
Alatariel yang terbangun dari tidurnya merasa sangat heran waktu melihat keadaan sekitarnya masih gelap gulita.
“ Kurasa aku sudah tertidur lumayan lama…tapi kenapa langit masih saja gelap seperti ini….”, batinnya mulai waspada.
Setelah kesadarannya terkumpul, akhirnya diapun mulai menyadari jika setelah memasuki pegunungan iblis lebih dalam, cahaya matahari yang semula terlihat perlahan mulai menghilang.
“ Ini pasti ulah para iblis penghuni gunung….”, batinnya sambil menelisik keadaan sekitarnya.
Melihat jika selama dia tertidur tak ada satupun iblis yang berhasil mendekatinya, Alatariel pun mempergunakan sisa waktu yang ada untuk membuat ramuan sihir agar selubungnya tersebut tidak cepat hilang.
Dengan adanya selubung ini Alatariel sangat yakin jika dia bisa keluar dari pegunungan iblis ini lebih mudah.
Meski begitu, dia juga tak ingin lengah dan gegabah dalam bertindak. Untuk itu Alatarielpun mulai menyiapkan amunisi yang akan dibawanya selama perjalanan.
Berbekal indera penciuman dan penglihatannya yang tajam, Alatariel pun mulai mencari bahan yang akan dia pergunakan untuk membuat ramuan sihir dan senjata untuk melawan para iblis yang bersemayan dipegunungan ini.
Syukurlah pegunungan ini kaya akan bahan – bahan langkah yang sangat jarang bisa dia dapatkan diluaran sana sehingga memudahkan pekerjaannya.
Setelah hampir setengah hari Alatariel, akhirnya aneka macam ramuan sihir yang akan dia pergunakan selama perjalanan selesai dibuat.
Para iblis yang tak bisa menemukan jejak mainan mereka semalaman merasa sangat gelisah. Untuk itu mereka pun segera membangunkan mata iblis untuk mendeteksi keberadaan Alatariel.
“ Huahhhh….ada apa kalian mengangguku?….”, ucap mata iblis sambil menguap dengan raut wajah tak senang karena diganggu dari tidurnya.
Dia terlihat masih rebahan ditempatnya meski beberapa rekannya telah menceritakan semua hal yang telah terjadi.
“ Kalian lakukan saja sendiri, aku tak tertarik…..” , ucapnya acuh.
Mata iblispun kembali menutup mata besar yang hampir memenuhi seluruh wajahnya tersebut membuat beberapa iblis rekannya terlihat sangat gemas.
“ Aku dengar, dia adalah keturunan Gulveigh yang mewarisi kekuatannya. Apa kamu masih tak tertarik setelah mendengar informasi ini…..”, ucap salah satu temannya berusaha membujuk.
Mata iblis langsung terbangun begitu dia mendengar kata Gulveigh. Api dendam dalam hatinya yang sudah lama padam kembali berkobar.
Melihat provokasinya berhasil, iblis es tersebut terlihat sangat senang. Untung saja dulu dia sempat mendengar jika penyebab mata iblis dikurung di pegunungan iblis ini semua karena elf kegelapan yang memeiliki kemampuan sihir hitam penghancur.
“ Baiklah, aku akan membantu kalian menemukannya. Tapi ingat !!!….jantung kurcaci itu milikku !!!....”, ucap mata iblis yang langsung bangkit dan melesat keluar.
Semua orang terlihat sangat senang waktu mata iblis mau bergabung untuk menemukan keberadaan Alatariel yang sama sekali tak bisa mereka deteksi keberadaannya sejak semalam.
__ADS_1
“ Aroma ini….”, guman mata iblis sambil terus menatap awas ke depan.
Aroma aura yang sama dengan Gulveigh mulai masuk kedalam indera penciuman mata iblis. Karena Alatariel suduah mewarisi kekuatan yang dimiliki lelhurnya, maka aura yang terpancar keluar pun akan terasa sama.
Mengandalkan indera penciumannya diapun mulai mengaktivkan mata iblis milknya untuk bisa menembus benteng pertahanan yang dibuat dark elf tersebut.
Mata iblis yang merasa jika aura milik keturunanan Gulveigh tersebut semakin lama semakin kuat, maka dia pun merasa jika dark elf tersebut pasti berada disekitar tempatnya berada sekarang.
Sethhh…sethhh….sethhh….
Diapun segera memindai semua hal yang ada disekitarnya melalui mata iblis miliknya. Dalam jarak seratus meter dari tempatnya berdiri dapat dia lihat seorang kurcaci hitam sedang berjalan menuju pintu keluar pegunungan.
“ Itu dia !!!....”, ucapnya senang.
Setelah mengkode rekan – rekannya mata iblis pun segera menunggu dark elf tersebut dihabisi secara perlahan.
Meski dia memiliki dendam yang sangat kuat, tapi kebiasaan mager yang dimilikinya selama berada di pegunungan iblis membuatnya malas untuk mengeluarkan tenaga.
Jadi, dia akan menunggu hingga jantung kurcaci kecil itu berada ditangannya. baginya, dengan adanya jantung tersebut bisa memuaskan hasratnya atas dendam yang ada.
Ctasss….
Crashhhh….
Alatariel terus menghindari serangan demi serangan yang menuju kepadanya dengan sigap. Dia sama sekali tak menyangka jika keberadaannya bisa terdeteksi secepat ini.
“ Sial !!!...apa selubung ini sudah tak berfungsi lagi….”, guman Alatariel geram.
Dia tak menyadari jika tubuhnya sudah diberi tanda oleh mata iblis, sehingga meski selubung tersebut masih ada tapi pergerakannya bisa terdeteksi dengan mudah.
Alatariel terus menangkis dan menyerang musuh disaat dia bisa membalas sambil terengah – enggah.
Untung saja dia membuat banyak ramuan sihir yang bisa dia gunakan untuk mengecoh lawan disaat dia mengambil waktu untuk bernafas.
Sethhhh….
Crashhhh…..
Tubuh Alatariel mulai terkoyak disana – sini karena serangan bertubi – tubi yang didapatkannya dari segala arah.
__ADS_1
Para penghuni pegunungan iblis semakin meningkatkan serangan yang ada ketuika melihat musuh sudah terluka sangat parah tapi masih bisa menangkis serta menyerang balik mereka.
“ Mainan kali ini benar – benar tangguh….”, ucap salah satu iblis dan diangguki oleh rekan – rekannya yang lain.
Pertempuran tak imbang tersebut berjalan dalam jangka waktu yang panjang. Karena disana sama sekali tidak ada cahaya yang masuk, jadi tidak ada yang tahu jika mereka sudah melewati pertempuran selama dua hari.
Alatariel terus meminum ramuan peningkat stamina dan energy miliknya berulang kali disaat musuh lengah.
Melihat jika ramuan sihir miliknya hampir habis, Alatariel pun mulai merasa panik. Sambil menangkis serangan dia terus berlari, melompat dan terbang kesana – kemari semakin mendekati tepi hutan.
“ Kurang sedikit lagi….”, guman Alatariel waktu melihat jika batas pegunungan iblis berada satu kilometrer dihadapannya.
Melihat mainan mereka sudah hampir keluar dari pegunungan, para iblis penghuni gunung semamin meningkatkan serangan.
Kali ini mata iblis juga turut turun serta karena tak mau kehilangan jantung berharga milik keturunan Gulveigh tersebut.
Settt….settt…settt….
“ Achhhh….”, teriak Alatariel waktu sinar laser merah yang baru saja menyerangnya mengenai paha sebelah kanannya.
Tidak seperti serangan api dan yang lainnya, sinar laser ini sulit untuk disembuhkan karena langsung membakar dagingnya hingga tulang tubuhnya langsung terlihat.
Mencium aroma daging bakar seketika air liur para iblis menetes tak terkendali. Melihat para iblis yang menyerangnya semakin beringgas waktu mencium dagingnya yang terbakar akibat terkena laser merah membuat Alatariel semakin panik.
Dia berusaha untuk menekan rasa sakit yang ada akibat serangan laser merah yang mengenai beberapa anggota tubuhnya hingga berlubang.
Begitu Alatariel merasa ada cahaya yang mulai masuk, dengan tubuh penuh luka dan sisa energy yang ada diapun mencoba untuk berteleportasi keluar dari pegunungan iblis.
Ctashhh….
Usaha Alatariel berhasil, dia sekarang terkapar di sebuah batu besar dengan nafas tersenggal – senggal.
Sedangkan para iblis yang menghuni pegunungan merasa sangat kesal karena mainan mereka berhasil meloloskan diri sebelum mereka puas.
Mata iblis terlihat sangat marah waktu mengetahui buruannya telah berhasil melarikan diri setelah sinar lasernya berhasil melukai beberapa bagian anggota tubuhnya.
“ Brengsek !!!....”, makinya penuh amarah.
Diapun langsung menghilang dan menuju ke gua tempat dia biasanya tidur dan mulai memejamkan matanya untuk menetralisir api amarah yang masih berkobar kuat didalam hatinya.
__ADS_1