
Pagi harinya, begitu matahari terbit ratu Marie bersama anak dan menantunya segera berteleportasi ke kerajaan Red Moon.
Ketiganya hanya bisa berteleportasi di depan wilayah perbatasan mereka. Disana Elena dan tetua Otsaka sudah menyambut keduanya dengan sebuah mobil.
Sepanjang perjalanan mereka bercengkerama untuk mengakrabkan diri. Bagaimanapun Elena harus membina hubungan baik dengan kerajaan Equestria karena sebentar lagi mereka akan menjadi satu keluarga.
Ketiganya terlihat terkejut waktu tetua Otsana mengatakan tentang identitas dari Isabella yang sebenarnya.
Dan untuk keselamatan nyawa gadis kecil itu, lelaki tua itu menyarankan agar Isabella tetap berada dikerajaan Red Moon untuk sementara waktu agar bisa berlatih dengannya.
Namun hal itu ditentang keras oleh Anggela yang masih belum siap jika harus berpisah lagi dengan sang putri, mengingat putrinya yang saat ini hadir adalah putrinya yang sepuluh tahun ini dia titipkan kepada nenek Vely di dunia dan masa yang berbeda.
Karena perbedaan tersebut, suasana yang semula santai dan nyaman menjadi tegang. Kesunyian melanda hingga mobil tiba di istana Red Moon.
Scoth yang mengetahui jika calon mertuanya sudah datang segera membangunkan Isabella yang masih tampak nyaman berada dalam pelukannya dan terlihat enggan untuk bangun.
“ Bangun sayang….orang tuamu sudah datang….”, ucap Scoth dengan nada lembut.
“ Eugghhh….”, Isabella hanya melangkuh dan berpindah posisi tanpa membuka mata.
“ Sayang…ayo bangun….”, ucap Scoth kembali berusaha untuk mebangunkan Isabella tapi hasilnya nihil.
Melihat Isabella sama sekali tak menghiraukan perkataannya dan tetap menutup mata, Scoth pun mulai mengusilinya.
Dia segera saja mengecup pipi dan leher Isabella hingga gadis tersebut merasa geli dan akhirnya membuka mata.
“ Dasar mesum !!!...”, teriak Isabella marah
Scoth yang melihat Isabella marah semakin merasa gemas dan ingin terus menggodanya. Diapun segera mengangkat gadis kecil itu menuju kamar mandi.
" Hey...apa yang kau lakukan !!!....", teriak Isabella waktu tubuhnya sudah melayang di udara.
Scoth tak menghiraukan teriakan gadis kecil itu dan terus melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
“ Mau mandi sendiri apa perlu aku mandikan ?...”, tanya Scoth dengan nada menggoda.
“ keluar kau !!!..dasar mesem !!!....”, hardik Isabella sambil membanting pintu dengan kasar.
Belum juga Scoth berjalan menjauh, Isabella berteriak histeris membuat lelaki itu membalikkan badan dan menerobos masuk kedalam kamar mandi karena takut terjadi hal yang buruk dengan matenya.
Brakkkk.......
Scoth membuka pintu kamar mandi yang belum terkunci itu dengan kasar dan langsung masuk sambil mengamati apa ada yang luka ditubuh gadisnya itu.
“ Apa yang kau lakukan ?!!!!....”, teriak Isabella marah sambil menunjukkan lehernya yang penuh dengan bercak merah keungguan.
Melihat matenya tidak apa - apa dan hanya menunjukkan besak kissmark yang dibuatnya semalam, Scothpun segera tersenyum kikuk sambil mengusap -usap tekuknya dengan nada bersalah.
__ADS_1
“ Mungkin kamu alergi sesuatu…”, ucap Scoth beralibi.
“ Ini pasti ulahmu kan !!!...ngaku aja !!!...dasar mesum !!!!....”, teriak Isabella sambil mendorong tubuh Scot agar keluar dari kamar mandi dan langsung menutupnya dengan keras.
Didepan pintu Scoth hanya bisa mengedipkan kedua matanya berkali – kali waktu pintu kamar mandi menutup tepat didepan wajahnya.
Bukannya sedih, Scoth malah tersenyum bahagia waktu membayangkan betapa mengemaskannya wajah Isabella ketika marah seperti itu.
Pipinya yang cubby segera mengelembung dan bibirnya mengerucut kedepan dengan dua buah bola mata melotot tajam ke arahnya.
" Ahhh...kenapa dia bisa mengemaskan seperti itu....", guman Scoth dengan wajah bersemu merah.
Jika ada orang lain yang melihat wajah Scot sekarang mungkin mereka akan mengira jka Alpha mereka itu sudah salah minum obat karena bertingkah aneh seperti itu.
Scotpun segera berganti pakaian untuk menyambut calon mertua tercinta sambil senyum - senyum sendiri membayangkan kejadian tadi.
Setelah selesai mandi, Isabella cukup binggung mau memakai baju apa yang bisa menutupi bekas merah dilehernya.
“ Jangan sampai kedua orang tuaku melihat ini semua…”, batin Isabella gelisah.
Saat mengaduk – aduk tas pinggang miliknya, dia menemukan syal merah mudanya ada disana.
Diapun segera memakai itu untuk menutupi lehernya dan membiarkan rambut panjangnya tergerai bebas.
Di ruang tamu, Anggela sudah tak sabar ingin bertemu Isabella. Begitu juga dengan Athur dan Marie. Mereka terlihat tegang dan terus bertanya kapan putrinya itu akan turun dan menemui mereka.
“ Ini Isabella….”, ucap Elena hangat.
Elena segera mengajak Scoth dan Otsana untuk memberi ruang bagi mereka berempat melepas rindu setelah sepuluh tahun berpisah.
“ Bagaimana kabarmu ?...apa kau sehat ?...”, tanya Anggela berlinang air mata bahagia.
“ Seperti yang mommy lihat, aku baik – baik saja….”, ucap Isabella sambil tersenyum.
Entah kenapa, Isabella yang pada awalnya sangat antusias ingin bertemu dengan keluarganya, namun setelah bertemu dia merasa biasa saja.
Dia sama sekali tidak merasa bahagia waktu menatap mereka yang terlihat sangat antusias untuk bertemu dengannya.
“ Baiklah…kita pulang sekarang ya. Banyak hal yang ingin mommy tunjukkan kepada kamu….”, ucap Anggela sambil beranjak dari tempat duduknya.
Melihat Isabella masih duduk mematung, Anggelapun kembali duduk dan mencoba berbicara lagi dengannya.
“ Kenapa sayang ?...apa kamu tidak ingin pulang bersama mami ?...”, tanya Anggela sedih.
“ Aku masih harus tinggal disini mom…setidaknya sampai kekuatan yang ada dalam tubuhku bisa kukendalikan dengan sempurna…”, ucap Isabella beralibi.
“ Jika hanya itu, nenek juga bisa melatihmu…”, ucap Marie meyakinkan.
__ADS_1
“ Kamu akan aman bersama mami dan papi di rumah…”, ucap Anggela sambil mengenggam kedua tangan Isabella dengan erat.
“ Aku tidak mau tinggal satu atap dengan pembunuh…”, ucap Isabella tiba – tiba.
Meski dia sangat ingin kembali ke kerajaan Equestria dan membalaskan dendam saudaranya, tapi dengan kekuatannya yang sekarang, Isabella masih tidak yakin jika dia bisa melakukannya.
Apalagi kedua sepupunya tersebut memiliki penyihir hitam dibalik aksinya. Hal itu tentunya akan membuatnya kesulitan kedepannya.
Tentu saja ketiganya cukup terkejut dengan ucapan yang keluar dari mulut putrinya itu. Athur yang sedari diam akhirnya mulai berbicara.
“ Apa maksudmu ?...”, ucap Athur tajam.
Bukannya menjawab, Isabella malah tersenyum mengejek. Dia jadi merasa semakin tak nyaman bersama keluarganya saat ini.
“ Bagaimana kalian bisa tidak tahu jika saudara kembarku dibunuh dan dimasukkan kedalam danau. Apa ini yang dinamakan kamu akan melindungiku mom…sedangkan saudara kembarku saja tewas kalian tidak tahu…”, ucap Isabella sarkas.
Ketiganya langsung terdiam mendapatkan perkataan seperti itu dari bocah kecil berusia sepuluh tahun. Meski mereka tahu jika Isabella Glucksburg ada disini maka Isabella Adams telah mati.
“ Tapi, siapa yang telah membunuhnya….”
“ Apakah musuh sudah mengetahui semuanya ?...”
“ Bukankah Isabella tidak memiliki kekuatan apapun, lalu bagaimana mereka bisa tahu ?...”
Batin semua orang dalam benak mereka.
Saat ini semua orang sibuk dengan pikiran masing – masing. Berusaha untuk menerka siapa yang telah membunuh Isabella diwilayah kerajaan Equstria.
Suasana menjadi senyap dan menegangkan tanpa ada seorang pun yang berusra. Melihat ketiganya terdiam cukup lama, Isabellapun mulai angkat bicara.
“ Sebaiknya, kalian segera kembali ke kerajaan Equestria. Jika sudah saatnya, aku pasti akan kembali lagi kesana…”, ucap Isabella datar.
Saat gadis kecil itu hendak berlalu, salah satu pergelangan tangannya dicekal oleh Marie yang penasaran tentang siapa pembunuh sang cucu.
“ Kamu pasti tahu kan siapa yang membunuh saudara kembarmu ?...”, tanya Marie penasaran.
“ Mereka hanya alat, ada kekuatan besar yang mengendalikan mereka tapi aku masih belum tahu pasti. Mulai saat ini sebaiknya nenek awasi semua orang yang berada dalam istana Equestria karena pembunuhnya adalah orang yang sangat dekat dengan kita sendiri…”, ucap Isabella tajam.
“ Dan untuk kalian, bagaiamana kalian bisa membiarkan saudara kembarku di bully seperti itu. Setiap hari dia selalu merasakan siksaan fisik dan psikis yang dia tanggung sendiri. Jika melihat ekpresi kalian, aku yakin jika kalian tidak tahu akan hal itu. Atau….pura – pura tidak tahu…”, ucap Isabella dengan nada penuh kekecewaan.
Selanjutnya gadis itu segera berlalu dari hadapan semua orang. Entah kenapa hatinya terasa sangat sakit sekarang waktu menyadari jika selama ini saudara kembarnya menderita dan tidak ada yang perduli.
Scoth yang melihat matenya bersedih bergegas menyusulnya kedalam kamar untuk menenangkannya. Sedangkan Elina dan Otsana pergi keruang tamu untuk menemui keluarga Isabella.
“ Biarkan dia disini dulu untuk sementara waktu. Seperti yang aku katakan sebelumnya, untuk sementara, hanya ini tempat teraman untuknya sebelum kekuatannya bisa bekerja maksimal… ”, ucap Otsana meyakinkan.
Dengan berat hati, ketiganya akhirnya kembali ke kerajaan Equstria tanpa Isabella sambil berpikir siapa pembunuh Isabella agar dapat melacak orang dibalik peristiwa tersebut.
__ADS_1
“ Mungkin selama ini aku terlalu nyaman dengan semuanya hingga sedikit lengah…”, ucap Marie sedih.
Mendengar peringatan dari sang cucu, Mariepun akan kembali waspada. Apalagi hari – hari terakhir ini penyihir gelap sudah mulai melakukan pergerakan.