HOLY BLOOD GIRL

HOLY BLOOD GIRL
SCHNEEWALD


__ADS_3

Scoth akhirnya bisa bernafas dengan lega setelah memastikan bahwa para Rogue sudah mundur dari wilayah Red Moon.


Alpha Red Moon Pack tersebut segera fokus pada pembenahan wilayahnya yang hancur akibat serangan para Rogue tersebut.


Selain membenahi wilayahnya, Scoth juga mengantisipasi bahan obat – obatan yang mulai menipis di klinik Lupe dengan mulai membeli bahan obat yang telah habis dari kerajaan tetangga.


Scoth juga memerintahkan para omega untuk menyiapkan makanan bagi para warrior yang kelelahan akibat pertempuran yang tiada habisnya itu dan terluka serta para wanita yang membantu pekerjaan dokter Lupe di klinik.


Setelah semua hal penting di Red Moon Pack sudah bisa dibereskan, Scoth yang berniat untuk menemui sang adik di kerajaan Epes dibuat terkejut dengan kedatangan salah satu elf cahaya, warga Epes yang langsung muncul dihadapannya secara tiba - tiba.


Tak membuang waktu, Elf cahaya tersebut segera menyampaikan pesan singkat yang diberikan oleh tetua Otsana kepadanya.


Tanpa banyak bicara lagi, setelah pesan tersampaikan diapun segera berlalu meninggalkan kerajaan Red Moon Pack secepatnya.


Mendengar jika kekasihnya sedang terbaring dalam kondisi kritis setelah berhasil menyempurnakan kekuatan yang ada dalam dirinya, tubuh Scoth langsung jatuh lunglai kelantai.


Saat ini dia merasa seolah – olah kakinya berubah menjadi jelly sehingga tak mampu lagi menopang tubuhnya untuk berdiri tegak.


Morgan yang berada dibelakang sang Alpha spontan langsung memapah lelaki tersebut agar bisa berdiri dan duduk disebuah kursi yang tak jauh dari tempatnya berdiri tadi.


Scoth terlihat sedikit linglung, alih – alih cemas denagn kondisi sang kekasih saat ini yang dia rasakan adalah ketakutan yang sangat dalam hingga tubuhnya bergetar hebat tanpa diminta.


“ Tenangkan dirimu Alpha, aku yakin, Luna akan baik – baik saja…. ”, ucap dokter Lupe berusaha menghibur.


“ Bawah ini bersamamu….”, dokter Lupe kembali berkata sambil mengeluarkan botol kaca berisi ramuan berwarna biru mudah dari dalam saku bajunya.


Scothpun segera mengambil botol kecil berisi cairan biru mudah tersebut dari tangan dokter Lupe dan mengenggamnya dengan erat.


“ Pergilah…situasi disini biarkan aku dan Morgan yang mengatasinya….”, ucap dokter Lupe sambil menepuk pundak Scoth beberapa kali.


“ Terimakasih…aku percayakan Red Moon Pack kepada kalian….”, ucap Scoth sambil menatap Lupe dan Morgan bergantian sebelum berlalu.


Scoth berlari kencang menuju kamarnya dan segera masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari noda darah Rogue yang berhasil dibasminya tadi.


Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian bersih, Scoth pun segera berteleportasi ke kerajaan Epes.


Melihat sang Alpha sudah datang, tetua Otsana merasa sangat senang. Karena saat ini kondisi Isabella semakin memburuk.


“ Bagaimana kondisinya ?....”, tanya Scoth cemas.


“ Buruk…kuharap kehadiranmu bisa membuatnya sadar sehingga dia bisa memulihkan kembali tenaganya dengan cepat….”, ucap tetua Otsana sedih.

__ADS_1


Tak membuang waktu lagi, Scothpun segera berlari menuju kamar kekasihnya tersebut dengan cepat.


Hati Scoth terasa sangat sakit waktu melihat kekasihnya tersebut terbujur lemas tak berdaya dengan wajah sangat pucat diatas ranjang.


“ Ohhh…tidak…Isabella, kumohon….bangunlah….”, ucap Scoth sedih.


Dia segera memeluk erat tubuh gadisnya yang sedingin es itu. Scoth tak menyukai penampilan Isabella yang seperti ini.


Wajah pucat dan tubuh sangat dingin, mengingatkannya kepada kaum abadi yang telah menjadi musuh bebuyutannya selama ini, bangsa vampire.


Cukup lama Scoth mendekap tubuh munggil tersebut sambil memejamkan kedua matanya, menghirup aroma sang mate yang sangat dirindukannya itu.


“ Bangunlah sayang…jangan membuatku takut seperti ini….”, ucap Scoth sedih.


Melihat Isabella sama sekali tak bereaksi, bahkan suhu tubuhnya juga tak mengalami peningkatan yang pesat membuat air mata Scoth akhirnya lolos juga setelah berusaha untuk ditahannya sejak tadi.


Saat ini Scoth sangat takut jika kekasihnya itu akan meninggalkan dirinya secepat ini. Berulang kali  punggung Isabella dia gosok – gosok agar hangat.


Namun  semua itu tak memberikan pengaruh apapun terhadap Isabella. Meski tubuhnya tak sedingin tadi, tapi juga tak menghangat.


Sementara itu, dialam bawah sadarnya saat ini Isabella sedang berkelana di Schneewald, suatu wilayah yang sama sekali tidak ada matahari disana.


Namun anehnya, berada ditempat seperti itu Isabella  sama sekali tak merasakan dingin meski salju turun deras mengguyur tubuhnya.


“ Apa itu ?....”, batin Isabella penasaran.


Tanpa takut, Isabella segera menghampiri semak – semak putih tertutup salju tersebut waktu melihatnya bergoyang – goyang sendiri tanpa sebab.


Sorot mata Isabella langsung berbinar dengan terang waktu mengetahui jika ada seekor kelinci putih gemuk berada dibalik semak – semak itu.


“ Lucunya….siapa namamu ?....”, tanya Isabella sambil tersenyum lebar.


“ Hallo…namaku Sweetie…kamu siapa ?....”, cicit kelinci tersebut sambil menggoyang – goyangkan ekornya yang pendek.


Meski cukup terkejut melihat ada kelinci bisa berbicara, namun hal tersebut tak membuat Isabella takut. Justru dia sangat bahagia karena ada seseorang  yang bisa ditanyai dan diajaknya berbicara, meski itu hanya seekor kelinci.


“ Hai Sweetie…namaku Isabella….”, ucap Isabella memperkenalkan diri.


“ Senang berkenalan denganmu, kawan….”, ucap Sweetie ramah.


“ Aku juga senang berkenalan denganmu Sweetie…. ”, balas Isabella sambil tersenyum riang.

__ADS_1


Keduanya pun segera melintasi hutan salju tersebut dengan hati gembira. Sweetie yang sudah lama tinggal di  Schneewald menceritakan semua pengalamannya selama berkelana dihutan salju tersebut.


Isabella tampak mendengarkan semua cerita Sweetie dengan seksama. Keduanya akan tertawa terbahak - bahak waktu kelinci putih gemuk itu menceritakan sesuatu hal lucu yang menimpahnya selama melakukan perjalanan.


Keduanya terus berjalan sambil bercerita banyak hal dan keduanya akan berhenti waktu melihat ada pohon buah atau sayur yang bisa dimakan di jalan yang mereka lewati hanya sekedar untuk menganjal perut mereka.


Ditempat tersebut, Isabella bermain dengan kelinci salju yang setia menemaninya sejak dirinya tiba di Schneewald hingga dia lupa waktu.


Hingga suara yang tak asing baginya menggema digendang telingganya memanggil namanya sayup – sayup terdengar.


“ Ada apa ?....”, tanya Sweetie penasaran waktu melihat Isabella tiba – tiba berhenti dan terdiam.


“ Apa kau mendengar itu ?....”, tanya Isabella sambil berusaha menajamkan indera pendengarannya.


“ Mendengar apa ?.....”, tanya Sweetie sambil melebarkan daun telingganya hingga menjulang tinggi ke atas.


“ Aku tak mendengar apa – apa…..”, ucap Sweetie dengan wajah binggung.


Isabella yang merasa jika apa yang didengarnya itu hanyalah halusinasinya saja mulai melangkah maju dan melanjutkan perjalanannya.


Keduanya terus berjalan hingga tiba di sebuah gua yang berselimut salju untuk beristirahat sejenak.


Karena tidak ada matahari maka di Schneewald kita tidak bisa mengetahui kapan siang kapan malam.


Karena semuanya akan sama, tak ada perbedaan sama sekali. Hal tersebut membuat Isabella mulai berpikir jika dunia yang sekarang dia tinggali tidaklah nyata.


Melihat Sweetie tidur dengan nyamannya ditumpukan jerami, membuat Isabella ikut merebahkan tubuhnya disamping kelinci gemuk tersebut.


Baru saja dia menutup mata, suara yang memanggil namanya kembali terdengar. Dan kali ini suara tersebut lebih jelas daripada sebelumnya.


Dengan ragu – ragu, Isabella yang merasa penasaran akhirnya keluar juga dari gua salju menuju sumber suara tersebut berada.


Cukup lama Isabella mengikuti arah suara yang semakin lama tampak semakin jelas terdengar digendang telingganya.


“ Apa itu ?....”, guman Isabella sambil menyipitkan kedua matanya.


Sinar putih yang begitu terang tersebut sangat menyilaukan mata. Membuatnya tak bisa melihat kedepan dengan jelas.


Isabella yang hendak mendekati sinar terang tersebut tiba – tiba saja tubuhnya terpental jauh hingga kepalanya membentur sebuah pohon besar yang ada dibelakangnya hingga tak sadarkan diri.


“ Kamu tidak bisa kembali sekarang. Masih ada misi yang harus kamu jalani disini….”, ucap sebuah suara sebelum pergi meninggalkan Isabella yang terbaring di tumpukan salju dengan kepala berdarah.

__ADS_1


__ADS_2