
Isabella terbangun tengah malam dengan nafas tersenggal – senggal dan keringat dingin mengucur deras dari tubuhnya.
“ Kenapa mimpi tadi terlihat sangat nyata….”, batin Isabella ketakutan.
Meski dia memiliki kekuatan hebat, bagaimanapun Isabella masih anak kecil berusia sepuluh tahun yang tinggal di jaman modern.
Dimana peperangan dan pertumpahan darah tidak pernah dilihatnya secara langsung karena kondisi keamanan tempatnya tinggalnya sangatlah terjamin.
Scoth yang berada disisinya langsung bangun begitu melihat Isabella duduk dengan wajah pucat pasi dengan baju basah akibat keringat.
Diapun segera mengambil handuk kecil dan air hangat untuk membersihkan tubuh Isabella dan mengganti pakaiannya dengan yang baru.
“ Apa kamu bermimpi buruk ?...”, tanya Scoth cemas.
Isabella tidak menjawab hanya terdiam dengan kedua bola mata bergerak cepat kekiri dan kekanan. Tubuhnya langsung menegang waktu menginggat kembali mimpi buruknya tersebut.
Banyak tumpukan mayat diatas genangan darah. Semua orang terlihat saling menghabisi antara satu dengan yang lainnya tak perduli hubungan yang ada diantara mereka.
Semua orang terlihat sangat ketakutan dan berusaha untuk menyelamatkan diri entah dari apa karena dalam mimpi tersebut tak jelas siapa yang membuat semua orang kalut dan beringas seperti itu.
Melihat wajah Isabella semakin pucat dan ketakutan, Scothpun meraih tubuh munggilnya dan langsung mendekapnya dengan erat.
Begitu detak jantung Isabella sudah kembali normal, Scothpun segera melepaskan pelukannya dan menatap gadis kecilnya yang terlihat mulai sedikit tenang.
“ Ada apa ?.. kamu bisa menceritakan semuanya padaku….”, ucap Scoth sambil mengelus kepala Isabella dengan lembut.
Bukannya menjawab, Isabella malah menoleh dan menatap tajam kearah jendela kamar seperti sedang mencari sesuatu.
Karena penasaran, Scoth pun ikut menatap kemana pandangan Isabella mengarah. Cukup lama keduanya memandang kearah jendela tanpa melihat ada keanehan disana.
Wushhhh…..
Isabella kembali melihat sekelebat bayangan hitam dari balik jendela. Beberapa kali dia mengerjapkan matanya untuk memastikan semuanya nyata.
Tak lama kemudian dia melihat sepasang mata berwarna merah seperti sedang mengawasinya dari balik jendela kamar.
“ Ada apa ?...”, tanya Scoth cemas pada saat melihat tubuh Isabella bergetar hebat.
“ Ada seseorang dibalik jendela yang sedang mengawasi….”, ucap Isabella dengan suara bergetar sambil menunjuk kearah jendela.
__ADS_1
Anak buah Lucifer terlihat sangat terkejut waktu melihat gadis kecil yang sedang diawasinya mengetahui keberadaannya.
Begitu melihat Alpha Red Moon Pack berjalan kearah jendela, diapun segera menghilang untuk melaporkan penemuannya tersebut.
Setelah jendela dibuka, Scoth mulai mengedarkan pandangannya keseluruh area. Namun, dia tak melihat ada sesuatu yang mencurigakan disana.
“ Dia telah pergi….”, ucap Isabella sedikit lega.
Mendengar ucapan Isabella, Scoth segera meminlink para warriornya untuk memperketat penjagaan, terutama wilayah disekitar area istana.
Dia juga meminlink Morgan yang kebetulan sedang berpatroli tak jauh dari istana untuk mencari seseorang yang terlihat mencurigakan dan langsung menangkapnya.
Setalah mendapat perintah dari sang Alpha, semua orang mulai berpencar mencari sosok yang diduga berhasil menyelinap masuk kedalam pack.
“ Tunggu disini, jangan kemana – mana. Dan jangan sekali – kali membuka jendela ini apapun alasannya….”, pesan Scoth sebelum pergi meninggalkan kamar.
Isabella yang masih ketakutan segera memberikan mantra pelindung dijendela kamar agar tak ada satupun makhluk yang bisa menerobos masuk.
Selanjutnya, Isabella segera merangkak naik keatas ranjang dan menutup seluruh tubuhnya dalam selimut. Isabella sangat berharap jika yang ada didalam mimpinya itu hanyalah bunga tidur.
Isabella juga sangat berharap bahwa apa yang baru saja dilihatnya itu cuma ilusinya saja. Tapi, begitu dia menutup mata, sepasang mata merah menyala kembali hadir dalam ingatannya.
Membuat dia akhirnya terus membuka mata sambil menajamkan indera pendengarannya dan meningkatkan kewaspadaan diri.
Namun setelah berkeliling cukup lama dan tak menemukan apapun dia akhirnya memutuskan untuk kembali masuk kedalam istananya.
Ditengah perjalanan, Scoth melihat ada salah satu penjaga penjara bawah tanah berlari memanggilnya dengan nafas tersengal – senggal.
“ Ada apa ?...”, tanya Scoth tajam.
“ Saya siap menerima hukuman karena lalai. Dua vampir yang ada dipenjara bawah tanah telah melarikan diri….”, lapor warrior tersebut dengan tubuh gemetaran.
“ Apa !!!...Bagaimana bisa !!!....”, teriak Scoth berang.
Scoth segera berjalan menuju penjara bawah tanah dengan tergesa – gesa dan langsung meminlink semua anak buahnya untuk melakukan pengejaran.
“ Sial !!!....”, Scoth berteriak marah waktu melihat sel yang dihuni oleh Salvator dan Vladimir telah kosong.
Melihat tidak adanya pintu yang rusak dan tembok yang jebol maka Scoth bisa memastikan jika kedua vampire tersebut melakukan teleportasi untuk melarikan diri.
__ADS_1
“ Damd !!!....”, Scothpun segera berlari menuju kamarnya dengan cepat.
“ Sial !!!...bagaimana aku bisa lupa jika mereka masih mengicar Isabella….”, gerutu Scoth geram.
Brakkk….
Pintu kamar dibuka secara kasar hingga membuat Isabella yang berada dibawah selimut langsung membeku seketika.
Namun setelah mencium aroma maskulin yang familier di indera penciumannya, dia segera membuka selimutnya dengan kedua mata berkaca – kaca.
“ Tenanglah, kamu aman bersamaku….”, ucap Scoth sambil memeluk tubuh Isabella dengan erat.
Scoth beberapa kali mencium pucuk kepala Isabella dengan perasaan lega. Tadi, dia sangat takut jika kedua vampire tersebut nekat masuk kedalam istana dan melukai matenya.
Setelah Scoth memindlink omega yang ada didepan pintu, tak lama kemudian pelayan tersebut datang sambil membawakan secangkir teh manis hangat untuk Luna mereka.
“ Minumlah agar kamu tenang….”, ucap Scoth sambil membantu Isabella untuk minum.
Setelah minum teh manis hangat, perlahan Isabella mulai kembali tenang. Setelah memastikan jika kondisi sudah aman, Isabella mulai mengangkat wajahnya dan menatap Scoth sambil bertanya “ Bagaiamana ?...”.
“ Ada dua orang vampire yang melarikan diri dari penjara bawah tanah. Tapi tenang saja, mereka tak akan berani masuk dan menyakitimu selama ada aku disini….”, ucap Scoth sambil mengusap pipi Isabella dengan lembut.
Hati Isabella terasa tenang dan hangat mendengar ucapan yang keluar dari mulut Scoth. Perlahan, dia kembali meringkuk dalam dekapan matenya tersebut untuk mencari kenyamanan.
“ Aku tak tahu kenapa aku selalu merasa nyaman dan tenang saat berada dalam pelukannya. Apa ini karena dia adalah mateku ?...”, batin Isabella bermonolog.
Sementara itu, dilapisan bumi paling dalam anak buah raja Iblis datang untuk melaporkan semua hal yang dia dapatkan malam ini.
Lucifer tersenyum lebar waktu mengetahui jika gadis yang dicarinya selama ini ada di dalam istana Red Moon.
“ Apa kamu yakin dia bisa melihatmu ?....”, tanya Lucifer memastikan.
“ Benar Raja, saya sendiri sangat terkejut waktu mengetahui jika gadis kecil tersebut menyadari keberadaan saya…”, ucap iblis kecil tersebut sambil berlutut.
“ Bagus….”, ucap Lucifer tersenyum puas.
“ Terus awasi dan laporkan setiap ada perkembangan, sekecil apapun itu….”, perintah Lucifer tajam.
“ Baik Raja. Segera dilaksanakan….”, ucap iblis kecil tersebut dan langsung melesat pergi.
__ADS_1
Melihat gadis kecilnya kembali terlelap, Scothpun segera membaringkan tubuh munggil Isabella diatas ranjang dan menyelimutinya.
Tak lama kemudian, diapun ikut membaringkan tubuhnya disambil Isabella dan tak lama kemudian ikut terlelap setelah mendapatkan kabar dari Morgan jika seluruh kawasan dalam kondisi aman.