HOLY BLOOD GIRL

HOLY BLOOD GIRL
PENGLIHATAN TIFFANY


__ADS_3

Sudah dua hari lamanya ketiga penyihir hitam tersebut berada di depan gerbang kota Dark Land tanpa bisa sedikitpun melangkah masuk.


Tubuh ketiganya langsung terpental jauh begitu kakinya hendak melangkah melawati pembatas hutan yang tak kasat mata itu.


Bahkan ilmu sihir yang mereka miliki juga tak sanggup menembus pembatas Dark Land sedikitpun.


“ Seperti dugaan, meski sudah menemukan letak kota Dark Land, tapi memasukinya bukanlah hal yang mudah….”, ucap Hilda sambil menghembuskan nafas secara kasar.


Ketiganya terlihat sedang beristirahat sambil berpikir keras untuk menemukan solusi yang tepat. Kembali ke kerajaan Azerbazam bukanlah hal yang bisa mereka lakukan saat ini.


Selain menjadikan usaha mereka  sia – sia, tentunya merek juga harus menyiapkan diri untuk mendapatkan kemurkaan dari Ratu Evanora.


Dan yang paling penting dari semua hal itu, ketika mereka nantinya kembali ketempat yang sekarang, belum tentu posisi Dark Land masih sama.


Menurut rumor yang tersebar, jika kita meninggalkan Dark Land setelah berhasil menemukannya. Saat kita mencoba kembali kesana, kota tersebut sudah tidak ada lagi.


Entah bagaimana hutan yang luas dan lebat itu bisa menghilang begitu saja setelah orang yang menemukannya pergi.


Hal itulah yang sampai saat ini menjadi misteri tentang keberadaan sebenarnya posisi kota Dark Land, selain mereka masih berada di kawasan bagian utara.


Saat semua orang terlihat berpikir keras, tiba – tiba Emeralda bangun dari tempat duduknya dan menuju pohon besar yang posisinya sedikit jauh dari tempat mereka beristirahat sekarang.


.Emerlda terlihat mengamati pohon besar tersebut yang ternyata memiliki lubang di tengah - tengah batanngnya.


Setelah menyingkirkan semak yang menutupi lubang, dapat Emerlda lihat jika lubang pohon tersebut cukup besar hingga bisa menampung lima orang sekaligus didalamnya.


 " Teman - teman...lihat sini !!!....", teriak Emerlda kencang.


Belatrix dan Hildapun segera menuju tempat dimana sahabat mereka tersebut melambaikan tangannya untuk memanggil mereka.


“ Kenapa selama ini kita tak pernah melihat pohon besar ini….”, ucap Hilda takjub.


Diapun segera menggunakan tongkat sihirnya untuk membersihkan bagian dalam lubang pohon tersebut agar bisa ditempati.


“ Kita bisa beraktivitas disini untuk sementara waktu….”, ucap Emeralda tersenyum lebar.


Belatrix dengan tongkat sihirnya segera mengeluarkan tungku hitam besar serta beberapa alat lainnya yang biasa mereka gunakan.


“ Apa kamu ingin membuat ramuan sihir untuk mengecoh mereka ?....”, tanya Hilda antusias.


Dengan kedua mata berbinar Hilda membayangkan jika Belatrix akan membuat ramuan agar tubuh ketigannya bisa menjadi seperti bangsa Dokkalfar.


“ Tidak…ada bagian special yang ada dalam tubuh mereka yang tak bisa kita duplikasi hanya dengan menggunakan ramuan…”, ucap Belatrix santai.


“ Aku akan mencoba berkomunikasi dengan keturunan Gullveig terlebih dahulu…”, Belatrix baru kepikiran ide ini tadi pagi saat menyantap roti gandum untuk sarapan.


“ Apa kamu sudah mengetahui siapa keturunan Gullveig yang kita cari ?....”, Hilda terlihat penasaran dengan sahabatnya itu.


“ Tidak….”, ucap Belatrix santai.


“ Lalu…bagaimana cara kamu berkomunikasi dengannya ?....”, tanya Hilda dengan tatapan penasaran.


“ Hanya keturunan penyihir hitam yang aku kehendaki saja yang bisa aku ajak berkomunikasi lewat air, yang lainnya tidak akan bisa melihatku jika aku tak ingin…..”, ucap Belatrix santai.

__ADS_1


Dia terus saja memasukkan beberapa bahan yang ada disampingnya kedalam tungku hitam besar tersebut sambil sesekali berkomat – kamit membaca mantra.


Bushhhh…..


Cairan hijau pekat muncul keudara menandakan jika ramuan yang ada ditungku tersebut telah berhasil dibuat.


Belatrix segera memasukkan cairan berwarna hijau pekat tersebut kedalam botol – botol kecil yang telah disiapkannya.


Selanjutnya, diapun menyimpan botol – botol tersebut kedalam kantong ramuan miliknya dan menyelipkannya dibalik mantel bulu yang dipakainya.


“ Kapan rencananya kamu akan coba berkomunikasi dengannya ?....”, Hilda terlihat masih penasaran akan hal itu.


“ Sepecepatnya, setelah ramuanku ini selesai….”, ucap Belatrix acuh.


Diapun kembali membuat ramuan yang baru setelah tungku hitam sebelumnya telah dibersihkan menggunakan tongkat sihirnya.


Segala hal bisa terjadi disini, jika sihirnya tidak bisa diandalkan setidaknya dia memiliki stock ramuan yang bisa dia pergunakan disaat genting.


Belatrix memang seseorang yang memperhitungkan semuanya dengan cermat. Baginya sedia payung sebelum hujan lebih baik dari pada binggung dan mulai bertindak disaat musibah datang.


Sementara itu dikeraajaan Epes, Tiffani sejak semalam terlihat gelisah. Diapun mencari tetua Otsana untuk berdiskusi, siapa tahu dia mendapatkan pencerahan dari tetua Red Moon pack tersebut.


Begitu melihat lelaki tua tersebut berada ditaman setelah memberi arahan kepada Isabella, Tiffanypun menghampirinya.


“ Ada apa ?...kenapa kamu kelihatan gelisah seperti itu ?....”, ucap tetua Otsana dengan tatapan penuh selidik.


“ Kamu tahu Gullveig ?...”, tanya Tiffany dengan wajah cemas.


“ Ada salah satu keturunan Gullveig yang mewarisi kekuatan hitam tersebut. Dunia akan benar – benar hancur jika kekuatan hitam tersebut muncul kembali….”, ucap Tiffany panik.


“ Tenanglah…kekuatan Isabella sudah hampir sempurna. Aku yakin, kali ini keturunan Gullveig tak akan bisa dengan mudah mengacau seperti kakeknya dulu. Apalagi kita memiliki bunga gloxinia yang dapat menghilangkan kekuatannya dalam sekejap….”, ucap Otsana memberi penjelasan agar Tiffani bisa lebih tenang.


“ Sayangnya, penglihatanku itu tak bisa menunjukkan waktu yang pasti kapan kejadian itu akan berlangsung. Yang jelas, saat itu kegelapan mulai menelan dunia immortal dan kekacauan terjadi dimana – mana. Suara teriakan kesakitan terus menggema…..”, ucap Tiffany sedih.


Ini sudah dua kalinya dia mendapat penglihatan seperti itu, dan kali ini gambaran yang ada dalam penglihatannya itu lebih jelas jika dibandingkan dengan sebelumnya.


Diapun kembali mengingat kejadian mengerikan yang sempat dilihatnya dalam dua hari terakhir ini.


Makhluk langit hanya mampu menatap dari atas tanpa bisa melakukan apapun saat kegelapan dan ketidak adilan merajelela.


Suara teriakan minta tolong dan tangisan kesakitan masih terdengar jelas ditelingga Tiffany. Tapi yang membuatnya penasaran, dalam penglihatannya itu dia sama sekali tak melihat Isabella disana.


“ Kemana gadis itu ?...bukankah dia sang terpilih ?....”, batin Tiffany penasaran.


Melihat Tiffany terus saja melamun, Otsana segera menepuk pundaknya pelan sambil berkata “ Semua sudah ditakdirkan dan kita hanya berupaya untuk menjalankan sebaik mungkin….”.


Tanpa sepengetahuan semua orang, hari ini Isabella pergi ke Red Moon Pack untuk bertemu dengan kekasihnya melalui teleportasi.


Kali ini, Isabella tak mengalami kendala apapun selama berteleportasi karena dia sudah banyak berlatih melakukan hal tersebut selama berada di kerajaan Epes.


“ Apa Alpha ada didalam ?....”, bisik Isabella tepat ditelingga Morgan.


Morgan langsung berjingkat terkejut mendapati Isabella sudah berdiri sambil tersenyum manis disampingnya.

__ADS_1


“ Luna ?...”, ucap Morgan sambil berjalan mundur.


Isabella terkekeh pelan melihat Morgan masih terkejut akan kedatangannya yang secara tiba - tiba tanpa disadari oleh semua orang.


“ Apakah Scoth sibuk ?....”, tanya Isabella lagi.


“ Tidak…sudah dua hari ini Alpha hanya melamun sambil menetap keluar jendela. Sepertinya, dia sangat merindukan anda, Luna. Hingga jiwa Alpha seperti tak ada dalam tubuhnya saat ini…”, ucap Morgan mengadu.


Morgan dibuat pusing tujuh keliling oleh kelakuan Alphanya selama dua hari ini. Scot sudah seperti orang linglung yang tak memiliki jiwa.


Dia hanya melamun sepanjang hari sambil menatap keluar jendela tanpa melakukan apapun. Alhasil, semua tugasnya menjadi terbengkalai dan jika sudah begini maka dialah yang akan semakin sibuk dibuatnya.


“ Baiklah…aku akan masuk dan mengembalikan jiwa Alphamu itu ketubuhnya….”, ucap Isabella sambil terkekeh.


“ Ya…semoga saja kedatangan Luna bisa membuat Alpha Scoth kembali bersemangat…”, batin Morgan sambil berjalan turun kebawah untuk kembali menyelesaikan tugas – tugas yang menantinya.


Seperti apa yang diucapkan Morgan, Isabella melihat kekasihnya itu berdiri mematung sambil menatap keluar jendela.


Entah apa yang dilihatnya hingga dia tak menyadari kedatangannya. Dari belakang, Isabella segera memeluk tubuh kekar tersebut sambil berkata lirih “ I miss u Scoth….”.


Melihat kekasihnya sama sekali tak bereaksi membuat Isabella sedikit tak senang. Diapun membalik paksa tubuh Scoth hingga menghadap kearahnya.


“ Scoth…apa kau tak merindukanku ?...”, ucap Isabella sambil membentangkan kedua tangannya, meminta agar kekasihnya itu memeluknya.


Scoth beberapa kali terlihat mengerjapkan kedua matanya. Berusaha mengusir bayangan sang kekasih yang saat ini ada dihadapannya.


“ Tampaknya, aku benar – benar sudah gila hingga melihat Isabella ada dihadapanku…..”, batin Scoth sedih.


“ Bahkan aroma tubuhnya terasa sangat nyata. Dan suara merdu ini….”, Scoth terlihat menggeleng – gelengkan kepalanya, berusaha mengusir halusinasi yang mulai hadir dihadapannya.


Isabella yang merasa kekasihnya sedikit linglung langsung berjalan mendekat dan tanpa aba – aba dia segera mengecup bibir sang kekasih.


Kecupan lembut tersebut berubah menjadi c****n panas membara\, menyalurkan semua kerinduan yang ada dalam jiwa.


Scoth sudah tak perduli lagi ini nyata atau hanya halusinasi yang muncul karena kegilaan akibat menahan rasa rindu yang teramat dalam untuk sang kekasih.


Tak terasa, posisi mereka sudah berpindah dari atas meja kerja sekarang keduanya sudah berada diatas sofa dan saling bercumbu mesra.


Bibir Isabella terlihat sedikit bengkak dan berwarna merah kebiruan akibat di gigit dann dihisap dengan kuat oleh Scoth.


“ Eummm…Scoth, stoppp….”, teriak Isabella sambil mendesah waktu tangan Scoth sudah bergerak liar diseluruh tubuhnya.


Leher jenjang Isabella sudah penuh dengan bercak merah keungguan akibat ulah kekasihnya itu. Hingga dorongan keras Isabella membuat Scoth terpental dan jatuh kelantai.


“ Aughhhhh….”, rintih Scoth sambil mengusap – usap pantatnya yang sedikit sakit.


Namun, begitu kesadarannya terkumpul, kedua mata Scoth bersinar cerah dan segera berdiri langsung memeluk Isabella dengan erat.


“ Sayang…ini benar – benar kamu !!!....”, ucap Scoth sambil mencubit bibi Isabella hingga melebar kesamping.


“ Bukan !!!…ini hantunya Isabella !!!...”, ucap Isabella sewot.


Scoth pun segera membujuk kekasihnya agar tak lagi marah dengan merajuk manja kepada sang kekasih yang sangat dirindukannya itu.

__ADS_1


__ADS_2