
Tepat dihari ketujuh bermeditasi dibawah guyuran air terjun, Isabella tiba – tiba membuka kedua matanya secara perlahan.
Matanya yang dulu berwarna coklat terang berubah menjadi hijau dan bersinar. Tanda mawar putih yang ada didahinya sempat terlihat dan bersinar terang, meski hanya sesaat.
Rambutnya yang berwarna coklat kini berubah menjadi emas dan lebih panjang dari sebelumnya. Bahkan kulitnya semakin putih bersinar.
Bentuk tubuhnya pun juga mulai berubah, dia sekarang bukan lagi gadis kecil usia sepuluh tahun tapi sudah menjadi gadis muda belia berusia empat belas tahun.
Dia seperti seorang dewi yang baru muncul dari langit, sangat cantik dan berkilau. Semua mahkluk hidup yang melihat kebangkitannya segera menunduk hormat.
Isabella segera berdiri menuju ketepian dan dengan sekali gerakan memutar badan pakaiannya yang tadi basah sudah kering kembali.
Dengan anggun, dia berjalan menyusuri anak sungai yang mengalir disepanjang aliran air terjun tersebut sambil kedua matanya menatap awas ke bawah.
Kedua bola matanya bersinar terang waktu melihat bunga Gloxinia yang dicarinya tumbuh diantara bebatuan besar dipinggir sungai yang airnya sangat deras.
Isabella segera melayang diudara menggunakan ilmu peringan tubuh yang berhasil dikuasainya, diapun segera terbang menuju dimana bunga Gloxinia tersebut berada.
Ctasss…..
Ada sengatan listrik waktu Isabella berusaha untuk memetik bunga cantik berwarna unggu tersebut dengan tangannya.
Karena tidak bisa diambil dengan tangan biasa, diapun menggunakan penjepit dan gunting untuk mengambilnya.
Pletakkk…..
Penjepit dan gunting tersebut langsung terpental jatuh kedasar sungai begitu menyentuh tangkai bunga Gloxinia membuat Isabella terdiam untuk berpikir sejenak.
“ Ternyata bukan bunga biasa…pantas dia tumbuh ditempat aneh seperti ini….”, guman Isabella sambil bersendekap dengan telunjuk didagu dalam posisi melayang diudara.
“ Aha….”, tiba – tiba saja ide cemerlang muncul dikepalanya.
Isabella segera memejamkan kedua matanya sambil menekuk kedua tangannya didepan dada sambil meramalkan sebuah mantra.
Diantara kedua tangan Isabella muncul pusaran cahaya yang semakin lama semakin membesar seiring dengan perputaran telapak tangan.
“ Elasemena !!!....”, Isabella berteriak sambil melempar bola cahaya tersebut kearah bunga Gloxinia.
Bola cahaya tersebut segera menyelimuti keseluruhan bunga Gloxinia dengan sempurna.
Setelah akarnya tercabut, bunga tersebut masuk kedalam gelembung udara dan terbang kearah Isabella berada.
Gelembung udara tersebut langsung menghilang begitu kotak putih yang dibawa oleh Isabella telah terbuka.
Clinggg…..
__ADS_1
Bunga Gloxinia segera menancapkan akarnya dengan kuat ke tempat barunya.
Melihat bunga tersebut sudah berada ditempatnya, Isabella segera menutup kotak putih tersebut dan pergi menuju istana Epes sebelum Carmin membuat kacau semuanya.
Sesuai dugaan, Carmin membuat heboh istana Epes setelah mengetahui Isabella tak ada di bawah air terjun waktu pagi tadi mengunjunginya.
Dia dan sang sumi sudah mencari keseluruh aliran sungai, tapi tak menemukan keberadaan Isabella dimanapun.
Atares dan tetua Otsana sudah berusaha untuk menenangkan Carmin, tapi wanita muda tersebut masih terlihat sangat panik.
Scoth yang baru saja datang terlihat binggung melihat sang adik berjalan mondar – mandir sambil memarahi pelayan yang datang kepadanya karena takbisa memberikan informasi yang dimintanya
Sementara Atares dan tetua Otsana terlihat duduk diatas sofa sambil menggelengkan kepala beberapa kali waktu Carmin kembali memarahi para pelayannya.
“ Ada apa ?....kenapa dia panik seperti itu ?....”, tanya Scoth penasaran.
Sebelum tetua Otsana dan Atares menjawab pertanyaan Scoth, Carmin telah lebih dulu menghampiri sang kakak begitu melihatnya datang.
“ Kakak !!!...syukurlah kamu ada disini….”, ucap Carmin sedikit lega.
Carmin pun segera menceritakan semuanya kepada sang kakak jika Isabella menghilang dan saat ini dia dan sang suami sudah mengerahkan semua orang untuk mencari.
“ Dia tidak hilang hanya sedang menjalankan misinya….”, ucap tetua Otsana sambil menyeruput secangkir teh yang ada ditangannya.
Scoth yang melihat tingkah pola sang adik hanya bisa menaikkan satu alisnya dan memutarkan kedua bola matanya dengan malas mendengar semua celoteh yang keluar dari mulut Carmin.
Meski dia senang karena sang adik mengkhawatirkan kondisi matenya, tapi Scoth juga tak suka dengan sikap berlebihan yang ditunjukkan oleh adiknya tersebut.
Melihat Atares dan tetua Otsana mengangkat kedua bahunya waktu Scoth menatap keduanya dapat dipastikan jika Carmin sedari tadi tak mendengarkan ucapan semua orang dan tetap keras kepala terhadap apa yang dipikirkannya.
“ Tenang saja…sebentar lagi kakak iparmu akan datang….”, ucap Scoth yakin.
“ Apa kau sudah mencium aroma matemu ?....”, tanya Carmin berusaha untuk memastikan.
“ Tentu saja…lihat saja, dalam hitungan sepuluh dia sudah ada dihadapanmu…”, ucap Scoth sambil mulai menghitung mundur.
Dan tepat di hitungan terakhir, seorang gadis muda belia perlahan mulai berjalan masuk kedalam istana Epes.
Semua orang terlihat sangat terkejut dengan kehadiran gadis cantik tersebut, kecuali Tetua Otsana yang tersenyum simpul di tempat duduknya.
“ Isabella…kaukah itu ?...bagaimana bisa ?....”, tanya Carmin antusias dengan perubahan Isabella.
“ Tentu saja ini aku, apa kamu lupa ?....”, ucap Isabella sambil tersenyum lebar.
“ Ini…warna rambut dan matamu ?....”, Carmin terlihat mengamati semua perubahan dari tubuh Isabella selain peruibahan tubuhnya menjadi gadis muda belia dari seorang anak kecil yang cantik dan menggemaskan.
__ADS_1
“ Ohhh, ini….”, ucap Isabella mengerti keraguan Carmin kepadanya.
Dalam satu gerakan, warna rambut dan mata Isabella berubah kembali seperti semula. Hanya bentuk tubuhnya saja yang masih tetap sama tak berubah menjadi kecil kembali.
" Ini hebat....", teriak Carmin penuh kekaguman.
Carmin terlihat memutari tubuh Isabella, mengagumi setiap perubahan yang ada dalam tubuh calon kakak iparnya tersebut hingga pandangannya terfokus pada benda yang ada ditangan Isabella.
Tiba – tiba Carmin menatap kotak putih yang dibawah oleh calon kakak iparnya itu dengan wajah penasaran.
Isabella yang melihat kedua alis Carmin menukiik kebawah segera mengikuti arah pandang gadis tersebut.
“ Oh ini, aku menemukan bunga Gloxinia di tepi aliran sungai tak jauh dari air terjun….”, ucap Isabella menjelaskan.
Kedua mata Carmin melotot sempurna, begitu juga dengan Atares yang langsung menatap kearah Isabella penuh atensi.
“ Bisa aku lihat ?....”, tanya Carmin bersemangat.
Isabella segera membuka tutup kotak tersebut yang didalamnya berisi bungga Gloxinia berwarna unggu dengan tekstur kelopak bunga seperti beludru.
Kelopak bunga tersebut tidak lembut seperti kelopak bunga pada umunya, tapi dia keras seperti membeku.
Namun nyatanya bunga tersebut masih segar meski dia hidup didalam kotak putih dengan media tanam tanah didalamnya.
Atares ynag sudah berdiri dihadapan Isabella beberapa kali terlihat mengedipkan kedua matanya tak percaya dengan apa yang dilihatnya itu.
Bunga yang biasanya tumbuh dibenua hitam tersebut ditemukan di wilayah kerajaan Epes, suatu hal yang langkah dan bisa dibilang keajaiban.
Menurut tetua Elf, bunga Gloxinia dianggap memiliki kekuatan ghoib, dimana bunga tersebut mampu membebaskan tubuh seseorang yang terkena sihir hanya dengan meminum air hasil rebusan kelopak bunganya.
Bukan hanya itu saja manfaatnya, segala macam penyakit yang tak bisa disembuhkan, akan bisa diobati menggunakan bunga tersebut terutama penyakit yang disebabkan oleh ilmu sihir dan ilmu hitam sejenisnya.
“ Apa ini benar – benar kamu temukan di wilayah kerajaan Epes ?...”, Atares bertanya untuk mastikan pendengarannya sekali lagi
“ Benar…dan aku mengetahuinya setelah ada perintah di alam bawah sadarku untuk mencari bunga Gloxinia ini di sekitar aliran sungai….”, ucap Isabella menjelaskan.
Atares yang cukup penasaran berusaha untuk menyentuh kelopak bunga tersebut, namun tangannya langsung tersengat aliran linstrik yang lumayan kuat begitu menyentuh kelopak bunga tersebut.
“ Maaf aku lupa bilang, bunga ini hanya bisa diambil dengan sihir dan tak bisa bersentuhan dengan tangan langsung. Menggunakan alat untuk mengambilnya juga tidak bisa. Jadi aku tadi menggunakan balon udara yang kubuat dengan sihir untuk mengambilnya….”, Isabella kembali menjelaskan kronologis pengambilan bunga Gloxinia tersebut.
Atares pun hanya mengangguk paham dengan penjelasan yang diberikan Isabella kepadanya.
Diapun mengingatkan Isabella agarmenjaga bunga berharga tersebut dengan sebaik – baiknya karena sangat besar manfaatnya.
Dengan bantuan ilmu sihirnya, kotak putih berisi bunga Gloxinia tersebut menghilang dari pandangan mata semua orang dan masuk kedalam demensi ruang yang berhasil Isabella ciptakan selama dirinya bermeditasi dibawah air terjun.
__ADS_1