
Dikerajaan Equestria, Anggela terlihat sangat sedih waktu dia dan suaminya tak dapat menemukan sosok Isabella hingga malam menjemput.
Marie yang melihat putri bungsunya sangat sedih berusaha untuk menghiburnya dengan mengatakan bahwa dia akan membantu untuk menemukan keberadaan cucunya tersebut dengan kekuatannya.
Wanita tua itupun segera masuk kedalam ruangannya untuk mencari keberadaan sang cucu. Dirinya sangat khawatir jika ada orang yang menemukan dan memanfaatkannya.
Dengan gontai, Anggela yang sudah lelah fisik dan psikisnya akhirnya menurut waktu suaminya mengajaknya untuk beristirahat didalam kamar.
Sementara itu Roland dan Jennie terlihat sangat gelisah waktu mendengar jika sang nenek turun tangan untuk menemukan keberadaan Isabella.
Mereka hanya bisa berharap jasad Isabella selamanya tak akan ditemukan hingga tidak ada bukti apapun yang bisa menyeret atas tindakan kejam yang mereka berdua lakukan.
Sementara itu di Red Moon pack Isabella kembali tertidur pulas waktu dokter memberikannya obat untuk meredakan rasa nyeri yang ada ditubuhnya.
“ Luna harus banyak beristirahat agar kondisi tubuhnya cepat pulih…”, ucap dokter tersebut menjelaskan.
Melihat ada sedikit keraguan dalam perkataan Lawrence, Scothpun segera mengajak dokter packnya tersebut kedalam ruang kerjanya.
“ Ada apa ?...”, tanya Scoth tajam.
Melihat Alpha Scoth menatapnya tajam, Lawrencepun mulai membuka suara, menyampaikan kecurigaannya waktu meneliti kandungan darah yang ada dalam tubuh Luna nya tersebut.
“ Bagaimana bisa ?...apa kamu berpikir jika itu dia ?...”, ucap Scoth dengan tatapan tajam.
“ Kita harus memastikan hal ini pada tetua, Alpha…”, ucap Lawrence memberi saran.
“ Berapa lama dia kan tertidur ?...”, tanya Scoth dengan tatapan menyelidik.
“ Luna akan tertidur sepanjang malam….”, ucap Lawrence menjelaskan.
Mendengar penjelasan Lawrence, Scoth pun segere memerintahkan Morgan untuk menjaga mate nya selama dia pergi menemui tetua Warewolf yang mendiami gunung Hui.
“ Bawa sampel darah yang kamu teliti…”, perintah Scot tajam.
Lawrence pun bergegas kembali kedalam laboratoriumnya untuk mengambil sample darah yang dia simpan dalam tabung kecil.
Perlahan Scoth berjalan mendekat kearah ranjang dimana gadis kecilnya tertidur pulas. Dengan lembut dia mengecup kening matenya itu sambil membisikkan sesuatu.
“ Aku akan pergi sebentar. Aku berjanji akan kembali sebelum matamu terbuka…”, bisik Scoth lembut.
Diapun segera melesat pergi saat melihat Lawrence sudah siap dengan segala hal yang akan ditanyakan pada tetua Otsana.
Selama perjalanan, Scoth tak henti – hentinya mengamati kondisi teritorialnya dan memberi peringatan kepada para warrior yang berjaga agar jangan sampai lengah.
__ADS_1
Tak membutuhkan waktu lama, keduanya sudah berada di bawah pegunungan Hui dalam wujud serigala.
Tetua Otsaka yang sudah mengetahui kedatangan keduanya segera menyambut keduanya begitu Scoth dan Lawrence tiba digerbang kediamnnya.
“ Silahkan masuk Alpha…”, ucap Otsana sopan.
Tak ingin membuang waktu lagi, keduanya segera menceritakan tujuan mereka datang kepegunungan Hui untuk menemui tetua Otsana.
Tanpa banyak bicara, Otsana segera membawa sample darah Isabella menuju kepekarangan yang ada di belakang rumahnya.
Dia segera mengais tanah yang di gunakan untuk mengubur burung kakak tua kesayangannya yang pagi tadi meninggal.
Saat setetes darah Isabella menyentuh mulut sang kakak tua, cahaya terang langsung memendar keseluruh area.
Tak lama kemudian, buruk kakak tua putih tersebut perlahan mulai membuka mata dan bangkit dari kematiannya.
Scoth dan Lawrence tak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya. Keduanya kompak membelalakkan kedua matanya hingga membulat sempurna.
“ Dia adalah holy blood girl yang sudah ditakdirkan. Beruntung bagi pack kita bisa mendapatkan Luna sehebat itu karena dia adalah matemu…”, ucap Otsana sambil menepuk pundak Scoth dengan bangga.
“ Perketat penjagaan, jika sampai ada yang mengetahui jika gadis itu ada di pack bukan tidak mungkin semua orang akan berusaha untuk merebutnya…”, ucap Otsana memperingatkan.
Tanpa tetua Otsana ingatkan, Scoth tentunya akan melindungi matenya sekuat tenaga meski nyawa menjadi taruhannya.
Mendengar penjelasan sang Alpha, tetua Otsana pun segera bangkit dari tempat duduknya. Dia harus memastikan sendiri jika gadis yang menjadi mate Alphanya itu adalah Holy Blood Girl yang telah ditakdirkan.
“ Aku akan ikut dengan kalian…”, ucap Otsana dan bergegas menyiapkan perlengkapan yang akan dia bawa.
Dia perlu melihat langsung siapa gadis berdarah suci yang sudah diramalkan kehadirannya tersebut dan sampai sejauh mana gadis itu sudah berkembang.
Jika dari pertama kali tanda tersebut muncul, setidaknya gadis kecil itu baru berusia sepuluh tahun setelah dia menghilang setelah dilahirkan.
Ketiganyapun segera berubah wujud menjadi serigala agar bisa kembali ke Red Moon pack dengan cepat.
Tepat tengah malam ketiganya sudah berada di istana Red Mood dan Alpha scoth segera menyuruh para omega untuk menyiapkan kamar bagi tetua Otsana.
Sementara Lawrence kembali ke kediamannya untuk beristirahat, sama seperti Scoth yang langsung meluncur menuju kamarnya dan membiarkan Morgan untuk beristirahat.
Sepanjang malam Scoth brusaha untuk mengontrol monster yang ada dalam dirinya agar tidak menerjang matenya dan menandainya secepatnya.
“ Tahan Melvin !!!...dia masih bocah !!!...”, Scot mengeram marah waktu mengetahui jika Melvin sudah tak sabar ingin menjadikan gadis kecil itu miliknya seutuhnya.
Sebenarnya bukan hanya Melvin yang tergoda, Scoth pun terlihat beberapa kali menelan air liurnya waktu melihat pemandangan indah di depannya.
__ADS_1
Aroma vanilla yang hangat dan memabukkan sekaligus menenangkan\, rambut yang berantakan\, wajah cantik putih bersih tanpa make up dengan bibir tipis yang sedikit terbuka\, sungguh mengundang untuk di c**m dan di l***t habis – habisan.
Leher jenjang Isabella yang terlihat menggoda untuk dia c**m dan memberikan tanda kismark sebanyak mungkin agar seluruh dunia tahu bahwa wanita itu adalah miliknya.
Hanya dengan memikirkan hal tersebut saja monster yang ada dalam dirinya terus berontak ingin keluar.
Scothpun berusaha untuk memejamkan mata, berusaha untuk tak memikirkan apapun hingga suara Isabella membuatnya kembali membuka mata.
“ Akhhh….”, rintih Isabella saat berusaha menggerakkan tubuhnya kesamping.
“ Sebaiknya kau tidak banyak bergerak nona…”, ucap Scoth terputus.
“ Aku tidak akan memberitahu namaku pada orang asing !!!... ”, ucap Isabella ketus.
Bukan hanya kepada Scoth saja, Isabella juga tidak menyebutkan namanya waktu ibunda Scoth menanyakannya pada saat menjenguknya sore tadi.
Dia masih belum mempercayai semua orang yang berada dirumah tersebut, mengingat jika tubuhnya masih sakit sehingga tidak bisa ke mana – mana.
Scoth yang merasakan kewaspadaan sangat tinggi dari mate nya berusaha untuk bersikap baik dan lembut.
“ Scoth Wilson itu namaku dan kamu bisa memanggilku Scoth..”, ucap Scoth sambil tersenyum
“ Aku tidak tanya !!!.... ”, Isabella masih tetap berbicara dengan nada ketus.
Isabella yang berusaha untuk menampilkan wajah jutek tak bisa menahan malu waktu mendengar perutnya berbunyi dengan lantang berulang kali.
“ Baiklah nona, tunggu disini… para omega akan membawakan makanan untukmu… ”, ucap Scoth sambil tersenyum manis sebelum berlalu.
Sebenarnya Scoth tak perlu keluar kamar dan hanya perlu memindlink omeganya, maka makanan akan langsung datang sendiri kedalam kamar.
Tapi melihat jika gadisnya pasti sangat malu, maka diapun memberikan mate nya tersebut waktu untuk sendiri.
Isabella segera menutupi wajahnya dengan kedua tangannya waktu perutnya itu tak berhenti berbunyi. Dia sama sekali tak menyangka akan mendapatkan malu seperti ini.
Padahal tadi dia sudah memasang wajah jutek dan menakutkan agar lelaki asing tersebut segera pergi, namun suara perutnya yang diluar kendalinya meruntuhkan semua harga dirinya dalam sekejap.
“ Perut sialan…kenapa juga berbunyi pada saat tidak tepat….”, ucap Isabella kesal.
Tanpa Isabella sadari Scoth yang masih berada dibalik pintu tersenyum simpul mendengar semua celotehan mate nya didalam kamar.
Saat ini Scot merasa jika bunga – bunga dalam hatinya mulai tumbuh dengan subur. Hatinya yang selama ini dingin perlahan mulai menghangat.
Elina yang sudah terbiasa bangun dini hari terlihat bahagia waktu melihat senyum merekah diwajah putranya.
__ADS_1
“ Semoga gadis itu bisa menghilangkan musim dingin dihati putraku dan mengantinya denagn musim semi yang hangat…”, batin Elina bahagia.