HOLY BLOOD GIRL

HOLY BLOOD GIRL
BAHAGIA


__ADS_3

Setelah memastikan kondisi tubuh Isabella sudah pulih, Elenapun dengan berat hati mengantar Isabella kedepan ruangan pribadi putranya.


“ Jika Scoth menyakitimu, teriaklah dengan keras. Ibunda akan segera menolongmu….”, ucap Elena berpesan.


“ Baik ibu…”, ucap Isabella sambil tersenyum lebar.


Dengan hati berdebar, Isabella mulai membuka kenop pintu ruangan pribadi Scoth dan mulai melangkah masuk.


Kedua matanya disambut oleh ruangan yang sudah mirip seperti kapal pecah dengan aneka pecahan benda yang berserakan diatas lantai.


Isabella menyapu bersih ruangan tersebut, namun sosok yang dicari tak kunjung dia temukan. Hal itu membuat Isabella semakin gelisah.


Diapun mulai berjalan perlahan, menghindari pecahan kaca yang ada dilantai agar tidak menyakiti kakinya meski dia sudah menggunakan alas kaki.


Hingga tetesan darah segar dilantai menuntunnya pada seekor anjing hitam besar sedang meringkuk dibawah meja kerja Scoth.


“ Tunggu….ini bukan anjing, tapi serigala hitam yang waktu itu bertarung…”, batin Isabella mencoba mengali ingatannya.


Serigala hitam tersebut menatap Isabella dengan sedih sambil meringkuk dilantai.


Dia menatap nanar kearah matenya tersebut, hanya terdiam tak bergerak. Melvin sangat takut jika kehadirannya yang menyedihkan saat ini akan membuat gadis itu semakin membencinya.


“ Aku tidak suka anjing berbulu hitam…”, kata – kata itu terus terngiang diatas kepalanya.


Membuat dadanya terasa berdenyut, sakit. Bahkan Melvin tak memperdulikan luka yang ada dikakinya karena saat ini hatinya lebih sakit dari pada luka yang ada ditubuhnya.


Melihat serigala hitam tersebut seperti menahan rasa sakit akibat luka yang ada dikakinya, perlahan Isabella mengulurkan tangannya dan mengusap lembut kepala serigala hitam tersebut.


Melvin yang menyadari jika matenya membelai kepalanya spontan menjilati telapak tangan Isabella hingga membuat gadis kecil itu terkikik kegelian.


“ Hey…kamu terluka…aku akan mengobati luka dikakimu dulu baru kita bermain…”, ucap Isabella sambil mengangkat satu kaki depan Melvin yang mengeluarkan darah untuk dia obati.


Dengan penuh konsentrasi, Isabella mengarahkan telapak tangannya ke luka yang ada dikaki Melvin.


Sinar kuning yang hangat terlihat menyelimuti luka tersebut hingga perlahan luka yang terbuka lebar dan mengeluarkan darah menutup dan menghilang tanpa bekas.


Setelah satu kaki sembuh, Isabella segera mengambil satu kaki Melvin yang lainnya dan mengobatinya.


Selanjutnya, Isabella meneliti tubuh Melvin, mencari apakah ada luka lainnya disana. Serigala tersebut sangat senang disentuh seperti itu oleh matenya.


Dengan spontan diapun mulai mengendus – endus leher Isabella dan menjilatinya, membuat gadis cantik tersebut tertawa terpingkal – pingkal.


Keduanya terlihat bermain dengan riang gembira dibawah meja kerja Scoth tanpa menghiraukan sang pemilik tubuh yang  sudah cemberut karena dongkol.


“ Kenapa dia tidak pernah selembut itu kepadaku ?...”, ucap Scoth penuh kecemburuan.

__ADS_1


“ Itu karena aku lebih tampan darimu…”, ucap Melvin mengejek.


Melvin sangat bahagia melihat matenya ternyata tidak membencinya seperti apa yang dia ucapkan kepada Scoth.


Setelah puas bermain, Isabella yang kelelahan segera duduk diatas sofa dan menyandarkan tubuhnya kebelakang.


Melihat hal itu, Melvin langsung tidur dipangkuan matenya dan meminta Isabella untuk membelai kepalanya.


Sambil terkikik, Isabellapun menuruti keingginan serigala berbulu hitam tersebut yang sekarang terlihat seperti anak anjing kecil yang mengemaskan.


Sangat berbeda jauh dengan pertama kali gadis itu melihatnya untuk pertama kali. Meski samar – samar namun dia masih ingat jika serigala berbulu hitam tersebut terlihat sangat garang dan buas.


“ Jika serigala berbulu hitam semengemaskan ini aku pasti menyukainya…”, guman Isabella pelan.


Melvin yang mendengar ucapan matenya tentu sangat bahagia. Diapun mulai menyombongkan diri kepada Scoth bahwa sang mate lebih menyukainya.


Scoth yang melihat Melvin terus bermanja – manja dipangkuan Isabella berusaha untuk merebut kembali tubuhnya, tapi Melvin menolaknya dengan keras hingga membuat lelaki itu hanya bisa cemberut menahan kecemburuannya.


“ Kenapa gadis itu begitu memanjakanmu ketimbang aku…”, ucap Scot kesal.


“ Itu karena dia lebih menyayangiku daripada dirimu….”, ucap Melvin bangga.


Scoth hanya bisa mengeram marah melihat kesombongan yang ditunjukkan oleh Melvin kepadanya.


Setelah gadis itu terlelap, Scoth yang sudah bisa mengambil alih tubuhnya perlahan mulai berdiri dan  mengangkat tubuh munggil Isabella untuk dipindahkan kedalam kamarnya.


“ Bersihkan semuanya !!!...”, Scoth memindlink omeganya agar segera membereskan ruang pribadinya.


Setelah membaringkan tubuh Isabella diatas ranjang, Scoth hanya bisa menatap matenya yang terlelap dengan kebahagiaan.


Rasanya, hatinya yang dingin dan kosong perlahan mulai menghangat dan terisi. tanpa sadar, senyum merekah diwajah tampannya.


Melihat gadisnya tidur tak tenamg, perlahan – lahan  Scoth mulai meletakkan kepala Isabella di lengan kirinya dan memiringkan tubuh gadis kecil itu agar menghadap kearahnya.


“ Eughhh….”, Isabella melengkuh pelan sambil menyusupkan tubuh munggilnya dalam dekapan Scoth, mencari kenyamanan.


Tubuh Scoth seketika menegang waktu tubuh munggil Isabella menempel lekat didada bidangnya.


Meski bagian tubuh gadis tersebut masih belum berkembang secara sempurna, namun tak ayal aroma memabukkan yang menguar dari tubuh Isabella membangkitkan gairahnya.


Scoth yang dipeluk dengan erat oleh Isabella, dengan ragu – ragu berusaha menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah dan leher gadis itu.


“ Aromahmu sungguh luar biasa mate…”, guman Scoth terlena.


Dengan gerakan lambat Scoth mulai mendekatkan wajahnya keceruk leher Isabella,  menghirup sepuas – puasnya aroma vanilla white musk yang menguar dari leher gadis kecil itu.

__ADS_1


Tanpa sadar, Scoth mulai memberikan kecupan – kecupan kecil disepanjang leher Isabella yang tentunya pasti akan menimbulkan bekasmerah keungguan dileher putih jenjangnya.


“ eummm….”, desah Isabella lirih.


Suara ******* Isabella  seketika membuat Scoth segera tersadar dari hal gila yang dilakukannya malam ini.


“ Shittt !!!….”, umpat Scoth pelan.


Hampir saja dia hilang kendali dan menerkam Gadis kecil cantik yang saat ini ada dalam pelukannya.


“ Bersabarlah ..tunggu tujuh tahun lagi baru kita bisa memiliki gadis itu seutuhnya….”, ucap Melvin menasehati.


“ Ohhh…...aku rasanya sudah tak sanggup lagi jika harus seperti ini terus…”, ucap Scoth dalam hati.


Diapun terus saja berbicara dengan Wolfnya dalam hati, mendiskusikan banyak hal. Ini Scoth lakukan agar dirinya tidak kembali hilang kendali yang nantinya akan disesalinya seumur hidup.


Sementara itu, ratu Marie yang sudah mengetahui keberadaan Isabella segera memberitahukan kabar tersebut kepada anak dan menantunya.


“ Benarkah itu bu ?….”, ucap Anggela dengan kedua mata berbinar.


“ Bagaimana keadaan Isabella ?...apakah dia terluka ?....”, Anggela pun mulai mencerca ibundanya dengan berbagai macam pertanyaan.


“ Honey…tenanglah…biarkan ibu menjelaskan semuanya…”, ucap Athur lembut.


“ Besok kita akan menjemputnya dan kamu bisa melihatnya sendiri…”, ucap Marie dengan senyum lebar.


Jennie langsung meremas ujung gaunnya dengan kuat waktu mengetahui jika Isabella yang berusaha dia dan kakaknya bunuh ternyata selamat dan besok nenek serta pamanjuga bibinya akan pergi untuk menjemputnya.


Segera saja gadis kecil itu berlari naik kedalam kamar sang kakak yang saat ini sedang membaca buku karena besok dia ada ujian tentang sejarah sihir.


“ Kak…apa yang harus kita lakukan sekarang ?....”, teriak Jennie panik.


Roland yang melihat adiknya sangat panik hanya menautkan kedua alisnya heran. Tapi karena penasaran, diapun segera meletakkan buku yang sedang dibacanya dan mulai fokus kepada Jennie.


“ Ada apa ?...katakan dengan jelas…”, ucap Roland tajam.


“ Isabella kak….isabella selamat. Dan besok nenek, paman dan bibi akan pergi untuk menjemputnya…”, ucap Jennie dengan wajah cemas.


“ Bagaimana mungkin !!!!....”, ucap Roland dengan nada tinggi.


“ Aku tadi mendengarnya sendiri waktu nenek mengatakannya kepada bibi Anggela dan paman Athur di ruang keluarga…”, Jenniepun menjelaskan semua yang dilihat dan didengarnya tadi.


Mendengar semua penjelasan sang adik, Rolandpun terlihat berpikir keras bagaimana kali ini mereka bisa keluar dari masalah besar yang telah mereka perbuat.


Jika sampai sepupunya itu membuka mulut dan neneknya tahu, maka bisa dipastikan kesempatannya untuk bisa menjadi raja Equstria harus dia kubur dalam – dalam.

__ADS_1


__ADS_2