HOLY BLOOD GIRL

HOLY BLOOD GIRL
SCOTH WILSON


__ADS_3

Tak jauh dari danau kematian berada, pada bagian hutan terdalam, hiduplah seorang Alpha dengan pack besar yang dipimpinnya.


Seorang Alpha dari Red Moon pack yang terkenal karena silsilah keluarganya yang besar dan sangat kuat karena memiliki pasukan yang sangat banyak dan terlatih.


Alpha itu bernama Scoth Wilson, seorang Alpha yang mempunyai temperamen yang sangat buruk dan kejam.


Dia tidak akan berpikir dua kali untuk menghukum siapapun yang menganggu ketenangan diri dan keluarganya.


Dulu, Scoth terkenal ceria dan cukup ramah kepada siapapun hingga tragedi besar terjadi didalam packnya sepuluh tahun yang lalu.


Setelah kematian ayahnya secara tragis didepan mata, emosi Scoth berubah sangat drastis dan menjadi tidak stabil.


Dia cenderung memakai kekerasan dalam setiap kali menghadapi dan menyelesaikan suatu permasalahan.


Temperamen buruknya ini membuat musuh – musuhnya harus berpikir seribu kali jika ingin membuat masalah dengan Red Moon pack.


Pagi ini, setelah sarapan Scoth tampak berdiri mematung diatas balkon istananya sambil menatap lurus kedepan.


Tak jauh dari tempatny berdiri, dia melihat segerombolan anak kecil sedang asyik bermain dengan riang gembira. Pemandangan tersebut  membuat Scoth tidak dapat mengalihkan perhatiannya.


Canda tawa diwajah munggil tanpa dosa itu mengingatkan dirinya pada masa kecilnya yang bahagia sebelum semua hilang dalam sekejap mata .


Tidak ingin masyarakat yang tinggal dalam packnya mengalami penderitaan seperti sepuluh tahun silam, diapun mulai menegakkan peraturan dengan sangat keras


Scoth tak akan segan – segan membunuh siapapun yang terbukti berkhianat padanya, meski itu adalah anggota keluarganya sendiri.


Dia bahkan tak segan – segan menghabisi pamannya dan membantai seluruh keluarganya setelah adik ayahnya tersebut terbukti bekerja sama dengan penyihir hitam untuk menghancurkan pack.


Bahkan dia langsung membunuh sahabat dekatnya yang merupakan seorang Gamma setelah ketahuan menjual informasi tentang kekuatan pack kepada bangsa vampir dengan kedua tangannya sendiri.


Ketegasannya ini mendapatkan apresiasi yang sangat besar dari warganya sekaligus membuat ciut nyali para musuh yang ingin melawannya.


Sebagai pimpinan pack, dirinya memikul tanggung jawab yang cukup berat, ditambah lagi diusianya yang keseratus tahun ini Scoth masih belum juga menemukan matenya.


Belahan jiwa yang akan menemaninya dalam suka dan duka hingga maut menjemputnya.


Sambil menghembuskan nafas kasar, Scoth menengadahkan wajahnya menatap langit biru diatasnya.


Setidaknya dengan melihat langit biru yang cerah melalui balkon kamarnya hatinya merasa sedikit tenang.


Elena, ibunda Scoth yang tanpa sengaja lewat didepan kamar sang anak melihat putra sulungnya hanya terdiam memandang langit, hatinya merasa sangat sedih.


Sudah hampir seratus tahun lamanya hati putra sulungnya itu masih kosong lantaran belahan jiwanya atau yang biasa disebut mate belum juga datang menghampiri.


Pack ini membutuhkan seorang luna, dengan adanya luna disamping sang anak, Elena berharap Scoth dapat berubah menjadi lebih baik dan bijaksana seperti ayahnya dulu.


Dengan tatapan nanar, Elena mulai berjalan maju kearah balkon dimana sang putra masih setia berdiri menatap langit tanpa menghiraukan kehadirannya.


“ Apakah kamu tidak pernah berpikir untuk menemukan mate mu, Scoth ?...”, tanya Elena lembut.


Scoth menoleh kearah ibundanya sambil menghela nafas “ apakah itu penting sekarang ?... ”.

__ADS_1


Ibundanya berdecak kesal “ ya…tentu saja itu hal penting. Itu adalah takdir setiap warewolf. Kamu terlalu sibuk bekerja dan menghukum orang di penjara pack. Tidak kah itu membosankan ?…”.


Scoth mengabaikan pertanyaan ibundanya dan masih setiap menatap datar mentari yang mulai beranjak naik.


Cukup diakui bahwa dirinya memang bosan. Tetapi berpikir untuk memiliki wanita, sepertinya itu lebih membosankan.


Dia bahkan tidak dapat membayangkan bagaimana jika wanitanya itu tiba – tiba merenggek kepadanya dan membuntutinya kemana langkahnya pergi.


Membayangkan saja sudah membuat Scoth bergidik ngeri apalagi jika dia harus dipaksa untuk melaluinya.


Elena hanya bisa menghela nafas berat melihat putranya itu lagi – lagi mengabaikan pertanyaannya dan tidak menganggap penting semua ucapannya.


“ Bagaimana aku bisa memiliki anak yang mengabaikanku seperti ini… ”, gerutu Elena dengan mimik wajah cemberut.


Scoth pun langsung mengecup kedua pipi ibundanya dengan cepat, kemudian beranjak keluar dari dalam kamarnya.


“ Masih banyak hal yang harus aku kerjakan…. ”, ucap Scoth sambil berlalu.


Elena hanya bisa menggeleng – gelengkan kepalanya begitu melihat Scoth sudah berlari keluar dari dalam istana bersama Morgan, betanya.


Bersama sang beta, Scoth pergi untuk menyisir seluruh wilayah perbatasan packnya yang akhir – akhir ini dimasuki oleh para rogue.


Scoth terlihat sibuk memberikan arahan bersama betanya disepanjang perjalanan patroli pagi ini untuk memastikan wilayah teritorinya aman.


Dia  menerintahkan para warrior untuk memperketat wilayah pengamanan pack serta memberi perlindungan kepada setiap anggota pack dari serangan para serigala liar yang ingin memasuki territorial mereka.


Ternyata, berpatroli itu menyenangkan dari pada menghukum penjahat dipenjara. Scoth menjadi menyesal kenapa dirinya jarang turun langsung kelapangan seperti ini.


Morgan yang berjalan bersama Scoth terlihat bahagia waktu melihat senyum samar yang terbit diwajah sang Alpha, meski itu hanya sekejap mata.


Morgan adalah sahabat Scoth sejak dari kecil. Dia juga mengalami kejadian yang sama dengan apa yang dialami oleh sahabatnya itu pada peristiwa besar yang menguncang pack sepuluh tahun yang lalu.


Bedanya, Morgan sudah mengikhlaskan kepergian sang ayah yang gugur waktu memperjuangkan packnya.


Setelah ayahnya meninggal, Morgan pun secara otomatis terpilih menjadi beta menggantikan sang ayah untuk menemani Scoth pemimpin Red Mood pack.


Keduanya terlihat begitu menikmati patroli yang berlangsung dipagi hari ini dengan semua pikiran yang bergelayut di benak masing – masing hingga langkah kaki sang Alpha yang berhenti tiba – tiba membuyarkan semuanya.


Deg…


Scoth memegang erat dadanya yang tiba – tiba saja terasa berdenyut. Jantungnya terus bereaksi dan berdetak tak karuan seolah sebentar lagi jantungnya itu akan meloncat keluar dari tubuhnya.


“ Tunggu….aroma ini….”, Scoth pun memejamkan kedua matanya sambil menajamkan indera penciumannya.


Sambil membuka mata perlahan, Scoth merasakan jika takdir itu, takdir yang selalu dibicarakan oleh ibundanya selama ini.


Benar, Scoth merasakan tanda itu. Tanda kehadiran seorang mate yang sudah sangat lama dia tunggu.


“ Tapi dimana ?...”, batin Scoth sambil mengedarkan pandangannya.


Menyisir semua tempat yang bisa dia jangkau dengan pandangan super tajamnya. Morgan hanya bisa mengkerutkan keningnya sangat dalam.

__ADS_1


Sedikit binggung dengan perilaku sang Alpha yang cukup aneh baginya. Morgan pun ikut mengedarkan pandangannya menyisir semua area karena berpikir jika Scoth melihat musuh mendekati wilayah kekuasaannya.


“ Ada apa Alpha ?...”, tanya Morgan binggung.


Tanpa menghiraukan pertanyaan Morgan, Scothpun segera melesat pergi untuk mencari sumber aroma memabukkan yang sempat mampir dalam indera penciumannya tadi.


“ Kemana dia ?...kenapa tiba – tiba aromanya menghilang ?...”, batin Scoth frustasi.


Meski begitu dia tidak mengendurkan langkah kakinya untuk terus melangkah maju kearah sumber aroma yang tadi sempat dia dapatkan.


Dia sangat berharap kali ini dia benar – benar bisa menemukan matenya dan membuat ibundanya bahagia setelah penantian panjang yang dilaluinya.


Tanpa putus asa dia terus saja melangkah menuju perbatasan sebelah barat dan meninggalkan Morgan yang masih terdiam linglung di tempat.


Begitu menyadari jika sang Alpha sudah tidak ada dalam jangkauan penglihatannya, Morganpun segera berlari untuk menyusul Scoth.


“ Hey Scoth….tunggu aku….”, teriak Morgan sambil tersu berlari mengejar Alpha nya.


...................................................................................................................................................................


NOTE : 


Pack         : Lebih mirip klan, satu pack hanya dipimpin satu Alpha. Besar kecilnya pack ditentukan oleh jumlah anggota. Semakin banyaknya anggota pack, maka semakin kuat pack tersebut.


Alpha         : ketua/pimpinan dari sekumpulan Warewolf dalam satu pack.


Luna          : panggilan untuk pasangan alpha.Biasanya alpha yang sudah menemukan matenya akan menandainya dengan mengigit leher si wanita, hal tersebut untuk menunjukkan pada warewolf yang lain bahwa


dia sudah ada yang memiliki.


Beta            : wakil dari alpha dan mengerjakan semua tugasnya jika alpha tidak ada, biasa disebut orang kedua


dalam pack.


Gamma         : orang ketiga yang statusnya dibawah beta. Ia memiliki wewenang untuk melatih warewolf menjadi


warrior.


Delta & ceta  :  warewolf yang statusnya dibawah gamma.


Omega            : pelayan – statusnya paling rendah diantara serigala yang lain.


Rogue             : warewolf yang tidak terikat dalam pack, artinya mereka serigala liar yang suka menghancurkan pack – pack kecil. Mereka sangat berbahaya dan tempat tinggalnya di gua di hutan – hutan.


biasanya mereka akan menjadi serigala pengintai bila ada yang memintanya.


Moon Goddess : dewa dewi yang menjodohkan warewolf. Dianggap sebagai tuhan oleh kaum warewolf.


Mate                 : pasangan abadi seorang warewolf. Saat menemukan matenya maka warewolf akan merasa mabuk berat dan aroma matenya akan menjadi candu baginya. Warewolf dapat mencium aroma matenya meski dalam jarak beberapa meter.Bila warewolfme mereject pasangannya maka dia akan merasakan sakit yang teramat, bahkan bisa mati. Warewolf tidak bisa jauh dari matenya. Jika matenya mati, dia bisa


mendapatkan pasangan baru, tapi tidak bisa mendapatkan keturunan, karena hanya

__ADS_1


mate aslinya atau yang pertamalah yang bisa memberinya keturunan.


sumber by google


__ADS_2