
Setelah menyelesaikan sarapan, Isabella yang masih berada di dalam kamar tanpa sengaja melihat sekelompok anak kecil sedang bermain dengan gembira dihalaman tak jauh dari istana.
Banyak diantara mereka yang seusia dengannya terlihat bermain dihalaman dengan teman sebayanya penuh kebahagiaan. Satu pemandangan yang baru pertama kali Isabella temui.
Didunia modern tempatnya tumbuh, anak – anak seusianya sudah sibuk dengan berbagai macam aktivitas yang dapat meningkatkan nilai dirinya, seperti les balet, melukis, bermain alat musik atapun ikut dalam klub olah raga dan seni beladiri.
Jikapun ada waktu senggang, mereka rata – rata memilih untuk bermain ponsel ataupun hangout bersama teman – temannya.
Berlarian dan bermain tanah seperti itu hampir tidak pernah dia lihat mengingat jika ruang terbuka seperti itu sudah tidak ada lagi disana.
Semua area sudah dipenuhi oleh gedung bertingkat dan seluruh jalanan sudah beraspal dan berpaving. Lahan hijau hanya ada di hutan kota.
Itupun tidak bisa kita buat sebagai area bermain, hanya bisa digunakan sebagai tempat berolah raga dan melepas penat.
Lamunan Isabella buyar ketika dia mendengar suara pintu diketuk dari luar. Tak lama kemudian, muncul seorang wanita paruh baya yang sangat cantik.
Elena yang sudah mendengar jika Isabella hilang ingatan dari Scoth, perlahan berjalan menuju tempat Isabella berdiri dengan senyum merekah diwajahnya.
Isabella merasa tak asing dengan wajah wanita yang ada dihadapannya itu. Tapi entah kenapa, tidak ada satupun ingatan yang bisa dijadikan petunjuk untuknya.
“ Jangan terlalu memaksa,ingatlah secara perlahan. Aku Elena, ibunda Scoth. Maaf, aku sudah membuatmu diculik dan hilang ingatan seperti ini…”, ucap Elena penuh rasa bersalah.
“ Diculik ?....”, tanya Isabella binggung.
Setelah mengajak Isabella duduk diatas sofa, Elena pun menceritakan semua kejadian yang menimpah dirinya sebelum hilang ingatan.
Isabella terlihat mengkerutkan dahinya cukup dalam setelah mendengar cerita yang dituturkan oleh Elena kepadanya.
“ Edward baik padaku. Meski aku tak boleh keluar, tapi dia tak memperlakukanku sebagai seorang tahanan. Bahkan dia sudah menganggap aku sebagai anggota keluarganya, meski dia bukan manusia….”, tutur Isabella jujur.
Tubuh Elena langsung menegang begitu Isabella menyebut jika orang yang menculiknya itu bukanlah manusia.
“ Bukan manusia ?...lalu apa dia ?...”, tanya Elena penasaran.
Meski Isabella sedikit ragu untuk menjelaskannya karena takut Elena tak mempercayai ceritanya. Tapi, melihat wanita tersebut sangat cemas dengan kondisinya Isabellapun akhirnya berkata jujur.
“ Mungkin ini akan terdengar aneh dan tak masuk akal. Tapi dia menyebut jika dirinya vampir….”, ucap Isabella sedikit ragu.
Kecurigaan Scoth dan tetua Otsana ternyata benar adanya, yang menculik Isabella adalah bangsa vampir, musuh bebuyutan dari manusia serigala.
__ADS_1
“ Lalu, apakah kamu percaya jika dia adalah vampir ?...”, tanya Elena dengan tatapan penuh selidik.
“ Aku percaya. Dulu, nenekku sering bercerita jika ada dunia tempat dimana bangsa immortal tinggal. Dan sekarang, sepertinya aku terdampar di dunia immortal….”, ucap Isabella menjelaskan secara gamblang.
“ Bagaimana dengan manusia serigala ?...apa kamu juga percaya mereka ada ?...”, Elena menatap Isabella dengan intens.
“ Tentu saja percaya, sama sepertiku yang merupakan keturunan seorang penyihir….”, ucap Isabella jujur.
Mendengar ucapan Isabella, hati Elena terlihat sangat lega. Setidaknya, putranya itu nanti tidak akan kesulitan untuk menjelaskan siapa mereka sebenarnya dan membuat gadis tersebut takut.
Untuk sejenak, Isabella terlihat mengamati keadaan sekitar dan menatap Elena dengan seksama.
Berusaha mencari bukti bahwa wanita cantik dihadapannya adalah salah satu bangsa immortal seperti yang ada dalam cerita nenek Vely.
“ Apakah anda seorang manusia serigala ?...”, tebak Isabella langsung.
Untuk sejenak, Elena terkejut dengan ucapan gadis yang ada dihadapannya itu secara tiba – tiba. Tapi beberapa saat kemudian, senyum manis mulai terbit diwajah cantiknya.
“ Apa kamu takut ?....”, tanya Elena sambil tersenyum lebar.
“ Tidak…yang aku tahu, warewolf tidak jahat. Selama kita baik, mereka juga akan baik kepada kita…”, ucap Isabella santai.
“ Gadis pintar….”, ucap Elena bahagia.
Dia yang dibesarkan oleh neneknya sangat merindukan kasih sayang seorang ibu yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
“ Apa saya bisa menganggap anda sebagai ibu saya ?...”, tanya Isabella sedikit ragu.
“ Tentu saja sayang….mulai sekarang, anggap aku adalah ibu kandungmu…”, ucap Elena sambil memeluk Isabella dengan erat.
Isabella tersenyum bahagia berada dalam pelukan hangat Elena. Tanpa ragu diapun berkata “ Ibu…akhirnya aku memiliki seorang ibu….”.
Elena pun segera menghapus air mata yang jatuh di pipi Isabella dengan jemarinya dan sambil berkata “ Jangan bersedih. Mulai sekarang, aku akan menyayangimu seperti anak kandungku sendiri…”.
Tanpa keduanya sadari, Scoth sejak tadi memperhatikan interaksi antara sang mate dengan ibundanya tesebut.
Dalam hati dia sangat bahagia waktu mengetahui jika matenya tak menolak ataupun membenci waktu mengetahui jika keluarganya adalah warewolf.
Sesuatu hal yang sejak awal sangat ditakutinya, terutama waktu mengetahui gadis itu hilang ingatan karena perbuatan Edward.
__ADS_1
Menyadari kehadiran sang putra, Elenapun perlahan melepaskan pelukan Isabella dan mulai beranjak dari tempat duduknya.
“ Untuk makan siang, kamu ingin makan apa ?...nanti biar ibu masakkan buatmu…”, ucap Elena penuh perhatian.
“ Apapun yang ibu masak pasti akan aku makan…”, ucap Isabella manis.
Sebelum pergi, Elena yang sempat bertatapan dengan kedua mata putranya dan meminlink Scoth “ Aku sudah membukanya, selanjutnya adalah kewajibanmu untuk menjelaskan semuanya…”.
Socth hanya bisa mengangguk sebagai respon ucapan ibundanya. Diapun segera menghampiri Isabella yang duduk manis dihadapannya.
“ Bagaimana kondisi tubuhmu ?....apa ada yang sakit ?...”, tanya Scoth penuh selidik.
“ Tidak…aku baik – baik saja….”, ucap Isabella sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali.
“ Jika ada sesuatu yang kamu butuhkan, kamu bisa memanggil omega yang ada didepan kamarmu atau memanggilku….”, ucap Scoth penuh perhatian.
“ Omega ?...maksudmu pelayan ?...”, ucap Isabella masih sedikit binggung dengan beberapa sebutan yang diucapkan disini.
Bukannya menjawab, Scoth malah terkekeh waktu mendengar ucapan Isabella yang dianggapnya sangat lucu.
Melihat matenya kebinggungan, Scothpun segera menjelaskan semuanya kepada Isabella agar gadis tersebut mengetahui semuanya.
Isabella terlihat menyimak dengan seksama semua hal yang diceritakan oleh Scoth kepadanya hingga pembahasan masalah mate membuatnya mengkerutkan kening lumayan dalam.
“ Aku matemu ?...bagaimana bisa ?...”, tanya Isabella sedikit binggung.
“ Tidak ada yang tidak mungkin jika moon goddess sudah berkehendak…”, ucap Scoth penuh keyakinan.
“ Apakah mungkin bangsa immortal memiliki mate atau pasangan hidup lebih dari satu ?...”, tanya Isabella penasaran.
“ Tidak…kami hanya memiliki satu pasangan hidup. Dan aku sudah menunggu kedatanganmu selama seratus tahun ini….”, ucap Scoth berusaha memberikan pengertian kepada Isabella yang masih memperlihatkan wajah binggung.
“ Tapi Edward bilang jika aku adalah pasangan hidupnya. Dan sekarang kamu bilang aku adalah matemu. Jadi, siapa diantara kalian yang benar ?....”, Isabella semakin binggung dengan semuanya.
Mendengar penuturan matenya, Scoth tak bisa lagi menahan rasa keterkejutan dalam hatinya. Dia baru menyadari hal inilah yang membuat Edward sejak awal mengincar Isabella.
“ Jadi karena hal itu di terus memburunya?...bukan karena dia adalah gadis berdarah suci….”, batin Scoth bermonolog.
Meski Scoth merasa lega karena Lord Edward menculik Isabella bukan karena mengetahui kekuatan darah gadis itu.
__ADS_1
Tapi hatinya semakin cemas, jika Isabella adalah pasangan hidup vampir tersebut maka Edward tak akan tinggal diam dan akan terus berusaha untuk mendapatkan Isabella, bagaimanapun caranya.
“ Tidak !!!…dia adalah mateku !!!...dan aku tak akan membiarkan siapapun merebutnya dariku !!!...”, batin Scoth geram.