
Setelah kepergian Scoth, entah kenapa hati Isabella merasa kesal. Mungkin ini juga efek yang dirasakan oleh Scoth berimbas kepada mood Isabella juga.
Sementara itu, diruang pribadinya Scoth yang merasa marah dan kecewa mengobrak – abrik semua isi yang ada dalam ruangan hingga hancur berantakan.
“ Arhhh !!!!….”, teriak Scoth sambil menjambak rambutnya dengan kasar.
Scoth yang memiliki emosi tidak stabil merasa sangat frustasi saat ini. Diapun membanting setiap benda yang bisa digapainya dalam ruangan tersebut hingga jatuh berkeping – keeping.
Dia tidak perduli darah segar yang mengalir dikedua tangannnya. Karena luka tersebut nantinya akan tertutup kembali.
Hanya satu yang dia pikirkan saat ini, matenya. Gadis yang bahkan belum genap dua hari berada di istananya mampu membuat emosinya naik turun seperti ini.
Seluruh penghuni istana terlihat ketakutan dan berusaha untuk memikirkan cara menenangkan Alphanya yang sedang marah besar itu.
Terakhir kali Scoth marah adalah saat kematian ayahnya, hal tersebut mampu membunuh puluhan warrior yang berusaha menenangkannya dan hampir membuat istana Red Mood roboh.
Hanya satu kalimat “ Aku tidak suka anjing berbulu hitam ” mampu membuat Scoth Wilson kehilangan akal sehat.
Elena dan tetua Otsana yang sedang menyantap sarapan di bawah hanya bisa terdiam tanpa bisa melakukan apapun.
Pada saat ini yang ada dalam pikiran keduanya adalah bagaimana kondisi gadis kecil itu sekarang.
Jika untuk Scoth, mereka berdua hanya perlu menunggu Alpha mereka tersebut tenang kembali sebelum mengajaknya berbicara.
“ Bagaimana kalau kita tenangkan gadis itu, aku yakin dia sangat ketakutan mendengar kericuhan ini…”, ucap Otsana memberi saran.
Elena pun mengangguk sebagai bentuk respon atas ucapan tetua Warewolf tersebut.
Keduanya segera bangkit dari tempat duduk dan bergegas naik kedalam kamar sang putra dimana gadis kecil itu berada.
Tok…tok….tok…
Isabella sedikit terkejut waktu mendengar suara ketukan dipintu. Tubuhnya seketika waspada pada saat kenop pintu terbuka.
Waktu melihat wanita paruh baya yang kemarin mengunjunginya tersebut tersenyum hangat, ada kelegaan dalam hati Isabella.
Jujur saja dia saat ini masih belum siap jika harus bertemu dengan Scoth. Mendengarnya membanting semua barang diruang pribadi yang ada disebelah kamarnya, membuat Isabella ketakutan.
Dia sama sekali tak menyangka jika ucapan spontan yang dilontarkannya akan membuat lelaki tersebut murka.
Elena yang melihat jika gadis kecil yang ada dihadapannya tersebut ketakutan segera menghampirinya dan memeluknya dengan erat.
“ Tidak apa – apa. Scoth hanya terlalu banyak pikiran akhir – akhir ini, jadi ibunda harap kamu bisa memakluminya…”, ucap Elena sambil menepuk punggung Isabella dengan lembut.
Berada dalam pelukan Elena, Isabella merasa sangat nyaman. Dia seperti memiliki seorang ibu yang terlihat sedang menenangkan anaknya yang sedang ketakutan.
Setelah dirasa tubuh Isabella sedikit rileks, Elenapun segera melepaskan pelukannya dan disambut dengan senyuman hangat wanita paruh baya yang ada dihadapannya itu.
“ Ibu…eh tante, saya Isabella Adams. Tante bisa memanggil Isabella atau Bella….”, ucap Isabella memperkenalkan diri.
__ADS_1
Elena tersenyum hangat waktu gadis tersebut memperkenalkan diri. Itu artinya dia sudah sedikit mempercayainya, tidak seperti kunjungannya kemarin sore yang terlihat sedikit mendapat penolakan dari gadis kecil tersebut.
“ Panggil ibu saja. Karena sebentar lagi kamu juga akan menjadi anakku…”, ucap Elena ramah.
Meski Isabella tak mengerti makna ucapan Elena, namun untuk menjaga kesopanan diapun menganggukan kepala sebagai respon.
Elena yang melihat hal itu tersenyum bahagia. Meski gadis cantik yang ada dihadapannya itu masih kecil, namun dia sudah menganggap gadis itu sebagai menantu perempuannya dan menyayangi Isabella seperti anaknya sendiri.
Apalagi, Isabella adalah mate putra sulungnya yang otomatis akan menjadi luna dari Red Moon pack.
Tetua Otsana yang sedari tadi memperhatikan semua interaksi yang terjalin antara Elenan dan gadis kecil yang merupakan holy blood girl mulai bersuara.
“ Apa kamu tersesat ?...”, tanya tetua Otsana tenang.
Isabella yang baru menyadari jika ada orang lain selain ibunda Scoth dalam ruangan tersebut terlihat sedikit terkejut.
Meski lelaki tua yang ada dihadapannya tersebut terlihat lemah dan sederhana, namun Isabella dapat merasakan jika kekuatan lelaki tua tersebut sangatlah tinggi.
“ Kamu memang tidak berasal dari masa ini, tapi sejatinya kamu sudah ditakdirkan untuk berada ditempat ini…”, ucap Otsana ambigu.
Meski masih kecil, tapi Isabella yang cerdas mampu menangkap arti yang tersirat dari semua ucapan lelaki tua itu.
“ Aku ingin pergi ke kerajaan Equestria dimana kedua orang tuaku berada dan meminta penjelasan atas semua yang terjadi….”, ucap Isabella datar.
Tetua Otsana tidak bisa menghilangkan rasa keterkejutannya. Diapun kebali mengingat jika Ratu Marie menyapanya tadi malam begitu dirinya tiba di istana Red Moon dalam alam bawah sadarnya.
Mengetahui jika gadis kecil dihadapannya berasal dari kerajaan Equstria, Otsana pun mulai paham akan sapaan yang dilayangkan Ratu Marie kepadanya.
“ Siapa nama orang tuamu ?...”, tanya Otsana penasaran.
Yang dia tahu, Ratu Marie memiliki satu orang putra dan dua orang putri. Namun jika melihat dari umur gadis ini, dia sama seperti putri dari Anggela dan Athur, putri bungsu Ratu Marie.
“ Aku tidak tahu siapa orang tuaku karena sejak masih bayi aku sudah diberikan kepada nenek Vely…”, ucap Isabella sedih.
“ Vely….”, tetua Otsana mencoba mengingat nama tersebut.
Jika ini ada hubungannya dengan kerajaan Equestria, Vely ini pastilah kakak ratu Marie yang dikabarkan menghilang setelah ratu Marie naik tahta.
“ Ohhh…jadi dia berada di dunia lain makanya tidak ada seorangpun yang mengetahui jejak keberadaannya…”, batin Otsana bermonolog.
Diapun kembali menatap intens Isabella untuk mencari tahu lebih dalam untuk meyakinkan semuanya.
Pada awalnya Isabella masih sedikit ragu. Namun melihat jika ibunda Scoth dan lelaki tua yang ada dihadapannya tersebut tidak memiliki niat jahat kepadanya, diapun mulai menceritakan semuanya sesuai dengan apa yang ditanyakan oleh Otsana.
Setelah mendengar cerita dari Isabella, Otsana sangat yakin jika Marie melakukan pembelahan jiwa kepada gadis kecil tersebut pada saat masih bayi.
Sihir tigkat tinggi yang sangat kecil keberhasilannya, namun tampaknya Marie berhasil melakukannya dengan sempurna.
Sehingga dia bisa kembali ketempat ini begitu separuh jiwanya mati. Namun, mungkin Marie tidak menyangka jika Isabella akan kembali secepat ini sebelum semua kekuatannya berkembang.
__ADS_1
" Dia memang pantas menjadi ratu penyihir terkuat di dunia....", batin Otsana penuh pujian.
Melihat Isabella bersikeras untuk pulang, Otsana yang tidak ingin gadis kecil itu meninggalkan kerajaan Red Moon karena akan berdampak buruk bagi Scoth yang possesif juga demi keamanan Isabella sendiri.
Setidaknya jika gadis itu berada di Red Moon, Otsana masih bisa melatih kekuatan yang ada dalam dirinya dan Scoth serta seluruh warga Red Moon akan menjaganya dengan segenap jiwa raga mereka karena gadis itu adalah luna mereka.
“ Aku akan mengundang nenek dan kedua orang tuamu kesini. Setidaknya, istana Red Moon untuk saat ini adalah tempat teraman untukmu sambil kamu mengembangkan kekuatan yang ada dalam dirimu bersamaku…”, Otsana berusaha untuk membujuk Isabella agar tetap tinggal.
Melihat Isabella sedikit ragu, Otsana pun menjelaskan tentang jati diri gadis kecil itu yang sebenarnya dengan harapan gadis kecil itu bisa mengerti akan kekhawatirannya.
Meski terkejut, namun Isabella juga tak munafik jika dirinya memang berbeda dari manusia pada umumnya.
Pada awal mengetahui jika dia memiliki kekuatan aneh, dirinya sangat takut. Untung saja nenek Vely terus membimbingnya hingga mampu mengendalikan kekuatan seperti sekarang.
Namun kekuatan yang dimilikinya itu belum mencapai maksimal. Dan disinilah nantinya dia akan mengembangkan kekuatan yang ada dalam dirinya dengan bantuan tetua Otsana.
Untuk masalah keluarganya, mungkin nanti akan dia bahas begitu nenek dan kedua orang tuanya sudah berada disini.
“ Bagaimana kondisi Scoth sekarang ?...”, tanya Isabella cemas.
Bagaimanapun Isabella merasa bersalah karena dirinyalah yang menyebabkan lelaki tersebut murka hingga mengemparkan istana seperti ini.
“ Dia memerlukan waktu untuk menenangkan diri. Setelah tenang, dia pasti akan menemuimu…”, ucap Elena dengan nada lembut.
“ Ini semua salahku ibu…aku yang membuat Scoth marah. Jadi aku akan menemuinya untuk meminta maaf kepadanya….” , ucap Isabelalla dengan nada merajuk.
“ Biarkan dia menemui Aplha. Scoth tak akan pernah menyakiti matenya…”, tetua Otsana memindlink Elena.
Sambil menghembuskan nafas secara kasar, Elena membelai lembut rambut panjang Isabella sambil berkata “ Kamu bisa menemuinya jika kakimu sudah sembuh…”.
“ Kakiku sudah sembuh ibu, aku hanya perlu membuka perbannya saja…”, ucap Isabella sambil menggerak – gerakkan kakinya yang terluka.
Setelah kepergian Scoth dengan wajah marah, Isabella yang merasa bersalah ingin meminta maaf maka dari itu dia mencoba menggunakan kekuatan penyembuh miliknya.
Tak disangka usahanya tersebut berhasil dan saat ini kakinya sudah tidak terasa sakit lagi saat di buat berjalan.
“ Baiklah, kamu boleh menemui Scoth diruang pribadinya yang ada disebelah kamarmu setelah dokter memeriksa kondisimu…”, ucap Elena mengalah.
Setelah dokter pack datang dan memeriksa kondisi Isabella, dokter Lupe terlihat mengerutkan keningnya cukup dalam sambil menatap lunanya tersebut dengan tatapan heran.
“ *S*aya tak menyangka jika kondisi tubuh anda sangat bagus ,luna, hingga luka yang ada cepat sembuh…”, ucap Lupe sambil melepas perban dikepala dan leher Isabella.
“ Ini semua berkat obat yang anda berikan dokter, luka saya cepat sembuh dan mengering…”, ucap Isabella penuh pujian.
Meski Elena dan Otsana mengetahui jika Isabella sedang berbohong, namun mereka juga tak bisa menjelaskan apapun kepada Lupe.
Karena semakin sedikit orang yang mengetahui identitas asli Isabella maka akan semakin baik. Sedangkan Lupe yang mendapat pujian tersebut tersenyum bahagia.
Meski dia sanksi dengan ucapan lunanya tersebut, namun mengingat jika lunanya itu hanyalah manusia biasa, hanya alasan itulah yang baginya masuk akal untuk saat ini.
__ADS_1