
Hari ini Isabella mulai berlatih dengan tetua Otsana untuk meningkatkan kekuatan yang ada dalam tubuhnya.
Untuk menunjang latihan yang akan dilakukan oleh matenya, Scoth telah menyediakan satu lahan yang cukup luas denagn peralatan lengkap disamping istananya.
Di tempat tersebut, selain mendapatkan penjagaan yang sangat ketat dari para warrior. Isabella juga menggunakan kekuatannya untuk menciptakan selabut pelindung disekeliling area tempatnya berlatih.
Sehingga jika nantinya dia menggunakan kekuatan yang dimilikinya, kekuatan tersebut tidak sampai muncul dipermukaan yang nantinya dapat memancing perhatian dari mahkluk immortal lainnya.
Pada awalnya tetua Otsana menyuruhnya untuk melakukan pemanasan terlebih dahulu sambil dia memantau sejauh mana kekuatan yang sudah Isabella dapatkan.
Setelah mengetahui tentang seberapa besar kekuatan yang dimiliki oleh Isabella, tetua Otsanapun mulai mengujinya.
Crashhh….crashhh….
Srettt….
Wushhhh….
Isabella terus berusaha untuk menyerang tetua Otsana yang bergerak sangat lincah dan dapat berpindah tempat dengan cepat.
“ Serang terus Bella !!!...jangan sampai kendor !!!....”, teriak tetua Otsana memberi semangat.
Gadis kecil tersebut terus berlari sambil melesatkan pukulan secara bertubi - tubi kepada tetua Otsana.
Namun sayang, tak ada satupun serangan yang dia lancarkan berhasil mengenai tubuh lelaki tua itu.
" Gunakan kekuatanmu untuk menyerangku, Bella.....", teriak tetua Otsana memberi perintah.
Satu bola listrik yang berhasil dikeluarkan lewat telapak tangannya dihantamkan kearah tetua Otsana.
Tapi lagi - lagi tembakannya tersebut terus meleset hingga Isabella pun terus menerus menggunakan seluruh kekuatan yang ada dalam tubuhnya hingga tak terasa energi dalam tubuhnya perlahan mulai menipis.
“ Istirahat dulu….”, ucap Scoth sambil menyerahkan sebotol air minum kepada Isabella yang sudah terduduk diatas padang rumput sambil menyeka peluh didahinya.
Dengan nafas tersenggal – senggal, Isabella membuka tutup botol dan langsung meneguk habis air yang ada didalamnya hingga tandas.
“ Apa ini ?....”, tanya Isabella sedikit heran.
Karena energy tubuhnya langsung terisi full begitu selesai meneguk habis air manis yang ada dalam botol yang diberikan oleh Scoth kepadanya.
__ADS_1
“ Itu ramuan peningkat tubuh yang dibuat khusus oleh dokter Lupe….”, ucap Scoth menjelaskan.
Setelah merasa energinya sudah terisi penuh, Isabellapun kembali berduel dengan tetua Otsana.
Isabella yang cerdas dapat cepat beradaptasi hingga akhirnya serangan yang dilancarkannya berhasil mengenai tubuh tetua Otsana hingga menyebabkan lelaki tua tersebut terpental beberapa meter kebelakang.
Crashhh....brukkkk.....
“ Hebat Bella…tapi sayang tenagamu masih sangat lemah….”, ucap tetua Otsana sambil membersihkan pakaiannya dari tanah.
Senyum lebar yang terbit diwajah Isabella langsung luntur begitu tetua Otsana mengatakan jika tenaganya masih sangat lemah.
“ Tidak apa…dengan sering berlatih, maka tenaga dan kecepatan yang kamu miliki akan meningkat….”, ucap tetua Otsana membesarkan hati Isabella.
“ Cukup latihan hari ini. Besok pagi – pagi sekali aku tunggu disini…”, ucap tetua Otsana langsung melesat pergi.
Melihat matenya berjalan keluar dari tempat latihan dengan wajah lesu. Scoth yang melihat hal tersebut segera melompat keluar dari jendela ruang kerjanya dan berlari menghampiri gadis kecilnya.
“ Kamu sudah cukup hebat hari ini…jadi jangan sedih lagi….”, ucap Scoth sambil mengusap kepala Isabella dengan lembut.
Melihat gadis kecilnya tampak sangat lelah, Scothpun segera mengangkat tubuh Isabellah dan mengendongnya masuk kedalam istana.
Bahkan gadis tersebut tak sadar jika dia sudah menelusupkan kepalanya didada bidang Scoth hingga tertidur pulas.
Scoth hanya bisa tersenyum kecil waktu melihat gadis kecilnya itu tertidur dalam gendongannya.
Dengan gerakan cepat, dia langsung melesat masuk kedalam kamar dan membaringkan tubuh Isabella diatas ranjang.
“ Ternyata kamu selelah itu hingga langsung tertidur begitu aku peluk….”, guman Scoth terkekeh.
Scoth bergegas keluar dari dalam kamar begitu tetua Otsana memindlinknya. Sekarang di hadapannya berkumpul beberapa orang warrior dengan tetua Otsana ditengah - tengah mereka.
“ Apa kamu yakin akan hal itu ?....”, tanya Scoth cemas.
“ Benar Alpha…tampaknya tadi pelindung yang Luna buat sedikit bocor hingga percikan kekuatan yang dihasilkan Luna menarik beberapa penyihir hitam yang kebetulan berada tak jauh dari wilayah perbatasan pack…”, ucap tetua Otsana menjelaskan.
“ Lalu bagaimana sekarang ?...”, tanya Scoth khawatir.
“ Untuk sementara waktu kami berhasil menghalau mereka agar tidak sampai masuk kedalam pack. Mulai sekarang tampaknya kita harus lebih berhati – hati lagi….”, ucap tetua Otsana menjelaskan.
__ADS_1
Scoth pun mulai melesat keluar untuk memastikan bahwa para warrior telah menjaga perbatasan wilayah dengan baik.
Dan untuk lebih memperketat lagi penjagaan yang ada dalam pack dia juga menginstruksikan untuk menangkap siapa saja yang dianggap mencurigakan.
Isabella terbangun ketika langit sudah menajdi gelap. Setelah membersihkan seluruh tubuhnya dia segera menyantap habis semua makanan yang disediakan diatas meja.
“ Akhirnya kenyang juga….”, ucap Isabella sambil memegangi perutnya yang sedikit buncit akibat makan terlalu banyak malam ini.
Saat sedang menatap bulan diatas langit, tiba – tiba satu bayangan melesat dikepala Isabella. Membuat gadis kecil tersebut memegangi kepalanya dengan wajah kesakitan.
Scoth yang juga merasakan sakit dikepalanya, bergegas masuk kedalam kamar dan memeluk Isabella begitu melihat gadis kecilnya terduduk lemas diatas lantai sambil memengangi kepalanya.
Tampaknya ingatan yang ada dikepala Isabella perlahan mulai kembali. Bayangan tentang masa lalu saudara kembarnya mulai masuk dam memorinya.
Membuat kepalanya terasa sangat sakit dan berdenyut hebat. Selanjutnya, satu persatu ingatannya selama berada di dunia immortal ini mulai datang secara bersamaan.
Scoth yang tak tahu harus melakukan apa akhirnya memanggil dokter Lupe untuk memeriksa kondisi Isabella karena gadis kecil itu terus berteriak kesakitan.
“ Tidak apa – apa Alpha….sepertinya ingatan Luna sudah kembali lagi…”, ucap dokter Lupe menjelaskan.
Setelah mendapatkan suntikan dari dokter Lupe, perlahan kedua mata Isabella mulai tertutup seiring dengan kesadarannya yang mulai menghilang.
“ Untuk sementara waktu, Luna saya beri obat tidur hingga dia bisa beristirahat hingga esok pagi…”, ucap dokter Lupe menjelaskan.
“ Besok pagi saya akan kembali untuk memeriksa perkembangan kondisi Luna…”, ucap dokter Lupe sebelum pamit undur diri.
Sepanjang malam Scoth terjaga karena beberapa kali terlihat Isabella mengingau. Dan senyum diwajahnya langsung terbit begitu namanya disebut beberapa kali.
“ Aku tak menyangka jika kamu terus mengingatku, meski berada dialam bawah sadar….”, guman Scoth sambil menatap lembut wajah Isabella.
Setelah puas memandang wajah cantik yang ada dihadapanya, Scothpun segera memeluk erat tubuh Isabella waktu gadis tersebut menelusupkan kepala munggilnya kedada bidangnya.
“ Tidurlah dengan nyenyak sayang…aku akan menjagamu malam ini….”, guman Scoth sambil mencium pucuk kepala Isabella beberapa kali.
Sementara itu, setelah kepergian para penyihir hitam dari wilayah perbatasan kerajaan Red Moon.
Salah satu anak buah Lucifer yang tak sengaja berada ditempat tersebut segera melaporkan hasil penemuannya tersebut kepada sang raja iblis.
“ Selidiki dan cari tahu semuanya hingga hal sekecil apapun dan laporkan hasilnya padaku !!!....”, perintah Lucifer lantang.
__ADS_1
Meski ini hanya kecurigaan semata, namun Lucifer merasa senang karena tampaknya perlahan dia mulai menemukan titik terang akan keberadaan gadis berdarah murni yang sempat menghilang setelah kelahirannya sepuluh tahun yang lalu.