkah dengan rasa percaya diri yang tinggi. Dia sangat yakin jika usahanya kali ini akan membuahkan hasil seperti yang diharapkan.
Begitu sampai didepan death sword, Alatariel segera menuangkan cairan berwarna coklat gelap tersebut keseluruh bagian batu hitam.
Setelah dirasa semua permukaan batu hitam tersebut sudah basah, diapun menunggu reaksi yang akan muncul.
Sambil menunggu reaksi ramuan sihirnya, Alatariel terlihat berjalan mengelilingi batu. Mengamati setiap hal yang ada disana dengan sangat detail.
Ctasss….
Ctasss….
Ctasss….
Beberapa kali alatariel terlihat menyingkirkan beberapa sulur yang terlihat disekitar batu menggunakan tongkat sihirnya.
Setelah dirasa semua sisi yang bisa membuat batu tersebut tetap utuh dihilangkan, Alatariel segera mengacungkan tongkat sihirnya untuk memecah inang death sword.
“ Kasatrepsetes !!!....”, teriak Alatariel lantang.
Crakkk….crakkk…boommm…..
Seketika batu hitam besar tersebut hancur menjadi debu, menyisakan pedang hitam ditengah reruntuhan.
Sementara Alatariel terlihat menunduukkan kepala dengan satu tangan keatas, untuk melindungi wajahnya dari debu yang bertebaran.
Uhukkk…uhukkk….uhukkk….
__ADS_1
Alatariel yang terbatuk tanpa sadar melepas masker plastik yang tadi dipakainya. Hancurnya batu hitam besar yang menjadi inang death sword membuat oksigen disekitar area kembali hadir.
“ Aku sudah tak merasa sesak nafas lagi….”, guman Alatariel sambil menghirup udara disekitar sebanyak – banyaknya.
Perlahan, lembah kematian yang awalnya tampak gersang kini sudah menjadi hijau. Hewan – hewan kecil seperti semut, cacing dan serangga tampak sudah memenuhi padang rumput yang ada.
Dibeberapa sisi tampak bungga – bungga liar mulai tumbuh dan bermekaran. Lembah kematian sekarang terlihat lebih hidup dan berwarna setelah death sword berhasil diambil oleh Alatariel.
Begitu pedang hitam sudah didapatkannya, diapun segera menyampirkannya rapi disamping pinggangnya. Selanjutnya, Alatariel pun segera berteleportasi ke dunia manusia, tempat dia biasa bertemu dengan Belatrix.
Jika Alatariel telah sukses membawa pedang hitam bersamanya, lain halnya dengan kondisi Scoth saat ini.
Alpha Red Moon pack tersebut terlihat berpikir keras bagaimana caranya untuk bisa membawa pergi sang kekasih agar dia bisa melepas rindu yang membuatnya sulit untuk bernafas.
“ Kurasa, aku harus menculiknya agar para orang tua itu tak kembali mengusiknya….”, batin Scoth penuh tekad.
Setelah diyakin hanya itu satu – satunya cara, diapun segera bangkit dari tempat duduknya untuk mencari keberadaan sang kekasih.
Senyum Scoth melebar waktu dia mendapati Isabella berjalan sendiri di lorong istana. Namun senyum tersebut tak berlangsung lama setelah ada lelaki tua yang menghampiri kekasihnya, membuat langkah gadis itu terhenti.
“ Kenapa ada saja yang menghalangiku untuk bertemu dnegan Isabella…”, batin Scoth geram.
Tanpa meminta persetujuan tetua Otsana, Scoth pun segera melingkarkan satu tangannya ke pinggang Isabella dan langsung membawa gadis tersebut berteleportasi menuju istananya.
“ Dasar tak punya sopan santun !!!....”, ucap tetua Otsana geram waktu melihat Scoth membawa pergi Isabella tanpa ijin dari hadapannya.
Hanya tetua Otsana yang berani untuk memaki Alpha Red Moon pack tersebut secara terang – terangan.
Tiffany yang sudah bertemu dengan Carmin sebelumnya hanya bisa tersenyum tipis melihat sahabatnya itu tampak kesal setelah Scoth membawa kabur Isabella.
“ Sudahlah…biarkan mereka melepas rindu sejenak. Kita akan memanggilnya kembali begitu ada sinyal bahaya datang…”, ucap Tiffany sambil menepuk punggung tetua Otsana pelan.
Ya…Tiffany bisa merasakan jika death sword sudah berhasil diambil seseorang. Dan dia sangat yakin jika yang berhasil mengambilnya adalah satu dark elf yang merupakan keturunan Gullveig.
Dan Tiffany sudah menceritakan masalah tersebut kepada Isabella agar bersiap untuk kemungkinan terjadi perang besar sebentar lagi.
Sementara itu, di istana Red Moon pack, tepatnya didalam kamar Scoth, Isabella terlihat menatap tajam sang kekasih yang masih memeluk tubuhnya dengan sangat erat.
“ Sayang…jangan marah ya….”, ucap Scoth sambil menelusupkan kepalanya diceruk leher Isabella, menghindari tatapan tajam yang dilayangkan sang kekasih.
“ Kamu !!!....”, Isabella hanya bisa mendengus kesal atas sikap kekanak – kanakan yang ditunjukkan oleh kekasihnya itu.
“ Habisnya…mereka sama sekali tak melepaskanmu…aku kan kangen sama kamu…”, ucap Scoth merajuk.
__ADS_1
Jika sudah begini, Isabella hanya bisa diam dan bersabar jika kekasihnya sudah dalam mode manja seperti ini.