
Sesuai dengan namanya, pegunungan iblis adalah tempatnya para iblis berbahaya dibuang dan diasingkan.
Meski mereka sangat berbahaya dan kuat, namun semua iblis yang terkurung di pegunungan ini tak bisa bebas keluar dan hanya bisa memangsa siapapun yang kebetulan masuk kedalamnnya.
Jika Alatariel merasakan bahwa rintangan yang akan dihadapinya kali ini akan terasa sangat sulit, feelingnya tersebut adalah benar adanya.
Karena dengan kemampuannya yang sekarang, meski dia sebagai salah satu keturunan elf kegelapan dan memiliki kemampuan sihir yang diturunkan oleh nenek moyangnya, nyatanya hal tersebut masih belum bisa digunakan untuk menghadapi para iblis yang tinggal disana yang jumlahnya tak sedikit itu.
Kenyataan bahwa para iblis disana tak bisa keluar karena adanya kekuatan besar yang mengurung mereka disana sedikit banyak membuat mereka akan melampiaskan kemarahan yang ada didalam hati mereka begitu ada seseorang yang masuk kewilayah mereka.
“ Tampaknya ada mangsa baru yang masuk…. ”, ucap salah satu ibis dengan smirk devilnya.
“ Baiklah…kita akan bersenang – senang dengannya….”, ucap yang lainnya menimpali.
“ Kuharap kali ini mainan kita kuat hingga kita bisa bermain lama dengannya….”, ucap yang lainnya sambil tertawa.
Alatariel tak menyadari jika kedatangannya tersebut telah membuat para iblis disana bersemangat.
Semua pasang mata menatapnya dengan penuh minat, seolah – olah mainan baru yang datang tersebut sangatlah menarik.
Semakin masuk kedalam, bulu kudu Alatariel semakin berdiri tegak. Perasaan takut terasa semakin kuat.
Suatu hal yang selama ini belum pernah Alatariel rasakan sebelumnya. Perasaan takut ini sangat tak nyaman baginya dan membuat nyalinya sedikit menciut.
Namun dia berusaha untuk menguatkan kembali tekadnya untuk bisa mencapai lembah kematian demi mendapatkan death sword (pedang hitam).
Sesulit apapun rintangan yang akan dihadapinya tak boleh membuatnya goyah demi mengembalikan puncak kejayaan penyihir hitam dan mengembalikan nama baik mereka setelah berhasil dikalahakan dengan mudah oleh kerajaan Epes.
“ Aku kuat dan tak terkalahkan….”, batin Alatariel berusaha utuk menyemangati dirinya sendiri.
Untunng saja dalam pegunungan iblis ini dia bisa menggunakan sihir hitam miliknya dengan bebas.
__ADS_1
Hal tersebut tentu saja membuat semangatnya kembali berkobar. Rasa takut yang tadi sempat hinggap perlahan mulai memudar seiring dengan semangatnya yang mulai membara dalam dirinya.
Alatariel pun melangkah dengan mantap dan penuh percaya diri. Seolah rintangan besar yang akan menghalanginya didepan bisa dia selesaikan dengan mudah.
Para iblis semakin bersemangat begitu melihat aura kegelapan semakin kuat menyelimuti tubuh krcaci kecil tersebut.
“ Menarik….”
“ Kekuatan gelap yang ada dalam diri kurcaci hitam tersebut tampak sangat lezat….”
“ Aku sudah tak sabar untuk mencicipinya….”
Ucap para iblis senang dan bergairah. Bahkan beberapa iblis sudah meneteskan air liur begitu aura kegelapan mulai menyelimuti tubuh Alatriel.
Semakin masuk kedalam, cahaya minim yang tadi menyinari perlahan mulai menghilang berganti dengan kegelapan.
Alatariel pun langsung mengeluarkan tongkat sihirnya dan membuat api terbang untuk menerangi langkahnya.
Begitu juga dengan indera pendengaran dan menciumannya yang dipergunakan secara maksimal untuk waspada penuh akan kondisi sekitar.
Wushhhh…..
Kepala manusia dengan mata merah melotot dan lidah menjulur lewat begitu saja dihadapannya disusul denagn bola – bola api lebih besar dari miliknya mulai terlihat mengelilingi tubuhnya.
“ Naskastraf….”, terial Alatariel sambil mengarahkan tongkat sihirnya ke berbagai penjuru munculnya musuh.
Melihat Alatariel dengan mudahnya menyingkirkan kepala terbang dan bola api tersebut membuat para iblis tersenyum senang.
“ Lumayan juga….”, ucap para iblis setelah sambutan mereka dilenyapkan begitu saja oleh Alatariel.
Satu persatu iblis bersemangat untuk mencoba kekuatan yang dimiliki oleh Alatariel yang lagi – lagi bisa diatasi oleh elf kegelapan tersebut dengan mudah.
__ADS_1
Pada saat semua iblis bersemangat untuk menguji kekuatan mainan mereka, Alatariel merasa sedikit kewalahan menghadapi serangan demi serangan yang datang kepadanya.
“ Sial !!!..kenapa mereka seakan tak ada habisnya….”, ucap Alatariel geram.
Meski begitu dia terus berusaha untuk membasmi serangan demi serangan yang ditujukan kepadanya tanpa tahu siapa yang berada dibalik serangan tersebut karena tak terlihat.
Alatariel yang energinya mulai menipis berusaha untuk melarikan diri namun selalu gagal karena setiap gerakannya seolah bisa terbaca dengan jelas oleh musuh – musuhnya.
“ Tidak bisa seperti ini….aku harus secepatnya pergi dan memulihkan energy tubuhku….”, batin Alatariel resah.
Glukkkk…..glukkkk…..glukkk….
Untuk kesekian kalinya dia meminum ramuan meningkat energy tubuh secara cepat. Pada saat botol terakhir habis, Alatariel pun berusaha keras untuk mencari jalan keluar yang ada.
Beberapa kali dia mencoba untuk berteleportasi karena cara inilah yang dianggapnya paling mukdah untuk melarikan diri tapi lagi – lagi usahanya gagal.
Seakan ada tenaga besar yang menghalanginya untuk bisa berteleportasi dari tempat tersebut membuat Alatariel mulai putus asa.
“ Mau melarikan diri ya…oh, tidak bisa….”, ucap salah satu iblis tersenyum lebar waktu menyadari jika mainannya berusaha untuk melarikan diri dengan melakukan teleportasi.
Alatarielpun terpaksa menyambut serangan demi serangan yang terus datang kepadanya tanpa henti.
Higga dia tersadar jika masih memiliki bom asap kecil yang mungkin bisa membantunya kabur dari tempat tersebut.
Duarrr….
Wushhhh….
Asap tebal mulai menyelimuti tubuh munggil Alatariel dan sedetik kemudian elf kegelapan tersebut sudah menghilang tanpa jejak.
“ Sungguh – sungguh menarik…..”, ucap para iblis tesenyum lebar melihat buruannya berhasil melarikan diri dari jebakan yang telah mereka buat.
__ADS_1