
Alatariel yang energinya terkuras habis tak sadar jika dirinya sudah tertidur selama tiga hari diatas batu hitam besar tempat dia mendarat setelah berteleportasi keluar dari pegunungan iblis.
“ Ah, badanku….”, rintih Alatariel waktu menyadari badannya terasa sangat kaku dan sakit.
Wushhhh….
Tiba – tiba ada semburan larva panas disamping batu yang di buat alas tidurya membuat dark elf tersebut langsung terbangun dengan wajah panik.
Dia terduduk sambil mengamati keadaan sekitar dengan intens, berusaha mencari tahu dimana dia saat ini terdampar.
Dapat Alatariel lihat dia berada di sebuah batu besar berwarna hitam dan saat dia menengok ke bawah dapat dia lihat semburan larva yang keluar terus menerus.
“ Apa ini?...apa aku berada di dalam kawah gunung berapi ?...”, batinnya tercenggang.
Bau belerang mulai masuk menusuk indera penciumannya, membuat hidung kecilnya mengernyit sejenak guna menekan bau tersebut agar tak masuk ke dalam paru – parunya.
Diapun bergegas membuat selubung diseluruh tubuhnya dengan sisa energy yang ada di tubuhnya.
“ Kurasa lembah kematian berada diantara pegunungan iblis dan gunung berapi yang saat ini aku masuki….”, Alatariel terlihan berguman sambil berbicara dengan dirinya sendiri.
Tapi sebelum pergi, Alatariel harus membuat beberapa ramuan, terutama ramuan penambah energy agar dia bisa segera pergi meninggalkan pegunungan berapi ini begitu energinya benar – benar pulih.
“ Nah…itu dia !!!.....”, teriak Alatariel senang.
Kedua mata Alatariel langsung berbinar cerah waktu mendapati sebuah batu hitam besar dengan lubang di tengahnya tak jauh dari tempatnya duduk saat ini.
Dengan sigap, diapun segera meloncat ke batu kecil yang ada disampingnya sambil menyeimbangkan tubuhnya agar tak jatuh ke jurang.
Hap hap hap…..
Setelah meloncati tiga buah batu hitam kecil yang menjulang tinggi diatas jurang akhirnya Alatariel pun tiba di tempat batu yang di tuju.
Alatariel segera mengeluarkan tongkat sihirnya, tak lama kemudian terlihat kuali hitam sudah nangkring dengan cantiknya diatas lubang di tengah – tengah batu yang mengeluarkan semburan larva panas tersebut.
Diapun segera mengeluarkan kantong kecil hitam tempat penyimpanan bahan obat agar bisa segera membuat beberapa ramuan sihir.
Untung saja waktu mencari bahan obat dia memasukkan banyak bahan dikantong sihirnya, sehingga pada saat kondisi mendesak seperti ini dia tak kehabisan bahan baku.
Meski kecil, kantong sihir yang dimilikinya tersebut mampu menampung aneka macam bahan hingga beribu – ribu ton beratnya.
__ADS_1
Akibat serangan laser yang diterimanya dari mata iblis, tubuh Alatariel kini banyak berlubang hingga tulang – tulang tubuhnya terlihat sangat jelas.
Agar daging yang ada dalam tubuhnya bisa tumbuh cepat, dia harus membuat ramuan tersebut secepatnya.
Sekarang, Alatariel sudah berkonsentrasi membuat ramuan. Satu persatu botol kecil yang telah disiapkannya sudah terisi penuh dengan berbagai macam ramuan sihir yang berhasil dibuatnya.
Alatariel pun segera menata rapi botol – botl ramuan tersebut pada tempatnya, sesuai dengan urutan fungsinya.
Sebagai langkah pertama, Alatariel meneguk cairan penambah energy. Selanjutnya dia meminum ramuan untuk penumbuh daging.
“ Achhhh….”, teriak Alatariel lantang.
Alatariel tergeletak diatas batu dan menggeliat menahan rasa sakit yang seakan – akan mencabik – cabik kembali tubuhnya.
Proses penumbuh daging memang sangat menyakitkan. Dan saat ini bukan hanya satu tempat, tapi banyak tempat yang harus dagingnya tumbuhkan agar tubuhnya bisa kembali utuh.
Sungguh proses yang lama dan menyakitkan. Alatariel hanya bisa berteriak dan menggeliat kesana kemari waktu proses tersebut berlangsung.
Setelah hampir setengah hari proses menyakitkan tersebut dilaluinya pada akhirnya Alatariel bisa menarik nafas lega.
Perlahan nafasnya mulai teratur dan keringat dingin yang tadi mengucur deras di tubuhnya juga mulai menghilang.
Proses akhir ketika daging tubuhnya yang baru mulai menyatu dengan yang lama. Setelah satu jam menikmati proses akhir tersebut diapun mulai duduk.
Matanya terlihat tajam menatap ke depan sambil memindai area sekitarnya, berusaha untuk mencari sesuatu disana yang bisa dia jadikan salah satu bahan ramuannya.
“ Itu dia !!!....”, batinnya bahagia waktu melihat ada teratai api muncul di antara semburan larva yang tiada henti.
Dengan gerakan cepat, Alatariel pun bergegas menuju tempat dimana teratai api berada sambil menghindari semburan larva yang keluar silih berganti antara satu tempat dengan tempat yang lain.
Begitu sudah dekat, Alatariel pun langsung menyambar bunga berwarna merap api tersebut dengan cepat dan memasukkannya kedalam kantong penyimpanan bahan.
Selanjutnya, langkah kakinya menuju pada bongkahan batu yang terlihat memiliki warna berbeda dari sekitarnya.
Jika batu yang lainnya berwarna hitam atau merah menyala karena ada kandungan api didalamnya, tapi lain dengan bongkahan batu yang ukurannya lebih kecil dan berjumlah banyak tersebut.
Batu itu berwarna biru terang, meski Alatariel tak memahami manfaat dari batu tersebut tapi feelingnya mengatakan jika dia harus mengambilnya.
Tanpa berpikir panjang lagi, Alatarielpun segera meraup batu – batu tersebut dan memasukkannya kedalam kantong hitam.
__ADS_1
Setelah dirasa cukup, diapun mendongakkan kepalanya sambil berpikir bagaimana cara dia keluar dari dalam gunung berapi ini dengan aman.
“ Kurasa aku harus naik melalui sisi dalam gunung….”, gumannya sambil bergegas jalan menuju kearah tepi.
Hap hap hap….
Dengan lincah Alatariel segera naik keatas sambil sesekali menghindari semburan larva yang keluar dari dalam kawah.
Begitu loncatan terakhir, tanpa dia duga semburan larva mengenai tubuhnya hingga membuat punggung sebelah kirinya mengalami luka bakar yang lumayan lebar.
“ Sial !!!....”, gumanAlatariel menggerutu.
Diapun segera mengobati luka bakar yang ada agar perjalanan selanjutnya tak terganggu sambil dia beristirahat sejenak, mengedarkan pandangannya untuk mencari letak lembah kematian berada.
Setelah mengamati lokasi tersebut cukup lama akhirnya Alatariel dapat melihat lembah kematian yang akan dia tuju.
Sepintas, lembah tersebut hampir sama dengan lembah gunung pada umunya terlihat hijau dengan aliran sungai yang cukup jernih.
Namun, jika dinamai lembah kematian maka tempat tersebut tentunya berbahaya. Justru ketenangan dan kesunyian yang terasa malah harus membuat orang meningkatkan kewaspadaan mereka.
Begitu juga dengan Alatariel, dia tak mau bertindak gegabah dan membuatnya gagal ditempat terakhir misinya tersebut.
Alatariel yang berjalan sambil menatap awas sekitarnya tiba – tiba melihat penampakan benda yang menjadi tujuannya tersebut.
“ Death Sword….”, guman Alatariel pelan.
Dia melihat jika pedang hitam tersebut menancap kuat disebuah batu yang sudah ditumbuhi lumut disepanjang sisinya.
Sejenak, Alatariel merasa jika pedang tersebut memiliki kekuatan gelap yang sangat kuat hingga dia harus memegangi dadanya karena terasa sulit untuk bernafas.
“ Jadi ini penyebabnya….”, guman Alatariel bermonolog.
Dia akhirnya mengetahui kenapa tempat tersebut sangat sunyi dan tenang. Ternyata aura hitam yang keluar dari death sword mampun membuat semua makhluk hidup tak bisa bernafas pada saat berjalan mendekatinya.
Untuk itu Alatariel pun mulai berjalan mundur beberapa langkah hingga dia bisa merasakan kembali udara mengisi paru – parunya.
“ Ahhh…akhirnya….”, gumannya lega.
Alatarielpun segera menghirup oksigen sebanyak – banyaknya untuk kembali mengisi paru – parunya yang sempat kosong beberapa saat tadi.
__ADS_1
“ Kurasa aku harus kembali beristirahat sambil memikirkan langkah apa yang harus aku ambil berikutnya….”, ucapnya sambil mencari tempat berteduh untuk memikirkan semuanya